Patung-patung Gubernur Sutiyoso

Oleh: Mula Harahap

Gubernur DKI Sutiyoso merencanakan hendak membangun tiga puluh patung pahlawan di Jakarta. Di titik-titik tertentu pada jalan yang memakai nama pahlawan, akan dibangun patung penyandang nama jalan tersebut. (Seukuran patung Pemuda di Bundaran Senayan–Si
Singamangaraja!).

Kata Sutiyoso, patung-patung itu perlu didirikan agar generasi muda tidak melupakan pahlawannya.(Lho, guru-guru kita di SD, SLTP dan SLTA yang rapel gajinya ditunda-tunda itu; apa saja kerja mereka selama ini?)

Ketika orang meributkan dari mana dana untuk membangun patung-patung tersebut, maka lebih jauh Sutiyoso mengatakan bahwa dananya tidak akan diambil dari anggaran pemerintah, tapi akan dipikul oleh swasta, dan sebagai imbalannya swasta boleh memasang materi promosinya di patung tersebut.(Seperti halnya pegawai Pemda dan anggota DPRD DKI Jakarta, saya juga pernah melakukan “studi banding” ke Roma, London, Washington atau Tokyo. Tapi–sungguh mati–saya belum pernah melihat patung yang ditempeli iklan…).

Gubernur kita yang satu ini memang selalu penuh dengan gagasan yang “luarbiasa”. Tahun 1998, ketika kita sedang berada di dasar keterpurukan ekonomi, mungkin karena iba hati melihat sebagian warganya yang menganggur, maka “out of the blue sky” ia mengigau mengizinkan becak kembali beroperasi di jalan-jalan Jakarta. Becak-becak yang selama 10 tahun terakhir ini sudah tenang menjadi rumpon ikan di dasar Teluk Jakarta, tentu saja berbondong-bondong muncul kembali ke permukaan laut dan memenuhi Jakarta yang semrawutnya sudah tidak karu-karuan.

Beberapa bulan lalu ia melontarkan pula gagasan operasi pembersihan preman. Lalu, dengan rombongan besar memakai beberapa bus AC ia datang ke Pasar Tanah Abang mewawancarai para pedagang. (Tentu saja preman sudah keburu lari mendengar raungan motor vorijders-nya). Lalu dengan entengnya Gubernur Sutiyoso mengatakan bahwa ternyata preman tidak
sebanyak yang diributkan orang. (Dan untuk show itu habis dana beberapa milyar rupiah).

Setelah “komedi pemberantasan preman”, maka Sutiyoso datang lagi dengan gagasan agar kolong-kolong jalan layang yang kosong itu sebaiknya dikelola menjadi kios bagi pedagang kecil.(Ha-ha…Boleh juga; kota dengan sejuta kios tenda…).Kembali orang geger dan Sutiyoso
yang berwajah nyaris tanpa ekspresi itu tak merasa bersalah sedikit pun. Dan terakhir, ia datang dengan gagasan mendirikan patung seperti yang sudah saya uraikan di atas.

Sepanjang siang tadi saya berpikir-pikir bagaimana gagasan ini dioperasikan:

Pada jalan Jakarta By-Pass, dari Tanjung Priok ke Cililitan, ada 4 (empat) nama pahlawan. Dari Tanjung Priok hingga ke perempatan Coca-Cola, ia bernama Jalan Komodor Yos Sudarso. Dimana pula patung Yos Sudarso harus diletakkan? (Kalau diletakkan di ujung dekat
Tanjung Priok, maka di sana sudah ada patung orang lain, yaitu patung Wiyono Wiyoto, yang namanya dipakai sebagai nama jalan tol yang “terbang” di atas By Pass).

Katakanlah dia diletakkan di sekitar perempatan Coca-Cola, tapi titik ini adalah juga awal dari Jalan Ahmad Yani dan awal dari Suprapto ke arah Pasar Senen.(Bagaimana pula menyandingkan Yos Sudarso, Ahmad Yani dan Suprapto di antara para banci dan pengelap
kaca mobil itu? Diam-diam Sutiyoso ternyata tak kalah dengan Semsar Siahaan. Ia faham tentang “seni instalasi”).

Dari titik Jembatan Jatinegara hingga perempatan Cawang, By Pass dikenal sebagai Jalan D.I. Pandjaitan. Lalu dimana pula Pandjaitan ini harus diletakkan? Okay, katakanlah dia diletakkan di perempatan Cawang, agar bisa mengawasi orang-orang Batak yang banyak
“berkerumun” di seantero tempat itu. Tapi kita jangan lupa, potongan By Pass ke arah UKI namanya Sutoyo. Dan perempatan Cawang ke arah Tebet namanya Haryono MT. Kalau patung ketiga-tiganya diletakkan di perempatan Cawang, dimana lagi orang yang ribuan itu harus berdiri untuk menunggu bus yang telah menjadi makhluk langka di ibukota ini?

Perempatan Cawang sampai ke Pluit terdiri dari beberapa nama pahlawan. Ada Haryono M.T, ada S. Parman dan ada Dr. Latumeten. Lalu jalan yang sama itu dipotong pula oleh Dewi Sartika, Dr. Sahardjo, Pierre Tandean, Rasuna Said, Sudirman, K.S. Tubun, Daan Mogot
dan Kyai Tapa. (Warung Buncit dan Tanjung Duren; itu jelas bukan nama pahlawan!).

Yang lebih membingungkan lagi adalah di sekitar daerah Menteng. Jalannya pendek-pendek, saling memotong dan semua memakai nama pahlawan. Ada Sutan Syahrir, Muhammad Yamin, Teuku Umar, Cokroaminoto, Cut Meutia, Mangunsarkoro, Cik Ditiro, Suwiryo, Agus Salim
dan sebagainya.(Saya tak sanggup merancang penempatan yang manis bagi patung-patung mereka di kawasan yang relatif kecil tersebut).

Sutiyoso “kepengennya sih” hanya membangun 30 patung.Tapi jangan lupa, Indonesia sekarang berada dalam era demokrasi dan pemberdayaan daerah. Bagaimana kalau seluruh suku bangsa atau kelompok masyarakat menuntut juga kehadiran patung pahlawannya? (Apalagi biayanya tokh tidak perlu diambil dari APBD–bisa dari “swadaya” masyarakat dan perusahaan swasta).Kita tak boleh lupa bahwa daerah-daerah pinggiran Jakarta, seperti Cilandak, Pasar Minggu atau Ciputat; nama-nama jalannya nyaris diisi dengan pahlawan lokal. Ada Haji
Saidi, Mandor Basir, Haji Kontong, Haji Nawi, Abdul Majid, dan seterusnya. Ribuan jumlahnya. (Saya takut membayangkan kalau patung-patung di seantero Jakarta ini jadi dipakai tempat penodong bersembunyi menunggu korbannya atau tempat polisi bersembunyi “mengintip”
pengendara mobil yang salah jalan…).

Kerumitan di atas baru menyangkut masalah tempat pemasangan. Bagaimana pula dengan pengaruh iklan terhadap citra pahlawan yang dijadikan patung itu? (Saya tidak mau mengalami nasib buruk seperti Harry Rusli, karena itu silakan anda berfantasi sendiri.
Coba cari padanan patung yang tepat untuk iklan Marlboro, Hemaviton, Irex, Samsung, MacDonald, Sunsilk, Softex dan seterusnya…).

Kerumitan lain yang bakal kita hadapi ialah bila harus mempertimbangkan perasaan patung-patung yang sudah lebih dahulu hadir, terhadap patung-patung baru.(Walau pun mereka hanya sekedar patung; tapi rasanya pantas juga kalau kita mempertimbangkan perasaan mereka). Coba bayangkan perasaan patung Sisingamangaraja, ketika ia harus berbagi wilayah yang sama dengan patung “Ibnu Sutowo Mengangkat Api” di Perempatan Senayan, patung “Entah Siapa” di depan kantor Kejaksaan Agung atau patung Christina Martha
Tiahahu di Taman Blok-M. Bagaimana pula kita harus mendamaikan patung Cut Meutia, Ridwan Mas (nama lain dari jalan Menteng Raya), Sam Ratulangi dan Teuku Umar–yang kesemuanya bertemu di satu titik dekat Masjid Taman Cut Meutia–dengan patung “Orang-orang Lari Karung”yang sudah lama ada di seberang Kantor Pos Cikini?

Konon kabarnya, kalau malam sepi dan gelap gulita, patung lelaki dan perempuan di Bundaran Hotel Indonesia itu suka turun ke bawah dan mandi-mandi. Tapi, kalau di sekitar tempat itu sudah berdiri patung M.H. Thamrin dan Sudirman atau patung Sutan Syahrir, Mohammad Yamin, Imam Bonjol dan Diponegoro–karena itulah titik pertemuan jalan-jalan tersebut–maka
sepasang kekasih itu akan malu untuk mandi. Dan bayangkan citra apa yang akan terjadi bagi pariwisata Indonesia, jika Patung Selamat Datang, tak pernah lagi mandi sampai akhir zaman?

Akh, gara-gara gagasan Gubernur Sutiyoso saya jadi ikut membuat anda “repot”. Karena itu biarlah urusan patung diselesaikannya dengan para anggota DPRD yang sudah makan garam studi banding. Saya mau menutup saja tulisan ini dengan “kisah patung-patung Jakarta” yang
di masa-masa akhir pemerintahan Sukarno menjadi bahan lelucon:

Suatu ketika patung petani bersenjata di Menteng Raya berkata kepada isterinya, “Sebenarnya saya juga ingin mendaftar jadi sukarelawan melawan Malaysia.
Tapi perut saya kosong dan belum makan beberapa hari…” Sambil menitikkan air mata isterinya menatap bakul berasnya yang kosong. “Pergilah cari uang untuk pembeli beras…” kata petani bersenjata itu lirih kepada isterinya.

Maka berangkatlah sang isteri untuk mencari uang. Sebagai layaknya petani yang lugu, ia hanya tahu bahwa uang ada di Istana. Ketika itu di depan Istana Merdeka ada sebuah patung “Lelaki Telanjang Meregang Busur Panah”.(Ketika itu citra istana juga tidaklah seramah
seperti pada masa pemerintahan Gus Dur). “Jangan coba-coba dekat,” teriak lelaki di depan istana itu. “Disini bukan tempat uang. Lebih baik kau pergi ke Lapangan Banteng–Departemen Keuangan…”

Dengan ketakutan berlarilah wanita itu ke Lapangan Banteng. Tapi di depan Departemen Keuangan ia telah disambut oleh sebuah patung lelaki yang di kedua kakinya ada patahan rantai. “Uang sudah habis,” teriak lelaki itu sambil meregangkan kedua tangannya. Wanita petani itu bingung. Ia nyaris putus asa. Untunglah ia teringat bahwa di depan Hotel Indonesia
ada temannya sesama patung. Barangkali mereka bisa membantu.

“Kami hanya penerima tamu,” kata patung sepasang lelaki dan perempuan di depan Hotel Indonesia itu. “Hanya kembang yang ada pada kami…” Namun demikian, mereka menyarankan patung wanita petani itu untuk mencoba peruntungannya ke Istana Bogor. Ketika itu pada kolam di depan istana ada patung Endang Teratai, wanita tanpa busana itu. Endang Teratai terharu mendengar nasib wanita petani dari Menteng Raya itu, tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa. “Jangankan uang untuk membeli beras,” katanya lirih, “uang untuk membeli selembar benang pun saya tak punya…..” Barangkali, jauh lebih baik kalau Gubernur Sutiyoso meniru saja gagasan kota-kota lain di Indonesia, yaitu mendirikan patung-patung polisi agar membuat para calon pelanggar hukum sedikit berpikir. (Siapa tahu, patung itu masih lebih “berwibawa” dan membuat anak-anak sekolah takut melakukan tawuran). Oh, ya, sebelum tulisan ini saya akhiri benar-benar, izinkan saya berkisah satu hal lagi tentang patung:

Belum lama ini saya naik becak dayung di Medan. Dan sebagaimana layaknya kota-kota yang “maju” di negeri ini, seantero kota ini juga penuh diisi patung polisi. Ketika melintas di dekat sebuah patung, dengan maksud untuk mencairkan kebekuan suasana antara saya dengan si penarik becak yang berwajah angker itu, saya berkata, “Hehehe, menarik juga patung-patung ini…”

Dengan wajah tetap garang, napas tersengal-sengal dan terus mendayung, si tukang becak hanya berkomentar ketus, “Ho itu?! Itu polisi-polisi yang suka ‘ngompas’…Mampuslah mereka! Kena sumpah dan jadi batu….”[]

5 responses to “Patung-patung Gubernur Sutiyoso

  1. Sonny B. Wicaksono Kaliyan

    Coba kita liat patung Jenderal Sudirman yang udah berdiri di tengah median jalan, posisinya tegak menghormat. Ntah siapa yang beliau hormat, semua yang lewat jalan itulah, ya penjahat, ya koruptor blbi, ya pencopet. Sedih juga aku, kalau malam sendirian pula beliau, sepi. Apa ini yang diinginkan para pahlawan itu?

  2. tapi sayangnya patung ibu ditaman suropati digusur dengan patung diponegoro lagi.apa gak cukup ada diponegoro di monas.? program patung hanya sia-sia belaka jika ber keinginan untuk menanamkan nilai kebangsaan…tidak mendidik.
    Bang mula terima kasih,tulisan diblog ini banyak memberikan ide tulisan,maklum lagi belajar nulis.

  3. Tulisan yang bagus. Apalagi endingnya. Salut.

  4. Wah aku jd seneng deh baca tulisan ini. Makasih pencerahannya. Moga-moga Bang Yos baca biar ngerem keinginannya. Tapi sekarang kan udah gak jd gubernur lagi. Jadi….

  5. Salut untuk tulisan ini ! Padat, kocak, berisi, jenius !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s