Budaya Malu dan Batak

Oleh: Mula Harahap

Ada yang bertanya: Apakah Batak memilki budaya malu? Sampai sejauh mana budaya malu itu? Jika mayoritas Batak adalah Kristen, bagaimana pastoralnya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya rasa kita harus membedakan dulu antara konsep “budaya malu” dan konsep “malu”. Budaya malu itu adalah sebuah konsep baru dalam bahasa Indonesia. Ia dikembangkan pada masa pemerintahan seorang Raja Jawa bernama Suharto, yang memerintah Indonesia dari 1965–1988. Boleh jadi konsep ini memang berasal dari budaya feodal Jawa.

Untuk mengeliminir praktek-praktek korupsi di kalangan pejabat dan rakyatnya Suharto memperkenalkan budaya malu sebagai “self- controlled”. Sebenarnya banyak budayawan (antara lain Mochtar Lubis–orang Batak) yang menentang konsep budaya malu ini. Konsep ini tidak memiliki dasar moral yang kokoh. Seseorang diajar untuk tidak
korupsi, bukan dikarenakan korupsi itu adalah sesuatu yang bertentangan dengan perintah Tuhan atau suara hati nurani, tapi karena korupsi adalah suatu hal yang ditertawakan oleh orang banyak. Korupsi boleh dilakukan asal jangan ketahuan, karena akan memalukan.

Implikasi lebih jauh dari konsep ini ialah, orang tetap korupsi tapi berusaha untuk menutup-nutupi perbuatannya. Sementara itu, karena orang yang melakukan korupsi semakin banyak saja, dan semua saling tutup-menutupi, maka pemahaman bahwa korupsi adalah sebuah perbuatan yang memalukan, pun semakin pudar. Korupsi menjadi hal yang biasa-biasa saja dan tidak memalukan lagi. Puncaknya adalah apa yang terjadi dalam minggu-minggu terakhir ini: Suharto yang mempopulerkan konsep budaya malu itu hanya senyum-senyum saja ketika oleh sebuah badan PBB ia “dinobatkan” sebagai kepala negara yang mencuri uang paling banyak. (Dan oleh Mahkamah Agung RI, nama baiknya–yang oleh majalah Times juga telah “dicemarkan” sebagai koruptor besar-dipulihkan dengan ganti-rugi sebesar 1,5 triliun rupiah!).

Sebagai akibat persentuhan dengan budaya feodal Jawa itu, maka tidak dapat dipungkiri bahwa kini banyak juga orang Batak yang menganut konsep budaya malu, atau konsep mendasarkan tindakan lebih pada pertimbangan apakah nantinya dia akan dihina atau ditertawakan orang. Dan ukuran akan hal-hal apa saja yang akan dihina atau ditertawakan
orang itu pun menjadi sama dengan yang dipahami oleh budaya feodal Jawa, dan yang secara perlahan-lahan berkembang menjadi budaya Indonesia.

Malu itu adalah kesepakatan. Dengan lain perkataan, hal-hal apa saja yang akan dihina atau ditertawakan oleh orang banyak, berbeda-beda dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain. Bahkan di suatu masyarakat yang sama pun, disebabkan oleh perbedaan jaman, hal-hal apa saja yang dihina atau ditertawakan oleh orang banyak bisa berubah.

Bagi beberapa sub-etnis Papua, berseliweran kesana-kemari hanya dengan memakai koteka sebagai penutup penis tentu bukalah hal yang memalukan. Tapi bagi orang-orang Jawa yang tinggal di keraton hal yang demikian tentu sesuatu yang sangat memalukan. Bagi orang Batak menandaskan teh atau juadah yang dihidangkan oleh tuan rumah bukanlah hal yang memalukan. (Itu justeru merupakan penghormatan). Tapi bagi orang Jawa atau Sunda hal itu tentu adalah sesuatu yang memalukan.

Dahulu bagi orang Batak melacur adalah sesuatu hal yang memalukan. Tapi kini sudah banyak pelacur yang berasal dari etnis Batak.Dahulu bagi orang Batak menyemayamkan jenazah orangtua di rumah duka adalah sesuatu yang memalukan. Tapi kini disebabkan oleh situasi dan kondisi hidup di kota besar, hal itu bukanlah sesuatu yang memalukan lagi.

Sebagaimana halnya masyarakat dan budaya lain yang ada di muka bumi ini, maka orang Batak juga tentu mengenal konsep malu (maila). Tapi budaya malu, sebagaimana yang telah diterangkan di atas, bukanlah konsep Batak in the first place.

Pada dasarnya orang Batak memiliki karakter yang suka berterus-terang dan apa adanya. Agak aneh juga kalau orang yang memiliki karakter seperti ini mendasarkan suatu tindakan lebih banyak atas penilaian orang lain (dihina atau ditertawakan) . Pada orang yang memiliki karakter berterus terang dan apa adanya, suatu tindakan seyogianyalah
lebih didasarkan kepada apakah hal itu menyenangkan hati sendiri, atau apakah hal itu sejalan dengan pertimbangan moral yang dimiliki. Tapi sebagaimana yang telah diterangkan di atas, budaya Batak pun telah terkontaminasi dengan budaya malu.

Sebenarnya kekristenan juga tidak mengenal konsep budaya malu. (Barangkali menarik untuk dikaji berapa kali kata malu dipakai dalam kaitan dengan Tuhan Yesus di Alkitab). Dan Yesus pun tak pernah mendasarkan tindakan-Nya karena takut dihina atau ditertawakan orang lain. Boleh jadi juga Ia pun tak pernah mendasarkan tindakan-Nya
karena takut dihina atau ditertawakan Bapa. Ia lebih mendasarkan tindakan-Nya atas kasih terhadap Bapa dan terhadap manusia.

Orang Batak (dan Kristen pulak) perlu kembali ke akar budaya dan imannya. Orang Batak perlu mereformasi konsep budaya malu, bahkan konsep malu itu sendiri: Kalau seorang Batak tidak mencuri, tida kmelakukan pelecehan seksual, rajin pergi ke gereja, tidak berjudi dsb maka seyogianya itu bukanlah karena dilandasi oleh ketakutan akan
malu kalau ketahuan orang, tapi lebih karena tindakan itu akan menggerogoti kasihnya kepada Yesus dan kepada sesama manusia (dan sekaligus menggerogoti kasih Yesus dan sesama manusia kepada dirinya).

Lagipula Yesus telah menebus semua rasa malu Adam dan seluruh manusia keturunannya dalam puncak penghinaan di Golgota. Karena itu tidak ada lagi alasan bagi orang Batak Kristen untuk terus dihantui budaya malu [.]

One response to “Budaya Malu dan Batak

  1. Betul itu Bang Mula, (meskipun abang tidak suka dibetulkan dan dipuji he he, namun, ijinkan aku menulis suka suka ku). Berbuat baik dan memuji Tuhan tidak didasarkan atas perasaan malu. Menurutku, berbuat baik dan memuji Tuhan juga bukan bujukan sebagai sogokan atau “carmuk” kepadaNya.
    Malu, adalah perasaan yang terjadi karena perbuatan diluar norma dan etika masyarakat. Namun ketika norma dan etika mulai bergeser, he he he, saya tidak tau bergeser kemana, rasa malu pun mungkin bergeser (“saya bukan ahlinya”). Malu sangat-erat hubungannya dengan perasaan, kalau perasaan sudah hilang mungkin itu tandatanda kepunahan.
    Ada cerita humor tentang perasaan: “Konon dinosaurus punah karena sangat kuat, kulitnya tebal tidak punya perasaan, kupingnya kecil tidak mau mendengar, dia tetap diam meskipun malapetaka sudah datang, padahal, binatang lain sudah berteriak teriak, monyetpun melompat ke kepalanya sambil berteriak, ia tetap diam. Beruntunglah gajah binatang besar, punya perasaan dan berkuping lebar, selamat!!! bahkan orang di punggungnya selamat ketika tsunami datang.
    Pada orang batak juga tidak ada kata “maaf”, tetapi orang batak “mengaku salah” di depan orang banyak dan siap dihukum. kalau masih orang batak. he he he.
    Terimakasih bang Mula.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s