Teologi Butir Jagung

Oleh: Mula Harahap

Di meja kerja saya–bersebelahan dengan cangkir yang berisi puplen, pensil, cutter dsb- ada dua botol plastik kecil seperti yang biasa dipakai untuk menyimpan obat. Masing-masing botol plastik itu berisi butiran jagung.

Saya memang sengaja meletakkan kedua botol itu di sana karena butiran-butiran jagung itu mengingatkan saya tentang sesuatu:

Bila hanya dilihat dengan mata, maka antara butiran jagung yang berada di dalam botol yang satu, dengan yang berada di dalam botol yang satunya lagi, sebenarnya tidak ada bedanya. Sama warnanya dan sama bentuknya.

Tapi sebagai orang yang meletakkan butiran jagung itu di sana tentu saja saya tahu perbedaannya. Butiran di dalam botol yang pertama sebenarnya adalah jagung mati. Butiran jagung itu sudah pernah mengalami proses panas yang luarbiasa. (Butiran jagung itu pernah dimasukkan di dalam panci untuk dijadikan pop-corn. Hanya saja, ia tidak jadi pop-corn, tapi tetap berupa butiran yang utuh). Kalau ditanam, butiran jagung itu akan membusuk. Ia tidak akan tumbuh menjadi pohon yang baru.

Butiran jagung yang kedua adalah jagung hidup. Ia langsung diambil dari tungkul yang baru dipetik dari pohon. Kalau ditanam, butiran jagung itu pasti akan tumbuh menjadi pohon yang baru.

Saya suka membayangkan bahwa hidup saya di dalam Yesus Kristus sama seperti butiran jagung di dalam botol yang kedua. Ia memiliki daya kehidupan. Kalau pun nanti saya ditanam, maka saya tidak akan membusuk, tapi akan tumbuh menjadi “pohon” yang baru.

Kemudian saya juga suka membayangkan bahwa gagasan tentang hidup baru di dalam Yesus Kristus sama halnya seperti ketika kepada biji jagung yang sudah mati itu diberikan lagi sebuah daya hidup dari luar. (Mungkin prosesnya kira-kira sama seperti ketika pada biji padi atau jagung di reaktor nuklir diberikan sebuah daya dari luar untuk merekayasa genetikanya).

Dengan terus-menerus berupaya “memasukkan” dan “menahan” Yesus Kristus di dalam diri saya, maka saya percaya bahwa kalau kehidupan saya yang diibaratkan sebagai biji ini akan berakhir di dunia ini, lalu saya ditanam (atau dikremasi, atau dimakan anjing,
terserah) maka suatu ketika saya akan tumbuh lagi menjadi “pohon” yang baru. (Tentang bagaimana “pohon saya” yang baru itu nanti, itu tak pernah saya pusingkan. Biarlah hal itu menjadi urusan Tuhan yang menjadi pemilik dan penyelenggara kehidupan saya ini).

Tapi gagasan bahwa diri saya adalah sebuah benih yang hidup dan akan berkelanjutan karena Yesus Kristus (bukan benih yang mati, busuk dan berakhir untuk selama-lamanya) membuat saya terhibur (walaupun saya tak tahu akan menjadi “pohon” yang bagaimana saya nanti persisnya). Dan bagi saya itulah “langit baru dan bumi baru”, atau yang kadang-kadang disebut sebagai “sorga” [.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s