Poso dan Pers Kita

Oleh: Mula Harahap

Sebelum terjadi kesepakatan damai di Malino, pertikaian di Poso sebenarnya sudah berlangsung selama 3 tahun. Tapi apakah yang kita ketahui tentang Poso? Boleh dikatakan, tidak ada. Pers tidak memberi informasi dan pencerahan apa pun mengenai pertikaian tersebut.

Sesekali, di media masa, kita memang membaca atau mendengar berita tentang penemuan setumpuk mayat korban pembunuhan atau tentang diadilinya beberapa orang dari sebuah kelompok atas dakwaan melakukan pembunuhan masal. Tapi bagaimana demografi, kehidupan
ekonomi atau konstelasi sosial-politik di daerah tersebut; kita tak pernah tahu.

Pemberitaan yang kita baca atau dengar pun pada umumnya bukan hasil peliputan langsung dari wartawan media masa yang bersangkutan; tapi lebih banyak dari “sumber yang dapat dipercaya”. Dan “sumber yang dapat dipercaya” itu artinya bisa sanak keluarga, teman atau
kenalan pers, yang mendengar berita itu dari sanak keluarga, teman atau kenalannya pula

Sebenarnya kita merindukan kamera-kamera televisi yang menyorot dan membiarkan orang-orang di Poso berbicara langsung dan apa adanya mengenai diri dan daerah mereka. Tapi hal itu tak pernah ada dan kita terpaksa memakluminya. {Untuk apa membuat sebuah program yang belum tentu tinggi ratingnya dan punya nilai komersil, dengan mempertaruhkan nyawa; kalau hal yang sama bisa dicapai dengan mewawancarai Wulan Guritno atau Kris
Dayanti di sebuah hotel yang sejuk dan nyaman di Jakarta?}.

Setelah terjadi Pertemuan Malino, barulah para wartawan datang berbondong-bondong menyorot tokoh-tokoh yang bertikai dan membuat liputan yang lebih “komprehensif”. Tapi, kita jangan lupa, liputan itu pun dilakukan dari hotel tempat pertemuan diselenggarakan di Malino. Dan Malino adalah sebuah daerah di Sulawesi Selatan; bukan di Sulawesi Tengah

Tapi cobalah kita lihat bagaimana pers internasional meliput peristiwa yang terjadi di Afganistan. Hanya dalam waktu 1 minggu setelah AS memutuskan untuk menyerbu negara tersebut, kita sudah memiliki begitu banyak informasi tentang orang Pashtun, orang Tajik
atau orang Hazara. Kita sudah memahami konstelasi sosial-politik di negeri tersebut. Kita sudah hafal nama-nama penguasa perang dari faksi-faksi yang bertikai. Kita sudah bisa membayangkan peta negara tersebut dengan kota-kota utamanya seperti Kabul, Kandahar, Jalalabad, Mazar el Marif atau Heraz. (Dan sampai sekarang saya tidak bisa membayangkan dimana letak kabupaten Poso di Sulawesi Tengah dan dimana pula letak kota Poso atau Tentena di kabupaten tersebut}.

Memang, liputan pers internasional itu belum tentu benar sepenuhnya dan pasti berfihak; tapi paling tidak, dari begitu banyaknya informasi yang kita peroleh, kita bisa merasakan “getaran” dari apa yang sedang menjadi pergumulan orang Afganistan.

Kita ambil contoh yang lain lagi, yaitu kemelut hasil penghitungan suara pemilihan presiden AS. Dalam waktu singkat kita langsung tahu apa yang terjadi dan apa esensi permasalahan. Bagaimana model kertas suara di Palm Springs County, bagaimana penghitungan dilakukan,
bagaimana peraturan digariskan dan bagaimana proses keputusan pengadilan diambil. Kamera televisi diseret ke kantor penghitungan suara, diarahkan ke penduduk Palm Springs, ke penasehat hukum dari dua kubu yang bertikai, ke para profesor ilmu politik, ke hakim-hakim mahkamah agung dan ke para pengunjuk rasa di jalanan. (Dan saya pun sekarang jadi tahu bahwa ibukota negara bagian Florida adalah Talahasse!).

Baiklah, mungkin kita menuntut terlalu banyak kalau wartawan harus pergi meliput langsung ke Poso, Maluku atau Sampit.(Walau pun wartawan mancanegra melakukan hal yang sama di gunung-gunung Afganistan yang berbatu dan bersalju itu). Tapi apa yang terjadi di ibukota
pun kadang-kadang belum diliput secara benar.

Di Jalan Suprapto–Jakarta, dekat tempat saya tinggal misalnya, hampir setiap hari diwarnai oleh tawuran. Entah sudah berapa nyawa melayang di sana. Tapi saya tak pernah membaca atau mendengar liputan yang agak luas dan mendalam mengenai kasus tersebut. Siapa sih
anak-anak ini, bagaimana kondisi sekolahnya, bagaimana tingkat sosial-ekonomi orangtuanya, apa-apa mimpi mereka, apa kata guru dan psikolog tentang mereka dan apa kata masyarakat sekitar tentang mereka.

Atau, contoh yang lain lagi, beberapa waktu lalu kita pernah mendengar heboh mengenai pembunuhan “dukun santet” di Banyuwangi. Memang, kita tidak mengharapkan pers untuk bisa mencari sumber masalah. Kita mengerti, kadang-kadang masalah itu sedemikian kompleksnya. Tapi–paling tidak–kita mengharapkan pencerahan dan penjabaran fakta yang lebih luas dari pers. Siapa sih orang-orang yang dibunuh ini, bagaimana mereka
berinteraksi dengan masyarakat sekitar, siapa orang-orang yang diduga membunuh, bagaimana kondisi sosial-ekonomi daerah tersebut, apa kata pemimpin-pemimpin lokal di sana dan apa kata masyarakat. Dengan liputan-liputan seperti ini maka kita menjadi semakin cerdas dan bisa melihat persoalan tidak sekedar hitam-putih.

Sebenarnya saya tidak suka untuk mengatakannya, tapi izinkan saya mengatakan, bahwa banyak peristiwa yang terjadi di negeri ini menjadi besar dan tidak karu-karuan justeru karena “ignorance” atau kesengajaan pers.

Peristiwa Ambon adalah sebuah contoh. Ia menjadi tidak karu-karuan karena kita memiliki pers yang penakut, kurang peka atau memang sengaja menangguk di air keruh. Di balik fakta bahwa ada supir angkot beragama Kristen yang mengejar kawan yang memalaknya, yang
beragama Islam, sehingga menimbulkan tawuran di Hari Raya Idul Fitri, ada persoalan lain yang lebih besar yang menyangkut aspek sosial, politik dan ekonomi. Tapi pers kita mungkin malas untuk menyelusuri hal tersebut dan ingin gampangnya saja yaitu mengutip komentar dari para “tokoh” yang kadang-kadang tak ada relevansinya dengan Ambon atau Maluku.

Beberapa bulan yang lalu di harian ibukota saya membaca tentang tertangkapnya dua pedagang keliling (orang pendatang) oleh masa di Kabupaten Ngada, Flores, atas tuduhan menebar daging beracun untuk menghabisi anjing-anjing milik penduduk yang banyak berkeliaran di jalanan. Sebagai pembaca, banyak hal yang tidak “nyambung” dan sebenarnya ingin saya ketahui lebih banyak dari berita tersebut. Bagaimana tingkat kehidupan sosial-ekonomi, demografi penduduk dan konstelasi politik lokal di kabupaten tersebut. Untuk orang “kurang kerjaan” seperti saya ini, tentu saja pers Indonesia tak punya waktu.

Tapi kemarin, dari seorang teman yang baru kembali dari daerah tersebut saya mendapat cerita bahwa isyu pembasmian anjing oleh para pendatang ternyata masih hangat hingga sekarang. Lalu teman tersebut juga menceritakan tentang berita lain yaitu seorang warga
yang mengklaim mengalami peristiwa “gaib” dan “relijius” dan oleh sebagian besar masyarakat
dipercaya sebagai benar. Oleh sebagian besar kita, termasuk pers, boleh saja fakta ini dianggap sekedar berita ringan dan menghibur. Tapi saya tersentak. Ini adalah simptom dari masyarakat yang sedang gelisah, sakit dan kehilangan harapan dalam sebuah era yang
diwarnai oleh krisis berkepanjangan dan penuh dengan ketidak-pastian. Mereka harus berhati-hati.

“Kalau kau punya teman pers, mintalah dia meliput secara luas dan mendalam apa yang sedang terjadi di sana. Saya takut, kalau-kalau pemimpin lokal di sana pun sebenarnya tidak menyadari benar apa yang sedang dirasakan masyarakatnya. Jangan sampai terlambat.
Sebab gejala seperti ini juga terjadi di Banyuwangi, Ambon dan di berbagai daerah rusuh lainnya…”

“Tapi pers mana yang tertarik mengangkat sebuah fakta yang ‘biasa-biasa’ dari sebuah kabupaten yang miskin seperti kami?” teman saya balik bertanya. Ia benar juga. (Komentar Dr. Naek Lumbantobing di Angin Malam tentu lebih disimak orang).

“Bagaimana dengan pers lokal?” tanya saya. “Akh, pers lokal hanya sibuk dengan urusan skandal mantan bupati dan anggota DPRD…”

Di negeri ini profesionalisme telah mengalami pengertian yang agak jungkir-balik. Profesionalisme artinya adalah menjadi kaya-raya dari kemandulan melakukan sesuatu terhadap masyarakat atas dasar profesi yang kita miliki. Pengacara, hakim, jaksa dan polisi menjadi kaya-raya dari ketidakpastian hukum. Bankers menjadi kaya-raya dari sistem perbankan yang bobrok. Aparat keamanan menjadi kaya-raya dari ketidak-amanan masyarakat. Politisi menjadi kaya-raya dari krisis kekuasaan dan kepemimpinan. Pendidik
menjadi kaya-raya dari proses pembodohan. Dan (saya berharap) mudah-mudahan pers Indonesia tidak menjadi kaya-raya dari kemiskinan dan kekacauan informasi di masyarakat.

Kita jangan lupa, demokrasi yang kita cita-citakan, salah satu tiang penopangnya adalah industri pers yang melakukan tugasnya dengan baik dan benar[].

One response to “Poso dan Pers Kita

  1. Tulisan Poso dan Pers Kita sangat menarik karena telah berani menunjukkan realitas sesungguhnya, dimana industri media kadang tidak jujur dalam pemberitaannya.
    Bang Mula, apakah saya bisa ikut menampilkan tulisan ini di website Poso (www.kontras.org/poso)?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s