Teologi Tsunami

Oleh: Mula Harahap

Pengantar:

Harus saya akui, peristiwa bencana yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 lalu itu sungguh membuat saya terperengah. Belum pernah saya menyaksikan katastrofi yang sedahsyat itu. Siang malam saya hanya menonton Metro TV, CNN, BBC dan berpikir-pikir tentang maksud Tuhan. Kata isteri saya, “Kalau kau tak mengurangi acara menonton dan berbaring-baring di kursi panjang dengan mata yang terus menatap ke langit-langit itu, akan saya bawa kau ke psikiater…” Jadi tulisan ini sebenarnya adalah ‘terapi’ yang saya lakukan untuk jiwa saya sendiri.

Biasanya, kalau saya menghadapi hal-hal yang membingungkan, saya akan berpikir-pikir terus sampai saya bisa merumuskan persoalan itu secara utuh, menemukan sendiri jawabannya dan menuliskannya dalam bentuk uraian. Dan kalau saya sudah bisa
menuliskannya, maka biasanya persoalan itu akan ‘keluar’ dari kepala saya. Inilah yang saya maksud dengan ‘terapi kejiwaan’. Tidak ada maksud saya untuk menggurui atau bersaksi. Saya bukan pendeta dan bukan ahli teologi. Saya juga tak terlalu hafal akan ayat-ayat Alkitab. Karena itu, saya akan senang sekali kalau ada yang mau membantah, meluruskan atau menambahkan apa yang ada dalam ‘terapi kejiwaan’ atau ‘kotak-katik teologia’ ini. Mungkin, dengan demikianlah saya jadi lebih bisa mengenal Tuhan secara lebih baik, yaitu Tuhan Yang Menyatakan Diri-Nya Dalam Yesus Kristus itu.

I.
Karena terjadinya yang begitu tiba-tiba (serta dalam waktu yang begitu singkat), dan karena jumlah korban jiwa (serta kehancuran harta-benda) yang diakibatkannya begitu besar, maka wajar saja kalau gempa bumi (serta gelombang tsunami) yang melanda kawasan Lautan Hindia pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu itu, membuat kita terkejut, takut, sedih dan ‘tak habis pikir’.

Lalu, dalam suasana hati yang galau itu, wajar-wajar saja kalau kita jadi bertanya-tanya tentang maksud Tuhan (Yang Maha Kuasa) di balik peristiwa yang terjadi ini.

Karena Tuhan tidak pernah berbicara gamblang dalam bahasa kita (Inggeris, Indonesia, Batak, Mandarin, Jawa dsb), dan menuliskannya dengan huruf besar-besar pada langit di atas sana (agar semua kita bisa membacanya) atau memperdengarkannya melalui mikropon raksasa yang loudspeakernya menggantung di bulan (agar semua kita bisa menyimaknya), maka masing-masing kita pun mencoba memahami apa sebenarnya motivasi Tuhan di balik bencana yang terjadi ini. Dan terjadilah refleksi atau teologi yang bermacam-macam warna dan rasa, seperti unsur-unsur yang membentuk es shanghai.

Ada orang (Kristen) yang berpandangan bahwa bencana ini adalah hukuman terhadap rakyat Aceh karena menerapkan Syariat Islam dan nyaris tak pernah memberi izin bagi pembangunan (gedung) gereja. Pandangan seperti ini, tentu saja akan menimbulkan ‘kerepotan’: “Lalu, mengapa pula rakyat di negara-negara lain harus menjadi korban? Apakah mereka juga selalu memburu-buru orang Kristen atau (paling-tidak) orang-orang yang menganut agama minoritas di negerinya masing-masing? Dan bagaimana pula kita harus memahami orang-orang Kristen yang menjadi korban di Nias dan di Aceh sendiri? Atau, apakah Tuhan itu seperti kita manusia, yang kalau marah tak bisa mengontrol diri sehingga siapa pun yang berada di dekat sasaran kemarahan harus
ikut pula kena damprat?”

‘Teologi bencana sebagai hukuman’ ini bisa dikembangkan lagi menjadi berbagai varian. Ada yang mengatakan bahwa bencana ini adalah hukuman Tuhan terhadap Indonesia yang telah begitu korup dan dekaden. Tapi, kalau bencana ini memang adalah hukuman
terhadap Indonesia, mengapa pula Aceh (dan negara-negara lain di Samudera Hindia) harus menjadi ‘contoh soal’? Mengapa tidak Jakarta saja?

Ada lagi yang mengatakan bahwa bencana ini adalah hukuman Tuhan yang telah diramalkan sejak lama. Untuk mendukung pernyataannya, orang-orang seperti ini biasanya akan mengusung satu-dua ayat dari Alkitab. (Harap dipahami, tentu saja di dalam ayat-ayat itu tidak akan ada tertulis kata-kata Aceh, Meulaboh, Phuket, Maladewa, Lho Nga atau Sri Lanka secara eksplisit. Dan ayat yang sama jugalah yang dipakai untuk menjadi dasar pembenaran ramalan atas bencana tsunami di Lisabon (1755), Maumere, Alaska, Krakatau dan dimana pun).

Ada lagi yang melihat pembenaran ramalan dari bencana di Aceh (dan dimana pun), bukan dari apa yang tersirat pada sebuah ayat; tapi dari kata-kata yang terbentuk bila huruf-huruf yang membentuk ayat itu dipandangi berlama-lama secara horisontal, vertikal atau menyerong. (Upaya ini tak ubahnya seperti mencari kata-kata yang tersembunyi dalam rubrik ‘asah otak’ atau ‘tebak-tebakan’ di majalah anak-anak).

Beberapa tahun yang lalu, di Indonesia pernah terbit sebuah buku yang berjudul ‘The Bible Code’. Buku ini merupakan kompilasi dari beberapa kitab di Perjanjian Lama yang ditulis dalam huruf Ibrani dan disetting sedemikian rupa; sehingga kalau huru-huruf Ibrani itu ‘diplototin’ berlama-lama–ke atas, ke bawah atau menyerong–maka akan muncul kata-kata dalam bahasa Ibrani. Kata-kata inilah yang dikutak-katik menjadi ramalan. Menarik juga untuk diselidiki apakah di dalam buku ‘The Bible Code’ itu orang sudah menemukan–dalam huruf Ibrani–kata-kata seperti “tsunami”, “aceh” atau “uss abraham lincoln”.

Lalu, ada lagi ‘teologi peringatan’ yang hampir sama nadanya dengan ‘teologi hukuman’: “Bencana yang terjadi ini adalah peringatan bagi kita (sekelompok orang atau bangsa) untuk bertobat dan mulai menjalani hidup yang benar….”

Yang menjadi persoalan dengan teologi ini ialah: “Koq tega-teganya sih Tuhan itu?! Untuk mengingatkan kita; koq harus memakai orang di Aceh sebagai contoh soal? Apakah orang-orang di Aceh (atau di Sri Lanka, India, Thailand dsb) itu, memang lebih brengsek dari kita, sehingga pantas dijadikan contoh soal?”

Memang, tidak ada salahnya untuk memakai kemalangan yang menimpa orang lain sebagai peringatan untuk diri sendiri. Tapi hal yang menyebalkan dari para penganut ‘teologi peringatan’ ini ialah, bahwa mereka acapkali ‘asal bunyi’ saja. Kata-kata ‘bencana ini adalah peringatan bagi kita’ tak pernah di-‘follow-up’-i dengan pertobatan atau perubahan perilaku yang signifikan.

Lalu, ada lagi ‘teologi penghiburan’: Orang-orang di Aceh itu (entahlah dengan orang-orang di Thailand, Sri Lanka atau India), sudah lama menderita di bawah sistem ‘DOM’ dan ‘Darurat Sipil’. Karena itu, melalui bencana ini Tuhan ingin mengangkat mereka ke sebuah ‘langit baru dan bumi baru’ dimana tidak ada lagi ‘DOM’ dan ‘Darurat Sipil’. Tapi akan timbul pertanyaan: “Tuhan yang bagaimana pula itu; yang disatu pihak ingin membebaskan seorang ayah dan seorang ibu dari penderitaan; tapi di lain fihak
meninggalkan anak-anak yang tak punya ayah-ibu lagi di dunia ini? Atau, yang membawa sekelompok orang ke dalam sukacita ‘langit baru dan bumi baru’ tapi sekaligus meninggalkan sekelompok lainnya di dunia, yang penderitaannya sekarang justeru jauh lebih parah daripada ‘DOM’ plus ‘Darurat Sipil’?”

Sama parahnya dengan ‘teologi penghiburan’ adalah ‘teologi ujian’: “Seperti dahulu Tuhan menguji Ayub, maka melalui bencana ini Tuhan juga ingin menguji mereka yang tinggal di Aceh dan daerah-daerah bencana lainnya itu…”

Lalu, kembali akan timbul pertanyaan: “Tuhan yang seperti apalagi ini, yang menguji anak-anaknya dengan soal-soal yang jauh lebih tinggi dari tingkat penguasaan anak-anak itu? Dan ibu atau ayah yang tertawa-tawa sendiri di antara tumpukan mayat di kota Banda Aceh itu harus dianggap sebagai apa? Naik kelas, tinggal kelas atau turun kelas-kah?”

Ada lagi ‘teologi tuhan tak terlalu campur tangan amat’: “Gempa bumi dan gelombang tsunami ini adalah perbuatan alam yang berjalan dengan hukumnya sendiri. Karena penghargaanNya terhadap kebebasan dan kreativitas manusia, maka Tuhan sih tak suka terlalu mencampuri hukum alam. Akan kacau sekali kehidupan manusia di dunia ini kalau Tuhan selalu mencampuri hukum alam. Di sebuah kecamatan di Kabupaten Simalungun, misalnya, ada sekelompok orang Kristen yang berdoa agar hujan jangan dulu turun karena mereka hendak merayakan sebuah pesta pernikahan. Lalu, pada saat yang sama, di kecamatan yang sama, ada pula
sekelompok petani yang berdoa agar hujan turun karena mereka sudah terlambat untuk memulai masa menanam. Permintaan mana yang harus dipenuhi Tuhan? Akan ‘lucu’ sekali jadinya, kalau rumah dimana jemaat itu merayakan pesta pernikahan tidak diguyur hujan; sementara daerah di sekelilingnya diguyur hujan.”

Semangat yang sama jugalah yang menyebabkan para penganut ‘teologi tuhan tak terlalu campur tangan amat’ merasa risih mendoakan hal-hal seperti kemenangan Tim PSSI (dalam berhadapan dengan Singapura) di Piala Tiger atau kemenangan Paduan Suara Gereja Anu di Pesparawi. Tuhan memang adalah pemilik kedaulatan atas alam semesta ini. Tapi biarlah Ia ‘mengurusi’ hal-hal besar, umum dan intangible saja seperti damai, sukacita, dsb., ketimbang hal-hal kecil, spesifik, tangible dan yang berkaitan dengan ego orang per orang atau kelompok per kelompok.

Di seberang kutub ‘teologi tuhan tak campur tangan amat’ ini terdapat ‘teologi sedikit-sedikit tuhan, sedikit-sedikit tuhan’: Ingin menang dalam pertandingan sepak bola, minta pertolongan Tuhan. Ingin tamu yang kita undang datang dan tidak terhalang
karena hujan, minta pertolongan Tuhan (agar menunda hujan). Ingin kaki yang cacat (sejak lahir) menjadi pulih dan bisa berlari seperti anak-anak lain, minta campur tangan Tuhan. Ingin agar gelombang tsunami tidak datang menerpa, minta pertolongan Tuhan. Penganut teologi ini percaya bahwa kekuatan alam akan bisa takluk oleh sejumlah besar orang yang berdoa meminta pertolongan Tuhan.

II.
Kalau kita jadi bertanya-tanya tentang maksud Tuhan di balik bencana yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 lalu itu, maka hal itu–saya pikir– lebih disebabkan oleh kadar destruktifnya yang sedemikian besar dan terjadinya yang secara tiba-tiba.

Sebenarnya, setiap saat di berbagai tempat di muka bumi ini, bencana sedang berlangsung terus. Memang kadar destruktifnya tidak begitu besar.

Tapi bagi orang-orang yang tertimpa langsung, bencana itu tetap dianggap sebagai ‘the ultimate thing’ dan cukup membuat mereka jadi bertanya-tanya akan maksud Tuhan:

Setiap hari, ada saja bapak atau ibu (dari keluarga miskin) yang menjadi satu-satunya pencari nafkah keluarga, yang meninggal ditabrak mobil, ditikam perampok atau terkena penyakit.

Di sebarang pantai di muka bumi ini ada saja nelayan yang tenggelam diterpa badai dan jasatnya tak kunjung ditemukan oleh kekasih hatinya.

Ada saja ibu di salah satu negara Afrika (atau di Papua sana) yang–tanpa melakukan sesuatu yang tercela–tiba-tiba menemukan dirinya telah mengidap HIV. Begitu juga, ada banyak anak, yang sejak lahir telah membawa virus yang mematikan ini, semata-mata
hanya karena ibunya menderita HIV.

Ada pesawat terbang yang jatuh. Ada sejumlah orang yang sedang tertawa-tawa dalam sebuah kenduri, tiba-tiba harus mati (dan meninggalkan kekasih-kekasihnya) hanya karena seorang supir mobil truk tangki tidak bisa mengendalikan kendaraannya
ketika berjalan di sebuah turunan. Ada banyak bayi–yang karena faktor genetis–terpaksa lahir dalam keadaan cacat, dan untuk bisa survive, seumur hidupnya harus tergantung pada pertolongan orang lain. Ada pendeta yang ditembak mati di Palu, ada sejumlah remaja gereja–ketika sedang retret–mati dihempas banjir bandang di daerah Bogor, ada pelayan bar yang pada malam pergantian tahun ditembak mati majikannya. Bahkan, ada sejumlah orang di sebuah negara (Indonesia)–entah apa salah mereka–tiba-tiba pada tahun 1998 harus kehilangan pekerjaan, kehilangan tabungan dan kehilangan masa depan, hanya karena sebuah hal yang bernama ‘krisis moneter’. Kapan dan dimana saja terjadi bencana.

Berdasarkan fakta-fakta di atas, maka sukar bagi saya untuk menerima pemahaman bahwa bencana adalah hukuman Tuhan. Apalagi, kalau bencana itu dikatakan sebagai hukuman atas dosa kolektif suatu keluarga, masyarakat atau bangsa.

Bencana bisa terjadi karena alam bergerak (acapkali secara destruktif) menurut hukumnya sendiri. Dan manusia belum memiliki pengetahuan atau kesempatan untuk menghindari pergerakan tersebut.

Di lain fihak, bencana juga bisa terjadi karena ketololan manusia dalam mengelola alam.

Bencana juga bisa terjadi karena kelalaian manusia dalam menangani teknologi. Bencana juga bisa terjadi karena ada orang-orang jahat di muka bumi ini yang senang menghancurkan atau mencederai sesamanya manusia.

Saya tidak tahu mengapa Tuhan membiarkan alam dan manusia bergerak ‘sesuka-sukanya’ sehingga menimbulkan malapetaka bagi orang lain. Mengapa Tuhan tidak campur tangan saja mengatur setiap gerakan alam dan manusia agar ‘tertib’ dan tidak menimbulkan malapetaka.

Kalau saya pikir-pikir lebih jauh, mungkin inilah memang yang sebaiknya berlaku. Alam dan manusia diberi kebebasan untuk bertindak. Sebab alangkah lucunya kehidupan ini kalau dalam semua hal Tuhan harus campur tangan.

Walau pun saya berpihak kepada Tuhan yang tidak selalu campur tangan (cenderung memberi kebebasan bertindak kepada alam dan manusia), tapi saya tidak menafikan bahwa Tuhan-lah pemilik kedaulatan atas alam dan manusia tersebut. Dan kapan saja Ia mau, Ia boleh saja campur tangan terhadap alam dan manusia kepunyaanNya itu.

Pada fihak lain, kalau pun dalam banyak hal yang berkaitan dengan pergerakan alam dan manusia Tuhan tidak terlalu campur tangan, tapi saya juga tetap bisa menerimaNya sebagai Tuhan yang pengasih dan penyayang.

Kita cenderung memahami campur tangan Tuhan hanya dalam hal-hal yang “supernatural”, “ajaib” atau “mengherankan”. Karena itu, kalau saya cenderung berpihak kepada Tuhan yang tidak terlalu campur tangan dalam urusan alam dan manusia, maka campur tangan yang saya maksudkan adalah campur tangan dalam pengertian yang ‘supernatural’ atau ‘ajaib’ ini.

Tapi dalam pengertian yang lain, saya percaya benar bahwa Tuhan senantiasa campur tangan dalam setiap tindakan alam dan manusia:

Gagasan para ilmuwan untuk menciptakan sistem ‘early warning’ terhadap gelombang tsunami, sehingga dampak kehancurannya bisa diminimalisir; saya rasa itu adalah bentuk campur tangan Tuhan.

Gagasan para pejabat di dinas keamanan penerbangan untuk menciptakan berbagai peraturan dan prosedur keselamatan (sehingga kasus pesawat jatuh bisa diredusir); saya rasa itu adalah campur tangan Tuhan.

Upaya para penegak hukum untuk menciptakan undang-undang, peradilan dan penyidikan (sehingga orang jahat bisa ditangkap serta diganjar hukuman dan orang yang berniat jahat bisa mengurungkan niatnya); saya rasa itu adalah campur tangan Tuhan.

Upaya para ahli farmasi dan kedokteran untuk berkejaran dengan waktu dalam menciptakan obat penangkal virus HIV; saya rasa itu adalah campur tangan Tuhan. Dan banyak lagi bentuk campur tangan Tuhan dalam pergerakan alam dan manusia ini.

Harus saya akui, sesekali saya juga berharap Tuhan melakukan campur tangan dalam pengertian yang ‘super natural’ atau ‘ajaib’. Tapi pemahaman bahwa campur tangan Tuhan bisa terjadi dalam berbagai manifestasi, membuat saya tak terlalu ngotot lagi kepada Tuhan untuk terus menagih hal-hal yang ‘supernatural’ atau ‘ajaib’.

Kalau anak saya lahir cacat (deformasi)–misalnya punggungnya bongkok–maka saya tak akan ngotot lagi berjalan dari kebaktian yang satu ke kebaktian yang lain, demi agar punggungnya diluruskan. Alih-alih melakukan hal itu, saya lebih baik berdoa agar Tuhan
campur tangan dalam menumbuhkan rasa percaya diri di dalam dirinya dan rasa kasih di hati kawan-kawan di sekelilingnya.

Kalau besok saya hendak menyelenggarakan perhelatan dan ingin agar tamu-tamu berdatangan, maka mungkin juga saya masih berdoa agar Tuhan memberi hari yang cerah. Tapi tak perlulah rasanya saya membentuk tim yang berdoa semalam suntuk untuk meminta hal-hal seperti itu. Kalau pun keesokan harinya hujan turun dengan lebat, yah apa boleh buat, terpujilah Tuhan.
Mungkin tetangga saya (yang sumurnya telah kering) sangat membutuhkan hujan itu.

Penderitaan adalah hal-hal yang juga dialami oleh orang-orang yang ber-Tuhan di dunia ini. Tapi saya percaya, bahwa ada ‘dunia’ lain yang dijanjikan oleh Tuhan, dimana nanti kita akan terbebas dari berbagai kesedihan dan kehancuran. Saya percaya akan hal itu. Dan perspektif ini, yaitu bahwa ada langit baru dan bumi baru di ‘ujung’ sana, membuat saya tak perlu terlalu putus asa dengan semua penderitaan yang ada di dunia ini.

Tapi pada saat yang sama, perspektif ini tidak pula membuat saya jadi ingin cepat-cepat meninggalkan dunia yang ‘tidak adil’ dan penuh penderitaan ini, menuju ‘langit baru dan bumi baru’, seperti yang dilakukan oleh Pendeta Sibuea dan pengikutnya di Bandung beberapa waktu yang lalu. Kehidupan di dunia ini juga menarik untuk dilalui. Seperti sebuah pertandingan, kehidupan di dunia ini meletihkan tapi sekaligus mengasyikkan.

Saya percaya, bahwa bersama-sama dengan Tuhan dan dengan cara yang ‘biasa-biasa’, kita bisa menciptakan sukacita dan mengurangi dampak penderitaan bagi mereka yang kebetulan tertimpa malapetaka.

Begitulah, saya mencoba memahami bencana gempa bumi (dan gelombang tsunami) yang terjadi tanggal 26 Desember 2004 yang lalu dengan pemahaman sebagai berikut:

1. Ada lempeng bumi yang bergerak, saling bertabrakan dan menimbulkan patahan besar di dasar laut. Pada gilirannya, patahan ini menyebabkan gelombang yang besar, yang memusnahkan manusia (150.000-an jiwa) dan harta benda di kawasan pantai di sekitar pusat gempa bumi.

2. Sebagai pemilik kedaulatan atas alam semesta, tentu Tuhan mengetahui benar akan terjadinya katastrofi ini. Tapi saya rasa Tuhan tidak ikut-ikutan mendorong lempeng bumi ini. Karena itu pula, hal ini juga bukanlah hukuman atau manifestasi murka Tuhan.

3. Melihat magnitude kehancuran yang diakibatkannya maka adalah wajar kalau timbul gugatan: “Paling-tidak, Tuhan bisa mencegah gempa bumi dan tsunami ini. Tapi mengapa Ia justeru diam-diam saja?”

4. Kalau ‘diam-diam’ dipahami sebagai ketiadaan tindakan yang ‘supenatural’ atau ‘ajaib’, maka saya pun cenderung berpendapat bahwa Tuhan memang diam-diam saja di dalam peristiwa bencana ini.

5. Kalau saya pikir-pikir lebih jauh, setiap hari di berbagai tempat di muka bumi ini terjadi malapetaka yang menimpa orang-orang baik. Memang, ia tidak sesensasional seperti yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu itu. Tapi kalau korban
malapetaka yang terjadi selama setahun di berbagai bagian bumi ini dikumpulkan, maka jumlahnya pun akan bisa melebihi dari apa yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 itu. Dan dalam malapetaka yang terjadi di sebarang tempat ini pun Tuhan diam-diam saja (tidak melakukan hal-hal yang ‘supernatural’ atau ‘ajaib’). Lalu, mengapa pula Ia harus bertindak yang berbeda terhadap bencana pada tanggal 26 Desember 2004?

5. Kalau campur-tangan Tuhan dipahami terbatas hanya kepada hal-hal yang ‘supernatural’ atau ‘ajaib’, maka saya pun cenderung berpendapat bahwa adalah baik kalau Tuhan tidak terlalu banyak campur tangan dalam gerak alam dan manusia. Bukankah kita telah diberi kebebasan untuk bertindak dan memilih?

6. Tapi pemahaman bahwa Tuhan diam-diam saja (tidak melakukan hal-hal yang ‘supernatural’ atau ‘ajaib’)juga tidak membuat perasaan saya menjadi hambar atau kurang percaya kepada Tuhan. Pada hakekatnya Tuhan tetap ikut campur tangan untuk
menghindarkan manusia dari malapetaka.

7. Penemuan dan inovasi yang dilakukan oleh manusia dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, kedokteran, hukum dan perundang-undangan, manajemen dsb. dalam mengurangi dampak kehancuran yang diakibatkan oleh alam atau manusia terhadap sesamanya; bukankah itu juga merupakan campur tangan Tuhan?

8. Memang, kehidupan di dunia ini tidak lepas dari malapetaka. Dan malapetaka ini berlaku juga terhadap orang-orang baik. Ini adalah fakta. Tapi marilah kita melihat kehidupan ini dalam perspektif yang lebih jauh, yaitu ke kehidupan di suatu bumi baru dan langit baru, dimana tidak akan ada lagi malapetaka dan penderitaan.

9. Tapi kesadaran bahwa akan ada bumi baru dan langit baru, tidak pula harus membuat kita menyerah begitu saja dengan penderitaan yang ada dan ingin cepat-cepat meninggalkan dunia ini.

10. Ada tantangan bagi kita untuk membangun harapan dan sukacita terhadap mereka yang menderita dan merasa sedang diperlakukan secara ‘tidak adil’ oleh bencana dan malapetaka. Ada tantangan untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Tuhan mulai saat ini dan di bumi ini.

11. Dan tantangan ini hanya bisa kita lalui dengan meminta pertolongan dan campur-tangan Tuhan.

12. Campur-tangan Tuhan bisa terjadi melalui cara-cara yang ‘ajaib’ atau ‘biasa-biasa’. Kalau penderitaan sedemikian berat dan tak tertanggungkan, adalah wajar kalau kita menantikan cara-cara yang ‘ajaib’. Tapi kalau pun cara-cara yang ‘ajaib’ tak kunjung terjadi, tak usah kita kecewa dan merasa bahwa Tuhan telah meninggalkan kita. Campur tangan Tuhan juga bisa terjadi melalui cara yang ‘biasa-biasa’. Kita tak perlu ngotot meminta cara-cara yang ‘supernatural’ atau ‘ajaib’ (Dan seolah-olah, hanya itulah
satu-satunya bukti kasih dan penyertaan Tuhan). Apa pun yang diberikan Tuhan adalah baik. Marilah kita melihatnya dengan mata hati. Marilah kita menerimanya dengan kepatuhan dan optimisme murid yang sejat[.]

2 responses to “Teologi Tsunami

  1. What an amazing words! Come from incredible mind and realistic heart!

  2. Artikel yang tetap relevan, Tulang, meski ditulis 5 tahun lalu. Dalam sebuah link di FB hari ini ada urang awak yang mengakui bahwa gempa di Padang terjadi gara2 urang awak di rantau banyak melakukan maksiat. Lalu, kenapa bukan tanah rantau saja yang kena, kok malah kampung yang kena? Demikianlah, pemahaman katastrofi sebagai hukuman masih banyak dipegang oleh sebagian besar kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s