Mangantan

Oleh: Mula Harahap

Ketika saya masih kanak-kanak ada sebuah kata yang sering saya dengar diucapkan oleh ibu saya. Kata itu adalah “mangantan”. (“Ingkon dibotoho do mangantan aha na naeng dipanganho…”).

Saya pikir-pikir, di dalam kata “antan” atau “mangantan” itu tersirat kepandaian dan kebijaksanaan untuk mengetahui batas-batas mana yang pantas saya lakukan, dan mana yang tidak pantas saya lakukan. “Mangantan” itu adalah rasa yang bersumber dari diri sendiri. Barangkali–mohon dikoreksi kalau saya salah–dia hampir mirip dengan peribahasa Jawa yang mengatakan, “Ngono yo ngono, ning mbok ojo ngono….”

Saya “mangantan” untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, bukan terutama karena peraturan dan norma yang ditetapkan oleh orang lain kepada saya, tapi karena suara hati nurani atau kesadaran moral yang ada di dalam diri saya.

Kalau saya tidak mau melakukan tindakan yang mengambil hak orang lain, maka kesadaran itu seyogianya bukan saja karena saya takut dimasukkan ke penjara, tapi karena saya sadar bahwa Tuhan adalah pemurah dan yang akan selalu mencukupkan saya (karena itu saya tak perlu rakus-rakus amat karena bisa-bisa saya akan ditertawakan Nya). Dan bahwa Tuhan juga menyayangi orang lain (karena itu Ia akan sedih kalau saya tega mengambil hak orang lain).

Dan dalam pemahaman seperti di atas, maka menurut hemat saya, adalah tugas gereja untuk menumbuhkan dan memelihara suara hati nurani atau kesadaran moral di dalam diri saya.

Saya tidak menafikan pentingnya peranan hukum dalam dalam membatasi atau menghalangi seseorang untuk melakukan tindak korupsi. Tapi saya rasa upaya membangun kesadaran moral adalah hal yang tak kalah penting.

Dengan pendekatan “mangantan” atau kesadaran moral, maka perdebatan apakah sebuah mobil berplat merah boleh atau tidak boleh dipakai ke gereja menjadi tidak relevan lagi.

Kalau saya diberi fasilitas mobil dinas (untuk dipergunakan sendiri) oleh negara (plat merah bagi pegawai negeri sipil, dan plat hijau berbintang bagi tentara/polisi), maka tujuannya tentu adalah untuk mendukung tugas-tugas yang saya lakukan. Tapi pada
hari Minggu, ketika saya tidak bertugas, dan saya tidak punya kendaraan lain, apa salahnya saya memakai mobil itu untuk keperluan beribadah di gereja? Atau, ketika saya harus mencuri waktu kerja sedikit untuk melayat seorang sanak-saudara yang meninggal dunia, apa salahnya saya memakai mobil itu ke rumah duka, atau bahkan mengantar jenazah ke pemakaman?

Kalau saya memiliki kesadaran “mangantan” maka saya tahu sampai batas mana mobil yang dipinjamkan negara itu pantas saya pakai. Akan sangat tidak pantas kalau mobil itu saya pinjamkan kepada anak saya untuk dipakai ngebut-ngebutan di bekas landas pacu Kemayoran. Atau, akan sangat tidak pantas kalau mobil itu saya pinjamkan kepada “lae” saya untuk dipakai mengompreng (mencari tambahan uang) dengan mengantar-jemput pramuria dari klub malam di Lokasari.

Kalau saya memiliki kesadaran “mangantan” maka saya tahu sampai batas mana rumah dinas yang dipinjamkan negara itu pantas saya pakai. Saya rasa pantas-pantas saja kalau beberapa keponakan saya dari Sipirok ikut menumpang di rumah itu. Tapi akan menjadi sangat tidak pantas kalau di rumah itu saya mendirikan sebuah usaha percetakan (apalagi kalau listriknya dibayar negara dan order cetaknya saya peroleh dalam kaitan dengan
jabatan saya).

Di fihak lain, kalau tetangga saya memakai pendekatan “mangantan”, maka ia tak perlu lagi memelototkan mata kalau melihat saya membawa mobil plat merah ke gereja. Apalagi, kalau sepulang dari gereja saya memberi tumpangan kepada rekan-rekan jemaat yang tidak memiliki kendaraan dan tinggal di dekat rumah saya.

Kalau saya pikir-pikir, Tuhan Yesus pun cenderung untuk lebih memilih pendekatan “mangantan” ketimbang pendekatan legalistik yang njelimet dan “debatable” itu dalam menghadapi berbagai persoalan. (Kalau sapimu kecebur sumur pada hari Sabat, apakah kau akan membiarkannya begitu saja?–Barangsiapa yang merasa dirinya tidak berdosa, silakan melempari perempuan ini dengan batu–Kasihilah Allahmu dengan segenap akal-budimu. Kasihilah sesamamu manusia seperti kau mengasihi dirimu sendiri. Di atas kedua hukum itulah bertumpu seluruh Hukum Taurat dan Kitab para Nabi).

Dan saya selalu percaya, bahwa kalau saya berdoa memohon dengan rendah hati, maka Guru Yang Bijaksana itu akan menularkan kepandaian “mangantan” berbagai hal dalam kehidupan ini kepada saya. Dan saya juga percaya, bahwa dengan kepandaian “mangantan” itu saya akan menjadi manusia yang hidup dan kreatif, bukan kuburan bercat putih yang di dalamnya hanya berisi tulang-belulang [.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s