Tentang Gereja dan Gereja-gereja

Oleh: Mula Harahap

“Dalam barisan jemaat di segala abad dan tempat…” Itulah kata-kata ajakan yang diucapkan, setiap kali Penatua di gereja memimpin kami untuk melafalkan Pengakuan Iman. Dan setiap kali kata-kata itu diucapkan, setiap kali pula ia memberi makna khusus bagi saya. Ia merentang pikiran dan perasaan saya, keluar dari lingkup jemaat dimana saya berada saat itu.

Sementara saya berdiri melafalkan Pengakuan Iman itu, saya membayangkan diri saya bersama-sama melafalkannya dengan nenek-moyang saya anggota jemaat HKBP Sipirok 100 tahun yang lalu, dengan adik saya anggota jemaat HKBP Sugipranoto–Medan, dengan saudara-saudara isteri saya anggota GPM Silo–Ambon, dengan kawan saya anggota Gereja Anglikan di Adelaide, atau dengan seseorang–entah siapa namanya–anggota sebuah jemaat di Jerman seribu tahun yang lalu.

Saya adalah anggota jemaat GKI Kwitang. Tapi pada saat yang sama, bersama-sama dengan anggota GKI Kebon Bawang, GKI Rawamangun, GKI Pasteur; saya adalah juga anggota klasis dari GKI Wilayah Jawa Tengah. Pada saat yang sama pula, bersama-sama dengan anggota GKI Kebayoran, GKI Gombong, GKI Salatiga; saya adalah juga anggota sinodal dari GKI Wilayah Jawa Tengah. Pada saat yang sama pula, bersama-sama dengan anggota GKI Kebayoran, GKI Gombong, GKI Kayu Putih, GKI Tulungagung; saya juga adalah anggota dari GKI Bersatu (Jawa Barat–Jawa Tengah–Jawa Timur). Pada saat yang
sama pula, bersama-sama dengan anggota HKBP, GBKP , GKPA, Gereja Baptist di Amerika Serikat, Gereja Hervormd di Belanda atau gereja manapun; saya juga adalah anggota dari “Gereja yang Kudus dan Am”, yang merentang di segala waktu dan tempat, dan yang kepalanya adalah Kristus. Sebagai warga jemaat saya tidak pernah merasa Kantor Sinode atau Kantor PGI dan Ketua Sinode atau Ketua PGI sebagai atasan atau yang mengepalai saya.

Saya tidak menafikan, bahwa sejarah, kebudayaan dan penekanan atau nuansa pemahaman terhadap aspek iman tertentu; secara kasat mata menimbulkan keperbagaian organisasi gereja. Tapi fakta tersebut sama sekali tidak mengurangi kepercayaan saya akan kehadiran sebuah “Gereja yang Kudus dan Am”.

Perbedaan struktur organisasi gereja antara “terpusat” dan “lokal” atau antara “episkopal” dan “presbiterian”; menurut hemat saya juga tidak perlu menjadi kendala bagi saya dalam merasakan satu sosok “Gereja yang Kudus dan Am” yang mengatasi segala waktu
dan tempat.

(Hari Perjamuan Kudus Sedunia juga adalah salah satu momen lain yang senantiasa membuat saya “bergetar”. Saya tahu, penetapan hari tersebut dilakukan oleh manusia. Tapi saya percaya bahwa Roh Kudus bekerja untuk mengundang dan mempersatukan saya disana bersama-sama dengan jemaat di Afrika, Arab, Australia, Eropa, Amerika dan berbagai tempat lainnya).

Saya memahami bahwa penyataan dan penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus berlangsung dalam perjalanan sejarah manusia. Karena itu diperlukan metode dan sistematika untuk membuat kita sepakat tentang hal-hal mana saja yang kita fahami sebagai
“penyataan Allah”. Dan, sejalan dengan perjalanan sejarah, metode serta sitematika itu dibangun, diwariskan, ditransformasikan dan direaktualisasikan dari waktu ke waktu oleh para rasul dan bapak-bapak gereja. Itulah pengertian teologia bagi saya.

Akhir-akhir ini saya melihat di berbagai kalangan timbul semacam fobia terhadap teologia. Saya tidak mengerti apa yang menyebabkan hal tersebut. Tapi saya menduga, mungkin fobia ini muncul karena ketidak-tahuan orang akan makna teologia. Dan
barangkali ini adalah kesalahan para teolog sendiri. Mereka lupa untuk mengikut-sertakan dan membagi wacana mereka kepada kaum awam, dalam bahasa yang lebih sederhana.

Bagi saya, teologia dan doktrin adalah sesuatu yang kita perlukan. Kedua hal itu adalah semacam regulator untuk menciptakan ketertiban hidup beriman serta mencegah semua orang untuk tidak terlalu mudah mengklaim berbagai hal sebagai penyataan Tuhan. (Paulus sendiri juga melakukan upaya teologia).

Dalam kaitan pemahaman bahwa penyataan dan penyelamatan Allah berlangsung dalam perjalanan sejarah manusia, maka saya memahami Alkitab bukan sebagai sesuatu yang “tumplek-blek” di Yerusalem atau serta-merta “jatuh” di meja atau rak buku saya.

Ia ditulis oleh banyak orang dari berbagai waktu, yang mendapat “privilese” dari Allah untuk menyatakan firmanNya. (Dokumen-dokumen Perjanjian Baru yang pertama ditulis ialah Surat-surat Paulus. Surat-surat ini ditulis antara tahun 48 sampai 60 M. Keempat Injil ditulis antara tahun 60 M sampai 100 M).

Proses pengumpulan dan penetapan berbagai tulisan itu menjadi Alkitab seperti yang kita miliki sekarang, juga berlangsung dalam suatu periode yang panjang. Kanon Perjanjian Baru seperti yang kita pergunakan sekarang, baru disahkan menjelang tahun 400 pada Konsili di Kartago, oleh gereja yang organisiasinya notabene bisa dikatakan sudah “terpusat”!

Tapi, walau pun saya memahami Alkitab bukan sebagai sesuatu yang “tumplek-blek”, saya percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Dan saya juga percaya bahwa Allah sendiri ikut bekerja dalam mengilhami para penulisnya dan dalam mengilhami para bapak-bapak gereja terdahulu ketika menetapkan tulisan-tulisan mana yang harus dimasukkan ke dalam Alkitab sebagaimana yang kita kenal sekarang[.]

One response to “Tentang Gereja dan Gereja-gereja

  1. Ada mengenai bagan struktur pola organisasi jemaat GPM, nggak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s