Tentang Dialog Antar Peradaban

Oleh: Mula Harahap

Kalau kita membaca sejarah, maka kita akan melihat bahwa agama, seni, ilmu pengetahuan dan teknologi itu saling berkaitan dan dukung-mendukung dalam perkembangan sebuah peradaban. Teknologi tidak tumbuh di ruang hampa. Ia tumbuh dalam interaksinya dengan ilmu pengetahuan, seni dan agama. Demikian juga halnya dengan ilmu pengetahuan, seni atau agama; masing-masing tumbuh dalam interaksinya satu sama lain.

Moral, etika, imajinasi dan kreativitas manusia juga saling berkaitan dan dukung mendukung dalam perkembangan sebuah peradaban. Kreativitas tidak tumbuh di ruang hampa. Ia tumbuh dalam interaksinya dengan moral, etika dan imajinasi. Demikian juga halnya dengan moral, etika atau imajinasi; masing-masing tumbuh dalam interaksinya satu sama lain.

Unsur-unsur dari sebuah peradaban juga selalu berinteraksi dengan unsur-unsur peradaban yang lain. Jepang–misalnya–mengambil teknologi dari Eropa. Teknologi itu berinteraksi dengan agama, ilmu pengetahuan dan seni yang ada di Jepang. Sebagai hasil interaksi itu terjadilah transformasi agama, seni dan ilmu pengetahuan. Pada gilirannya, ketika kemudian saling berinteraksi lagi, agama, seni dan ilmu pengetahuan yang telah mengalami transformasi itu akan menghasilkan teknologi yang lebih maju dan baru lagi.

Kalau sebuah peradaban–Eropa, misalnya–tiba pada teknologi komputer, maka pencapaian itu tidak turun begitu saja dari “langit”. Ia adalah buah dari dialog yang intens dan panjang dari agama, seni dan ilmu pengetahuan yang ada di Eropa itu sendiri. Atau buah dari dialog agama, seni dan ilmu pengetahuan yang ada di Eropa dengan yang ada di peradaban lain.

Kalau tidak ada Renaissance, dan kalau Copernicus tidak berani melawan pendapat agama (yang mengatakan bumi adalah pusat dari tata surya), maka ilmu astronomi mungkin tidak akan berkembang dan roket tak akan pernah ditemukan.

Di fihak lain, kalau ilmuwan Eropa tidak berinteraksi dengan ilmuwan pada masa Peradaban Islam, mereka tidak mungkin terinspirasi untuk berpikir dan berpendapat bahwa bumilah pusat tata surya.

Kalau di Abad ke-21 ini ada sebuah peradaban yang mengharamkan unsur-unsurnya untuk berinteraksi dengan unsur-unsur dari peradaban lain; itu adalah sebuah hal yang aneh. Begitu juga halnya, kalau ada sebuah peradaban yang mencoba membekukan salah sebuah unsurnya–agama, misalnya–dari proses transformasi, tapi membiarkan unsur-unsurnya yang lain (seni, ilmu pengetahuan atau teknologi) mengalami transformasi; itu adalah sebuah hal yang aneh. Perkembangan teknologi
informasi–misalnya–pasti akan menimbulkan transformasi pada agama, seni atau ilmu pengetahuan di peradaban tersebut.

Boleh-boleh saja sebuah peradaban melawan hukum alam dan berupaya untuk menahan (bahasa kerennya: melestarikan) agama dari interaksinya dengan seni, ilmu pengetahuan atau teknologi yang ada di peradaban itu sendiri, atau dari interaksinya dengan agama, seni, ilmu pengetahuan atau teknologi yang ada di peradaban lain. Tapi hal ini hanya akan mengakibatkan “ketimpangan” atau “kekacauan” di dalam peradaban tersebut.

Menilai sebuah peradaban sebagai tidak memiliki moral atau etika hanya karena melihat beberapa gejala yang menonjol di permukaan, juga bukanlah hal yang bijaksana. Kalau sebuah peradaban bisa menghasilkan teknologi komputer “laptop” atau pesawat penumpang sipil Airbus A-380, dan pencapaian itu memberi kemaslahatan bagi umat manusia, maka peradaban itu
pastilah sebuah peradaban yang memiliki moral dan etika yang baik.

Agama, seni, ilmu pengetahuan dan teknologi haruslah dibiarkan saling berinteraksi dan diarahkan untuk menghasilkan kemaslahatan (keadilan, kesejahteraan, kedamaian, sukacita dsb) bagi umat manusia.

Demikian juga halnya, moral, etika, imajinasi dan kreativitas haruslah dibiarkan saling berinteraksi dan diarahkan untuk menghasilkan keadilan, kesejahteraan, kedamaian, sukacita dsb. bagi umat manusia.

Agama, seni, ilmu pengetahuan atau teknologi yang tidak memberikan manfaat pada kemanusiaan, menurut hemat saya tidak ada gunanya. Demikian juga halnya moral, etika, imajinasi dan kreativitas yang tidak memberikan manfaat pada kemanusiaan, menurut hemat saya tidak ada gunanya.

Agama, seni, ilmu pengetahuan dan teknologi diberikan oleh Sang Maha Pencipta–terutama–untuk kebaikan hidup mmanusia di dunia ini (dalam persiapannya untuk hidup di surga nanti).

Kalau di dalam tulisan ini saya berbicara mengenai agama, maka saya tidak bermaksud menunjuk kepada satu agama tertentu; tapi kepada semua agama. (Sebagai seorang pemeluk agama Kristen, saya juga sering risau melihat kontroversi yang tak ada habis-habisnya di dalam agama Kristen mengenai kaitan antara agama, seni, ilmu pengetahuan dan teknologi).

Di dalam agama Kristen pun banyak sekali kelompok yang senang “mengkafir-kafirkan” dan mengharam-haramkan” sesama saudaranya yang berbeda dalam memahami teks kitab suci. Dan kepada orang seperti ini saya sering mengatakan, “Kalau Anda
memahami teks kitab suci secara hurufiah, maka sebenarnya Anda tak berhak memakai teknologi televisi, menjalani pengobatan medis modern atau naik pesawat Boeing 747. Semua itu terjadi karena–di suatu tempat dan di suatu masa–dalam perjalanan sejarah peradaban ini, ada orang-orang yang ‘nyeleneh’ dan ‘nakal’, yang berani memahami teks kitab suci dengan cara yang lain
dari Anda, dan yang pada gilirannya menghasilkan imajinasi serta kreativitas yang sedemikian rupa sehingga menghasilkan pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi yang memungkinkan lahirnya televisi, penisilin atau Boeing 747….”

Tentang apa yang saya uraikan di atas bisa dibaca dalam dua buku yang menarik (dan bestseller tahun 80-an) “The Discoverers” dan “The Creators” karangan Daniel J. Boorstin–seorang pustakawan dan sejarawan terkenal, yang pernah menjadi direktur The Library of Congress dan National Museum of History dan Technology di AS. Kedua buku tersebut diterbitkan oleh Random
House Inc.

Mudah-mudahan kita masih mau membaca–atau berdialog–dengan orang yang berbeda peradaban dengan kita, karena kata kunci bagi kelangsungan hidup umat manusia ialah: Dialog yang kreatif antar peradaban[‘]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s