Kisah Adam dan Hawa: Sejarah atau Metafora?

Oleh: Mula Harahap

Kalau saya jatuh cinta pada seorang perempuan (pengalaman jatuh cinta pada seorang perempuan adalah fakta), maka pengalaman jatuh cinta itu bisa saya gambarkan secara “fakta”, dan bisa pula saya gambarkan secara “fiksi”.

Kalau secara “fakta”, maka saya tentu akan melaporkan berapa tekanan darah, berapa denyut nadi per menit, dan bagaimana komposisi hormon serta enzim yang ada di dalam tubuh saya. (Seperti catatan di kaki tempat tidur seorang pasien rumah sakit, yang setiap pagi dibaca oleh oleh dokter dengan raut wajah tanpa emosi).

Kalau secara “fiksi”, maka saya akan menggambarkannya begini: “Kerling danau di pagi hari/Lonceng gereja bukit Itali/Jika
musimmu tiba nanti/Jemputlah abang di teluk Napoli” (Sajak Sitor Situmorang).

Kalau seseorang ingin mengetahui atau mengalami bagaimana rasanya jatuh cinta, maka manakah penggambaran yang lebih relevan baginya? Saya rasa, orang itu tentu akan memilih penggambaran secara “fiksi”.

Spiritualitas atau jatuh cinta kepada Tuhan adalah fakta yang lebih subtil lagi daripada jatuh cinta kepada seorang perempuan. Karena itu, menurut hemat saya, agar orang lain bisa mengetahui dan merasakan pengalaman tersebut, ia akan lebih efektif bila digambarkan secara “fiksi”. Memang, pengalaman itu bisa juga digambarkan secara “fakta” dalam bentuk esai teologis atau psikologis. Tapi saya rasa gambaran seperti itu tak akan menggetarkan.

Alkitab adalah sebuah buku yang penuh berisi uraian-uraian “fiksi” tentang fakta atau pengalaman berbagai orang, dari berbagai tempat dan waktu, tentang jatuh cinta kepada Tuhan.

Persoalan dengan kita ialah, bahwa kita memiliki pemahaman yang sempit dan kaku tentang “kebenaran”, “fakta”, dan “fiksi”. Karena
itu, ketika kita mengatakan Alkitab sebagai sumber kebenaran, maka kita terpaksa mengasumsikan semua yang ada di dalam Alkitab itu sebagai fakta atau sesuatu yang nyata dan pernah terjadi secara harfiah.

Walhasil, ketika ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang, kita sibuk membela hal-hal di dalam Alkitab, yang kita yakini sebagai fakta (dalam pemahaman yang sempit dan kaku itu), demi untuk membuat iman kita tidak terguncang. Dan inilah yang terjadi dalam diri para penganut “creationist” itu.

Adapun saya sendiri, demi untuk membuat iman saya tidak terguncang, saya lebih suka mengasumsikan hal-hal yang ada di dalam Alkitab itu sebagai fiksi. Atau, kalau pun sebagian dari hal-hal itu memang fakta (sesuatu yang nyata dan pernah terjadi), tapi ia adalah fakta yang disajikan secara fiksi.

Memang, sebagaimana halnya dalam memahami banyak karya fiksi, tidak semua hal-hal di dalam Alkitab itu bisa dengan mudah saya pahami dan menggetarkan hati saya.

Nah, untuk itulah saya mengharapkan bantuan para pendeta atau teolog. Tapi tak banyak pendeta yang bisa membuat saya manggut-manggut dan berkata “aha…aha…aha” dalam hati. Karena itu pula, kalau jam kebaktian di gereja, saya sering bertengkar dengan isteri saya, karena saya sering memilih untuk tidur[].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s