Rumah Sakit Korban Lelaki dan Pertukaran Literatur Indonesia-Malaysia

Oleh: Mula Harahap

Sudah cukup lama dan sudah cukup banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, Malaysia dan negara-negara pengguna bahasa Melayu/Indonesia lainnya untuk menyatukan dan mengembangkan bahasa mereka.Secara periodik, di negara-negara tersebut selalu digilir pertemuan-pertemuan sastrawan dan ahli bahasa, untuk membahas dan mencari jalan keluar dari berbagai persoalan bahasa dan sastera yang dihadapi oleh negara dan bangsa di kawasan tersebut. Tapi alih-alih menjadi semakin menyatu dan berkembang;
masing-masing bahasa dan sastera di kawasan-kawasan seperti tersebut di atas justeru cenderung berjalan ke arah yang semakin menjauh satu sama lain. Padahal, bila saja bisa menyatu maka bahasa, sastra dan budaya Melayu/Indonesia itu akan sedemikian kaya dan kuatnya. Apalagi, di kawasan Asia Tenggara ini saja, ia didukung oleh 250 juta penutur.

Bila sebuah buku (bahasa yang tertulis) diterbitkan dalam bahasa Spanyol di Barcelona, maka pembaca di Mexico City, Buenos Aires, atau Bogota akan melahapnya tanpa kesulitan. Begitu juga buku yang diterbitkan di Auckland, akan dengan enaknya dibaca oleh penduduk
yang bermukim di London, Pretoria, Ottawa atau New York City.

Tapi sebaliknya, buku yang diterbitkan dalam bahasa Melayu di Kuala Lumpur atau Bandar Sri Begawan, akan dibaca oleh penduduk yang bermukim di Jakarta dengan mengernyitkan kening atau tertawa. Bahasa Melayu menjadi sesuatu yang lucu dan sumber olok-olok yang tak habis-habisnya di Indonesia. Berulang kali kita mendengar olok-olok tentang “rumah sakit korban lelaki”, tentara yang “menghentak-hentakkan kaki di bumi” (berbaris di tempat), atau petugas imigrasi yang menanyakan “kelamin” (suami atau isteri) kita. Hal yang sama juga terjadi di Malaysia. Walau pun tidak menjadikannya bahan olok-olok; tapi dari hari ke hari
penduduk di Kuala Lumpur semakin tak bisa memahami apa yang ditulis oleh buku, suratkabar dan majalah kita. Terlalu banyak kata-kata baru yang tak mereka kenal.Padahal, kalau saja kita mau bersatu, alangkah kayanya bahasa Melayu/Indonesia itu dengan kata-kata
dan ungkapan yang lebih pas dan sesuai dengan budaya kita. Dan daripada tergagap-gagap mengindonesiakan kata atau istilah Inggeris–setelah kita tak menemukan padanannya dalam bahasa daerah, Sansekerta atau Jawa Kuno–mengapa kita tak menoleh ke bahasa tetangga yang notabene adalah serumpun dengan kita?

Kunci dari jawaban di atas sebenarnya adalah pertukaran literatur. Kita nyaris tak pernah melihat buku-buku Malaysia di Indonesia. Di Malaysia, kita memang masih menemukan buku-buku Indonesia. Tapi dari tahun ke tahun jumlahnya pun relatif menurun. Pada awal berdirinya Malaysia, karya-karya sastra kita memang masih diajarkan di sekolah-sekolah. Tapi
setelah sastrawan mereka muncul, karya-karya sastra Indonesia mulai ditinggalkan.

Atas dasar keprihatinan di atas, maka pada bulan Maret 2001 yang lalu, di Johor Baru–Malaysia, bersamaan dengan penyelenggaraan pertemuan ahli bahasa dan
sastera Melayu/Indonesia, telah diresmikan berdirinya sebuah Forum Komunikasi Penerbit Serantau. Forum ini berupaya untuk menggalakkan (Ini sebuah kata yang berasal dari Malaysia–M.H) pertukaran literatur antara Indonesia dan Malaysia lewat mekanisme
pasar.Forum ini menyadari bahwa pertukaran literatur yang efektif tidak dapat diandalkan lewat dekrit pemerintah negara masing-masing; tapi seyogyanya dilakukan melalui ekspor-impor atau penerbitan reprint atau adaptasi. Karena itu, secara bersama-sama, forum
ini akan mencari pemecahan bagaimana menggiatkan promosi dan penjualan buku-buku Indonesia di Malaysia, atau sebaliknya.Atau, kalau ekspor–impor dirasakan kurang efektif karena disparitas nilai tukar mata uang kedua negara; maka forum ini juga akan mencari cara bagaimana mendorong upaya penerbitan edisi cetak ulang atau adaptasi secara timbal-balik di kedua negara.

Harus diakui, dalam jangka pendek, secara eknomis kerjasama ini mungkin tidak terlalu menguntungkan. Ia lebih merupakan upaya yang dilandasi oleh idealisme. Tapi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama, ia juga akan memberi manfaat ekonomi, yaitu mempersatukan
dan mengembangkan sebuah pasar yang lebih besar, baik bagi Malaysia mau pun bagi Indonesia.

Pada tanggal 13 September 2001 yang akan datang, di Jakarta, akan berlangsung pertemuan kedua dari Forum Kerjasama penerbit Indonesia–Malaysia ini. Diharapkan dalam pertemuan kedua ini upaya-upaya kerjasama akan semakin menemukan bentuknya. Kita mengharapkan para penerbit Malaysia datang memperkenalkan buku-buku yang diminati oleh pasar di Indonesia, untuk dicetak-ulang atau diadaptasi di Indonesia. Perlu kita sadari, bahwa
produktivitas pengarang-pengarang asli Malaysia jauh lebih tinggi dari pengarang-pengarang asli Indonesia. Dengan kata lain, prosentase karya terjemahan buku-buku asing (Barat) di Malaysia jauh lebih rendah dari di Indonesia. Malaysia yang sekarang, sudah jauh berbeda dengan Malaysia tiga puluh tahun lalu, yang untuk mengisi kekurangannya terpaksa harus mengimpor guru dan dosen Indonesi untuk mengejar ketertinggalannya. Kini mereka telah memiliki begitu banyak ilmuwan dan intelektual. Dan yang lebih mengagumkan lagi, ilmuwan dan intelektual ini menulis–tidak sekedar cuap-cuap di televisi atau radio sebagaimana ilmuwan dan intelektual kita, yang menamakan dirinya “pengamat” itu.

Demi ketahanan budaya kita sendiri, barangkali sudah saatnya kita membangun aliansi dengan budaya yang notabene serumpun dengan kita. Malaysia bukan sekedar
“rumah sakit korban lelaki”. Malaysia juga adalah P.Ramlee, Lat dan Sheila Madjid. Dan Malaysia juga adalah sederetan buku-buku sastra, ilmu pengetahuan dan teknologi yang serius[]

7 responses to “Rumah Sakit Korban Lelaki dan Pertukaran Literatur Indonesia-Malaysia

  1. Pak Mula.. Kalau diizinkan, saya ingin menaruh tulisan Pak Mula ini ke: http://www.bumikelana.multiply.com (blog saya) dan http://www.thelunchbox-online.com (wadah aspirasi opini online bagi para penulis muda). Bahkan, bila Pak Mula berkenan mengunjungi http://www.thelunchbox-online.com, saya akan merasa senang sekali karena masukan dari Pak Mula adalah juga yang saya harapkan.. Thx.. GBU..

  2. Di Malaysia tidak ada istilah “rumah sakit korban lelaki”. Di Malaysia, rumah sakit disebut “hospital”

  3. Ustaz Komputer

    Saya membuat carian di Internet untuk memastikan apakah benar di Indonesia menggunakan istilah ‘Rumah Sakit Korban Lelaki’ untuk ‘maternity house’.
    Cukup menghairankan apabila yang saya ketemukan adalah forum dan blog yang membahaskan penggunaan istilah ‘Rumah Sakit Korban Lelaki’ di Malaysia. Walhal istilah yang digunakan di Malausia adalah ‘Klinik Bersalin’ atau ‘Wad Bersalin’. Tentu ada pihak tidak bertanggungjawab yang cuba memainkan bahasa Indonesia dan Malaysia…

    Kalau Pak Uztaz membaca tulisan saya dengan seksama, maka Pak Uztaz akan bisa melihat bahwa saya tidak pernah mengatakan bahwa di Malaysia memang ada istilah “rumah sakit korban lelaki”. Itu hanyalah olok-olok disebabkan oleh “ignorance”-nya orang Indonesia. Dan di dalam tulisan tesebut sebenarnya saya justeru mau mengajak kawan-kawan saya orang Indonesia agar memandang masalah bahasa dan kesusasteraan di antara 2 bangsa yang serumpun ini dengan lebih sungguh-sungguh–MH

  4. Kata “hospital” dan “klinik” itu dari bahasa Inggeris bukan bahasa Melayu. Di indonesia dikenal dengan “dokter kandungan” atau “bidan”. “Hospital” kalau di Indonesia itu dikenal dengan “rumah sakit” dan klinik dokter yang buka praktek di luar rumah sakit atau yang dikenal Puskesmas.

  5. Pak Mula, saya menemukan tulisan ini saat melakukan pencarian tentang istilah ‘rumah sakit korban lelaki’. Terus terang baru belakangan ini terbuka mata saya bagaimana kita di Indonesia sering memperlakukan bahasa negeri tetangga kita itu tidak sebagaimana mestinya, yang notabene merupakan identitas dan kebanggan bagi mereka. Hal ini juga saya ketahui dari sahabat saya yang berasal dari Malaysia. Mudah-mudahan ke depan makin tumbuh kesadaran untuk saling menghormati sesama terutama sebagai bangsa serumpun.

  6. Di antara banyak kata itu, sering orang Indonesia bercanda dengan menyebut kalimat “rumah sakit korban lelaki” untuk menerjemahkan rumah bersalin atau “hentak-hentak bumi” sebagai pengganti istilah aba-aba didunia militer “jalan ditempat”.

    Kedua istilah tersebut sama sekali tidak dikenal di Malaysia, begitu pula untuk istilah “rumah sakit” karena mereka lebih pas mengambil istilah “hospital” untuk memelihara warisan Inggris yang pernah menjajah Malaysia.

    http://www.indonesiamedia.com/2007/01/mid/manca/malaysia.htm

  7. Dasar maling ya tetep maling…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s