Mengenali Suara dan Kehendak Tuhan

Oleh: Mula Harahap

Di jaman modern ini tidak mudah bagi seseorang untuk mengklaim bahwa ia telah mendengar suara Tuhan. Kalau seseorang mengaku bahwa ia telah mendengar suara Tuhan agar menggorok leher anaknya (sama seperti yang dahulu nyaris dilakukan Abaraham kepada Isak) maka hanya ada dua kemungkinan: Dia akan berurusan dengan dokter jiwa atau dengan polisi.

Kalau seseorang mengaku bahwa ia telah mendengar suara Tuhan agar meledakkan bom dan menghabisi nyawa sejumlah orang kafir (baca: orang yang menentang Tuhan) maka ia akan berurusan dengan Detasemen Anti Teror.

Kalau seseorang mengaku bahwa ia telah mendengar suara Tuhan tentang dunia yang akan segera berakhir, lalu mengumpulkan pengikutnya (termasuk sejumlah anak-anak yang masih dalam usia sekolah) selama berhari-hari di sebuah bangunan, lalu hanya sibuk berdoa, bernyanyi-nyanyi dan menangis, maka ia bisa dikenai tindakan melanggar Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional atau Undang-undang Perlindungan Anak. Syukur kalau dia tidak dianggap “pesong”.

Seorang pemimpin agama yang rajin beribadah dan sangat menguasai isi kitab suci sekalipun, tidak serta-merta bisa mengklaim bahwa ia telah mendengar suara Tuhan. Apalagi kalau jemaatnya kritis dan suara itu bertentangan dengan moral, etika atau hukum yang berlalu.

Suara Tuhan harus dikenali secara bersama-sama dalam diskusi dan pergumulan doa yang intens. Dalam kasus orang-orang Kristen, maka suara Tuhan harus dikenali secara bersama-sama melalui kebaktian, penelahaan Alkitab, doa, meditasi dsb dalam bimbingan gereja (HKBP, GKI, GKO, Roma Katolik dsb, terserah). Tapi upaya itu pun masih belum cukup. Suara itu baru bisa dipercaya sebagai suara Tuhan kalau di dalamnya terkandung nilai kasih, kebenaran, kedamaian, keadilan, kesejahteraan, sukacita, pengharapan, kesederhanaan, kejujuran, kelemah-lembutan dan kwalitas-kwalitas sorgawi lainnya sebagaimana dahulu diperlihatkan oleh Yesus Kristus dalam kehadiran-Nya secara fisik di dunia ini..

Saya tidak menafikan upaya yang dilakukan orang dalam membaca dan menafsirkan Alkitab, berdoa dan bermeditasi secara sendiri-sendiri. Tapi upaya itu pun seyogyanyalah dilakukan dalam kebersamaan dengan anggota jemaat lainnya, dan dalam bimbingan gereja. (Baca: jangan sok tahu dan “pajago-jagohon”). Dan hanya melalui kebersamaan dengan anggota jemaat lainnya dan bimbingan gereja-lah maka baru akan muncul suara Tuhan (dalam bentuk nalar, mimpi, inspirasi, bisikan hati kecil, suara hati nurani, hunch, guts feeling dsb) yang mengandung kedamaian, kesejahteraan, sukacita, pengharapan, kesederhanaan, kelemah-lembutan, kasih, keseimbangan dan kwalitas-kwalitas “sorgawi” lainnya.

Kalau Holben Sinaga selama ini selalu berupaya untuk mengenali dan memahami suara Tuhan dalam kebersamaan dengan anggota jemaat lainnya, dan dalam bimbingan gereja, maka ia pasti tahu apakah yang meminta Rp. 100.000 itu (satu-satunya uang yang dimilikinya di dunia ini) adalah benar suara Tuhan, atau bukan. Dan atas dasar itu Holben Sinaga juga pasti bisa mengambil keputusan, apakah harus menyerahkan, tidak menyerahkan atau menyerahkan sebagian saja dari uang itu.

Akhirnya, sebagai penutup omong-omong tentang mengenali suara dan kehendak Tuhan ini saya jadi teringat akan humor berikut:

Tiga lelaki anggota dari tiga gereja yang berbeda sedang berbincang-bincang tentang seberapa besar sebenarnya uang kolekte jemaat itu yang memang diminta oleh Tuhan:

“Di gereja kami,” kata lelaki yang pertama, “Kami menarik sebuah garis di tanah. Lalu uang kolekte itu kami lempar ke atas. Uang yang jatuh di sebelah kiri garis menjadi milik kami dan yang di sebelah kanan garis menjadi milik Tuhan…”

“Di gereja kami,” kata lelaki yang kedua. “Kami membuat lingkaran di tanah. Lalu uang kolekte itu kami lempar ke atas. Uang yang jatuh di luar lingkaran menjadi milik kami dan yang di dalam lingkaran menjadi milik Tuhan…”

“Oh, di gereja kami lain lagi,” kata lelaki yang ketiga. “Karena Tuhan ada di atas, maka uang kolekte itu lebih dulu kami lempar ke atas. Uang yang menjadi milik Tuhan biarlah ditangkap-Nya sendiri, dan sisanya yang jatuh ke tanah itulah milik kami…” [.]

2 responses to “Mengenali Suara dan Kehendak Tuhan

  1. Singal Sihombing

    Mengenali suara Tuhan dan kehendaknya, ternyata mudah seperti yang Amang Mula katakan “di dalamnya terkandung nilai kasih, kebenaran, kedamaian, keadilan, kesejahteraan, sukacita, pengharapan, kesederhanaan, kejujuran, kelemah-lembutan dan kwalitas-kwalitas sorgawi lainnya” namun, hal ini menjadi sulit, karena kita tuli, pikiran mati, hati keras, sombong, tinggi hati dan tak berperasaan, semua serba mudah, sedemikian hingga kita seolah hidup sendiri, yang lain menjadi kucing kurap, apa ya kucing kurap entah mengapa ia tiba-tiba muncul.
    Menurut saya suara, kehendak Tuhan dan Iblis ada bersama didalam diri kita, tinggal pakai mau yang mana.
    Ngomong-ngomong katanya, pengacara tidak ada di sorga. Konon, sorga dan neraka bertetangga dan hanya dibatasi tembok. Cuma, di sorga sejuk dan nyaman, di neraka panasnya bukan main. Tiba-tiba tembok pemisah di beberapa tempat retak. Penduduk sorga geger. Penduduk demonstrasi kepada malaikat penjaga. “Kirim surat ke neraka, agar tembok segera mereka perbaiki” seru mereka. Maka ketika itu juga surat dikirim, yang isinya adalah, agar penduduk neraka segera memperbaiki tembok pemisah yang retak, karena penyebabnya jelas, yaitu temperatur di neraka terlalu tinggi akibatnya tembok pemisah retak.
    Tidak lama surat balasan dari neraka tiba di sorga, isinya, penyebab sebenarnya adalah karena temperatur di sorga terlalu sejuk, maka tidak ada urusan penduduk neraka dalam urusan tembok yang retak. Malaikat segera memerintahkan penduduk sorga memperbaikinya. Penduduk protes, “kirim surat lagi”, lalu malaikat bilang, ” sudahlah perbaiki saja, karena kita tidak punya pengacara”

  2. Hehehee … lucu-lucu cerita amang ini. Tapi memang jaman sekarang ini banyak kali yang lucu ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s