Menulis, Menulis, dan Menulis

Oleh: Mula Harahap

Tulisan pendek atau panjang (buku) tentang kehidupan seseorang, baik yang ditulis sendiri oleh yang bersangkutan (otobiografi, memoar, jurnal, diary, kumpulan surat-surat dsb), atau yang dituliskan oleh orang lain (biografi), selalu menarik dan bisa memberi pelajaran bagi yang membacanya.

Di AS dan Eropa tulisan-tulisan seperti saya sebutkan di atas memiliki pasar yang cukup baik. Acapkali kisah itu tidak selalu
menyangkut seseorang yang punya nama besar.

Siapa yang menyangka bahwa corat-coret seorang anak perempuan bernama Laura Ingalls Wilder yang mengikuti ayahnya dalam perjalanan melintasi Amerika Serikat dalam mencari “tanah garapan” akan menjadi sebuah buku populer dan memberi inspirasi bagi banyak orang?

Siapa yang menyangka bahwa catatan harian seorang anak Yahudi bernama Anne Frank selama dalam persembunyiannya di sebuah attic di Amsterdam, dan yang ditulisnya semata-mata sebagai pelampiasan atas rasa takut, bosan dan marah itu bisa menjadi buku yang menggemparkan sepanjang masa?

Siapa yang menyangka bahwa surat seorang pemimpin nasional India bernama Nehru kepada puterinya yang sedang belajar di Cambridge, tentang berbagai hal yang dipikirkannya tentang kehidupan ini, bisa menjadi sebuah buku yang terkenal?

Di AS dan Eropa semua orang menulis tentang hal-hal yang telah dijalaninya dan dilihatnya dalam kehidupan ini. Acapkali tulisan-
tulisan itu pada awalnya dibuat bukan untuk maksud diterbitkan (dan mendapat honorarium), tapi lebih sebagai mengeluarkan “uneg-uneg”, pikiran yang mengganggu di kepala, atau perasaan yang mengganjal di hati. Tapi pada suatu ketika kelak akan ada saja orang yang membongkar-bongkar peninggalan si pemilik catatan dan berkata, “Hei, ini kisah yang menarik dan perlu dibaca oleh banyak orang….”

Dalam berbagai kesempatan berbicara di hadapan orang-orang muda tentang proses penulisan, saya selalu berkata, “Tulis! Tulislah apa yang kau lihat, kau pikiran dan kau rasakan. Kau tak perlu terpaku menulis tentang gagasan-gagasan yang besar. Dan kau juga tak perlu terpaku dengan gaya penulisan. Pakailah gaya yang paling pas dimana kau bisa dengan lancar mengeluarkan isi kepala dan hatimu. Bisa dengan bentuk surat, catatan harian, diary, personal essay dsb. Nanti, kalau kau sudah terbiasa menulis, maka gaya, pilihan kata dsb. akan berkembang sendiri…”

Proses demokratisasi dan kebebasan yang sedang kita jalani di negeri ini harus diisi dengan kemahiran mengekspresikan pikiran dan perasaan secara jernih dan santun. Salah satu caranya ialah dengan menulis. Kalau kita tidak mengembangkan lebih banyak lagi orang untuk mampu menulis, maka proses demokratisasi dan kebebasan yang sedang kita jalani ini akan “rusuh” terus, sebagaimana yang kita saksikan sekarang.

Saya juga ingin lebih banyak lagi menulis tentang kisah-kisah orang di sekitar saya. Tentang ompung saya, bapak saya, supir antar-jemput anak-anak saya semasa kecil, dsb. Mudah-mudahan apa yang saya tulis itu bisa memberi inspirasi atau pelajaran bagi yang membacanya. Tapi seandainya pun itu tidak tercapai, paling tidak saya sudah men-“defragmenting” hard-disk yang ada di hati dan kepala saya. Saya sudah mengeluarkan pikiran dan perasaan yang mengganjal. Kini di hard-disk hati dan kepala saya sudah tersedia lebih banyak lagi ruang untuk menampung hal-hal yang baru. Dan karenanya pula pikiran saya relatif akan tetap waras [.]

3 responses to “Menulis, Menulis, dan Menulis

  1. Horas… Tulang, saya sudah banyak baca isi blog ini dan setiap saya selesai membaca saya selalu merasa kagum dan hormat.
    Meski zaman telah maju pesat tapi saya baru bisa mengenal internet beberapa bulan lalu (sebelumnya hanya mendengar tanpa bisa memakai) dan ketemu blog tulang karena saya mencari kata humor di google, saya lihat ada “mula harahap” saya klik akhirnya diterbangkannyalah saya ke cerita TD Pardede. Tertarik dengan tulisan tulang yang lainnya lantas saya klik dan baca, klik lagi dan baca lagi terus, terus dan terus, hingga setiap saya buka internet saya singgah diblog ini (jujur lho tulang), saya juga selalu rekomendasikan teman saya yang senasib (orang2x gaptek) agar singgah diblog tulang ini. Dari kecil (waktu SD kelas VI) saya selalu ingin memiliki banyak buku dan bisa membuat perpustakaan kecil dirumah saya tapi cita-cita itu mullop lonong seperti name ini, bukan karena saya terlalu sibuk tapi rumah saya barang kali terlalu kecil untuk membuat perpustaaan kecil (maklumlah tulang saya karyawan swasta yang salery-nya cukup buat makan, sisanya bisalah beli pesawat terbang, he..he..he). Jadi begini Tulang, aku mau minta tolong ini sama tulang agar aku pun bisa menulis seperti tulang, jangan kasih uang aku atau rumah yang bisa untuk perpustakaan kecil, tapi tulang ajarilah aku membuat blog agar bisa aku mengikuti jaman ini dan orang tidak perlu datang kerumahku yang kecil untuk membaca (kepanasan mereka nanti, karena kayaknya bumi ini kian hari kian panas, apalagi dirumahku ngak ada asenya). Sebenarnya aku mau kirim ini ke email tulang tapi tak tau aku alamatnya. Jadi kalau ada waktu tulang mengajari aku emaillah ke sini mullop_lonong@yahoo.com aku sangat berharap ini tulang dan semoga tulang panjang umur, sehat selalu dan makin aktif menulis agar semakin banyak aku telan ilmu dari tulang. Mauliate

  2. Wow… Setuju, Pak Tua…Setuju kali pun aku.. Thks buat sharingan-nya, Pak Tua🙂

  3. Pingback: Kesulitan Menulis « Hatiku Berkata Apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s