Oh, Pengamat….

Oleh: Mula Harahap

Saya rasa, pengamat adalah salah satu dari banyak sumber daya kita yang melimpah-ruah. Kita memiliki pengamat sepakbola, pengamat politik, pengamat ekonomi, pengamat tinju, dan pengamat apa saja. Agar tidak mengesankan bahwa sebenarnya kita sudah kelebihan pengamat; maka ada pula orang yang menyebut dirinya pemerhati. Tapi kedua kata itu sebenarnya sama saja artinya.

Bila anda senang menonton acara pertandingan sepakbola di televisi, maka suka atau tidak suka, anda pasti akan mendapat bonus untuk sekaligus menonton pengamat. Dan pada musim pertandingan final Piala Dunia atau Piala Eropa–walau pun sebenarnya stock pengamat sudah berlebihan–eh, stasiun televisi masih juga merekrut pengacara, penyanyi, pelawak atau ulama untuk menjadi pengamat.

Kadang-kadang saya tak habis-pikir, apa sebenarnya yang ada di benak para perancang acara televisi, ketika mereka menghadirkan pengamat. Sebab, alih-alih memberikan pencerahan; kehadiran pengamat justeru acapkali membingungkan. Di mata mereka, sepakbola–misalnya–yang sebenarnya adalah seni, kejutan dan serba-kemungkinan, diredusir menjadi sesuatu yang seolah-olah ilmiah, matematis dan kaku. Ada pengamat yang selalu mencari pembenaran atas apa yang dikatakannya beberapa waktu sebelumnya. (“Seperti yang saya katakan tadi…Seperti yang saya katakan tadi…Seperti yang saya katakan tadi…”). Ramalannya yang umum dan spekulatif–seperti ramalan bintang di majalah hiburan–tentu saja jadi mengesankan jitu, karena yang “dikatakannya tadi” banyoaaak sekali. Kalau wajah dan suara pengamat disamarkan, maka sebenarnya sukar bagi kita untuk membedakan yang satu dengan yang lainnya. Idiom-idiom mereka nyaris sama. Kalau dalam hal sepakbola maka itu meliputi “zone blocking”, “konter etek–counter attack”, “pergerakan tanpa bola” atau “lini tengah sebagai kunci penentu kemenangan”. Kalau dalam hal ekonomi maka itu meliputi “sense of crisis”, “market friendly”, “pasar yang bullish dan bearisih”, “recovery programm” atau “rupiah melemah karena para debitur memborong dolar”. Dan, ketimbang Beckenbauer atau Fergusson, para pengamat acapkali lebih “mengetahui” apa yang harus dilakukan oleh sebuah tim.

Menonton pertandingan sepakbola–atau acara apa pun–seorang diri, tanpa cemilan dan di waktu dinihari, memang suatu hal yang menggelisahkan. Karena itu wajar, kalau dalam situasi seperti itu kita membutuhkan kehadiran seorang teman. Tapi teman yang kita butuhkan adalah teman untuk berbincang-bincang ringan mengenai apa yang sedang kita tonton; bukan teman yang harus mengajari kita mengenai sebuah teori.

Malangnya, kebutuhan seperti ini lebih bisa dirasakan oleh para perancang acara televisi luar negeri. Mereka menghadirkan ke ruang tamu kita seorang pengamat–atau tepatnya, komentator—- yang nyeletuk-nyeletuk pendek. Sebagaimana layaknya teman menonton, maka mereka mengomentari apa saja di seputar pertandingan. (“Rijkard membawa bola…aha, sebentar lagi dia akan ditransfer dengan bayaran sekian…”, “Figo, aha, hari ini ia tepat berulang tahun….” , “Ouch, wasit meniup pluit…apa sih pelanggarannya…?”).

Disamping dalam liputan pertandingan sepakbola, maka kehadiran pengamat yang juga saya rasakan mengganggu ialah dalam peristiwa politik atau ekonomi. Beberapa waktu yang lalu–misalnya–kita menyaksikan penyelenggaraan SI MPR. Peristiwa ini diliput oleh semua stasiun televisi kita. Dan seperti halnya dalam pertandingan sepakbola, maka dalam peristiwa politik
ini stasiun televisi juga menghadirkan para pengamatnya; masing-masing tiga orang. (Oh,no!).

Semua pengamat berlomba-lomba bicara dari jam delapan pagi sampai jam delapan malam! Bahkan ada beberapa pengamat yang sudah berbicara sejak jam satu malam sebelumnya, yaitu ketika Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan dekritnya. Kembali saya tak habis pikir, apa alasan yang mengilhami para perancang acara televisi itu untuk menghadirkan pengamat. Saya curiga, barangkali para pengamat itu dihadirkan hanya untuk mendongkrak
“rating” acara. Memang ada beberapa pengamat yang “cakep” dan berpenampilan bintang filem. Tapi kalaulah itu yang menjadi dasar pertimbangan, maka–kalau boleh mengusulkan–saya akan lebih bahagia bila yang ditampilkan adalah Desy Ratnasari, Sophia Latjuba atau
Iis Dahlia…

Liputan yang dilakukan oleh televisi asing pun memang tidak selalu hanya mengandalkan reporter. Kadang-kadang diperlukan kehadiran seorang lain untuk memberikan komentar. Tapi stasiun televisi asing tidak menjuluki komentator ini hanya sebagai “pengamat”. Mereka memberikan predikat yang lebih jelas kepada komentatornya. (“Profesor ilmu komunikasi politik dari Universitas Columbia”, “Kepala departemen hukum tata negara di Universitas Harvard” atau “Direktur lembaga penghitungan suara di Talahasse”).

Dengan memberikannya predikat yang jelas, maka sang komentator atau pengamat otomatis akan melakukan “self control” untuk berbicara hanya dalam bidang yang menjadi kompetensinya. Ia pun akan berbicara secara lebih bertanggung-jawab. Ketika masih hidup dan menjabat sebagai ketua MUI, Alm. K.H. Hassan Basri pernah mengeluhkan stasiun-stasiun televisi karena–selama bulan Ramadhan– terlalu mudah menampilkan siapa saja untuk
mengulas masalah keagamaan. Ada hal-hal tertentu dalam keagamaan, yang–agar tidak menimbulkan kebingungan–hanya layak disampaikan oleh orang yang benar-benar memahami dan memiliki otoritas; bukan sekedar yang populer–atau “pengamat agama”.

Saya bukan hendak mengatakan bahwa Andi Mallarangeng, Imam Prasodjo, J.B. Kristiadi, Sri Mulyani, Sri Adiningsih, atau siapa pun itu, sebagai orang yang tidak memiliki otoritas. Mereka adalah doktor-doktor untuk bidangnya. Tapi saya sangat berharap kalau, dalam menghadirkan pengamat, para perancang acara televisi lebih mempertimbangkan kompetensi keahlian daripada popularitas mereka. Dan dengan senantiasa menyadarkan bahwa mereka adalah ahli–bukan sekedar pengamat–maka mereka otomatis dipagari untuk hanya membicarakan sesuatu yang mencerdaskan, bukan sekedar menghibur dan mengaburkan. Bila semua yang kita harapkan di atas bisa terkabul, maka barulah para pengamat benar-benar menjadi sesuatu yang dibutuhkan. Kehadiran pengamat tidak lagi menjadi pelecehan terhadap kecerdasan penonton. Dan kalau ini tercapai, maka kita boleh mengurungkan niat untuk
mengeksport pengamat sebagai limbah produk budaya; sebagaimana kita mengeksport sabut atau tempurung sebagai limbah produk kelapa.[]

One response to “Oh, Pengamat….

  1. mangimpal sihombing

    Horas,
    Setuju dengan pendapat Abang.
    Mauliate

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s