Tentang Doa “Yang Operasional”

Surat Seorang Bapa Kepada Puteranya

Oleh: Mula Harahap

Anakku,

Saya senang, ketika dalam doa sebelum makan tadi, kau juga tak lupa melafalkan keprihatinanmu terhadap orang lain: Kami juga ingat akan saudara-saudara kami yang berkekurangan dan tidak bisa menikmati seperti apa yang akan kami nikmati ini. Karena itu Tuhan cukupkanlah juga kebutuhan mereka…” Dan lafal yang sama saya dengar juga diucapkan dalam ribuan doa lainnya.

Tapi, karena kau adalah orang yang sudah merasakan penyertaan Tuhan, yang sudah merasakan “partnership” Tuhan dalam banyak persoalan, maka saya (dan saya rasa– Tuhan juga) akan lebih senang lagi kalau lafal doamu juga menyiratkan tindakanmu terhadap “saudara-saudara yang berkekurangan” itu. Bahwa kau perduli dengan orang-orang yang berkekurangan; Tuhan
senang. Dan urusan mencukupkan orang-orang yang berkekurangan itu; hanyalah persoalan kecil bagi Tuhan. Tapi bahwa kau perduli dan mau bekerjasama dengan Tuhan dalam urusan mencukupkan orang-orang yang berkekurangan; itu tentu akan lebih membesarkan hati Tuhan. Karena itu, anakku, setelah lafal “standar” seperti di atas, cobalah juga mengatakan, “Dan biarlah, Tuhan, melalui makanan ini, kami dikuatkan, untuk bekerja-keras mengusahakan kemakmuran dan keadilan, agar dari hari ke hari semakin sedikit saja orang yang berkekurangan…”

Anakku,

Lafal doa yang datang dari lubuk hati terdalam adalah juga cerminan sikap dan cara pandang rohani. Karena itu saya ingin mengakhiri surat ini dengan mengutip sebuah doa teolog Yahudi yang saya ambil dari buku corat-coret saya, yang di dalamnya juga tersimpan beberapa doa inspiratif dari rohaniwan dan teolog lainnya:

Kami tidak bisa hanya berdoa padaMu, Ya Tuhan, meminta agar perang diakhiri.
Sebab kami tahu bahwa Kau telah menciptakan dunia ini sedemikian rupa. Bahwa manusia harus mencari jalannya
masing-masing ke arah perdamaian, di dalam dirinya dan dengan sesamanya.

Kami tidak bisa hanya berdoa padaMu, Ya Tuhan, meminta agar kelaparan diakhiri.
Sebab Kau telah memberikan kepada kami sumber makanan, yang akan mengisi perut seluruh isi dunia ini, jika kami menggunakannya dengan bijaksana.

Kami tidak bisa hanya berdoa padaMu, Ya Tuhan, untuk menghapuskan prasangka.
Sebab Kau telah memberikan mata kepada kami, dengan mana kami melihat kebaikan di dalam diri setiap orang, jika kami menggunakannya dengan benar.

Kami tidak bisa hanya berdoa padaMu, Ya Tuhan, meminta agar kesengsaraan diakhiri.
Sebab Kau telah memberikan kekuatan kepada kami, untuk membongkar segala gubuk dan membangun harapan, jika kami bisa memakainya dengan adil.

Kami tidak bisa hanya berdoa padaMu, Ya Tuhan, untuk mengakhiri penyakit.
Sebab Kau telah memberikan pikiran yang cemerlang pada kami, untuk menemukan obat dan penyembuhan, jika saja kami bisa memakainya dengan konstruktif.

Karena itu, kami berdoa padaMu, Ya Tuhan, berilah kami kekuatan, tekad dan hasrat untuk berbuat; bukan hanya berdoa. Untuk menjadi sesuatu, bukan hanya untuk mengharapkan sesuatu….

Anakku,

Oh, ya, ada lagi satu “doa yang operasonal” yang tak kalah “inspiring” dari doa di atas. Doa itu adalah syair nyanyian ketika saya duduk di Sekolah Minggu, empat puluh tahun yang lalu:

Tanganku na metmet hulehon ma tu Debata
Dainang i, na loja i sai urupanku nama i
Tanganki di Ho ma i. Tanganki di ho ma i.

Nang pathu na metmet hulehon ma tu Debata
Marlojong au suruon i Dainang na loja i
Nang pathi di Ho ma i. Nang pathi di Ho ma i.

Pangabas na metmet hulehon ma tu Debata
Huapul ma dainang i, na jotjotan sai marsak i
Hatangki di Ho ma i. Hatangki di ho ma i.

Rohangku na metmet hulehon ma tu Debata
Ingani i, o Tuhanki. Pasahat au tu surgomi.
Rohangki di Ho ma i. Rohangki di Ho ma i.
(Ende “Haluan Na Gok” No. 226).

Anakku,

Selamat malam dan selamat bertumbuh….

(Ayahmu. Yang Kadang-kadang Masih Berdoa “Metmet Ahu
On”)

One response to “Tentang Doa “Yang Operasional”

  1. Saya sangat suka membaca tulisan Anda …. Tanganhu na metmet hu lehon ma tu Debata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s