Oh, Salon!

Oleh: Mula Harahap

Pada malam menjelang hari pemberkatan dan pesta pernikahannya, puteri saya menginformasikan kepada saya, bahwa pada jam 02.00 dinihari nanti dia sudah harus berada di salon. Rupanya puteri saya dan calon ibu mertuanya sudah membuat kesepakatan, bahwa puteri saya, isteri saya, calon ibu mertuanya, calon iparnya dan seorang gadis “pandongani” akan didandani di sebuah salon yang sama.

“Apa?” tanya saya, “Jam dua dinihari pergi ke salon? Apakah tidak bisa pergi ke salon jam enam? Tokh acara baru akan dimulai jam sembilan. Kita ini mau berpesta atau cari penyakit?”

“Soalnya yang akan didandani di salon itu bukan hanya kami, Pak,” kata puteri saya. “Banyak orang-orang lain yang akan didandani di sana.”

“Lalu, mengapa pula kalian harus memilih didandani di salon yang ramai seperti itu?”

“Katanya, salon ini terkenal baik di kalangan perempuan-perempuan Batak, Pak,” kata puteri saya lagi.

Lalu kepada isteri saya, saya berkata, “Mengapa pula kau hanya manut-manut saja atas saran calon besan itu? Kalau tahu ceritanya harus jadi begini, lebih baik kita memilih salon yang terpisah saja. Atau, kita bayar saja orang untuk mendandani kalian di rumah…”

Isteri saya, perempuan dari etnis Ambon itu, hanya mengangkat bahu dan berkata, “Saya tak mengerti soal salon-menyalon. Ini baru untuk pertama kalinya saya harus menyasak rambut dan pergi ke salon. Sama halnya seperti kau, saya pikir juga urusan salon ini hanya urusan satu-dua jam, karena itu ketika mereka menyarankan agar kita memilih salon yang sama, yah saya hanya manut-manut saja….”

Tentu saja sudah tidak ada lagi kemungkinan bagi kami untuk mengganti salon. Saya terpaksa harus mengikuti skenario yang sudah ditetapkan. Kepada isteri dan puteri saya, saya berkata, “Tidurlah kalian barang satu-dua jam. Nanti saya bangunkan….” Lalu saya duduk di depan televisi sambil membelalakkan mata dan mencoba melawan kantuk.

Jam satu dinihari, saya pergi ke dapur dan menjerang air di dua kompor. Lalu ketika air sudah mendidih, satu panci saya bawa ke kamar mandi dalam, dan satu panci lagi ke kamar mandi luar. Saya membangunkan isteri dan puteri saya agar mandi. Selesai mereka mandi kami pun berangkat ke salon.

“Kalau kau merasa mengantuk, biar Si Petrus saja yang mengantar kami, “ kata isteri saya merujuk seorang anak buah saya yang malam itu memang sedang bermalam di rumah kami.

“Oh, jangan,” kata saya. “Urusan membawa anak isteri ke salon jam setengah dua dinihari adalah urusan maha penting. Dia tak boleh didelegasikan kepada orang lain….”

Sebagaimana yang telah disepakati, jam dua dinihari kami pun tiba di sebuah salon di bilangan Kayumas, Jakarta Timur. Dan apa yang diinformasikan puteri saya mungkin ada juga benarnya. Ketika kami tiba di sana, telah ada tiga perempuan yang sedang menunggu giliran, dan ada dua perempuan lagi yang sedang didandani.

Saya mencoba tidur di mobil, tapi tak kunjung bisa. Berbagai hal memenuhi kepala saya. Sesekali saya keluar dari mobil dan melongok ke jendela salon. Ada isteri saya, ada puteri saya, ada calon ibu mertua putri saya, ada calon ipar puteri saya, ada calon ”pandongani” puteri saya, dan ada beberapa perempuan lainya. Semua duduk terkantuk-kantuk.

Saya memberi isyarat menyuruh puteri saya keluar. “Koq kalian belum didandani?” tanya saya kepada puteri saya, ketika ia telah keluar..

“Katanya yang tiga itu sudah membuat janji lebih dulu,” jawab puteri saya. Lalu tanpa ditanya, puteri saya memberi penjelasan, “Yang rambutnya sedang ditata seperti Vina Panduwinata itu, orang Bekasi. Dia mau martumpol. Yang rambutnya sedang dioles-olesin obat itu, orang Cilitan. Dia juga mau dipasu-pasu pagi ini. Yang itu orang Tebet….”

Begitulah, sepanjang malam itu, saya hanya keluar-masuk mobil, minum kopi dan merokok bersama supir bajaj di warung di depan salon, lalu sesekali melongok ke jendela salon. Saya gelisah. Jam lima dinihari, belum semua selesai didandani.

Saya menoba bersabar. Jam enam dinihari, juga belum semua selesai didandani. Hari sudah mulai terang. Acara penjemputan pengantin perempuan akan dimulai jam sembilan. Sementara itu masih banyak hal yang perlu saya lakukan.

Tiba-tiba telepon seluler saya berdering. “Ito Mula,” kata suara di ujung sana. “Kami sudah ada di Yakoma. Kami dengar di sini akan disediakan salon untuk kami….”

Karena alasan praktis, saya memang memilih acara penjemputan pengantin perempuan agar dilakukan di aula Yakoma di bilangan Cempaka Putih–bukan di rumah saya. Karena itu, para sanak-saudara yang akan menghadiri acara penjemputan dan berangkat ke gereja, saya sarankan agar berkumpul di Yakoma. Tapi bahwa saya akan menyediakan petugas salon untuk para sanak-saudara, itu sungguh tidak saya mengerti. Ini gosip apa lagi?

Saya berjalan ke jendela salon dan memberi isyarat kepada isteri saya agar keluar. Lalu isteri saya pun keluar.

“Si Ida dan Si Rouli sudah ada di Yakoma. Katanya kita akan menyediakan tenaga penata rambut. Saya tak mengerti. Apakah kau menjanjikan hal yang demikian bagi mereka?”

Isteri saya menggelengkan kepala.

“Ya, Tuhaaan,” kata saya. Tiba-tiba saya teringat akan sesuatu.

Sepuluh tahun yang lalu, ketika salah seorang adik lelaki saya menikah, isteri saya memang sengaja memanggil seorang banci yang ahli menata rambut untuk datang pagi-pagi buta ke rumah kami.Isteri saya ingin agar sanak-saudara yang akan mendampingi kami menjemput pengantin perempuan nanti, dan yang membutuhkan jasa penataan rambut, tidak menjadi terlalu repot. Tapi isteri saya tidak menyangka bahwa sanak-saudara yang telah memakai jasa Si Wiwid itu akan melengos begitu saja, dan membiarkannya untuk menyelesaikan pembayaran. “Bingung saya melihat saudara-saudaramu Batak itu,” begitulah kata isteri saya ketika itu.

Saya kembali menghubungi ito saya yang menelepon itu. “Ito,” kata saya. “Siapa yang mengatakan bahwa akan ada fasilitas salon Yakoma?”

“Tak ada sih. Hanya pikiran kami saja. Tapi apakah Ito tahu dimana salon terdekat?”

Saya menghubungi seorang penjaga di kantor Yakoma. “Anto,” kata saya kepadanya. “Disitu ada beberapa ibu yang sedang mencari-cari salon, tolong kau bantu mereka….”

“Ini masih jam enam pagi, Pak. Belum ada salon yang buka….”

“Akh, ambil motormu. Kau kelilingi Cempaka Putih dan Rawasari. Tanya apakah ada yang bersedia mendandani sejumlah ibu-ibu Batak pagi ini. Lalu arahkan mereka ke sana, dan tinggalkan…..”

Jam setengah tujuh pagi, akhirnya puteri saya, isteri saya, calon ibu mertua puteri saya, calon ipar puteri saya dan gadis “pandongani” itu selesai juga didandani. Kami berpisah di depan salon tersebut. Rombongan calon besan saya masuk ke mobilnya. Dan puteri saya, isteri saya dan seorang gadis “pandongani” masuk ke mobil saya.

Ketika saya melihat isteri saya dari dekat, saya nyaris tak mengenalinya. Saya tidak tahu, apakah saya jadi pangling disebabkan karena tidak tidur sepanjang malam, atau disebabkan karena hal lain.

Isteri saya mungkin tahu apa yang ada di dalam pikiran saya. Karena itu dengan mata membelalak dia berkata, “Don’t say anything about my make-up,” katanya. “I’m doing all of this just for the sake of my beloved daughter…”

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah saya mengunci mulut saya erat-erat [.]

One response to “Oh, Salon!

  1. Setibanya di rumah, kalau tak salah ingat, Si Petrus itu pun tak boleh kasih komentar. Iya kan ?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s