Obat Dating dan Wedding Anniversary

Oleh: Mula Harahap

Hari Sabtu pagi itu saya dibangunkan oleh bunyi “beep-beep” di telepon seluler saya. Ada sebuah pesan singkat yang masuk: “Happy wedding anniversary. Hadiahnya silakan ambil di atas meja di kamarku. Maaf kami tidak bisa memberi selamat secara langsung. Aku harus buru-buru mempersiapkan acara perlombaan anak-anak sekolah minggu di Kwitang, dan Abang sudah berangkat ke Bandung” Pesan itu dikirim oleh puteri saya.

Dalam waktu yang berbarengan isteri saya juga ternyata menerima pesan yang sama. Karena itu kami saling berpandang-pandangan dan tertawa. “He-he-he,” kata saya. “Ternyata sudah panjang juga hidup pernikahan kita ini.” Lalu kami berjalan beriringan mencari hadiah sebagaimana yang dinyatakan di dalam pesan singkat telepon seluler tadi.

Di meja puteri kami, kami menemukan sebuah amplop. Ketika kami membukanya, amplop itu ternyata berisi sebuah voucher untuk menginap satu malam–dan itu berarti nanti malam–di sebuah hotel bintang empat di bilangan Jakarta Pusat.

Hati saya diliputi oleh perasaan senang bercampur jengkel. Saya senang karena anak-anak yang telah beranjak dewasa itu ternyata memiliki kepedulian yang tinggi, dan dengan uang hasil jerih-payahnya sendiri ingin membahagiakan ayah-ibunya di hari yang istimewa tersebut.

Tapi saya juga jengkel, karena bagi saya hadiah itu terlalu berlebihan. Menginap di hotel, apalagi di kota Jakarta, dimana kami sehari-hari bermukim, bukanlah budaya kami. Satu-satunya pengalaman saya dan isteri saya menginap di hotel ialah ketika kami kemalaman pulang dari mengantar pembantu mudik ke Mesuji–Lampung, lalu kami terpaksa harus beristirahat di sebuah hotel yang lampunya redup dan halamannya penuh dengan mobil-mobil boks salesman mie-instant, obat nyamuk bakar dan pil sakit kepala, menjelang kota Tulang Bawang.

Saya juga jengkel, karena uang yang dihabiskan untuk membeli voucher sebenarnya akan jauh lebih bermanfaat bila dipakai untuk membeli makan siang dan makan malam yang istimewa.

Namun untuk menyenangkan hati isteri saya, di hari yang istimewa dalam kehidupan rumah tangga kami ini, saya pura-pura bertanya dengan nada antusias, “Jadi, jam berapa kita harus check-in?”

“Ini baru jam delapan pagi,” kata isteri saya. “Check-ini baru bisa dilakukan selepas tengah hari. Lagipula, siang ini saya masih harus memimpin persiapan guru-guru sekolah minggu di Kayu Putih. Jangan terlalu genitlah….”

“Siapa yang genit?” kata saya. “Saya sih hanya mau tahu kepastian waktu saja. Sama seperti kau, siang ini juga saya harus pergi ke Kelapa Gading, menghadiri pesta perkawinan anak Si Malau….”

Begitulah, Sabtu siang itu, saya dan isteri saya pergi menjalani aktivitas masing-masing. Karena di dalam pesta itu saya berfungsi sebagai “tulang”, dan harus memberi “ulos” kepada pengantin, maka saya baru bisa meninggalkan gedung pertemuan di Kelapa Gading itu menjelang jam tujuh malam. Saya sudah gelisah dan takut dimarahi oleh isteri saya karena dianggap menyepelekan acara ulang tahun pernikahan yang telah dirancang oleh kedua anak kami tersebut. Karena itu saya memacu mobil sekencang mungkin agar bisa segera tiba di rumah.

Tapi setiba di rumah, saya menjumpai isteri saya masih memakai daster dan duduk menonton televisi dengan tidak berkata-kata. Karena takut mendapat marah, saya buru-buru masuk ke kamar tidur untuk menuju kamar mandi.

Ternyata di atas tempat tidur, isteri saya telah menyiapkan dua tumpukan pakaian untuk diisi di tas. Pakaiannya dan pakaian saya. Dan yang membuat saya terkejut, bingung bercampur takut, di dekat tumpukan pakaian isteri saya ada sebuah kantong plastik bertuliskan huruf besar-besar dengan spidol: Obat Dating!

“Ya, Tuhan,” kata saya dalam hati. “Berarti isteriku memang benar-benar siap dan looking-forward akan malam ini…..”

Saya mandi dan berpakaian dengan secepat kilat. Selesai mandi saya duduk dengan manis di sebelah isteri saya.

“Maaf, aku terlambat pulang,” kata saya. “Tapi sekarang aku sudah siap. Ayohlah kita pergi…”

Isteri saya mengalihkan pandangannya dari acara televisi yang ada di depannya lalu menatap saya dengan heran.

“Apa sih yang terjadi dengan kau? Koq genit sekali. Tenang-tenang sajalah. Nanti juga kita pasti pergi….”

“Genit?” tanya saya. “Aku sih biasa-biasa saja. Justeru kau yang kulihat genit. Karena itu, agar kau tidak kecil hati, yah terpaksa aku harus memperlihatkan antusiasme-ku.”

“Apa dasarnya kau mengatakan aku genit?” kata isteri saya tak mau kalah. “Justeru sedari tadi aku bersikap biasa-biasa saja.”

“Biasa-biasa?” tanya saya. “Lalu, apa maksudnya ‘obat dating’ yang kau siapkan di atas tempat tidur itu?”

“Obat dating?” tanya isteri saya terheran-heran. Lalu kemudian ia tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair.

“Dating itu singkatan dari darah tinggi, Tuan,” katanya lagi setelah tawanya reda.

Mendengar keterangan isteri saya, kini giliran saya pula yang tertawa terbahak-bahak. “Oooo,” kata saya. “Aku pun sempat bingung. Biasanya kalau hendak dating, laki-lakilah yang meminum obat. Bukan perempuan. Karena itu, dalam hati tadi aku sempat berkata, ‘Bah, ganas sekali ibu ini’….”

Setelah salah-pengertian diluruskan, dan kami kembali tenang, saya bertanya lagi kepada isteri saya, “Ini sudah jam delapan. Terlepas dari urusan genit atau tidak genit, jam berapa kita harus berangkat? Kasihan anak-anak, kalau hadiah mereka sampai tidak
dimanfaatkan….”

“Yah, kita tunggulah dulu puteri kita pulang. Bagaimana mungkin kita meninggalkan rumah dalam keadaan tidak ada orang?” kata isteri saya.

Menjelang jam sepuluh malam, barulah puteri kami tiba. Kami pun bersiap-siap.. Saya menyalakan mobil. Isteri saya memasukkan pakaian tidur kami ke dalam sebuah tas kecil. Lalu kami pun berangkat. Kami tiba dan melakukan check-in di hotel menjelang jam sebelas malam.

Ketika saya melihat isteri saya telah menelan obat dan naik ke tempat tidur, saya menggodanya. “Happy wedding anniversary,” kata saya.

“Akh, sudah. Jangan macam-macam. Mari kita tidur. Besok aku punya tugas dalam kebaktian jam setengah tujuh pagi,” kata isteri saya seraya menarik bed-cover, menutupi tubuhnya dan memunggungi saya.

Setelah isteri saya tertidur, saya tak tahu lagi harus berbuat apa. Maka saya pun mengambil komputer lap-top saya dan mencoba bermain internet sampai mengantuk.

Jam enam pagi kami bangun, mandi dan buru-buru pergi ke gereja. Sepulang dari gereja, kami sempatkan untuk sarapan di hotel, lalu–yah, apalagi, kalau bukan–check-out.

Ketika kami tiba di rumah, puteri kami bertanya dengan wajah yang sumringah, “Did you enjoy your night?”

“Oh, yes. It was really a nice dating for us. Thank you,” jawab saya sambilcenar-cengir melirik isteri saya dan tersenyum [.]

3 responses to “Obat Dating dan Wedding Anniversary

  1. Eh…eh… kacian dech Pak….Buka laptop lagi… laptop lagi…

  2. Semua tulisan amang Mula saya sikat habis, dan membuat saya makin yakin, warisan yang paling berharga adalah keluarga…. nggak nyambung??? akh…. setidaknya itulah yang saya tangkap dari semua artikel artikelnya amang mula di blog ini…. salut……

  3. Roma Chrysta Manurung

    Wow….. kamu punya anak-anak yang sangat mengasihi dan memperhatikan kamu dan istri. Bersyukurlah, tapi saya yakin itu adalah contoh dari kedua orangtuanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s