Ode Untuk Buku-buku Lama

Oleh: Mula Harahap

Dalam pengertian buku sebagai sumber informasi, maka saya setuju kalau kita jangan hanya berkutat dengan buku-buku lama. Apalagi, kalau disamping buku-buku lama itu, telah bermunculan pula buku-buku baru dengan informasi yang lebih mutakhir. Tapi itu bukan berarti
bahwa buku-buku yang mengandung informasi lama sudah selayaknya dicampakkan.

Bagi seseorang yang hendak menulis roman sejarah tentang kehidupan di Jakarta tahun 1824, misalnya, maka “Travel Guide to Batavia” terbitan tahun 1820-an, kalau ada, akan merupakan sumber informasi yang sangat berharga.

Di perpustakaan Erasmus Huis saya pernah melihat sebuah buku kumpulan foto berbagai tempat dan suasana Jakarta di awal tahun 1900-an. Saya pernah terpikir, kalau tempat dan suasana dahulu itu kembali difoto di masa sekarang dari “angle” yang sama, lalu foto-foto
itu disandingkan dan diterbitkan dalam sebuah buku yang baru, tentu akan sangat menarik…

Buku adalah juga pikiran dan perasaan. Memang pikiran atau perasaan yang ditulis oleh pengarangnya sejak lima puluh tahun lalu itu, misalnya, sudah tidak berubah lagi. Tapi pemahaman atau perasaan kita, ketika membacanya duapuluh tahun lalu, sepuluh tahun
lalu dan sekarang, pasti berubah. Dan hal ini adalah sesuatu yang positif!

Membaca buku adalah sebuah proses dialog. Walaupun pendapat lawan dialog (pengarang) sudah tidak berubah; tapi kalau pendapat (gagasan, pikiran atau perasaan) itu adalah sesuatu yang sangat dalam dan bermakna, maka dialog yang berulang-ulang yang kita lakukan (membaca buku), selalu memberi pengalaman atau pemikiran baru.

Ketika buku “Merahnya Merah” karangan Iwan Simatupang saya baca semasa di SMP dahulu maka kepala saya sakit. Ketika buku yang sama saya baca semasa di perguruan tinggi, saya manggut-manggut. Ketika buku yang sama saya baca sekarang, saya hanya mesem-mesem.

Buku “Perang Aceh”, karangan wartawan Belanda H. Zentgraf, yang pertama kali diterbitkan tahun 1930-an itu, sudah “dibaca” oleh anak lelaki saya ketika ia duduk di bangku SMP. (Setiap kali selesai “membaca” buku tersebut maka di mejanya selalu bertaburan sketsa-sketsa perang). Dan sedemikian seringnya buku itu “dibaca” sehingga jilidannya pun “ambrol”.

Kini, didorong oleh kontroversi Operasi TNI menumpas GAM, anak saya kembali membaca buku “Perang Aceh”. Ia membaca buku yang sama dengan motivasi dan modal mental yang berbeda. Hal itu pasti akan memperkaya pengalaman batinnya.

Dari aspek fisik, buku juga bisa berarti kenangan. Dan kenangan–terutama yang manis–sangat kita perlukan untuk bisa melihat keindahan hidup ini.

Tiga puluh tahun lalu, saya diundang menghadiri pesta ulang tahun ketujuh-belas dari seorang teman gadis remaja. Saat itu saya jatuh cinta dan begitu tergila-gila kepadanya. Beberapa hari sebelum pesta ulang tahunnya saya membeli sebuah buku kumpulan sajak Ramadhan K.H, “Priangan Si Jelita”. Rencana saya, buku yang saya pilih secara khusus itu akan saya berikan sebagai hadiah ulang tahun. Saya tak lupa membubuhkan beberapa pesan khusus di halaman judul buku itu. Tapi ketika tiba pesta ulang tahun, saya tak punya keberanian untuk menyerahkan hadiah tersebut kepadanya…

Begitulah, buku kecil tersebut tinggal terselip di balik singlet dan sepanjang pesta sekujur tubuh saya dipenuhi keringat dingin. Akhirnya, dengan perasaan yang tak menentu, dalam perjalanan pulang, buku manis yang sudah menjadi bubur itu saya campakkan ke tempat sampah.

Dua minggu lalu, secara tidak sengaja, di QB Bookstore saya bertemu buku yang sama. Aha! Buku tersebut saya beli. Memang, secara fisik buku tersebut sudah berbeda. Dahulu ia tipis, dicetak di atas kertas koran dan dengan warna sampul yang sederhana. Kini ia tebal,
memakai dua bahasa (Inggeris dan Indonesia) dan dicetak di atas kertas luks. Tapi sebagian dari “rasa” buku itu masih belum berubah.

Saya berencana, kalau gadis remaja yang sekarang telah menjadi isteri seseorang itu berulang tahun, akan saya berikan buku tersebut, sambil saya ceritakan mengapa saya memberikannya kepadanya. Mudah-mudahan kali ini saya memiliki keberanian…

Buku lama boleh menjadi segala-galanya. Buku “Di Bawah Bendera Revolusi” karangan Ir. Soekarno, yang saya warisi dari ayah, dahulu hanya saya pakai untuk menjepit dan mengeringkan aneka dedaunan untuk prakarya sekolah. Barulah sekarang saya bisa melihat
bahwa ternyata kegunaan utama dari buku itu adalah dalam mata pelajaran sejarah; bukan dalam mata pelajaran biologi atau prakarya.

Buku “Semerbak Bunga di Bandung Raya”, karangan Ir. Haryoto Kunto, yang tebalnya lebih dari 1.000 halaman itu, selama bertahun-tahun hanya dipakai sebagai pengganjal pintu agar tidak tertiup angin atau sebagai undakan oleh anak-anak untuk membuka kulkas bagian
atas. Tapi kini buku tersebut dibaca oleh anak saya, yang kuliah senirupa di Bandung dan yang dahulu tahunya hanya membaca “Perang Aceh” itu.

Di sebuah kios kecil di Malioboro, saya pernah membeli beberapa buku poket sastra terbitan tahun 1940-an. Saya rasa, alasan saya membeli buku-buku tersebut, lebih karena hal-hal lain di luar gagasan atau pikiran yang dikandungnya: Di halaman judul buku-buku tersebut ada tandatangan dan nama Tionghoa dari pemiliknya pertama. Kemudian di bawah tandatangan itu tertulis tahun 1950! Wow, saya bahkan belum lahir pada saat orang Tionghoa itu membeli buku-buku poket yang berlabel harga “Rp.2,50,-” itu….

Sama halnya seperti kepada seorang perempuan, maka–kadang-kadang–saya pun bisa tertarik kepada sebuah buku hanya karena baunya. Ya, bau dalam pengertian yang sebenarnya.

Ketika saya bekerja sebagai editor, banyak buku “biasa-biasa” yang saya pilih untuk diterjemahkan, ternyata setelah terbit berhasil menjadi bestseller. Dahulu kawan-kawan dekat saya menyangka bahwa kemampuan ini erat kaitannya dengan kebiasaan saya untuk mengendus-endus buku. Tentu saja sangkaan ini salah. Saya bukan dukun atau paranormal.

Tapi saya akui bahwa saya senang mencium-cium buku–buku baru maupun buku lama. Ada bau-bau tertentu yang membawa kenangan tertentu dan membuat fantasi saya terbang kemana-mana….(Karena uraian ini adalah sebuah uraian tentang buku, maka urusan bau biarlah saya perpanjang di kesempatan yang lain).

Begitulah, kalau bisnis buku lama, buku langka atau antiquarian bisa hidup subur, maka hal itu tak lepas dari kehadiran orang-orang yang mempunyai hubungan emosional dan memandang buku dalam berbagai dimensi.

Buku-buku lama boleh berbesar hati karena kehadiran banyak orang “gila” seperti saya, Anda, H.B. Jassin, P. Swantoro, Haryoto Kunto, Adam Malik dan yang lainnya. Kita bebas untuk mempersepsikan “buku” dan “membaca” sebagai apa saja. Dan itu pulalah yang membuat buku–terutama buku-buku lama–menjadi menarik[].

3 responses to “Ode Untuk Buku-buku Lama

  1. Salam
    Saya tertarik sekali dengan tulisan bapak. Oleh karena itu, izinkan saya me-upload tulisan bapak di blog yang saya kelola. Saya undang pula bapak untuk menuliskan komentar tentang komentar yang menanggapi tulisan bapak di blog yang saya kelola itu.
    ini alamat blog yang saya kelola:
    http://www.myhobbyblogs.com/book
    Semoga kita bisa berteman pak, walaupun umur mungkin sangat jauh sekali…
    hahahahhahaahahha
    salam.

  2. Ya, buku lama, memang banyak kisah.

    Saya pernah meminjam sebuah buku lama di perpustakaan Fakultas Ekonomi UI. Buku karangan Muhammad Hatta, idola saya. Judulnya Sosiologi Ekonomi. Saya meminjamnya di tahun 2000. Kulihat di daftar peminjamnya. Ternyata peminjam terakhir sebelum saya meminjamnya di tahun 1980… :p

    Buku itu rupanya sudah 20 tahun tidak disentuh orang. Masuk kategori jablay… Tak aneh pemikiran beliau dalam bidang ekonomi tidak dihargai dan pasal 33 UUD 45 hanya tinggal kata2 yang kita injak2…😦

    Saya juga pernah punya kisah seperti Pak Mula tentang hadiah buku. Tapi itu masih terlalu pagi untuk dibongkar karena orangnya, dan juga saya masih belum menikah…. Ha…ha…

  3. Buku itu adalah sumber utama ilmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s