Monthly Archives: December 2007

The Scent of a Woman dan Natal

Oleh: Mula Harahap

Saya baru tahu bahwa ternyata kotak plastik hitam yang biasa dipakai untuk membungkus kepingan dvd atau vcd itu banyak dijual di toko-toko komputer. Harganya per buah hanya Rp.1.000,- Karena itu malam minggu tanggal 23 Desember yang lalu saya pergi ke Pusat Perbelanjaan di Cempaka Mas. Saya beli 100 buah.

Sudah lama saya jengkel melihat kepingan dvd filem yang berantakan di bawah meja televisi. Sebagai barang bajakan kepingan itu biasanya dijual dalam sampul plastik transparan yang diberi lapisan kertas berisi judul dan gambar filem yang ada di dalamnya. Anak-anak, yang membeli (atau meminjam, tapi tak pernah ingat untuk memulangkannya) malas untuk menaruh kembali dvd yang sudah ditonton itu ke dalam sampulnya. Karena itu dvd tersebut hanya menumpuk tak karu-karuan. Tapi kemalasan anak-anak bisa juga saya maklumi. Sampul plastik transparan–seperti yang biaa dipakai untuk membungkus undangan itu–memang gampang sekali robek. Apalagi, ujungnya yang diberi perekat itu acapkali mengganggu ketika kita mencoba memasukkan dvd ke dalam.

Continue reading

Keselamatan

Oleh: Langston Hughes

Saya diselamatkan dari dosa ketika usia saya menjelang tiga belas tahun. Tapi sebenarnya saya tidak selamat. Kejadiannya seperti yang akan saya tuturkan berikut ini:

Di gereja bibi saya Reed sedang berlangsung sebuah acara besar kebangunan rohani. Setiap malam, selama beberapa minggu, gereja penuh diisi oleh khotbah, nyanyian, doa dan pekikan. Sejumlah orang berdosa dibawa kepada Kristus dan anggota gereja langsung mengalami peningkatan yang luarbiasa.

Kemudian menjelang akhir dari rangkaian malam kebangunan rohani itu, mereka mengadakan acara khusus bagi anak-anak, yaitu “membawa domba-domba kecil ke kandang”.

Continue reading

Perayaan Natal di Sekolah

Oleh: Mula Harahap

Ketika saya masih bersekolah di TK, SD dan SMP Immanuel dahulu, maka hari-hari menjelang Natal selalu memberi arti dan warna yang khusus di hati saya. Kini, lebih dari empat puluh tahun kemudian, banyak dari peristiwa menjelang Natal yang saya alami semasa bersekolah di Immanuel itu, masih tergambar jelas di mata saya:

Membuat lampion adalah “ritus” yang harus dijalani oleh semua anak semasa di SD. Dan sesuai dengan jenjang kelas yang ada di SD, maka ritus tersebut harus kami jalani pula selama 6 (enam) tahun berturut-turut. Kepada kami dibagian karton ukuran 15 x 45 sentimeter. Kemudian ibu atau bapak guru akan memberikan tiga pola berbentuk “cut out” yang menggambarkan suasana Natal. Ada pola dua batang lilin dengan api yang menyala, ada pola lonceng dengan pita dan dedaunan, ada pola tiga orang majus beriring, ada pola Yusuf dan Maria di depan palungan dan lain sebagainya. Masing-masing anak meniru pola “cut out” itu di atas kartonnya. Kemudian ibu atau bapak guru akan meminta kami untuk mencungkil pola yang ada itu.

Continue reading

Ketika Si Batak Duduk Bersama Orang Lain

Oleh: Mula Harahap

Ketika nenek moyang saya masih hidup terisolasi di punggung pegunungan Bukit Barisan di pedalam Sumatera Utara sana, maka wajar saja kalau ia hanya mengenal manusia yang memiliki bahasa, sistem kekerabatan, ritus dan hukum-hukum yang sama dengan dirinya. Tapi dengan terbukanya isolasi maka ia pun mulai mengenal unsur-unsur kebudayaan orang lain. Bahkan disebabkan oleh berbagai alasan acapkali pula ia harus keluar dari lingkungan yang selama berabad-abad telah dihuninya bersama nenek moyangnya itu, untuk kemudian hidup di tengah-tengah suatu masyarakat dan budaya yang baru.

Si Manusia Batak tidak harus meninggalkan jati-dirinya yang lama. Tapi kini ia belajar untuk mengenal, menerima dan hidup harmonis dengan orang lain. Sikap yang sama–tentu saja–juga diharapkan datang dari manusia-manusia yang berjumpa dengan Si Manusia Batak tersebut. Dengan demikian terjadilah sintesa baru dalam interaksi antar manusia dan yang pada gilirannya akan semakin menambah harmoni dari masyarakat yang plural itu.

Continue reading

Antara Michigan dan Wisconsin

Diceritakan kembali oleh: Mula Harahap

Seorang wanita datang ke sebuah praktek dokter. Ketika wanita itu membuka bajunya, dokter melihat ada tanda “H” berwarna merah di dada wanita itu.

“Bagaimana tanda itu bisa ada di sana?” tanya dokter.

“Oh, teman pria saya seorang mahasiswa Harvard. Ia bangga sekali dengan universitasnya, dan tak pernah mau membuka sweater Harvard-nya. Bahkan ketika kami melakukan hubungan intim sekali pun….”

Beberapa hari kemudian, datang pula wanita yang kedua ke praktek dokter yang sama. Ketika wanita itu membuka bajunya, dokter melihat ada tanda “Y” berwarna merah di dada wanita itu.

“Bagaimana tanda itu bisa ada di sana?” tanya dokter.

“Oh, teman pria saya seorang mahasiswa Yale. Ia bangga sekali dengan universitasnya, dan tak pernah mau membuka sweater Yale-nya. Bahkan ketika kami melakukan hubungan intim sekali pun….”

Continue reading

Kosarek

Oleh : Pdt. Daniel T.A. Harahap

Naik Capung di Langit Jayawijaya

Jam 10.30 WIT. Wamena. Pinggang dan bahuku terikat erat di bangku depan pesawat Cessna milik MAF (Mission Aviation Fellowship). Baling-baling pesawat itu sudah berputar kencang sekali. Mike meletakkan kopinya di atas kokpit, membetulkan letak kaca mata gelapnya, dan lantas tersenyum. Lelaki yang tadi membantu Mike mengisi avtur pesawat mengangkat jempolnya, kemudian berjalan mundur menjauhi pesawat. Aku menahan nafas. Pesawat capung itu pun bergerak pelan ke ujung landasan, berhenti sejenak mengumpulkan tenaga, lantas lari sekencang-kencangnya di landas pacu berangin. Tiba-tiba saja aku merasa tubuh dan jiwaku sudah melayang-layang di atas lembah Baliem, Jayawijaya.

Continue reading

Teruskan

Oleh: Robert Fulghum

V.P. Menon adalah seorang tokoh terkemuka di India pada saat negara tersebut sedang berjuang merebut kemerdekannya dari Inggeris selepas Perang Dunia II. Ia adalah pegawai pribumi yang paling tinggi jabatannya dalam pemerintan kolonial, dan dia jugalah orang yang diandalkan oleh Lord Mounbatten untuk menyusun konsep terakhir pasal-pasal perjanjian kemerdekaan negara tersebut. Dibandingkan dengan para pemimpin gerakan kemerdekan India lainnya, Menon memang merupakan suatu kekecualian. Ia seorang otodidak. Ia tidak memiliki ijazah dari Oxford atau Cambridge yang bisa digantungnya di dinding kantornya.. Dan ia juga tidak memiliki kasta atau latar belakang keluarga yang bisa menyokong ambisinya.

Continue reading