Ronald, Amanda dan Kita

Oleh: Mula Harahap

Bahwa para orang muda harus mendapat pendidikan etika dan moral yang baik agar mereka terhindar dari kesalahan; itu saya setuju. Tapi kadang-kadang, sekokoh apa pun dasar etika dan moral yang dimilikinya, seorang muda bisa saja berbuat kesalahan dan menghadapi masalah besar. Lalu apa lagi yang harus kita ajarkan kepada mereka?

Menurut hemat saya, satu lagi hal yang perlu diajarkan kepada orang muda ialah: Bila terjadi masalah, jangan mengambil keputusan tanpa lebih dahulu berkonsultasi dengan orang lain, terutama mereka yang lebih tua (dan tentu yang lebih bijaksana).

Sebagai orang tua dari dua anak yang sedang berangkat dewasa, saya menyadari benar bahwa terlalu banyak hal yang diketahui oleh kedua anak saya di luar sana; ketimbang apa yang menurut dugaan saya mereka ketahui.

Ukuran-ukuran yang mereka peroleh di rumah, sekolah dan gereja selalu kalah cepat dengan ukuran-ukuran yang mereka peroleh dari pergaulan sesama teman, media komunikasi dan dunia di “luar” sana. Dan sebagai orang tua, maka bagi saya tidak ada cara lain yang lebih baik untuk mengatasi kesenjangan ini daripada, senantiasa berusaha memposisikan diri sebagai kawan diskusi yang bisa dipercaya.

“Zaman saya berbeda dengan zaman kalian. Ukuran saya berbeda dengan ukuran kalian. Saya pun sadar, tidak semua yang saya anggap baik akan kalian anggap baik juga. Tapi saya rasa, kalau kalian menghadapi masalah, tidak ada salahnya juga kalau saya diajak omong-omong dulu, sebelum kalian mengambil keputusan….” Itulah yang selalu saya katakan kepada anak-anak dan orang-orang muda yang saya kasihi.

Amanda dan Ronald telah berbuat kesalahan dan sebagai konsekwensinya mereka menghadapi sebuah masalah besar. Tapi sayang, mereka mencoba menyelesaikan sendiri masalah tersebut, tanpa omong-omong, diskusi atau konsultasi dengan orang lain (orang yang lebih tua).

Akhirnya yang ada hanyalah jalan buntu dan terjadilah tragedi itu: Seorang gadis yang rupawan dan cerdas harus mati di tangan kekasihnya sendiri. Seorang pemuda yang energetik dan luwes dalam pergaulan harus menghabiskan sebagian dari usianya di balik jeruji penjara. Dan sebuah janin berusia empat bulan tak punya kesempatan untuk hadir di dunia ini.

Andaikata saja ada orang lain yang bisa diajak berdiskusi–sahabat, kakak, orangtua, guru atau pendeta–mungkin kedua orang muda itu tak perlu merasa begitu sepi, gelap dan buntu.

Saya bukan hendak mengatakan bahwa masalah yang dihadapi oleh Ronald dan Amanda adalah sebuah masalah yang sepele. Bukan itu. Tapi yang hendak saya katakan adalah, bahwa banyak kemungkinan jalan keluar bagi masalah mereka. Dan jalan keluar itu tidak perlu berakhir dengan penderitaan siapa pun.

Kasus Ronald dan Amanda memilukan bagi saya karena kedua orang muda itu harus menyelesaikan sendiri masalahnya.

Boleh jadi, mereka memang tak ingin melibatkan orang lain dalam masalah mereka. Tapi saya curiga, yang terjadi adalah hal
sebaliknya: Bahwa mereka tak melihat ada orang lain yang “available”, yang bisa dipercaya, untuk diajak bertukar-pikiran atau mendengar masalah mereka.

Setiap kali terjadi kasus hilangnya nyawa orang lain atau nyawa sendiri (bunuh diri) karena si pelaku putus asa dan gelap mata, maka saya selalu bertanya-tanya, “Tidak adakah telinga yang mau mendengar, tidak adakah mata yang mau menatap, tidak adakah mulut yang mau menghibur dan tidak adakah tangan yang mau membimbing si pelaku ketika sedang menghadapi saat-saat yang berat dan membingungkan itu, sehingga ia tak perlu membuat sebuah tindakan yang konyol?”

Tahun 2002 yang lalu di majalah Tempo saya membaca berita tentang hari-hari terakhir yang sepi dan membingungkan, yang dijalani oleh Marimanen sebelum ia mengambil keputusan untuk melompat dari lantai 50 sebuah hotel di bilangan Semanggi. Saya jadi bertanya-tanya, kemana kawan-kawan politik dan bisnis yang selama ini selalu mengerubunginya? Selain Udin–sang supir–tidak adakah orang lain yang melihat perubahan tingkah-laku dan mencoba mencari-tahu masalah dan kegalauan hati Marimanen?

Saya mencoba membayangkan apa yang dilakukan Ronald terhadap Amanda di perumahan Jatijajar pada siang hari itu. Saya juga mencoba membayangkan perasaannya ketika ia mengendarai mobil dengan kekasihnya yang telah menjadi mayat itu, untuk meletakkannya di suatu tempat di kota Bandung, yang disangkanya bisa membebaskannya dari dakwaan.

Saya merasa kasihan kepada Ronald dan malu kepada diri sendiri. Kalau saja sejak awal Ronald tahu bahwa ada saya, ada anda, ada kita dan ada gereja yang bisa diajak sebagai teman berdiskusi dan berdoa, maka besar kemungkinan orang muda itu tidak gelap mata dan tragedi tak perlu terjadi.

Tapi apa mau dikata? Di saat begitu banyak orang yang nyaris gelap mata dan putus asa karena tak tahan lagi dengan terpaan multi krisis yang sedang melanda masyarakat/bangsa ini, maka gereja sebagai persekutuan saya dan anda, orang-orang yang percaya dalam Kristus, justeru tidak peka dan asyik dengan kesibukannya sendiri.

Antara tahun 2000 sampai 2003 saya pernah bertugas menjadi majelis jemaat gereja. Huiuh! Masa tiga tahun tersebut sungguh merupakan masa yang sangat sibuk. Dari Senin sampai Minggu ada saja kegiatan gereja yang harus diikuti; rapat pleno, rapat badan pekerja, rapat bidang, rapat komisi, rapat panitia, kebaktian minggu, kebaktian keluarga, PA dan banyak lagi hal lainnya. Tapi perkunjungan ke jemaat adalah satu hal yang nyaris tak pernah saya lakukan.

Boleh jadi perkunjungan ke jemaat nyaris tak pernah saya lakukan, karena memang saya malas. Tapi, kalau saya pikir-pikir lebih jauh, perkunjungan nyaris tak pernah saya lakukan juga disebabkan karena gereja memang tidak menganggapnya sebagai suatu hal yang penting dan mendesak. Kalau gereja memang menganggapnya sebagai suatu hal yang penting, maka bukankah rapat-rapat persiapan seminar antar agama, persiapan HUT, persiapan turnamen golf, persiapan Pekan Pendidikan–Sekolah Minggu–Diakonia, pembahasan visi dan misi, pemasangan AC, serta kegiatan-kegiatan lain yang sejenis, bisa dikurangi?

Mengunjungi jemaat, terutama yang bermukim di gang-gang sempit di wilayah Jakarta yang padat penduduk ini, memang adalah pekerjaan yang kurang menyenangkan. Dan kalau masih ada pekerjaan lain yang lebih menyenangkan, yang menuntut kehadiran diri saya, mengapa pula saya harus memilih pekerjaan yang kurang menyenangkan ini?

Begitulah, saya berpretensi seolah-olah Tuhan menyenangi kesibukan yang saya lakukan dari Senin sampi Minggu itu. Tapi, jauh di lubuk hati yang terdalam, saya tahu bahwa Tuhan sebenarnya tidak terlalu gembira dengan apa yang telah saya lakukan. Karena itu, ketika pada akhir masa jabatan saya diminta memberikan kesan sebagai majelis, maka inilah yang saya katakan:

“Terimakasih kepada Tuhan, karena saya boleh ambil bagian dalam berbagai kegiatan gereja ini. Tapi sekaligus saya juga mohon ampun kepada Tuhan karena saya nyaris tak pernah melakukan perkunjungan ke jemaat. Saya tahu benar, ada ratusan atau ribuan jemaat di luar sana yang sedang bergumul. Ada bapak rumah tangga yang sedang kehilangan pekerjaan. Ada ibu rumah tangga yang sedang dikhianati suaminya. Ada orang tua yang anaknya pecandu narkoba atau hamil di luar nikah. Ada anggota keluarga yang sedang menderita sakit berkepanjangan. Mereka memang berdoa. Tapi mereka juga merindukan kehadiran kawan yang mau mendengar keluhan dan berdoa bersama mereka….” (Ya, dalam banyak kasus, yang dibutuhkan oleh si penderita sebenarnya hanyalah telinga yang mau mendengar).

Begitulah, Alkitab memang tetap harus dibaca. Doa tetap harus dinaikkan. Khotbah pendeta harus dicamkan. Tapi ada saat-saat, ketika orang sedang galau dan putus asa, serta tidak mampu lagi untuk secara sendiri membaca Alkitab, menaikkan doa dan memamah khotbah pendeta. Ada saat-saat ketika orang membutuhkan kehadiran, sokongan dan sentuhan orang lain.

Dan itulah perlunya kita–saya, anda dan Ronald–berhimpun dalam persekutuan yang bernama gereja[.]

One response to “Ronald, Amanda dan Kita

  1. Anton Sri Probiyantono

    Terima kasih atas sharing-nya. Berguna untuk membuka alam bawah sadar kita yang seringkali terbelenggu dengan “kesibukan” kita. Saya setuju bahwa ada kegiatan yang seringkali kita abaikan karena tidak “terlihat” oleh orang lain. Kita lebih menyukai kegiatan yang bersifat seremonial yang memperlihatkan profil kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s