Role Model Ayah

Oleh: Mula Harahap

Peranan yang dimainkan oleh seorang ayah di dalamkeluarga memang bisa menjadi inspirasi atau contoh bagi anak lelakinya dalam melakukan peranannya kelak. Dan dulu ketika sistem kehidupan masih sangat sederhana, sekolah belum ditemukan dan teknologi media komunikasi masih sangat terbatas maka “role model” ayah itu adalah segala galanya..

Dalam masyarakat yang hidup dalam budaya berburu, berladang berpindah, atau beternak secara nomaden, maka gagasan tentang ayah yang ideal itu tentu saja adalah ayah yang kokoh secara fisik, assertive, keras dan otoriter. (Yah, seperti ayah dalam kisah-kisah zaman baheula itulah). Karena itu kalau seorang ayah tidak bisa memainkan peranan sebagai ayah yang “macho”, assertive dan otoriter, maka besar kemungkinan anak lelakinya juga akan menjadi tidak “macho”, tidak assertive dan tidak otoriter (kendati
pun anak itu sebenarnya memiliki kadar hormon lelaki yang lebih dari cukup). Dia akan menjadi “banci” kata sebagian orang. Dan di dalam sebuah sistem kehidupan yang masih menuntut nilai kekerasan, maka anak itu boleh jadi tidak akan survive. (“Gabe jolma na hasea,” kata sebagian orang Batak).

Tapi sejalan dengan perubahan zaman, “role model” ayah itu semakin surut. Kini disamping meniru ayahnya, seorang anak lelaki juga bisa meniru ayah temannya, ayah seseorang yang ditontonnya di sebuah filem, dibacanya di sebuah buku atau diceritakan gurunya di sekolah. Semakin bertambah usia seorang anak dan semakin luas sosialisasinya, maka semakin bertambah pula peluangnya untuk mempelajari “role model” ayah orang lain. Dengan lain perkataan, “role model” ayah hanya bisa memberi pengaruh maksimal ketika si anak lelaki masih kecil dan belum bersekolah.

Dan sejalan pula dengan perubahan zaman, maka gagasan tentang ayah yang ideal itu juga mengalami perubahan. Kini sebagai “the bread winner” seorang ayah tidak perlu harus berburu, berladang berpindah, menggembala ternak secara nomaden, menjadi “debt collector”, menjadi preman terminal atau pekerjaan-pekerjaan lain yang menuntut nilai kekerasan. Kini ada ayah yang kerjanya hanya cuap-cuap di kelas (guru), ada ayah yang kerjanya hanya cuap-cuap di gereja (pendeta), ada ayah yang menjadi pelukis, penata rambut, pemain biola di sebuah orkes simfoni dan pekerjaan-pekerjaan “halus” lainnya.

Kemudian karena satu dan lain hal (misalnya karena alasan pendidikan, psikologi, ekonomi dsb) peranan “the bread winner” pun kini tidak selalu harus berada di tangan ayah. Sudah menjadi hal yang biasa–dan tak perlu menjadi malu–bahwa kini banyak ayah yang bertugas mengurus rumah dan justru ibu yang mencari nafkah di luar.

Di dalam konteks perubahan nilai dan perubahan peran itu, maka adalah suatu hal yang lucu kalau kita tetap masih menganut gagasan bahwa ayah yang ideal itu adalah ayah yang “macho”, assertive dan otoriter.
Bagaimana mungkin seorang lelaki yang secara sukarela memainkan peranannya untuk mengurus rumah (dan merelakan isterinya untuk bekerja di luar) dituntut untuk bisa bersikap assertive dan otoriter kepada isterinya, sama seperti lelaki yang bekerja di luar
sebagai “debt collector” atau preman terminal? Dalam beberapa kasus memang ada juga lelaki, yang walau pun pekerjaanya sehari-hari adalah mengurus rumah, tapi masih juga bersikap assertive dan otoriter terhadap isterinya yang mengambil peran sebagai “the bread winner”. Tapi oleh masyarakat modern laki-laki yang seperti ini justeru akan dianggap sebagai lelaki yang tidak “pe-de”, overacting, “nggak tahu diri” atau sakit jiwa.

Saya rasa di zaman modern ini kita juga tak perlulah takut, bahwa karena kita berprofesi sebagai penata rambut, pelukis, pendeta (?) dan pekerjaan-pekerjaan “halus” lainnya, maka anak lelaki kita akan menjadi “banci”. Dan di lain fihak, adalah hal yang lucu, kalau demi menjaga anak lelaki kita agar tidak menjadi “banci” kelak, maka kita yang berprofesi dan berkarakter sebagai penata rambut, pelukis atau pendeta (?) ini harus ikut-ikutan bertindak assertive dan otoriter seperti lelaki tetangga kita yang berprofesi sebagai prajurit, “timer” angkot atau supir truk gandeng. Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, ada banyak medium bagi anak lelaki kita untuk belajar dan tumbuh menjadi dirinya sendiri.

Peranan apa pun yang dilakukan oleh seorang ayah di dalam rumah tangganya, sepanjang peranan itu disepakatinya dengan baik-baik dan penuh kasih-sayang dengan isterinya dan anak-anaknya, dan sepanjang peranan itu tidak bertentangan dengan moral, etika dan hukum yang berlaku, maka saya rasa itu adalah peranan yang ideal dan baik-baik saja. Dan entah jadi apa pun seorang anak lelaki kelak, sepanjang dia bisa menjadi dirinya, dan mengembangkan secara maksimal anugerah yang diberikan Tuhan kepadanya (sehingga syukur-syukur bisa menjadi “garam dan terang” bagi masyarakat di sekelilingnya), maka itulah “jolma na hasea” [.]

One response to “Role Model Ayah

  1. Saya guru di sekolah international. Ada masalah serius di kehidupan masyarakat urban kita, apalagi dari keluarga kaya. Anak lelaki maupun perempuan kelewat manja,…tingkat kemandiriannya sangaat rendah.

    Seorang anak lelaki dalam proses tumbuh-kembangnya untuk menjadi dirinya sendiri….sangat butuh sosok ayah yang terutama mengajari untuk mandiri dan percaya diri….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s