Tentang Tuhan Yang “Gimana-Gitu”

Oleh: Mula Harahap

Ada satu ekspresi anak-anak Jakarta yang menarik perhatian saya, dan membuat saya sering berpikir-pikir. Ekspresi itu adalah “gimana-gitu”. (“Gile! Kemarin Roy nelepon gue. Duh, gimana-gitu…”). Di dalam ekspresi itu tersirat pengertian: Ada sebuah pemikiran atau perasaan di dalam diri saya, yang sukar untuk saya jelaskan kepada Anda, tapi saya berharap Anda bisa memahaminya.

Kalau yang berbicara dalam contoh di atas adalah dua sahabat karib, dan percakapan dilakukan di kantin sekolah (mereka berada dalam tataran dan lingkungan pergaulan yang sama), maka “gimana-gitu” tentu tak perlu dielaborasi lebih jauh.

Tapi kalau percakapan dilakukan oleh seorang anak perempuan dengan ayahnya, maka besar kemungkinan si ayah (apalagi kalau dia lelaki yang masih lahir di Tanah Batak) akan menuntut penjelasan lebih jauh tentang “gimana-gitu”. (“Apanya maksud kau, hah?! Sudah ‘digituinya’ kau?”).

Saya pikir-pikir, fenomena Tuhan hampir mirip dengan “gimana-gitu” yang menjadi ekspresi anak-anak Jakarta. Tuhan begitu besar dan dahsyat sehingga tak cukup kata-kata untuk menjelaskanNya. Dan yang membuat hal menjadi semakin menarik, penyataan Tuhan itu terjadi dalam diri berbagai orang, dengan berbagai tingkat intelektual, citarasa, minat, kultur, latar belakang sejarah, ketrampilan dsb.

Ketika para filsuf dan teolog mencoba mengelaborasi “gimana-gitu” tersebut, tentu saja–agar bisa lebih difahami–mereka
memakai “bahasa” mereka, yaitu bahasa filsafat dan teologi. Terjadilah diskusi tentang “eksegese”, “eisegese”, “inerrancy” dan
semacamnya itu.

Ketika para mistikus mencoba mengelaborasi dan mengajak orang memahami “gimana-gitu” tersebut, tentu saja cara atau “bahasa”yang mereka pakai lain lagi. (“Duduk sini dan berdiam diri. Atur nafas dan tutup matamu! Nanti kau akan merasakan Tuhan sebagaimana yang saya rasakan…”).

Tuhan juga menyatakan dirinya kepada pujangga, pelukis, pematung, musikus, supir “metromini”, polisi, anak TK, ibu rumah tangga dan siapa saja. Tentu saja persepsi serta cara mereka menggambarkan penyataan Tuhan berbeda-beda pula.

Mozart,Bach atau Handel tidak tahu apa itu “eksegese”, “eisegese”, “inerrancy”, “sheoul” atau “infallacibility”. Dia hanya mengambil pena lalu membuat coretan-coretan dan mempersilakan orkestra memainkan “gambar-gambar tauge” itu. Itulah Tuhan yang ‘gimana-gitu’ menurut Mozart, Bach atau Handel.

Ketika anak lelaki saya masih duduk di TK, pemahamannya akan Tuhan lain lagi. Ia menggambar seorang lelaki brewokan, berambut panjang, memakai celana dan kaus ketat berwarna merah, jubah melambai-lambai di punggungnya, memakai celana dalam di sebelah luar dan ada tulisan “Y” di dada. (Dulu ia selalu bertanya: “Bapak, siapa sih yang lebih jago? Tuhan Yesus atau Superman?”).

Rendra, Leo Tolstoy dan Salvador Dali lain lagi. Bahkan Chairil Anwar yang tak pernah dibaptis (percik maupun selam) di gereja itu,
juga pernah merasakan getaran Tuhan. (Baca: Tuhan yang menyatakan diri dalam Yesus Kristus itu). Lalu lahirlah sebuah sajak yang indah berjudul “Isa”, yang jauh lebih sarat makna daripada banyak khotbah para Bapak Pendeta.

Karena besar dan dalamnya misteri Tuhan itu, maka banyak orang merasa tidak puas kalau hanya mencoba menyelamiNya dari satu
pendekatan. Dan ini adalah sikap yang baik, karena berupaya mencari sesuatu yang lebih utuh dan menyeluruh.

Tuhan tidak cukup hanya difahami melalui pendekatan filsafat dan teologi. Tuhan juga perlu difahami melalui pendekatan mistik, seni dan sebagainya. Bahkan Tuhan juga perlu difahami melalui kejadian hidup sehari-hari dari berbagai orang di sekitar kita.

Saya mendapat kesan bahwa Tuhan yang difahami hanya melalui pendekatan filsafat dan teologia adalah Tuhan yang kaku dan kering. Tuhan yang difahami hanya melalui pendekatan hukum adalah Tuhan yang cerewet. Di lain fihak, Tuhan yang difahami hanya melalui pendekatan mistik adalah Tuhan yang mabuk. Saya rasa perlu ada keseimbangan.

Para teolog perlu membaca sastra, menikmati musik, dan melakukan meditasi. Sebaliknya, sebagai orang yang senang membaca sastra, saya juga perlu membaca apa yang ditulis oleh para teolog, membiasakan telinga mendengar musik yang bercitarasa tinggi dan–ini yang penting–ber-“saat teduh”.

Upaya untuk memahami Tuhan (yang begitu besar dan dahsyat itu), saya rasa adalah sebuah proses yang berlangsung terus-menerus di dalam diri kita. Adalah suatu hal yang menyebalkan kalau ada kawan yang mengklaim dengan gegap-gempita bahwa dia sudah memahami Tuhan yang benar, dan Tuhan yang saya fahami itu adalah Tuhan yang salah.

Atas dasar pertimbangan seperti yang baru saya uraikan di atas, maka dalam urusan omong-omong tentang Tuhan, saya tak terlalu berminat terhadap aspek “benar” atau “tidak benar”, aspek “beriman” atau “tidak beriman” dan aspek “masuk sorga” atau “tidak masuk sorga”. (Akh, urusan Tuhan sajalah itu…).

Saya lebih tertarik dengan aspek: “Bagaimana saya bisa senantiasa tersentuh dan tergetar oleh pemahaman akan penyataan Tuhan. Kemudian, bagaimana sentuhan dan getaran tersebut memberi sukacita dan damai dalam hidup saya, yang pada gilirannya menular kepada orang-orang di sekeliling saya”.

Saya tidak tahu, apakah inilah yang disebut dengan “spiritualitas”. Tapi akhir-akhir ini saya sering mendengar perkataan tersebut
dibicarakan oleh banyak pendeta. Almarhum Pendeta Eka Darmaputra membicarakannya. Pendeta Andar Ismail membicarakannya. Saya tertarik mendengarkannya, karena rasanya apa yang mereka tekankan (spiritualitas) mirip dengan apa yang selama ini saya pikirkan dan inginkan.

Saya rasa, ucapan Yesus yang mengatakan: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” adalah sublimasi dari upaya spiritualitas sebagaimana yang saya maksud.

Tentang siapa-apa-mengapa Allah dan manusia yang harus dikasihi itu, tentu saja kita perlu memiliki gambaran yang sama.
Untuk itulah kita melakukan perdebatan-perdebatan teologi. Perdebatan itu tak akan berkesudahan. Tapi janganlah karena tak
kunjung memiliki pemahaman yang sama, kita jadi tertunda untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Tuhan memiliki berbagai cara untuk menyatakan diriNya kepada masing-masing kita, dan yang pada akhirnya membuat kita memiliki pemahaman yang sama. (“Gimana-gitu….”)[.]

2 responses to “Tentang Tuhan Yang “Gimana-Gitu”

  1. Saya suka baca artikel tersebut di atas karena rasanya gimana gitu….

  2. Ya, Tuhan itu sulit dilukiskan. Kadang pikiran logis yang nakal mempertanyakan ini, itu. Kadang juga sangat merasakan kehadirannya. Ya..gimana gitu,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s