Manortor di Depan Jenazah

Oleh: Mula Harahap

Ito yang baik,

Saya bukan seorang ahli teologia, ahli kebudayaan atau pejabat gerejawi. Tapi izinkanlah saya ikut menjawab pertanyaan yang kau ajukan. Topik yang berkaitan dengan pertanyaan tersebut, yaitu perjumpaan adat dengan Injil, juga adalah topik yang selalu menggelitik perasaan dan keingin-tahuan saya sejak dahulu.

Uraian saya ini biarlah saya mulai dengan sebuah kisah yang sering saya dengar. Saya tidak tahu apakah kisah ini adalah sebuah kisah nyata atau alegori; tapi saya selalu senang mengingatnya. Di dalamnya tersirat sebuah esensi pergumulan, yang rasanya juga adalah pergumulan “gereja-gereja suku” di Indonesia. Kisahnya seperti ini:

Ketika Sri Paus mengunjungi salah sebuah negara di Amerika Latin dan berkhotbah di sebuah lapangan terbuka, datanglah seorang kepala suku Indian menghampirinya. Sang kepala suku bertelanjang dada dan berjalan gagah sambil mengepit Alkitab. Setibanya di hadapan Sri Paus ia membungkuk dengan penuh takzim seraya berkata, “Tuan, lima ratus tahun yang lalu Tuan datang kemari. Tuan ambil kekayaan budaya kami dan Tuan berikan Injil ini sebagai gantinya. Kini kami datang untuk mengembalikan Injil ini kepada Tuan dan kami minta kembali kekayaan budaya kami…”

Ito,

Seyogyanya Injil tidak harus membuat sebuah masyarakat tercerabut dari akar tradisi dan kehilangan kekayaan budayanya.

Memang akhir-akhir ini saya melihat ada gejala di kalangan orang- orang tertentu–terutama kaum muda–yang karena alasan “iman terhadap Kristus Yesus”, secara serta-merta ingin keluar dari tradisi dan mencampakkan kekayaan budayanya.

Di kumpulan keluarga atau “arisan parsahutaon” saya sering mendengar kisah anak si anu yang menolak upacara pernikahan secara adat dengan alasan bahwa upacara seperti itu tidak sesuai dengan iman sebagaimana yang mereka fahami. (Saya pernah menghadiri upacara pernikahan yang seperti itu. Tapi sekuat apapun pasangan itu berargumentasi, tetap saja ada warna “adat” di dalam upacara tersebut, yaitu “adat orang amerika”. Ha-ha-ha…).

Saya juga pernah dibuat terkejut ketika berkunjung ke rumah seorang handai-taulan. Rumah yang tadinya penuh dengan patung dan lukisan, tiba-tiba menjadi kosong-melompong. Penasehat spiritual keluarga itu–maaf, saya tidak menyebutnya pendeta–rupanya menyarankan, bahwa agar seisi rumah terbebas dari malapetaka maka “berhala-berhala” yang ada di seantero rumah sebaiknya dibakar dan dihancurkan. (“Kalian sudah gila, apa?!” hanya itulah ucapan yang bisa terlontar di hati saya).

Begitulah, masih banyak lagi kisah-kisah sedih seperti di atas, yang bisa saya beberkan, yang terjadi hanya karena perbuatan orang-orang, yang di satu fihak tidak memahami hakekat budaya, tapi di lain fihak tidak pula sepenuhnya memahami Injil.

Ito,

Menurut pendapat saya budaya adalah sebuah jati diri sekaligus manifestasi dari sebuah masyarakat. Sebagai sebuah jatidiri maka budaya perlu dijaga agar ia tidak mengalami perubahan yang tiba-tiba atau menjadi terputus. Masyarakat yang budayanya mengalami perubahan yang tiba-tiba atau menjadi terputus akan mengalami kebingungan, keterasingan dan “sakit jiwa”.

Tapi, walaupun saya berpendapat bahwa budaya adalah jatidiri dari sebuah masyarakat, bukan berarti bahwa budaya–terutama dalam pengertiannya sebagai nilai, ritus, sistem kekerabatan, ekspresi seni, dsb–harus dijaga sebagaimana kita menjaga sebuah barang antik. Budaya tidak boleh hanya sekedar diawetkan dan dielus-elus.

Budaya boleh berubah. Dan seharusnyalah ia berubah, karena berbagai hal di luar dan di dalam masyarakat juga mengalami perubahan. Tapi yang menjadi masalah ialah bagaimana perubahan itu disikapi agar masyarakat tidak bingung, merasa terasing dan “sakit jiwa”. Dan strategi yang paling tepat untuk ini ialah, dari waktu ke sewaktu mengkaji ulang budaya tersebut serta memberikan pemahaman dan makna baru yang lebih relevan terhadapnya.

Lalu, dalam kasus budaya Batak, siapakah yang harus melakukan pekerjaan mengkaji-ulang dan memberikan makna baru tersebut? Kau, saya, kawan-kawan lain di milis ini, ahli teologi, ahli budaya, gereja, universitas, pemerintah dan siapa saja yang merasa berkepentingan. Masing-masing melakukan pengkajian dan pemberian makna baru dari sudut pandangnya. Dan diskusi dari hasil pengkajian serta pemaknaan yang berbeda-beda inilah yang kemudian akan menghasilkan sebuah kesepakatan yang bisa diterima oleh sebagian besar kita–para penyandang budaya tersebut. (Dari sejarah kita belajar bahwa gereja sebenarnya sangat piawai dalam memberi makna baru terhadap sebuah budaya, sehingga budaya itu tetap hidup dalam terang pemahaman kristiani. Tradisi Natal yang kita jalani adalah salah satu contoh. Dahulu di Eropa ia adalah sebuah tradisi dari orang-orang pagan).

Memang, sudah banyak pengkajian dan pemaknaan baru yang kita lakukan terhadap budaya Batak, sehingga budaya itu menjadi tetap relevan, enak dan pas dengan nilai-nilai religi, sosial, politik dan ekonomi yang kita anut sekarang. Tapi mengingat derasnya tuntutan perubahan, maka masih lebih banyak lagi “pekerjaan rumah” yang harus dilakukan.

Nah, sekarang izinkan saya masuk ke masalah yang menjadi inti dari pertanyaanmu, “Apakah manortor di depan jenazah bertentangan dengan pemahaman iman terhadap Kristus Yesus?”

Saya akan mencoba menjawabnya. Tapi, saya takut, jawaban saya tidak bisa “hitam-putih”. Dan–meminjam isitilah orang-orang NU–masalah yang kau pertanyakan ini memang adalah masalah yang “khilafiyah”. Ha- ha-ha…

Ito,

Dari penuturan para orangtua, saya tahu bahwa “manortor di depan jenazah” adalah sebuah tradisi yang telah dipraktekkan oleh orang-orang Batak jauh sebelum Kekristenan masuk. Atas orang-orang tertentu, ada upacara kematian, yang oleh anak-cucu mau pun handai-taulannya tidak lagi dianggap sebagai dukacita, melainkan sukacita.

Siapakah orang-orang yang upacara kematiannya itu berhak diberi status sebuah pesta sukacita; ketimbang dukacita? Biasanya ia adalah seorang yang mati dalam usia uzur. Anak-anaknya semua telah menikah dan dikaruniakan anak-anak pula. Semua dalam keadaan kesehatan, ekonomi dan sosial yang relatif baik pula. (Kematian yang seperti ini ada yang menyebutnya sebagai kematian yang “sarimatua”. Ada yang mengatakannya sebagai “saurmatua”. Ada pula yang mengatakan bahwa “sarimatua” atau “saurmatua” itu sama saja. Perbedaan ini barulah akhir-akhir ini saja diadakan orang. Ini juga menarik untuk
dibahas…).

Nah, sebagaimana layaknya sebuah pesta, digelarlah “tortor”. Dan yang “manortor” biasanya hanyalah cucu-cucu dari yang mati. (Bisa difahami, bahwa walau pun kematian ini sudah layak dianggap “pesta sukacita”, tapi bagi anak-anak yang mati, kematian ini tentu tetaplah dirasakan sebagai “peristiwa dukacita”. Karena itu tidak layak kalau anak-anak yang mati turun “manortor”).

Dahulu “tortor” dilakukan oleh para cucu dan buyut si mati di sekeliling peti yang telah ditutup. Tapi kini beberapa kali saya melihat “tortor” dilakukan di sekeliling peti yang masih terbuka. (Saya pribadi cenderung berpendapat sebaiknya “tortor” dilakukan di sekeliling peti yang telah ditutup. Alasannya bukan karena “iman”; tapi lebih karena kesehatan dan kepantasan. Ketika masih kanak-kanak, saya sendiri pernah ikut “manortor” di sekeliling peti yang terbuka, dan hal itu sungguh menjadi pengalaman yang tidak sedap. Jenazah yang sudah berusia beberapa hari itu mulai sembab dan berair. Bubuk kopi, kapur barus dan kapas bertebaran di sekujur jenazah….).

Barangkali yang harus menjadi “pekerjaan rumah” kita adalah bagaimana memaknai ritus yang seperti tersebut di atas. Menurut cerita yang saya dengar, “tortor” yang digelar oleh para cucu dan buyut itu hanyalah sebuah ekspresi sukacita. Tapi sebagai masyarakat yang telah mengenal Kristus Yesus, akan lebih indah lagi kalau tarian sukacita itu kita pahami sebagai ungkapan syukur kepada Allah–Bapa di Dalam Kristus–yang telah menganugerahkan umur yang panjang kepada “ompung” yang jazatnya terbujur itu, yang telah memberikan kesehatan serta mata pencaharian yang relatif baik dan yang telah menumbuhkan kasih
serta persaudaraan kepada semua anak-cucu. Dan selanjutnya adalah tugas para seniman untuk menciptakan kreasi-kreasi syair dan musik, yang mendukung makna baru dari “tortor” sebagaimana yang kita pahami dalam “Terang Kasih Kristus” itu. (Ada beberapa lagu gerejani karya para seniman Batak, yang sangat indah. Dan saya percaya mereka pasti mampu untuk menciptakan lebih banyak lagi lagu yang indah).

Upacara “kematian sebagai sebuah pesta sukacita” dan ritus “manortor di depan jenazah” juga akan menjadi “kurang pas” dengan pemahaman iman kristiani kalau ia masih didominasi oleh keinginan untuk “pamer”.

Demikian pula, “kematian sebagai sebuah pesta sukacita” dan ritus- ritus lain dari budaya Batak itu menjadi “kurang pas” dengan pemahaman iman kristiani, kalau ia sampai menjadi beban bagi keluarga yang harus menjalankannya. (Acapkali terjadi, suatu keluarga sudah “habis-habisan” membiayai perawatan ayah atau ibunya selama beberapa bulan di rumah sakit; dan masih pula harus “habis-habisan” membiayai sebuah upacara penguburan demi memenuhi tuntutan adat…).

Ito,,

Menurut hemat saya, di dalam sebuah masyarakat Kristen maka adat adalah sarana kita untuk mengkomunikasikan Kasih; dan budaya adalah manifestasi kesadaran kita akan Kuasa dan Kemuliaan Kristus. Itulah makna baru dari relasi budaya dengan iman, sebagaimana yang saya coba fahami.

Dengan makna yang baru itu marilah kita memberikan “traits” (sapuan- sapuan warna kreatif yang baru di atasnya). Kita tidak perlu dengan serta-merta mencabut diri dari akar tradisi dan mencampakkan budaya yang kita anggap “tidak sesuai” hanya karena kemalasan melakukan proses dialektika.

Saya merindukan sebuah masyarakat Batak yang sistem kepercayaan, nilai, ritus, ekspresi seni dan hal-hal lainnya saling jalin-menjalin dengan pas dan memampukan masyarakat tersebut untuk siap melakukan dialog peradaban yang berikut di masa depan. (Saya selalu kagum melihat masyarakat dan budaya orang Jepang atau orang Bali).

Ito,

Singkatnya, “manortor di depan jenazah” adalah suatu hal yang boleh-boleh saja dilakukan; sepanjang hal itu tidak membebani pelakunya secara berlebihan secara ekonomi, sepanjang hal itu dilakukan bukan atas dasar keinginan untuk “pamer”, sepanjang hal itu dilakukan dalam ungkapan syukur akan kasih Allah Bapa di Dalam Kristus terhadap orang yang mati uzur serta keluarga yang ditinggalkannya dan sepanjang hal itu dilakukan dengan mengindahkan etika dan norma yang berlaku umum di masyarakat sekitar.

Manortor di depan peti terbuka dengan jenazah yang sudah sembab, atau manortor dengan iringan “organ tunggal” dan “irama poco-poco” adalah beberapa contoh dari pelaksanaan ritus yang–menurut pendapat saya–kurang khidmat dan terkesan dipaksakan….[]

16 responses to “Manortor di Depan Jenazah

  1. Daniel Kristanto

    Terima kasih atas tulisan di atas. Saya terkesan karena nyata jelas iman kristen dalam mandat budaya dan mandat injil. Melestarikan budaya yang berkenan kepada Tuhan dan mengembalikan budaya yang ada untuk kemuliaan Tuhan. Horas

  2. Godlip Pasaribu

    Saya sangat setuju dengan tulisan Bang Mula dan kalau boleh saya ingin memforwardnya ke milis ‘Voice of Batak’. Terima kasih dan Horas!!!

  3. Horas,, Mauliate atas artikelnya. Semangat trus bang!!

  4. Emma Sitohang-Nababan

    Sebagai orang Batak saya setuju sekali dengan isi artikel ini. Wahai saudara-saudaraku sesuku, jangan bingung lagi ya. Kita bisa tetap menjadi orang beriman tanpa harus mengingkari bahwa kita dilahirkan sebagai orang Batak. Karena dilahirkan sebagai orang Batak juga adalah karunia Tuhan yang harus kita syukuri sebagai berkat.

  5. Nuryana Aditya

    Saya setuju, Pak, walaupun saya bukan orang Batak dan kebetulan saya juga Muslim, tapi tulisan di atas banyak juga terjadi di orang Muslim.

  6. @Emma Sitohang Nababan:
    Kak Emma, ini teman bulenya dari Passau yg sampai sekarang masih tinggal di Hamburg, masih ingat nggak? Duhhh saya cari2 Kak Emma akhirnya ketemunya di sini, hubungi saya ya kak, maaf di sini saya tetap anonim, tapi kalau Kak Emma masukin nama saya ke google, pasti ketemu deh alamat email saya… bitte yaaa….

    -BD-

    (mohon maaf Pak Harahap ini cukup OOT, saya lagi mencari teman lama lewat internet, cuman ketemunya di sini… mauliate…).

  7. Theo Sibarani

    budaya ya budaya, agama ya agama..jangan mencampur budaya dengan agama…ke-Kristen-an yang kita pahami adalah ke-Kristen-an Yahudi..Apakah orang Indonesia, terkhusus orang Batak tidak boleh memahami Yesus dengan pandangan Batak? Apakah Yesus itu hanya boleh dilihat dengan cara Yahudi. Yesus bukanlah orang Kristen, melainkan Yahudi. Jadi, budaya Batak yang kita punya jangan punah. Saya tidak setuju budaya Batak diganti dengan Yahudi. Batak ya Batak, Yahudi ya Yahudi..It’s not same. That’s very different. Viva Indonesia, Horas Batak, Thank’s Jesus.

  8. Saya setuju dengan Theo Sibarani, Batak ya tetap aja batak, tidak bisa disamakan dengan Yahudi…
    Thanks , HOras…

  9. Horas Tulang, rupanya ada banyak jalan bertemu tulang…heheh… Tdk masalah aku tdk/belum sempat berkunjung ke perpustakaan tulang toh dari blog ini aku bisa semakin mengenal siapa & bagaimana tulang..heheh…

    Back to the topic…

    Sebagai seorang yg awam baik dalam hal adat-istiadat batak dan teologi kristiani, beberapa hal menjadi point penting yang dapat saya petik dari artikel & komentar terhadap essay tulang…

    Pertama :
    Bahwa dalam hidup, keseimbangan itu harus tetap ada dan terjaga. Dalam segala hal dengan segala konsekuensinya.

    Mengingat kita ini masih hidup didunia, maka sedikit aku mengutip apa yg Rasul Paulus tulis dlm suratnya (aku lupa dimana) yang memberikan contoh mengenai keseimbangan hidup yg memang harus disadari bahwa ” Dengan tubuh jasmaniku aku malayani hukum dunia, namun dengan seluruh hikmat & akal budiku aku melayani hukum Tuhan”… Klo dengan bahasaku mah ” Kaki kiri berpijak di bumi, kaki kanan (diusahakan) berpijak di Surga…” Artinya aku tdk dapat mengingkari keberadaanku terlahir sbg seorang batak dgn atribut2nya yg harus aku jaga & lestarikan dengan peduli terhadap adat-istiadat positif yg berlaku, tapi aku juga ingat bahwa kehidupan selanjutnya sedang menanti dan pengetahuan itu kudapati scra lbh komperhensif dari (bbrpa) agama yg menumbuhkan iman kepada sang khalik… Jadi sebisa mungkin aku akan menjalani yg satu dgn tdk mengabaikan yg lainnya..

    Aku setuju dgn yg tulang tulis : ” Seyogyanya Injil tidak harus membuat sebuah masyarakat tercerabut dari akar tradisi dan kehilangan kekayaan budayanya…” Juga tentang apa yg Ito emma tulis mengenai karunia yg harus kita selalu syukuri terlahir sbg seorang batak…

    Jadi sewajarnya kita memandang Adat istiadat dan Agama sebagai sesuatu hal yang menjadi instrument kasih yang Tuhan ciptakan melalui pemahaman Budi & Daya manusia dalam mewujudkan Kasih itu sendiri. Kasih kepada Tuhan dan kasih kepada Sesama. Sehingga Adat & Agama harus dipahami sebagai suatu harmoni indah yg saling bersinergi satu dgn yg lainnya.

    Kedua :
    Proses Aktualisasi & Pemaknaan kedua Entitas tsb (Agama&Adat)…
    Persepsi boleh saja berbeda, tetapi Visi haruslah sama. Kita dapat saja memandang sesuatu hal dari berbagai sisi sehingga memaknainya dengan cara yg berbeda namun tentunya itu harus ssd Visi akan harmonisasi & sinergisitas terhadap sejumlah entitas yg ada sehingga bukan konflik/pertentangan yg tercipta melainkan kedamaian… Karena itulah proses dialektika seperti yg Tulang kemukakan memang harus selalu ada dan selalu dikembangkan agar tergali potensi2 positif yg dapat dihasilkan dari keberadaan relasi agama & budaya (bkn agama VS budaya).

    Terhadap comment mengenai idea Agama ya Agama, Adat ya Adat aku koq kurang sependapat yah seolah terdapat inkoherensi didalamnya yg sulit untuk bersinergi… Aku pikir pastilah ada benang merah yg dapat kita temukan dalam Adat & Agama sbab toh klo melihat sejarahnya adat/budaya & agama itu tercipta dari, oleh dan untuk (kebaikan) manusia…

    Ketiga :
    Landasan Kasih & Ketulusan seyogyanya menjadi dasar dalam kita menjalankan proses pemaknaan atribut2 budaya&agama. Bebaskanlah diri dari semua topeng dan jubah kepalsuan dengan beragam motifnya dalam mencapai apa yg orang batak kenal akan Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon.

    Bahwa Adat&Agama hadir tercipta untuk Manusia bukan Manusia tercipta (sbg objek) untuk Agama kiranya snantiasa mengingatkan & menyadarkan kita terhadap kemungkinan tumbuhnya arogansi latent adat atau agama didalam komunitas kita…

    Salam damai & Horas… !!!

  10. Saya pribadi beranggapan bahwa budaya adalah sesuatu yang baik untuk dilestarikan, karena budaya adalah jati diri kita untuk menunjukkan dari mana kita berasal.

    Manortor di depan jenazah perlu dilihat latar belakangnya, apakah ada hal-hal yang ‘musyrik’ yang terkandung saat melakukannya? Kalau sekedar melakukan tradisi dalam upacara kematian, IMHO, should be okay.

    Tapi saya pernah lihat, saat manortor partisipan mengucapkan kata-kata seolah berbicara dengan jenazah. Ini yang menurut saya tidak perlu dilakukan, karena apa logikanya kita bicara dengan orang yang sudah mati?

    Intinya, iman dan budaya bisa seiring-sejalan. Dalam hal terjadinya benturan, saya pikir kita bisa sepakat bahwa iman seyogyanya menjadi prioritas.

    Horas tondi madingin, pir tondi matogu!

  11. Jane Ross br. Panjaitan

    Horas,

    Agama dan budaya menyatu, bagus2 aja. Yang tidak setuju, mau jalankan agama lepas 100% dari budaya batak, itu juga ngga masalah kok!

    Jangan lupa, manusia itu mahluk berbudaya dan selalu membutuhkan. Kalau tidak berbudaya berarti bukan manusia, atau minimal sudah gila dia. Tanpa disadari, melepaskan diri dari budaya batak,… pastilah minimal mereka telah ‘membentuk budaya baru’ ala mereka sendiri. ‘Ya..Ngga ?!!

    Yang jadi masalah adalah klaim2-an soal iman. Siapkah diri kita sehingga punya hak menghakimi bahwa iman orang lain adalah sesat atau berdosa?? Setahuku soal ini hak tunggal Tuhan, tidak diberikan sepada siapapun manusia.

    Bang Mula, masalah berikut adalah soal2 adat kita yang manfaatnya semakin tertinggal dengan kebutuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Malah kalau kita mengikuti kegiatan adat yang ada saat ini, boros waktu boros biaya. Upah/manfaatnya paling2 sebatas nanti yang datang ke acara adat kita jadi banyak. Bagi orang miskin jadi beban ekonomi. Bagi generasi muda, kok ngga menarik.
    “Upahnya jangan nanti, sekarang aja dong..!!”

    Memang, adat batak semakin lama semakin tertinggal dengan perubahan yang terjadi pada kebutuhan dan problem kehidupan orang batak saat ini, terutama kehidupan kaum urbannya (perantauan, kota).

    ” Bagaimanalah mungkin kita mencintai adat, apabila kita tidak merasakan pengalaman yang menyenangkan dan bermanfat dari adat itu sendiri “.

    Contoh, biaya meninggal bagi orang batak yang tinggal di kota itu mahal. Harusnya adat dan konsep dalihan natolu mampu membentuk suatu lembaga untuk ‘menanggung’ biaya2 seperti ini. Bisa menggunakan cara asuransi jiwa secara kolektif.

    Muliate

  12. Saya setuju dengan pendapat kau, Lae…Teruslah berkarya…Horas….Habis beras makan gabah.

  13. Saya sejutu dengan apa yang Amang tuliskan tetapi adat termasuk manortor di depan mayat adalah tetap adat dan adat bersifat dinamis. tergantung cara kita menyikapinya dan mengimaninya.Sejauh yang pernah saya alami saya menganggap maortor di depan mayat adalah suatu kebiasaan dan seiring dengan berjalannya waktu dia dia akan terkikis. itulah sebabnya saya sebut adat itu dinamis.

  14. Kalau saya sih ….. mau manortor yah karena suka manortor aja .Katanya … jaman ompung saya , kalau bikin acara adat tidak pernah rugi … bahkan beruntung secara material. Kalau rugi, itu berarti orangnya kurang pergaulan ( dalam arti , sebelumnya jarang mengikuti acara adat ).

  15. Saya tertarik dengan topik “Adat (Batak) VS Agama (Kristen). Terbersit beberapa pertanyaan di hati saya. Apakah memang benar kita membutuhkan adat sebagai sarana/pengantara untuk menyampaikan “kasih”? Apakah ajaran agama (Kristen) tidak cukup? Benar, kebudayaan harus dilestarikan, bukan diawetkan. Bagaimana melestarikan adat? Bukankah cara yang terbaik adalah mempopulerkan kebudayaan itu secara intelektual? Memperkenalkan kebudayaan kepada bangsa asing? Merangkum falsafah di balik ritual & adat-istiadat? Sulit memang membahas kontroversi ini secara “hitam atau putih”. Siapapun bisa mengatakan “hitam atau putih”, apalagi dalam kaitannya dengan agama. Namun, apakah “hitam atau putih” itu sama di mata Tuhan? Apakah Tuhan akan mengatakan “hitam” seperti kita mengatakan sesuatu “hitam”?

  16. Drs Nelson Rajagukguk

    Saya senang dengan tulisan ini. Untuk itu, buat Abang saya katakan, adat itu perlu dipertahankan.Tapi pelaksanaannya i perlu disederhanakan. Sebagai renungan bagi generasi muda batak dalam pelaksanaan acara adat, sudah saatnya kita sederhanakan. Sebagai masukan dalam setiap pelaksanaan adat, baik pernikahan atau kematian, untuk porsi hula-hula, menurut saya cukup pada tingkatan Tulang saja. Tidak perlu lagi sampai ke Bona ni Ari dan lain sebagainya. Alasannya, Tulang ini yang pernah berinteraksi dengan kita, dalam arti kemungkinan “pasu-pasu” yang akan mungkin kita kita terima hanya dari beliau.Sedang yang lainnya itu sudah terlalu jauh. Demikian juga pada acara kematian, Hula-hula Naposo, diacarakan saja sekali masuk; dimana Hula-hula anak pertama saja yang ditonjolkan. Hal ini untuk efisiensi waktu dan dana. Saran saya ini untuk mengurangi dampak pelaksanaan adat selama ini, dimana banyak kejadian keluarga Batak setelah kegiatan pesta saurmatua, terjadi konflik abang adik. Mohon kepada yang berkompeten dengan adat Batak ini untuk merenungkan hal ini. karena bagi orang berada, permaslahan ini jarang terjadi, tapi bagi keluaraga kelas menengah ke bawah hal ini memberatkan. Demikian juga masalah waktu, mohon dibuat suatu protap, agar waktu paling lama 3 hari. Jangan kita generasi muda Batak ini sakit setelah melaksanakan penghormatan terakhir kepada orang tua kita. Terimakasih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s