Kontroversi Mengenai Kebangkitan Yesus

Oleh: Mula Harahap

Saya bukan mau ikut dalam perbantahan, tapi hanya mau ikut memberi pendapat–walau pun sudah sedikit terlambat–terhadap tulisan Ioanes Rakhmat di Kompas tanggal 5 April yang lalu itu:

Saya mendapat kesan bahwa Ioanes Rakhmat nagco dan kebablasan karena secara apriori cenderung menganggap argumen-argumen produsen filem Discovery, dan beberapa arkeolog itu, sebagai suatu fakta yang sudah terbukti nyata dan benar.

Padahal, seandainya pun atas peristiwa sejarah yang sudah berlangsung lebih dari dua ribu yang tahun lalu (dan yang bukti-buktinya sangat lemah) itu, seluruh arkeolog sepakat menyusun sebuah cerita sejarah; maka itu pun belum bisa dikatakan sebagai sebuah fakta yang nyata dan benar. Hal itu baru merupakan kenyataan dan kebenaran versi para arkeolog. Ada pun kenyataan dan kebenaran yang sesungguhya ialah apa yang dialami oleh orang-orang yang hidup bersama Yesus di masa tersebut.

Tapi walau pun kenyataan dan kebenaran yang disusun oleh para sejarawan dan arkeolog itu bersifat relatif, dalam aspek-aspek kehidupan tertentu manusia memang membutuhkannya. Manusia membutuhkan sejarah agar dalam perjalanan kehidupannya di masa depan ia tidak mengulangi kesalahan yang sama. Menurut hemat saya hanya itulah kegunaan sejarah.

Tapi dalam urusan iman, sejarah tak ada gunanya. Saya boleh saja mengatakan bahwa yang memasukkan hadiah di sepatu anak saya itu adalah saya sendiri. Tapi kalau anak saya percaya bahwa yang memasukkan hadiah itu adalah Sinterklas yang datang naik keledai ke rumah kami ketika anak saya sedang tidur; saya mau bilang apa?

Demikian juga halnya, seluruh sejarawan dan arkeolog boleh saja mengatakan bahwa Yesus itu sebenarnya tidak bangkit, tulang-belulangnya masih ada di Yerusalem (sebagai hasil “gothak-gathok” kemiripan DNA dengan tulang-tulang lain, yang kata penulis Injil (bukan dokumen sejarah) adalah saudara sedarah dengan Yesus; tapi kalau kata Paulus, kata Agustinus, kata Bonhoeffer, kata Karl Barth, kata ibu saya, dan kata milyaran orang, ia memang bangkit (dan gagasan tentang Yesus yang bangkit itu memang memberi kekayaan spiritual dalam diri milyaran orang itu); lalu kita mau bilang apa?

Kemudian, mengapa hanya gagasan kebangkitan yang dipersoalkan? Bagaimana dengan gagasan bahwa Yesus lahir dari seorang ibu yang tidak mengalami pembuahan oleh sprema laki-laki, atau gagasan bahwa ia naik ke surga?

Jangan kita lupa bahwa dua gagasan yang terakhir ini–walau pun dalam versi yang sedikit berbeda–juga dianut oleh kawan-kawan kita yang beragama Islam. Nabi Isa A.S (yang kita kenal sebagai Yesus Kristus itu) lahir sebagai akibat pembuahan Roh Allah dalam rahim Siti Miryam. Dan memang,kawan-kakwan kita yang beragama Islam tidak mengenal gagasan kebangkitan. Tapi Islam mengenal gagasan bahwa Nabi Isa A.S diangkat ke surga oleh malaikat (dalam proses yang hampir sama seperti proses Miraj Nabi Muhammad S.A.W ke Yerusalem), dan pada hari terakhir nanti–bersama Imam Mahdi–ia akan turun kembali ke bumi. (Lalu, bagaimana pula kita harus mengaitkan urusan tulang-belulang yang ditemukan di Yerusalem itu dengan iman saudara-saudara kita yang beragama Islam?).

Seperti yang saya uraikan di atas tadi, urusan iman tak ada sangkut-pautnya dengan sejarah. Dan karena itu pula, saya tak pernah habis-pikir kalau ada teolog (terutama yang mengaku dirinya liberal) menghabiskan pikirannya untuk mengotak-ngatik sejarah Yesus.

Di jaman modern ini memang banyak orang–termasuk saya–yang membutuhkan refleksi-refleksi iman (teologi) yang lebih baru, segar dan relevan. Tapi saya tidak membutuhkan teologi yang berangkat dari sejarah. Iman itu lebih banyak berada di ranah “mistis”. Karena itu refleksi-refleksi iman yang didasarkan atas hal-hal yang “sok ilmiah” (yang bukan mistis) akan “ngaco” hasilnya, seperti yang dilakukan oleh Ioanes Rakhmat itu.

Ioanes Rakhmat yang mengaku liberal itu sebenarnya sama saja konyolnya dengan orang-orang fundamentalis: Memandang Alkitab sebagai sebuah dokumen sejarah (yang faktual dan benar “as it was happened”), lalu dari sana mencoba membangun sebuah teologi[]

7 responses to “Kontroversi Mengenai Kebangkitan Yesus

  1. Saya setuju dengan pemikiran anda. Terlepas bagaimana sebenarnya yang telah terjadi dengan Yesus, bagaimana kisah hidupnya yang sampai saat ini masih diperdebatkan, Yesus adalah seorang inspirator yang menginspirasi hidup banyak orang bahkan sampai dua ribu tahun setelah kematiannya. Dia mendobrak semua hal yang salah pada zamannya, sama seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW pada masa hidupnya, dan banyak orang lain sebelum-Nya dan juga setelah-Nya. Jika memang kelak benar-benar terbukti kalau Dia bukan Tuhan, dia menikah dengan wanita, punya anak, atau dia cuma manusia biasa, so what? Ajaran-Nyalah yang paling penting, bukan kontroversi akan siapa diri-Nya.

  2. Saya setuju bahwa iman saya kepada Yesus itu lebih banyak berada di ranah “mistis”, bukan karena fakta sejarah. Apalagi sejarah bisa dibuat, opini bisa di bentuk, fakta bisa dibuat.
    Jangankan bukti-bukti arkeologi yang masih begitu lemah, hla kisah sejarah perjalanan negeri kita yang masih banyak saksi pelaku sejarahnya sendiri saja bisa dijungkir balikan. Dimanipulasi.

  3. Sebagai orang yang menganut agama Kristen, concept Yesus atau Nabi Isa Al-Masih bangkit dari kematian sangat penting karena ini adalah bukti bahwa beliau adalah anak Allah yang tunggal, yang rela mati untuk dosa-dosa manusia, dan bangkit dari mati untuk menunjukkan bahwa Ia berkuasa di atas maut.

    Sesungguhnya, hukuman untuk orang yang berbuat dosa adalah maut. Dan Tuhan Allah yang Maha Esa sebagai Hakim yang adil sepatutnya memberikan hukuman yang pantas kepada manusia yang berdosa. Hukuman untuk orang yang berdosa, adalah maut. Dan di Al-Kitab tertulis bahwa tidak ada seorang pun di dunia yang lahir setelah Adam yang luput dari dosa.

    Tapi karena Hakim yang paling adil di seluruh dunia, Allah yang Maha Esa, mencintai ciptaan-Nya manusia dengan sedemikian rupa, Beliau dengan rela hati mengorbankan Anaknya yang Tunggal, yaitu diringa sendiri dengan rupa manusia, meninggalkan semua kekuasaan-Nya dan rela mati sebagai kurban yang suci dan tidak bernoda.

    Dia sendiri menjadi kurban penebus dosa-dosa manusia, mati di kayu salib. Dan karena Ia telah menebus dosa-dosa kita dengan kematian-Nya, kita semua diselamatkan dari hukuman dosa-dosa kita.

    Seperti yang saya utarakan tadi, concept kebangkitan Yesus adalah sangat penting bagi orang Kristen. Yesus-pun telah berkata bahwa dia akan bangkit dari kematian setelah tiga hari. Kebangkitan Yesus ini menunjukkan bahwa Ia berkuasa atas maut, dan barangsiapa percaya kepadanya akan ditebus dosanya dan akan hidup kekal. Bila Yesus tidak bangkit dari kematian…berarti dia adalah seorang pembohong, dan bukan Tuhan yang berkuasa di atas maut.

  4. Yang disalib bukan Nabi Isa AS, melainkan pengikut Nabi Isa yang berkhianat. Dan Allah SWT menyerupakan wajahnya seperti Nabi Isa AS.

  5. Jesus itu Tuhan yang rendah hati. Dia Tuhan pencipta langit bumi serta seluruh isinya. Jadi Dia sangat tidak pantas disamakan dengan manusia atau nabi atau siapapun. Jesus datang ke dunia dengan mengosongkan diri-Nya jadi sama seperti kita. Namanya juga Tuhan, mau bagaimana Dia, ya terserah Dia-lah..kita manusia berdosa patuh aja kepada Dia…..Saya sangat setuju…Iman tidak untuk dipersoalkan…..

  6. Ok, Oom. Dokumen sejarah bisa saja dipolitisir pada masa dulu dan pada masa sekarang dengan segala aspek kepentingan. Hhanya sedikit yang benar otentik. Lagi pula kita tidak hidup pada masa itu. Yang penting nilai moril yang ditunjukkan oleh kasih Yesus.

  7. Berbahagialah orang yang percaya walau tidak melihat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s