Tentang Serambi Yang Centang-Perenang

(Sebuah Catatan dari Acara World Book Day 2006)

Oleh: Mula Harahap

Antara tahun 1980-an sampai 1990-an saya sering mengunjungi gedung Depdiknas–dahulu Depdikbud–yang berada di kawasan Senayan–Jakarta itu. Ketika itu menteri yang berkantor di gedung utama itu adalah Daoed Josoef, Nugroho Notosutanto, Fuad Hassan dan Wardiman Djojonegoro.

Sesuai dengan “semangat zaman”, dahulu gedung berlantai dua itu terkesan dingin dan angker. Di bawah teritisan atapnya hanya ada dua mobil yang diparkir: Mobil Menteri dan Mobil Sekjen. Di dekat pintu masuk ada sebuah meja besar yang ditunggui oleh beberapa satpam, yang akan menyelidiki dengan teliti maksud dan tujuan dari setiap orang yang datang.

Serambinya yang luas, yang berlatar-belakangkan relief “entah-apa” itu, biasanya sepi-sepi saja. Tak ada orang yang duduk-duduk di sana. Semua tamu hanya melangkah cepat melalui serambi yang luas itu–kucluk…kucluk…kucluk–lalu masuk ke kantor
Menteri, Sekjen dan Kepala-kepala Biro yang ada di sana. Setelah urusan selesai, kembali mereka melangkah dengan cepat melewati serambi itu–kucluk…kucluk…kucluk.

Yah, siapa pula yang mau duduk-duduk ketika proyek yang berkaitan dengan pendidikan begitu berlimpah-ruah untuk dikejar?

Tapi kesan saya tentang gedung yang angker dan dingin itu menjadi jungkir-balik ketika pada tanggal 2 Maret 2006 lalu saya kembali berkunjung ke gedung Depdiknas.

Di pintu masuk, dekat mobil menteri yang sedang diparkir, ada sebuah mobil bak terbuka yang sedang membongkar tumpukan kardus. Pada anak tangga menjelang pintu masuk beberapa pemuda sedang duduk-duduk merokok. Tidak ada satpam yang mencegat pengunjung. Semua orang boleh keluar-masuk dengan bebasnya.

Tapi yang membuat saya lebih tercengang lagi adalah serambi gedung itu: Serambi itu centang-perenang dan hiruk pikuk. Ada gerai penerbit yang menjual buku dengan harga “super dibanting”. Ada gerai LSM yang mempromosikan programnya membuka rumah baca, menggalakkan kegiatan menulis, menyediakan buku untuk tunanetra, atau menyediakan sepeda “onthel” untuk sekelompok anak-anak di sebuah desa di Kabupaten Bantul.

Lalu, di atas panggung–di bawah relief “entah apa” itu–ada pula sekelompok orang yang sedang berdiskusi tentang buku, minat baca dan mencerdaskan bangsa.

Berbagai perasaan memenuhi kepala saya. Bagaimana mungkin bahwa gedung yang dahulu dingin dan angker itu kini menjadi centang-perenang dan hiruk-pikuk seperti pasar?

Apa kata Menteri ketika dua kali dalam sehari ia harus melintasi serambi itu? Apakah ini pertanda sebuah pemerintah yang telah kehilangan kewibawaan dari sebuah negara yang sedang bangkrut?

Tiba-tiba datang pikiran lain di kepala saya. Tiba-tiba saya melihat centang-perenang dan hiruk-pikuk ini sebagai sesuatu yang indah. Inilah lambang dari sebuah semangat demokratis, yaitu ketika negara, pelaku bisnis dan masyarakat secara bersama-sama bertemu dan melakukan sesuatu.

Di sebuah buku–mungkin karangan Anthony Giddens–saya pernah membaca bahwa ada tiga pilar atau pelaku utama yang diharapkan bisa membangun kesejahteraan rakyat. Pilar yang pertama ialah negara. Pilar yang kedua ialah bisnis. Dan pilar yang ketiga ialah “civil society”.

Di serambi yang centang-perenang itu saya melihat Depdikas sebagai manifestasi negara. Saya melihat Mizan, Gramedia, Etno Books, KPG dan penerbit lainnya itu sebagai manifestasi bisnis. Dan saya melihat Forum Lingkar Pena, Indonesia Membaca, Rumah Dunia, Gerakan 1001 Buku dan LSM yang lainnya itu sebagai manifestasi masyarakat. Disini, di dalam perayaan World Book Day
2006 ini, ketiga pilar tersebut bertemu.

Mungkin pertemuan ini tidak direncanakan dan tidak disengaja: Wien Muldian dan kawan-kawan LSM lainnya itu bersemangat untuk merayakan “Worl Book Day”. Karena perpustakaan ex. The British Council ada di gedung Depdiknas, dan karena Wien Muldian dan
kawan-kawan masih terlibat dalam pengelolaan perpustakaan tersebut, yah digelar sajalah acara tersebut di gedung Depdiknas.

Dan karena Depdiknas masih merasa “berhutang budi” kepada The British Council, yah mereka tidak bisa menolak untuk tidak menampung “limpahan” semangat LSM yang masih terkait dengan pengelolaan perpustakaan itu.

Lalu, karena penjualan buku sedang seret, dan ada tempat cuma-cuma untuk mengobral buku, bergabung pulalah bisnis, yaitu para perusahaan penerbit seperti Mizan, Gramedia, KPG, Etno Books dsb itu.

Tapi dari perjumpaan yang tak disengaja dan direncanakan ini baiklah kita belajar tentang suatu hal: Bahwa di negara yang demokratis dan cenderung menganut sistem ekonomi pasar bebas, memang demikianlah seharusnya upaya pembangunan dijalankan. Harus ada kerjasama antara sektor negara, sektor bisnis dan sektor masyarakat.

Selama ini sektor negara dan sektor bisnis hanya menganggap bahwa merekalah yang paling bertanggung-jawab terhadap pembangunan. Dan pembangunan pun diukur dari kacamata proyek dan nilai rupiah.

Tapi rupanya ada sektor lain yang juga merasa bertanggung-jawab terhadap pembangunan. Sektor ini adalah sektor masyarakat atau civil society. Mereka tidak terlalu memahami bahasa proyek. Yang ada pada mereka hanyalah semangat untuk melakukan sesuatu. Karena itu, ketika sektor negara dan bisnis tidak bisa melakukan sesuatu karena ketiadaan “duit”, maka datanglah sektor masyarakat atau civil society dengan modal “do it”.

Bagi saya fenomena munculnya penerbit alternatif, dan munculnya berbagai gerakan masyarakat yang berkaitan
dengan buku (Rumah Dunia, Forum Lingkar Pena, Gerakan 1001 Buku, dsb) adalah bukti bahwa dalam melakukan
sesuatu ada hal yang lebih penting dari “duit”, yaitu just “do it”.

Kegiatan Rumah Dunia di Serang, Rumah Baca di Hegarmanah-Bandung, Forum Lingkar Pena dan berbagai prakarsa lain tentang membaca dan menulis yang dilakukan atas swadaya masyarakat itu boleh jadi jauh lebih fantastis dari apa yang dilakukan oleh sebuah perpustakaan wilayah milik Pemda yang didanai miliaran rupiah.

Promosi buku dan minat baca yang dilakukan oleh Gerakan Indonesia Membaca dan taman bacaan masyarakat yang bertebaran di banyak tempat itu boleh jadi jauh lebih efektif dari apa yang dilakukan oleh iklan dan promosi komersil para penerbit.

Di serambi gedung Depdiknas saya belajar tentang sesuatu: Sudah saatnya sektor negara, sektor bisnis dan sektor masyarakat bekerja-sama melakukan sesuatu tanpa harus saling mengintervensi. Sudah saatnya semangat “duit” digabung dengan semangat “do it”.

Kerjasama itu mungkin saja terkesan “centang-perenang”. Tapi kalau semua fihak menyadari bahwa yang sama-sama sedang mereka lakukan ini adalah demi kebaikan bangsa/negara, maka “centang-perenang” itu akan indah.

Di serambi gedung Depdiknas, pada perayaan World Book Day, kita telah membuktikannya. Dan alangkah baiknya kalau kita juga bisa melakukannya dalam hal-hal yang lain.

Akh, kalau saja Mendiknas Bambang Soedibjo bisa melihat keindahan dan menangkap semangat di balik centang-perenang yang terjadi di serambi kantornya itu, maka akan banyak sekali hal besar yang bisa dilakukan dalam mecerdaskan bangsa ini[.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s