Indonesian Idol and The Joy of Democracy

Oleh: Mula Harahap

Apakah seseorang itu terpilih menjadi presiden karena ia–dibandingkan dengan para kandidat lainnya–memang memiliki kemampuan ‘real’ untuk menjadi presiden; ataukah hanya karena lebih populer? “Jangan-jangan,” kata sebagian rakyat Amerika, “seseorang kita pilih menjadi presiden sebenarnya hanya karena ia lebih mampu berakting dan memanipulasi media massa….”

Pertanyaan seperti di atas pernah menjadi bahan perbincangan di Amerika Serikat ketika Ronald Reagan memasuki masa jabatannya yang kedua sebagai presiden. Ketika itu Amerika Serikat sedang mengalami defisit anggaran yang parah, pertumbuhan ekonomi nyaris “stagnant” dan krisis Iran-Contra terkuak. Kepemimpinan “cowboy” Ronald Reagan yang mengangkat harga diri bangsa (setelah kepemimpinan “guru sekolah minggu” Jimmy Carter yang jujur tapi dipermainkan oleh rezim revolusioner Iran itu), mulai diragukan orang.

Sebagian rakyat AS mulai berpikir-pikir tentang cara lain memilih pemimpin.

Tapi kalau demokrasi tetap hendak dipertahankan dan pergantian presiden tetap hendak dilakukan secara beradab, maka rakyat AS tidak memiliki alternatif lain.

Pemimpin yang benar-benar tangguh dan teruji, seperti yang mereka mimpikan, ternyata hanya bisa diperoleh melalui duel fisik seperti yang terjadi di kelompok gorilla, kera, serigala dsb. atau melalui kudeta bersenjata seperti yang terjadi di negara-negara totaliter. Dan cara-cara ini tentu saja jauh dari semangat demokrasi.

Demokrasi modern memang erat kaitannya dengan media massa. Dan suka atau tidak suka, harus diakui bahwa acapkali keputusan terbanyak diambil karena rakyat “termakan” oleh popularitas. Dan popularitas sangat erat kaitannya dengan upaya memanipulasi media. (Karena itu, agar mayoritas rakyat bisa mengambil keputusan atau memilih pemimpin yang kemampuannya mendekati “real”, maka diperlukan bimbingan dari pengamat atau komentator yang netral dan menguasai permasalahan).

Kontes “Indonesian Idol” sebenarnya mirip dengan pemilihan presiden di Amerika Serikat (atau di negara demokrasi mana pun; termasuk di Indonesia).

Kontes ini ingin memilih seorang yang kemampuan bernyanyinya paling baik. Tapi keputusan untuk memilih diletakkan di tangan masyarakat, yang sebagian besar adalah awam dalam urusan tarik suara.

Para perancang acara “Indonesian Idol” menyadari bahwa kalau masyarakat yang awam itu diberi kebebasan untuk memilih, maka dasar pemilihannya tentu tidak akan bisa lepas dari pertimbangan-pertimbangan lain di luar urusan tarik suara. Karena itu, dihadirkanlah beberapa
juri (Indra Lesmana, Titik D.J, Meutia Kasim dan Dimas Jayadiningrat) yang dianggap mengetahui urusan tarik suara, untuk membimbing masyarakat menjatuhkan pilihannya.

Tapi seberapa objektif pun komentar para juri itu; sebagian besar masyarakat tetap saja menjatuhkan pilihannya berdasarkan “hati nurani” atau “selera” masing-masing, yang tak ada kaitannya dengan urusan tarik suara. Inilah yang membuat “Indonesian Idol”, “AFI” dan “reality show” lainnya yang sejenis menjadi menarik. Ini jugalah yang membuat pemilu caleg dan pemilu capres menjadi menarik. Dan inilah demokrasi:

Pada putaran awal “Indonesian Idol”, puteri saya menjagokan Michael. Dasar pertimbangannya ialah bahwa Michael adalah orang Papua. Dan menurut pendapatnya, orang Papua yang “tertindas” itu sudah saatnya ditampilkan di pentas nasional. (Tapi, saya rasa, ada lagi dasar pertimbangan lain yang dimiliki oleh puteri saya, walau pun hal itu tak diungkapkannya secara gamblang. Di matanya, lelaki yang berkulit gelap selalu memiliki nilai plus dibanding dengan lelaki yang berkulit terang).

Ketika Michael tersisih, maka pilihan puteri saya berpindah kepada Delon. Tentu saja, Delon bukanlah lelaki yang berkulit gelap. Tapi kali ini pilihan puteri saya ternyata tidak lagi didasarkan kepada warna kulit: Ia memilih Delon karena bersimpati dengan latar belakangnya dari keluarga dengan ekonomi yang sederhana itu.

Ada pun isteri saya, pada putaran awal, menjagokan Karen. Sebagai orang yang berasal dari wilayah Indonesia Timur, seharusnya ia menjagokan Michael. Tapi dasar pertimbangannya ternyata bukanlah agama atau etnis. Dasar pertimbangannya benar-benar urusan tarik suara.

Tapi ketika Karen tersisih (sebagai hasil pilihan masyarakat yang dasar pertimbangannya pun tak terlalu jelas), maka ia pun beralih menjagokan Delon. Dasar pertimbangannya kali ini ialah karena Delon adalah “underdog” bila dibandingkan dengan Joy. Saya bisa memahami dasar pertimbangan isteri saya. Saya rasa ia hanya ingin “tampil beda” dari orang-orang di sekitarnya. Ia merasa jenuh dengan orang-orang Batak di lingkungan “arisan parsahutaon” dan keluarga yang ramai-ramai menjagokan Joy. Karena itu saya juga bisa memahami, ketika secara diam-diam isteri saya mengirim 10 (sepuluh) “sms” untuk Delon!

Anak saya yang lelaki, sejak awal telah memilih Helena. Lagi-lagi, dasar pertimbangannya bukan urusan tarik suara. “Ini orang Tionghoa yang biasa-biasa, seperti kita…” Ketika pilihan tinggal antara Delon dan Joy, maka ia pun memilih Delon. Dasar pertimbangannya: Sudah terlalu banyak suara untuk Joy.

Pada tahap awal, saya pun memilih Helena. Dasar pertimbangan saya adalah sebuah fantasi yang “bukan-bukan”. Helena manis. Helena juga mengingatkan saya akan seorang anak perempuan yang pernah saya “taksir” ketika masih di SD dahulu. (Ha-ha-ha!). Tapi, tentu saja, kedua dasar pertimbangan itu tidak saya utarakan di depan keluarga. Ketika menonton Helena, saya hanya mengatakan, “Anak ini manis. Saya rasa dia cocok jadi menantu saya….”

Ketika Helena tersisih, maka saya tak punya pilihan lagi. Tadinya saya mau memilih Meutia Kasim. Tapi kata isteri saya pilihan seperti itu tidak sah dan ngawur. “Mengapa kau tidak memilih Joy saja?” tanyanya. Saya pun tak tahu, mengapa saya tidak memilih Joy. Tapi setelah saya pikir-pikir lebih dalam, saya tahu juga alasan mengapa saya tidak memilih Joy: Saya tidak suka dengan model rambutnya yang seperti “magnit sedang menarik pasir-besi itu”.

Nyonya T, sahabat isteri saya, seorang janda keturunan Tionghoa yang tinggal di bilangan Cempaka Putih, sejak awal memilih Delon. Ia bercerita kepada isteri saya, bahwa setiap malam ia berdoa kepada Yesus agar Delon dimenangkan. Dan untuk mendukung doanya, ia tak lupa mengirim 50 (lima puluh) “sms”!

Keluarga G di Sunter, keturunan Tionghoa dan juga merupakan sahabat keluarga kami, pada awalnya memilih Helena atau Delon. Tapi ketika pilihan tinggal di antara Joy dan Delon, maka seisi keluarga memilih Delon.

Saya bisa memahami dasar pertimbangan seisi keluarga itu. Saya rasa dasar pertimbangan mereka sama saja dengan dasar pertimbangan yang dimiliki oleh kawan-kawan Batak saya di Pulomas, yang menjagokan Joy. Pertimbangan mereka hanya didasarkan atas pertimbangan etnis semata. (Kalau kepada mereka diperhadapkan pilihan antara Ruyandi Hutasoit atau Susilo Bambang Yodhoyono sebagai presiden, maka mereka pasti memilih Ruyandi Hutasoit!).

Bagitulah, pada malam Minggu itu akhirnya Joy terpilih sebagai “Indonesian Idol”.

Saya senang menyaksikan segala antusiasme dan pilihan yang dijatuhkan orang atas idolanya itu. Itulah demokrasi. Itulah “the joy of democracy”.

Hanya, saya menyayangkan cara RCTI dalam mengumumkan pemenang. Seharusnya mereka melaporkan berapa persisnya jumlah “sms” yang masuk dan berapa yang diterima oleh masing-masing finalis. Dan akan lebih baik lagi, kalau ada notaris yang mem-“verify” jumlah “sms” yang masuk itu. Dengan demikian tidak muncul dugaan yang bukan-bukan terhadap RCTI.

Kalau dugaan masyarakat itu terbukti, yaitu bahwa peraih “sms” terbanyak sebenarnya adalah Delon, tapi ia dikorbankan demi menyelamatkan nama Indonesia di putaran seleksi tingkat internasional, maka berarti RCTI telah bertindak gegabah dan mengkhianati demokrasi.

Seandainya memang Delon-lah peraih “sms” terbanyak, maka apakah ia mampu atau tidak dalam bersaing di tingkat internasional; itu bukanlah persoalan. Pilihan masyarakat haruslah dihargai. (Mudah-mudahan saja dugaan “permainan” oleh RCTI ini hanyalah kabar burung).

Tanggal 20 September nanti kita juga akan kembali menyaksikan versi lain dari kontes “Indonesian Idol”.

Masing-masing kita diberi kebebasan untuk memilih idola kita dengan dasar pertimbangan dan selera masing-masing:

Ibu saya akan memilih SBY-Kalla. Dasar pertimbangannya adalah, “Saya selalu berdebar-debar, sesak nafas dan malu kalau mendengar Megawati berbicara….Saya tak mau kalau selama lima tahun ke depan saya harus terus sesak nafas dan berdebar-debar. Bisa mati saya…”

Puteri saya akan memilih Megawati-Hasyim. Dasar pertimbangannya sungguh “genuine”. “Saya ‘kan kepingin menjadi pramugari. Kata orang, Hotasi Nababan direktur Merpati itu ‘kan orangnya Megawati. Nah, kalau Megawati terpilih tentu ia akan terus menjabat sebagai direktur Merpati. Dan kata Bapak, Asmara Nababan dan Indera Nababan itu ‘kan kawan Bapak. Bisa dong saya diatur agar masuk Merpati….” (Saya selalu “bangga” dengan anak perempuan saya ini. Dia adalah “anak zaman” yang penuh dengan nuansa KKN).

Anak saya yang lelaki, yang dahulu menjagokan Anwar Fuadi sebagai calon presiden Golkar, akan memilih SBY-Kalla. Ia memang sedikit “nyentrik” dan tak pernah ambil pusing dengan persoalan politik. Ia tidak perduli dengan isyu yang mengatakan bahwa SBY adalah pro Syariat Islam dan Yusuf Kalla adalah dalang peristiwa Poso. “Saya suka kumis Yusuf Kalla. Lucu…” katanya.

Ada pun isteri saya, saya rasa ia akan memilih Megawati-Hasyim. Memang, ia agak kecewa dengan kinerja Megawati selama ini. Tapi sebagaimana halnya Pdt. Eka Darmaputera, Ruyandi Hutasoit dan orang-orang Kristen yang saleh lainnya, ia akan tetap menjatuhkan pilihannya kepada Megawati. “Kalau bukan Mega, siapa lagi yang akan membela kita, orang Kristen yang
minoritas ini?” (Dan dalam urusan politik, orang-orang Kristen yang saleh ini akan marah, kalau dengan ketus kita katakan, “Tuhan Yesus yang akan membela kita. Bukan Megawati…”).

Adik saya yang paling bungsu, saya rasa tidak akan memilih. Dengan kata lain ia memilih “golput”. Dasar pertimbangannya pun bisa saya terima. Sejak dahulu ia selalu menjagokan Gus Dur.

Dalam pemilu 20 September 2004 ini, Gus Dur sudah menyatakan dirinya sebagai “golput”. Dan Gus Dur sudah
pula berkata, “Kalau nanti prosentase rakyat yang memilih golput jauh lebih tinggi daripada yang memilih SBY atau Mega, maka sayalah yang menjadi presiden. Saya ‘kan golput….” (Gile bener!).

Apakah sistem demokrasi bisa diandalkan untuk menghasilkan terpilihnya seorang pemimpin yang benar-benar mampu dan “real”? Apakah sistem “one man one vote” cukup adil dan bisa menghasilkan keputusan mayoritas yang “bermutu”, di tengah sebuah masyarakat yang 99% masih diisi oleh orang-orang yang tidak berpendidikan?

Itulah pertanyaan yang sering dilontarkan oleh mereka yang menentang demokrasi (Lee Kuan Yew, Suharto, Hitler, Augusto Pinochet, Slodoban Milosevik dsb).

Saya sendiri tidak tahu apakah demokrasi adalah jawaban atas pertanyaan seperti tersebut di atas. Tapi, kalau pun tidak bisa menghasilkan finalis Indonesian Idol atau presiden yang terbaik, saya tokh tetap berfihak pada demokrasi: Bagi saya, paling-tidak, demokrasi itu “ramai”, “fun” dan “joy”.

Dan saya sangat berharap bahwa catatan saya ini dibaca oleh orang-orang yang bergabung di Koalisi Kebangsaan itu. Selamat memilih![]

One response to “Indonesian Idol and The Joy of Democracy

  1. That’s a good info.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s