Tentang Spiritualitas

Oleh: Mula Harahap

Ketika masih duduk di bangku SMA dahulu, saya pernah jatuh cinta kepada seorang perempuan teman sekelas. Perempuan itu berambut panjang, pandai main piano dan senang membaca buku. Siang malam saya selalu rindu untuk bertemu. Dan kalau sudah bertemu–apalagi kalau disapa–wuah, hati saya berbunga-bunga. Sepanjang hari itu saya akan termotivasi untuk belajar dengan baik di kelas.

Dan kalau saya tak bisa bertemu dengan perempuan itu (misalnya sekolah libur), maka saya akan berusaha mencari tanda-tanda lain sebagai ganti dirinya, yang bisa mengobati kerinduan saya. Kadang-kadang saya pandangi buku catatannya yang sengaja saya pinjam. Kadang-kadang saya pandangi tandatangannya, yang entah mengapa, dibubuhkannya di sampul buku pelajaran kimia saya. Kadang-kadang, melihat genteng rumahnya pun hati saya sudah berdebar-debar. Sama halnya dengan dampak setelah “melihat wajah si dia”, maka setelah melihat “tanda-tanda lain sebagai ganti dirinya” pun bisa membuat saya menjadi tenang dan berlaku baik untuk beberapa saat.

Saya memahami spiritualitas seperti hal di atas: Pengalaman melihat “wajah tuhan” atau “tanda-tanda lain yang berkaitan dengan
kehadiran tuhan”, yang membuat hati berdebar-debar. Rasa rindu campur senang yang bikin “deg-degan”; itulah spiritualitas.

Nah, dalam kaitan dengan ibadah di gereja, maka wajah Tuhan atau tanda-tanda lain yang berkaitan dengan Tuhan itu saya coba lihat (tangkap) melalui khotbah pendeta, lagu-lagu atau kehangatan persekutuan jemaat. Harus saya akui, kadang-kadang saya berhasil melihat wajah Tuhan itu. Tapi dalam banyak peristiwa ibadah; saya gagal. (Mungkin kesalahan ada pada saya, yang tak mampu menenangkan diri. Tapi bisa juga pada pendeta, yang berkhotbah tak dengan enteng dan ‘tanpa pergumulan’. Bisa pula pada pilihan lagu-lagu yang kurang tepat dengan tema khotbah. Dan bisa pula pada unsur-unsur lain yang mendukung persekutuan)

Sama halnya seperti memandang wajah si dia yang berambut panjang itu, maka kalau saya merasa telah memandang wajah Tuhan (atau merasa telah disapa oleh Tuhan) dalam ibadah di gereja, hati saya juga jadi berbunga-bunga. Dan hal itu bisa memotivasi saya untuk bersikap baik selama–paling tidak–seminggu. Itulah spiritualitas yang saya pahami.

Ada pun apa yang saya rasa sebagai “wajah” atau “suara” Tuhan; itulah teologia. Teologia adalah refleksi atau pemahaman tentang
Tuhan yang dianut dan diajarkan oleh gereja. Karena itu warna teologia suatu gereja berkaitan erat dengan spiritualitas yang dialami oleh jemaatnya.

Begitulah, kalau saya memilih mencari (menjumpai) Tuhan di GKI Kwitang, maka alasannya adalah, karena citra Tuhan yang ditampilkan (teologia) GKI pas dengan selera saya: Tuhan “yang berambut panjang dan pandai main piano”. Tapi, seperti yang telah saya uraikan di atas, hanya sesekali saya bisa menangkap “wajah tuhan”. Harus saya akui, dalam banyak kasus, motivasi saya untuk datang beribadah acapkali hanya karena kebiasaan atau karena “tak enak hati terhadap tetangga, isteri atau anak-anak”.

Saya tidak tertarik mencari (menjumpai) Tuhan di Gereja Anu–misalnya–karena citra Tuhan yang ditampilkan (teologia) gereja itu
kurang pas dengan selera saya: Tuhannya “agak menor”.

Sama halnya seperti pengalaman “deg-degan” setelah berjumpa dengan si dia, maka pengalaman “deg-degan” setelah berjumpa dengan Tuhan “yang berambut panjang dan pandai main piano itu” seyogyanya juga memberi dampak pada tingkah laku dan tutur kata saya (jemaat).

Begitulah, iman bermuara kepada teologia. Teologia bermuara kepada spiritualitas. Dan spiritualitas bermuara kepada perbuatan.

Saya sangat berharap, para pejabat gereja dan mereka yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan ibadah menyadari benar akan pentingnya pertautan keempat hal ini (iman–teologia–spiritualitas–perbuatan) bagi kehidupan sehari-hari saya (jemaat)[.]

4 responses to “Tentang Spiritualitas

  1. Sebuah analogi yang pas dan mudah dimengerti tentang spiritualitas. ya, Tuhan “yang berambut panjang dan pandai main piano”-nya Mula adalah Tuhan “yang berambut pendek dan pintar baca puisi” saya.

  2. Hotman Silalahi

    Ah……..Saya sering gagal menjumpai/melihat Tuhan di HKBP. Saat saya sudah siap melihat wajah Tuhan di HKBP, sering parhalado+pejabat HKBP (preses, ephorus, MPS) menghalangi saya.
    Ah….mungkin saja “Piano yang dimainkan parhalado” membuyarkan konsentrasi saya untuk bertemu dengan Tuhan.

  3. Djandel Marbun

    Unangma na parnidaon ho lae Hotman Silalahi…ai dang adong ujud ni Tuhan siberengon digareja diape.. tu Jerusalem do lae mardalani ai adong do namirip disi.. ..sude pangula ni huria sarupa songon hami karyawan on do i ..marsihepeng..molo boi korupsi..Molo Kiristen lae..haporseaimai hubungan langsung tu Tuhani..akka namambahen akka sekte sarupa tu hitaon doi marsihepeng..

  4. Djandel Marbun

    Lae Hotman ..sotung disangka lae muse Amang Mula keturunan ni Jahudi ala ganjang jambulanna..parhitaan do tong i..lagi mode do nuaeng dipajangge jangge jambulanna..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s