Tentang Public Relation dan Aktor Kehilangan Panggung

Oleh: Mula Harahap

Hari Kamis, 6 Januari 2005 yang lalu, harian Kompas menurunkan sebuah artikel yang berjudul “Ketika Aktor Kehilangan Panggung”. Artikel yang ditulis oleh wartawan Kompas itu menceritakan bagaimana rendahnya citra SBY di tengah riuh-rendahnya pemberitaan tentang bencana di Aceh, (“Seusai jumpa pers, Presiden bertanya apakah ada pertanyaan. Tak satu pun pertanyaan dikemukakan wartawan…Setelah itu, jumpa pers diakhiri. Gempa bumi dan gelombang tsunami seperti tidak menyisakan panggung bagi Presiden
Yudhoyono tampil ke muka”).

Suka atau tidak suka, harus kita akui, peristiwa nasional apa pun (apalagi sebuah bencana seperti yang terjadi di Aceh) adalah sebuah panggung. Disamping karena dorongan keinginan untuk berbuat baik, maka tidak bisa dipungkiri, bahwa pada diri berbagai
pribadi dan lembaga yang melakukan sesuatu untuk Aceh itu tentu ada terbersit niat untuk memperbaiki citra, meningkatkan popularitas dan lain sebagainya. Hal itu berlaku bagi pribadi dan lembaga apa pun, entah itu Surya Paloh, Yusuf Kalla, Pemerintah Australia, Pemerintah AS, MUI, Panitia Natal Nasional, Perusahaan Rokok Jarum atau FPI.

(Dua hari setelah terjadinya bencana di Aceh, di CNN saya menonton diskusi para politisi Amerika yang mendesak pemerintahnya agar memberi bantuan yang signifikan. “Sebagian besar dari negara-negara yang terkena bencana ini adalah mereka yang selalu sinis dan skeptis dengan kebijaksanaan AS. Karena itu inilah saatnya bagi AS untuk mengambil hati rakyat di negara-negara tersebut…” demikianlah argumen para politisi).

(Kalau pada hari-hari pertama pasca tunami Perdana Menteri Australia atau Perdana Menteri Singapura telah menyatakan bahwa sebagian besar bantuannya akan diberikan kepada tetangganya Indonesia, maka hal itu tentu juga tidak lepas dari kepentingan-kepentingan lain disamping sekedar membantu. Begitu juga kalau para direktur pabrik kacang Garuda atau rokok Sampoerna berfoto bersama Surya Palloh atau Jakob Oetama dengan replika cek yang besar dan bertuliskan miliaran rupiah, maka hal itu tentu memiliki muatan public relation dan promosi. Semua itu wajar-wajar dan sah-sah saja).

Seharusnya hal yang sama jugalah yang dilakukan oleh Presiden SBY. Memang ia tak perlu lagi memakai peristiwa bencana di Aceh ini sebagai panggung untuk mencari popularitas. (Pada pemilu yang belum lama berselang ia berhasil meraih dukungan 70% suara). Tapi paling-tidak, ia bisa memakai peristiwa bencana di Aceh ini untuk memperlihatkan kepada rakyat bahwa “he is the true leader”, “the man in command” dan sekaligus menepis citra sebagai “sang peragu” sebagaimana yang dipersepsikan oleh banyak khayalak. Tapi cilakanya, SBY (atau lebih tepatnya para staf di kantor kepresidenen) tidak memakai peluang ini samasekali.

Jadilah SBY seorang pecundang dan kalah popularitas dengan Yusuf Kalla, Surya Palloh, Collin Powell, Kofi Anan atau Nazwa Shihab. (Pada hari-hari pertama pasca bencana, teman saya mengirim pesan SMS yang bernada ngomel kepada saya, “Siapa sih presiden kita? Surya Palloh atau SBY?”).

Alangkah kontrasnya apa yang dilakukan oleh SBY (yang memenangkan kursi kepresidenan 70% suara dalam pemilu) dan George Walker Bush (yang memenangkan kursi kepresidenan dengan keputusan Mahkamah Agung AS secara “split decision”) dalam memanfaatkan peluang untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah pemimpin yang memang bisa diandalkan.

Marilah kita lebih dahulu melihat apa yang dilakukan oleh George Walker Bush:

Tanggal 11 September 2000 malam, setelah siangnya sekelompok teroris meluluh-lantakkan menara WTC di New York dan Gedung Pentagon di Washington DC, George Bush muncul di layar televisi dan menyampaikan pidato nasional. Ia menerangkan apa yang sedang terjadi dan bagaimana Pemerintah AS akan menghadapinya. Lalu–ini yang menarik–ada bagian dari pidatonya yang membuat citranya sebagai “jagoan” langsung membubung: “Kalau saja tidak digagalkan oleh para penumpang yang heroik
dan yang jatuh di Pennsylvania, maka satu pesawat akan menabrak Gedung Putih dan membunuh anak isteri saya. Karena itu, persoalan ini bukan saja persoalan pemerintah dan rakyat AS, tapi juga persoalan saya sebagai pribadi. Dan karena itu pula, saya akan kejar semua jaringan teroris itu sampai kemana pun ke ujung bumi ini…..”

Selesai berpidato, George Bush terbang ke Camp David. Tengah malam, dengan berpakaian jaket, ia memimpin “kabinet perangnya” bersidang. Dan semua ini diliput oleh teve AS. Lalu keesokan harinya, dengan berpakaian petugas pemadam kebakaran ia berdiri di atas reruntuhan WTC, menyatakan simpatinya atas semua yang menjadi korban dan mengulangi ancamannya untuk meluluh-lantakkan teroris.

Secara hitung-hitungan jumlah suara, sebenarnya George Bush kalah dari saingannya Al Gore. Tapi gara-gara peristiwa hancurnya WTC, dalam satu malam saja popularitasnya membubung tinggi. George Bush langsung berhasil meraih legimitasinya sebagai “the real president”.

Dan dengan popularitas yang tinggi itu, apa pun kemudian bisa dilakukannya dengan mendapat dukungan penuh rakyat: menggempur Afganistan dan menduduki Irak.

Dalam berbagai aksi itu, masih beberapa kali lagi Bush memanfaatkan peluang untuk tetap memelihara citra sebagai presiden “tukang berantem” dan yang bisa diandalkan untuk membela AS. Ia melakukan perjalanan yang paling rahasia dan “nyeleneh” masuk ke Bagdad, dan secara tiba-tiba muncul di tengah pasukannya yang sedang merayakan Hari Thanksgiving. Seluruh AS bersorak.

Lalu, setelah Saddam Husein terjungkal, untuk mengumumkan bahwa perang telah selesai, kembali ia melakukan “akting”-nya. Ia terbang dengan pesawat tempur F-15 dan mendarat di atas geladak kapal induk. Dengan seragam pilot, ia keluar dari kokpit dan
berkata, “The war is over and we are the winner…” Kembali rakyat AS bersorak. (Tapi tentu, ada juga yang tidak menyetujui gayanya ini. Seorang politisi AS dari kubu Partai Demokrat berkata, “Berapa banyak anggaran negara kau habiskan untuk akting bego seperti itu?”) Tapi George Bush tak perduli.

Tahun 2004 lalu, menjelang akhir masa jabatannya yang pertama sebagai presiden, sebenarnya popularitasnya kalah jauh dengan saingannya Senator James Kerry. Apalagi, kemudian, media massa mulai membanding-bandingkan James Kerry yang pernah terlibat
dalam Perang Vietnam dengan George Bush yang hanya berdinas sebentar di dalam negeri sebagai anggota Garda Nasional yang setingkat “hansip”.

Tapi, apa mau dikata, menjelang pemilu presiden, muncul lagi ancaman dari Al Qaeda untuk menghajar kota-kota di AS. Tiba-tiba orang kembali berpaling kepada George Bush, seorang mantan “hansip” tapi yang telah berhasil menanamkan kesan “jago duel” di mata rakyat. “Kayaknya kita lebih aman kalau dipimpin oleh Geroge Bush,” kata rakyat AS. James Kerry pun kalah telak. Bush kembali menjadi presiden.

Lalu marilah kita lihat apa yang dilakukan oleh Presiden SBY:

Pernyataan bahwa negara berada dalam status bencana nasional diumumkan dari Irian Jaya. Dan saya hanya mendengarnya dari berita televisi tanpa gambar.

Kemudian keesokan harinya, SBY tiba di Banda Aceh. Saya bermimpi, alangkah tenang dan teduhnya hati rakyat (terutama yang tertimpa bencana) kalau saja SBY memakai kesempatan di depan masjid Baiturrahman itu untuk menyampaikan pidato nasional. Saya bayangkan, ia memakai jaket dan sepatu boot “tukang ikan” serta berdiri dengan latar belakang tumpukan puing-puing
akibat terjangan tsunami itu. Saya mengharapkan sedikit “retorika” yang menggugah semangat dan solidaritas. Eh, tidak ada. SBY tampil dengan sepatu pantofel dan jas safari lengan panjang. Dan seperti biasanya, ia berbicara datar dan “akademik”.

Sepulang dari Banda Aceh, saya berharap SBY meminta pilot untuk membawanya menyusuri pesisir barat Aceh untuk melihat dampak kerusakan yang terjadi. Eh, itu pun tidak dilakukannya. Ia langsung terbang ke Medan. Di posko bantuan di Polonia ia tampil dengan baju batik lengan panjang dan–seperti biasa–rambut yang tersisir rapih. Kepada isteri saya, yang menemani saya
menonton teve, saya nyeletuk, “Ini orang mau kenduri, apa?!”

Ternyata Surya Palloh lebih pantas menjadi presiden. Retorika yang disampaikannya di Metro TV untuk menggugah keharuan rakyat dan menggalang bantuan serta retorika yang diucapkannya di depan sekelompok pengungsi keturunan Tionghoa di Medan, sebenarnya adalah pidato kenegaraan yang selayaknya disampaikan oleh SBY.

Dan saya semakin geleng-geleng kepala, ketika aksi Menteri Pertambangan dan Energi untuk mengecek pasokan minyak ke Banda Aceh, justeru dilakukan di kantor Surya Palloh. Dan semua ini disorot teve dan dipancarkan ke seluruh nusantara.

Memang, kita tidak lagi hidup di jaman Orde Baru, ketika lembaga kepresidenan bisa dengan serta-merta memerintahkan seluruh jaringan televisi untuk menyorotkan kameranya kepada presiden. Orang-orang pintar di kantor kepresidenan (Andi Mallarangeng, Dino Pati Jalal dll) pun boleh saja berdalih bahwa Surya Palloh bisa melakukan semua itu karena ia menguasai
media.

Tapi di AS pun halnya sama saja. Presiden tidak menguasai media. Hanya saja, stafnya sadar bahwa agar bisa diliput media, maka sosok presiden harus “menjual”. Dan di tengah berita mayat yang bergelimpangan serta anak yang menangis kehilangan
ibu-bapa, sosok presiden yang bersisir rapih, berbicara teratur seperti dosen dan memakai batik lengan panjang; tentu saja tak laku untuk dijual.

Dalam pemilu yang lalu, saya memang tidak menjagokan SBY. Tapi begitu SBY resmi terpilih menjadi presiden, maka sebagai kosekwensi hidup dalam sistem politik yang demokratis, maka saya pun berkepentingan akan hadirnya sosok presiden yang kuat dan “decisive”. Akan kacau dan gila benar kehidupan bernegara kita, kalau dalam satu atau dua tahun ini, persepsi tentang sosok
presiden yang kuat di mayoritas rakyat mulai merosot drastis. Terlalu mahal rasanya, kalau dalam satu atau dua tahun ini, mulai lagi muncul ketidak-puasan dan wacana untuk mengganti presiden di kalangan rakyat.

Kita jangan pula lupa, bahwa dalam waktu dekat akan banyak sekali keputusan-keputusan berat yang harus diambil oleh SBY dalam membawa bangsa dan negara ini keluar dari krisis. Salah satu dari keputusan berat yang mendesak untuk diambil itu adalah menaikkan harga BBM. Lalu, bagaimana keputusan seperti itu bisa diambil dengan baik kalau citra dan popularitas presiden begitu melorot?

Para pembela SBY dan orang-orang di kantor kepresidenan juga boleh saja berargumen, bahwa Yusuf Kalla bisa sebegitu banyak bertindak semata-mata karena ditunjuk oleh presiden. Tapi jangan kita lupa, bahwa kita sekarang hidup dalam alam demokrasi dan
kebebasan pers. Image building, public relation dan komunikasi politik melalui media massa adalah hal yang tak terelakkan. Apa yang dibicarakan di dalam ruang-ruang istana atau departemen, itu adalah sebuah persoalan tersendiri. Tapi apa yang dilihat masyarakat di media massa, itu adalah persoalan yang tersendiri pula.

Sebagian besar rakyat yang memilih SBY pada pemilu yang lalu juga tak tahu apakah dalam kehidupan nyata SBY itu memang cerdas, decisive dan kokoh. Tapi setidak-tidaknya itulah persepsi yang mereka peroleh dari media massa pada saat kampanye dahulu.

Dari media massa jugalah rakyat pertama kali melihat bahwa ternyata SBY tidaklah se-cerdas, se-decisive dan se-kokoh yang mereka persepsikan selama ini. Dan itu terjadi ketika ia terkesan begitu lelet dan banyak mengalah dalam tawar-menawar penyusunan kabinet.

SBY sudah membuang-buang kredit yang dimilikinya selama ini.

Begitulah, kalau seandainya saya adalah SBY, maka para staf di kantor kepresidenan itu akan saya pecat dengan serta-merta. Merekalah seharusnya yang memberi saran apa yang harus dilakukan dan diucapkan oleh presiden. Ternyata para ahli public relation dan ahli komunikasi massa itu “tak terpakek” samasekali. Kalau saya SBY, maka Andi Mallarangeng dan kawan-kawannya itu akan saya ganti dengan Taufiek Kiemas. Sebab telah terbukti. Taufiek Kiemas “tauke pom bensin” itulah sebenarnya ahli public relation, ahli komunikasi politik dan publicist yang sejati. Dan gara-gara Taufik Kiemas-lah maka popularitas saya (SBY) di mata
rakyat jadi melonjak secara tiba-tiba.[]

One response to “Tentang Public Relation dan Aktor Kehilangan Panggung

  1. Mungkin mereka harus banyak belajar atau setidaknya mengikuti seri West Wing. We kek kek kek.

    Tapi serius, film bisa merubah pola pikir seseorang, bisa lebih maju, atau balik ke primitif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s