Menjadi Perempuan Batak

Oleh: Mula Harahap

Ketika dulu puteri saya masih kecil, kalau kami sedang bercengkerama, saya suka tidur meringkuk di belakangnya dan membenamkan kepala di balik punggungnya, seraya berkata, “Aman sekali dunia ini rasanya, kalau bapak bisa bersembunyi di belakang punggungmu yang lebar ini….” Lalu puteri saya akan ertawa terkakak-kakak.

Entah karena “self-fulfilling prophecy” dari gurauan saya, atau karena sejak lahir memang sudah memiliki karakter tertentu di dalam dirinya, tapi yang jelas di kemudian hari puteri saya tumbuh menjadi seorang “perempuan yang nggak mau kalah”. (Maaf, istilah yang terakhir ini adalah khas milik kami).

Sebenarnya saya memberikan sebuah nama yang indah kepadanya, yang juga merupakan doa saya kepada Tuhan atas dirinya, yaitu “Ramoti”. Tapi oleh kawan-kawannya, ketika ia duduk di bangku SD, ia dipanggil “Rambo”. Dan saya hanya bisa “mesem-mesem” kalau mendengar ia dipanggil dengan nama itu.

Tapi yang jelas ketika ia duduk di bangku SD, saya memang pernah beberapa kali dipanggil guru ke sekolah karena ulah “Rambo”. Misalnya saya pernah dipanggil karena puteri saya itu (menurut keterangan gurunya) bercanda yang keterlaluan sehingga membuat seorang anak lelaki teman sebangkunya menangis.

Ketika ia duduk di bangku SMP, kalau ada urusan-urusan yang harus melibatkan silat-kata, misalnya kami harus mengklaim sebuah janji yang tak kunjung terpenuhi, memperebutkan tempat yang telah menjadi hak di sebuah kendaraan umum, atau memprotes tetangga karena gerobak sampah RT selalu diparkir di depan rumah, maka puteri saya selalu akan berkata, “Bapak dan Abang diam saja. Biar gue yang ngomong….” Lalu bapak dan abangnya yang “cinta damai” itu pun akan diam dan melihat dari kejauhan.

Ketika ia duduk di bangku SMA (lagi-lagi) saya pernah dipanggil guru ke sekolah, karena ternyata ia menjadi pemrakarsa serombongan anak-anak (yang di dalamnya
juga terdapat beberapa anak lelaki) untuk pergi mendaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango tanpa seizin guru. Dan perbuatan itu membuat banyak orangtua kelabakan, karena selama empat hari semua kehilangan kontak dengan anak-anaknya.

Kini “Rambo” sudah tumbuh menjadi seorang perempuan dewasa. Ia sudah memakai sepatu hak tinggi–parfum Victoria Secret (atau entah apalah namanya)–lingerie warna-warni, membaca Cosmopolitan, dan secara teratur pergi merawat tubuh di salon dengan gajinya sendiri. Ia juga sudah memiliki pacar. Tapi hal yang membuat saya kembali “mesem-mesem” ialah ketika saya bertanya, “Dik, apa sih sebenarnya yang membuat kau tertarik dengan kawan itu?” Dan puteri saya menjawab, “Banyak sih yang membuat gue tertarik. Tapi yang utama ialah, kalau gue ngomong dia selalu denger….”

Tidak lama lagi puteri saya akan menjadi “perempuan batak”. Atas kemauannya sendiri ia akan hidup di sebuah budaya dimana laki-laki masih dianggap memiliki kedudukan lebih tinggi dari perempuan. Tapi yang lebih merisaukan saya lagi ialah: Ia akan hidup di sebuah budaya dimana identitas dan nilai kelompok sedemikian kuatnya, sehingga bila seseorang tidak awas dia bisa kehilangan akal sehat dan kehilangan dirinya. Atas kemauannya sendiri ia akan hidup di sebuah budaya dimana laki-laki masih dianggap memiliki kedudukan lebih tinggi dari perempuan.

Saya sedang bergumul merumuskan kata-kata yang paling tepat untuk dinasehatkan kepadanya ketika nanti saya mendekapkan ulos di punggungnya yang lebar itu (dan di punggung suaminya, tentu). Di satu sisi saya ingin puteri saya bisa terus menjadi dirinya. Tapi di sisi lain saya juga berharap bahwa dia bisa dimengerti, diterima, dan (ini yang lebih penting) dibiarkan bertumbuh oleh keluarganya yang baru itu.

Harus saya akui, sampai hari ini saya masih belum tahu bagaimana harus mendamaikan kedua keinginan yang terkesan bertolak-belakang itu Tapi, sementara itu, di telinga saya masih terngiang-ngiang refrein sebuah lagu lama ciptaan Nahum Situmorang:

Tarambe tangan simangido,
Tarlangka simanjojak i
Tuluat sihadaoan,
Ditano sileban i

Tung godang do pataruhon,
Sidongan magodang i
Dungkon sahat au tu motor i,
Marsirang au disi

Reff.
Holan na unduk do au, dibagasan motor i
Pola tonu salendangku, mangapusi ilungki
Dungkon sahat au tu huta, sitopoton hi disi
Soadong disi hutanda, holan ho doli

Tubu gambang dohot rimbang, di topi ni tao i
Soadong damang dainang, lobi sian ho doli
Unang be lagai ahu, huoloi pe nidok mi
Asa gabe jala horas, hita on doli

(Janganlah marah-marah padaku,
Kuakan menuruti semua perkataanmu,
Demi menjaga pernikahan kita,
Agar tetap berjalan baik dan selamat)

Asa gabe jala horas, hita on doli [.]

12 responses to “Menjadi Perempuan Batak

  1. kalau tidak salah, lagu itu bernada begini :
    Tubu gambang dohot rimbang, ditopi ni tao i.
    Soadong damang dainang, lobi sian ho boru…
    Unang be lagai ahu, huoloi pe ni dok mi…
    Asa gabe jala horas, hitaon boru….

    Kalau tidak salah, lagu ini didedikasikan buat anak perempuannya, apapun keinginannya dituruti, asal anaknya tidak marah… (maaf, mohon diralat kalau salah)…

  2. Lae Bergman salah. Kalau lirik aslinya, lagu itu bercerita tentang anak perempuan yang diantar oleh teman-temannya naik ke bus, meninggalkan kampung halamannya untuk pindah ke kampung halaman suaminya. Lalu terbayanglah di matanya kemungkinan yang akan dihadapinya nanti, dan menangislah dia.

    Kalau ada yang mengganti kata “doli” dengan “boru”, maka itu adalah suatu pemutar-balikan fakta.

  3. Mauliate, jadi tambah nich penetahuan saya… horas.

  4. Emang punggungku selebar itu ya, Pak!? =D

  5. Tuh, dapat kritik dari borunya pak. Salam kenal ya dari saya buat semua.

  6. Bah hebat kali Borumu itu Abang. Bravo!!!, Ito na uli na basa, “jadi perempuan batak”. Perempuan batak yang tegar, mereka suka bernyanyi memuji tuhan kapanpun, suka duka dll dll, daaan, “Anakhon hi do hamoraon di ahu, nang so tarihuthon ahu pe angka dongan dst dst ” kata sebagian bait lagu NS, Walaupun aku tak bisa bergaul (mengikuti) teman dst dst, anak-anakku lah hartaku dan mereka akan kujaga dan kudidik sampai setinggi-tingginya.

  7. Tulisannya bagus banget pak..

    Salam untuk boru-nya.. Dari another ‘Rambo’ yang udah agak ‘takluk’ setelah hampir 5 tahun yang lalu diselendangi ulos dan masuk ke dalam lingkungan baru, yang ternyata not bad after all🙂

    /Ingkan

  8. Karena saya tidak punya “boru” (saya punya dua anak saya laki-laki) maka saya mungkin tidak bisa pas memahami perasaan Pak Harahap. Konon “bapak” Batak sangat sayang sama borunya. Ini yang mungkin bisa saya tangkap. Bah, jadi ingat puisi Kahlil Gibran: “Anak” .

  9. Satu hal kemudian saya temukan bahwa, ‘daya juang’ perempuan Batak untuk keluarga, rata-rata di atas yang lainnya.

  10. Sungguh baik maksud dan makna dari lagu itu. Biarlah hanya ada satu nakoda dalam satu biduk….
    Agar biduk sampai ke tujuan dengan penuh sukacita

  11. Saya rasa perempuan Batak susah ditandingi oleh perempuan mana pun soal kesetiaan dan cara berpikirnya dalam keluarga. Aku bangga jadi perempuan Batak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s