Books Aren’t Dead. They’re Just Going Digital

Oleh: Mula Harahap

Hari-hari ini bila kita membuka situs Amazon (amazon.com) maka kita akan melihat iklan penawaran atas sebuah peralatan baru yang diberi nama “Kindle”. Peralatan ini adalah sebuah “e-reader” atau “electronic book” yang dibuat oleh Amazon. Prinisp
kerjanya mungkin tidak jauh berbeda dengan “e-reader” yang pernah diciptakan sebelumnya, misalnya dengan “Sony Reader”. Dia merupakan sebuah alat yang memiliki lebar, panjang dan ketebalan yang hampir sama dengan buku, dan memiliki layar serta tuts yang memungkinkan kita untuk membaca sebuah buku yang telah direkam dalam bentuk digital.

Tapi hal yang membuat “Kindle” menjadi menarik perhatian sehingga diangkat menjadi laporan utama Majalah Newsweek, (26 November 2007, dan dianggap sebagai sebuah revolusi baru terhadap buku dan pengalaman membaca, setelah revolusi yang dilakukan oleh Gutenberg 500 tahun yang lalu, ialah karena dia justeru diciptakan oleh Amazon, sebuah perusahaan raksasa dalam penjualan buku melalui internet.

Bila dengan “e-reader” yang lain kita harus harus lebih dulu menyambungkannya (dengan bantuan kabel) ke komputer agar data buku dalam bentuk digital itu masuk ke dalam “e-reader” tersebut, atau harus lebih dulu memasukkan data dalam bentuk “usb” atau “disc”, maka dengan “Kindle” kita cukup dihubungan secara nir-kabel dengan “perut” Amazon.

Saat ini ada sudah ada 80 ribu judul buku (yang hak ciptanya masih dilindungi maupun yang telah menjadi “public domain”) yang tersedia di Amazon. Dan Amazon masih terus mendorong agar lebih banyak lagi penerbit yang men-scan buku-bukunya secara utuh serta rela berbagi royalti dengan Amazon manakala buku itu terjual secara digital.

Dengan bantuan sebuah program bernama Whispernet, maka Kindler memungkinkan kita terhubungkan secara nir-kabel dengan “rak” buku digital yang ada di Amazon lalu melakukan “browsing”. . Kita tinggal memilih buku mana yang kita inginkan, “meng kliknya”dan melakukan pembelian. Dalam waktu hanya beberapa detik buku tersebut telah masuk ke dalam peralatan “Kindle” yang kita miliki.

Lalu, lebih dari itu, sebuah peralatan Kindle yang kita miliki akan mampu menyimpan sampai 200 judul buku. Dan itu belum termasuk seratusan judul lagi yang mampu disimpan di “memory card”-nya, plus judul yang tak terbatas jumlahnya yang tersimpan di “perut” Amazon dan bisa diakses serta dibeli manakala kita mau..

Disamping untuk membeli buku, maka peralatan Kindle juga memungkinkan kita untuk membeli atau berlangganan sejumlah majalah, surat kabar dan blog pilihan. Harga sebuah buku baru yang ditawarkan oleh Amazon dalam bentuk digital tentu saja lebih murah dari harga buku yang sama, yang dicetak di atas kertas, dan ditawarkan oleh penerbit.

Memang masih ada sejumlah penerbit yang tetap tidak mengizinkan Amazon menjual bukunya (dalam bentuk digital) lewat program Kindle. Tapi tampaknya dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi para penerbit itu pasti akan tunduk juga kepada “trend” yang telah dtentukan oleh Amazon.

Peralatan Kindle itu sendiri saat ini ditawarkan dengan harga 399 dolar per unitnya. Oleh sementara orang harga itu dianggap masih terlalu tinggi. Tapi para pengamat teknologi informatika percaya,bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, harga itu akan turun dan fitur Kindle akan semakin baik.

Sebelum menciptakan Kindle, Amazon telah mempelajari dengan seksama keunggulan dari buku konvensional. Karena itu Amazon juga berusaha menciptakan Kindle agar ketika dipegang oleh pembaca, dia akan sama nyamannya seperti buku konvensional.

Salah satu kelemahan dari “electronic book” yang telah hadir di pasar selama ini ialah bahwa penyajian huruf pada layarnya hampir sama seperti penyajian pada layar komputer, karena itu membuat mata cepat letih. Tapi berkat penemuan teknologi “e-ink” atau “tinta elektronik” Kindle menjadi lebih enak dibaca. Dan Kindle juga memungkinkan pembaca untuk mengganti-ganti size huruf agar lebih sesuai dengan kemampuan matanya. Memang, saat ini layar Kindle masih hitam-putih. Tapi para pengamat percaya bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi Kindle akan mampu menyajikan warna.

Karena alasan perlindungan hak cipta, maka buku digital yang telah kita beli lewat Kindle tidak bisa kita hadiahkan atau pinjamkan kepada teman. Buku digital itu juga tidak bisa kita jual lagi sebagaimana kita menjual “used book”. Data digital buku yang masuk ke Kindle memang hanya bisa dinikmati oleh si pemilik Kindle sendiri. Dia tidak bisa di-“saved” ke dalam media lain, tidak bisa di-“print-out”, dan juga tidak bisa di “forward”. Tapi kalau akses untuk mendapatkan buku menjadi sedemikan mudahnya, dan harganya juga menjadi sedemikian murahnya, siapa pula yang mau repot-repot “meminjam” atau “memfotokopi “ buku digital teman, atau “membeli” buku digital bekas?

Inovasi Amazon dengan Kindle-nya membuat para pengamat media mulai berspekulasi: Inilah awal dari sebuah revolusi dalam penerbitan buku. Alih-alih memakai jasa penerbit dan editor, para pengarang kini dimungkinkan untuk langsung menjual naskahnya secara digital kepada Amazon dan langsung didistribusikan kepada para pembaca yang memiliki peralatan Kindle.Bahkan, lebih jauh lagi, para pengamat media mulai berspekulasi: Bahwa di masa mendatang seorang pengarang akan menulis buku bersama-sama dengan calon pembacanya.

Walau pun Jeff Bezos enggan mengiakannya, tapi para pengamat media mulai mengibaratkan Kindle di dunia buku seperti “i-pod” di dunia musik rekaman. Dan orang mulai membayangkan toko buku akan ditinggalkan oleh pengunjung, sebagaimana toko piringan hitam atau disc musik dalam bentuk digital telah ditinggalkan pengunjungnya di Amerika Serikat..

Setelah versi “Book 1.0” yang diciptakan oleh Gutenberg, maka kini kita akan bersiap siap masuk ke versi “Book 2.0” yang diciptakan oleh Jeff Bezos dan para penemu lainnya di bidang teknologi informasi komunikasi. Karena itu judul laporan Newsweek minggu ini ada juga tepatnya: “Books aren’t dead. They’re just going digital” [,]

One response to “Books Aren’t Dead. They’re Just Going Digital

  1. Wah sudah boleh dicoba menawarkan tulisan-tulisan pada blog ini ke amazon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s