The Confession of a Gaptek Man

Oleh: Mula Harahap

Anak-anak saya sering mengatakan saya “culun”. Dan saya sering diomeli karena suka mempertanyakan hal-hal yang–menurut mereka–sangat sepele. “Bapak ini gimana sih? Gituan aja ditanya. Bikin malu!”

Anak-anak yang lahir dalam era yang ditandai dengan kemajuan pesat teknologi informasi dan komunikasi ini tidak mengerti, bahwa bagi orang yang sudah berumur di atas 50 tahun seperti saya ini memang banyak hal-hal yang sudah “tidak masuk di akal” dan karena itu perlu dipelajari. Kemudian anak-anak itu juga tidak tahu bahwa kepala saya ini sudah penuh dengan hal-hal yang lain, dan sukar sekali rasanya untuk memasukkan hal-hal baru, terutama yang berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi.

Dalam hal komputer, misalnya. Sampai setahun yang lalu saya tak pernah bisa memakai program Microsoft Words. Untuk mengetik sesuatu, maka biasanya saya akan membuka halaman “compose” dari e-mail saya. (Dalam urusan e-mail kebetulan saya sudah agak maju). Nah, disitulah saya buat tulisan saya. Kalau tulisan itu sudah selesai, saya save di “draft”. Kemudian barulah saya suruh anak saya di rumah, atau karyawan saya di kantor, untuk mengolahnya lebih lanjut di Microsoft Words atau Page Maker, dan mengeluarkan print-out-nya.

Dulu beberapa kali saya mencoba belajar Microsoft Words. Tapi saya tak suka. Kalau saya melakukan kesalahan pencet selalu ada figur orang dari paper-clip yang bola matanya melotot itu, naik sepeda kesana-kemari, seolah-olah mengejek saya. Barulah
setahun ini saya memaksakan diri mengetik dengan Microsoft Words, dan berhasil.

Banyak juga teknologi dan terminologi komputer atau internet yang saya pelajari dari adik saya. Dan karena dia seorang adik, dan pendeta pulak, maka saya selalu merasa aman kalau bertanya kepadanya. (Tentu saja bertanya tentang hal-ihwal komputer atau internet).

Misalnya kata “cmiiw”. Dulu saya tak pernah tahu apa artinya itu. Dan barulah saya mengerti setelah dijelaskannya. Demikian juga halnya dengan tanda “titik-dua garis dan kurung pembuka”. Saya tak pernah tahu apa artinya semua itu. Tapi kemudian diterangkannyaa bahwa itu adalah tanda emosi yang perlu kita sampaikan dalam menulis pesan agar si penerima di ujung sana tidak salah tangkap. Akhirnya tahulah saya bahwa “titik-dua garis dan kurung pembuka” artinya “betcut” (cemberut). Dan “titik-dua garis dan kurung penutup” artinya “mengkel” (tertawa). Kini saya jadi keranjingan memakai tanda-tanda emosi tersebut. (Dan minggu lalu tambah lagi pengetahuan baru. Saya baru mengerti apa arti kata SOL yang kadang-kadang mengakhiri kalimat seseorang).

Dalam hal HP-pun sama saja. Saya hanya tahu bahwa HP bisa dipakai berbicara dan mengirim tulisan. Dan saya tak pernah bisa mengerti kalau ada HP yang–selain untuk berbicara dan mengirim tulisan–juga bisa mendengar radio, mencatat appointment, dan memotret diri sendiri. Ruwet sekali. Karena itu dari dulu HP saya hanya Siemens tipe A-45. Dan untuk mengantispasi kalau-kalau HP itu hilang dari pasaran (dan saya harus belajar sesuatu yang baru) maka saya punya cadangan dua lagi HP tipe yang sama. (Melihat kelakuan saya itu, anak saya hanya berkata: “Gilee bener bokap gue…”

Dalam hal peralatan audio dan video, wuah apalagi. Sampai sekarang saya tak pernah mengerti bagaimana men-save sebuah stasiun pemancar dan tinggal memencet tombol kalau menginginkannya.

Peralatan VCD sih bisa saya kuasai. Ini agak gampang. Tapi peralatan DVD sering membuat saya sakit kepala. Beberapa malam yang lalu saya ingin menonton sebuah filem. Tapi filemnya tak kunjung “play”. Saya mengomnel-ngomel, “Inilah akibatnya kalau membeli DVD bajakan,” kata saya. “Dia tidak kompatibel dengan peralatan Jepang ini…”

Kata anak saya, “Bukan DVD-nya yang salah. Bapak saja yang nggak tahu. Sudah, sini saya pasangin. Jangan merepet….” Untunglah dengan satu DVD saya bisa menonton seluruh filem. Saya tak bisa membayangkan berapa kali saya akan mendapat omelan, kalau satu filem harus terdiri dari dua keping DVD.

Lalu, dalam revolusi teknologi informasi dan komunikasi seperti itu, bagaimana mungkin saya tidak bertanya? Dan wajar-wajar saja kalau bagi sementara orang pertanyaan saya itu terkesan culun.

Saya ingat, dalam sebuah perjalanan ke luar negeri, saya naik pesawat yang layar filemnya ada di sandaran bangku masing-masing penumpang di depan. Sementara penumpang lain telah menikmati filem pilihannya, saya masih sibuk memelototi panel yang ada di depan saya itu. Bagaimana pula menyalakannya?

Akhirnya, karena tak tahan, saya beranikan diri untuk bertanya dan minta tolong pada seorang gadis yang duduk di sebelah saya. “Excuse me,” kata saya. “Tolong dulu kau ajari saya bagaimana menyalakan barang ini….” (Dan tentu saja semua itu saya ucapkan dalam bahasa Inggeris yang diwarnai dengan grammar Batak).

Tapi pengalaman bertanya yang paling mengesankan ialah apa yang saya alami ketika berusia 24 tahun dan untuk pertama kalinya terbang seorang diri ke London.

Saya turun di Bandara Heathrow yang hiruk-pikuk itu sambil menyeret-nyeret kopor kulit yang dulu menemani saya merantau dari Medan ke Jakarta. (Akh, saya jadi teringat akan Tom Hanks di “Airport”). Tidak ada yang menjemput saya. Saya harus mencari penginapan sendiri. Saya pun bertanya kiri-kanan tentang bagaimana memesan hotel. Walapun saya sudah kurus intensive di LIA (waktu itu ada di Jalan Teuku Umar), tapi saya tak bisa menangkap apa yang dicelotehkan orang. Saya sudah nyaris putus asa. Tapi untunglah di sebelah sana saya melihat ada deretan telepon dan di atasnya ada tulisan “information”.Dengan tangan gemetar gagang telepon itu saya angkat.

“Hallo,” kata saya.

“@$%#@## **&^%#@%,” kata suara di ujung sana.

Saya meringis. Gagang telepon saya letakkan. Beberapa saat kemudian saya angkat lagi.

“Hallo,” kata saya.

“@$%# $%%%#@ &%$#@&,” kata suara di ujung sana. Kembali saya meringis dan gagang telepon saya letakkan. Kemudian saya angkat lagi.

“@$@# %$$$#%#…..At the moment we are out for lunch….This is only recording….,” kata suara di ujung sana.

Oalaaaah! Saya menangis dan tiba-tiba rindu kepada “mamak” (ibu) saya [.]

7 responses to “The Confession of a Gaptek Man

  1. menarik dan lucu sekali ceritanya pak, lol, learning is the lifetime process ya…

  2. Roma Chrysta Manurung

    saya membaca sambil tetawa bukan karena apa-apa tetapi menyadari diri sendiri juga hampir sama. Selalu minta tolong kalau sudah tidak bisa apa-apa.

  3. untung proses penyesuaian dilakukan Bang Mula, kalau tidak bisa “gaptek” terus. Saya bangga dengan semangat Abang untuk berkontribusi bagi siapa saja melalui blog ini, mudah-mudahan tujuannya tercapai. Good Luck

  4. Saya sampai senyum-senyum sendiri membaca tulisan anda. Artinya tulisan anda berhasil memancing urat-urat sekitar bibir saya untuk bergerak membentuk senyuman.
    Tulisan anda diberkati Tuhan karena membuat pembaca bahagia sejenak.

  5. horas amang mula..,

    halak mak. masih aja si amang ngaku gaptek.., untuk orang seumur amang…, bisa aktif posting di milis.., dan sekarang punya blog di wordpress itu luar biasa lowh. bapakku aja (umur 66).., baru bisa ngemail 3 tahun belakangan, sejak kakakku tinggal di norway.

    amang, aku suka banget baca tulisan ama di BG. lugas, lucu namun sangat berbobot dan benar2 kenyataan apa adanya dalam tradisi masyarakat batak.

    keep writing yah amang, aku jadi salah satu fans setiamu. hehehe.

    salam buat inang dan kakak/adik2

    GBU,
    Gerda Silalahi, proud mom to Christabelle

  6. Kata Marc Prensky (2001) Bang Mula termasuk generasi Digital Immigrant…..Kalau anak sekarang disebut Digital Native. Cara belajar dan berkerjanya sangat beda. Seorang anak Digital Native bisa sembari mata nonton tv, tangan ngetik sms, satu headphone di telinga dengar musik dari iPOD, mulut dan telinga yang satu lagi dipake untuk ngobrol-ngobrol ama orangtuanya (…seolah-olah kurang ajar ya ni.. anak). Untuk umur sudah di atas 40’an pasti ngga ada yang mampu seperti ini ???

    Proses paralel…di layar komputer…klak-klik sana, klak-klik sini…serba berbarengan dengan kecepatan tinggi…memang mereka sejak kecil sudah terbiasa tombol-tombol elektronik digital… multimedia… sampai akhirnya dunia internet

    Hidup Digital Immigrant…Bang Mula pengungsi digital yang menjadi blogger yang handal

  7. Bang Mula,

    Saya punya pengalaman yang agak dobel juga seperti Abang.

    Di tahun 2007 lalu – sekitar bulan Juni, saya diajak seorang teman ke Plaza Senayan. Setelah berkeliling-keliling mencari lowongan di tempat parkir yang ‘underground’ , kami masuk ke sebuah warung atau kedai kopi menurut saya, tapi di sana namanya Cafe ……., entah apalah itu. Tak sempat saya baca karena kegalauan riuh gemerlap nya lampu dan dengung segala macama gabungan bebunyian.

    Kami masuk ke – yang menurut saya – warung itu. Berkilat, bersih dan mewah.

    “Ayo ‘La !” kata teman itu dengan wajah berseri-seri.

    ” Uh…, ya “.

    Lalu kami berbaris dalam antrian yang berkemilau. Punggung saya mulai dingin. Saya sadar, bahwa saya memakai kemeja yang warnanya sudah layu, walaupun mereknya Arrow. Itupun buah belas kasihan seorang paman yang pulang dari bersekolah di Amerika puluhan tahun yang lalu,karena sudah tak dipakainya lagi. Leher baju pun sudah pula retak-retak bagai lukisan Picasso.

    Untuk menghormati saya, teman itu mengantrikan saya di depannya. Ketika sampai di depan meja pelayanan, seorang nona yang cantik mulus merayu ramah.

    “Selamat sore Bapak . Silahkan Pak…..?, minum plaz pliz pluz atau plapalass plusss mungkin ? . Ada rasa baru, yang ini softex boleh dicoba, atau keramikti Bapak ?” (begitu menurut pendengaran saya)

    Mati aku !. Bukankah ini warung atau kedai kopi ?, pikir saya dalam hati.

    “O…. uh…. aa….mmmm apa ya ?” kata saya meratap.

    “Mungkin kau suka teh ya ‘La ?, kata si teman dekat telinga saya dari belakang.

    “Ah YA YA, teh ‘aja deh’, kata saya merasa menghirup udara segar. Selamaaat.

    “Baik Bapak. Silahkan – tak tahu apa kata si nona kemudian, tapi kira-kira maksudnya makanan pendampingnya – apa ?. AngGer kius kius, kekkyu ger gedebuk kies ?” (begitu masuk bunyi di telinga saya).
    Dan si Nona menunjukkan dengan tangan lentiknya terbuka ke arah senampan bongkah-bongkah roti tentunya, seukuran (maaf) buah dada isteri saya, berwarna mulai dari coklat pucat sampai sawo matang. Ada yang bergaris-garis, ada yang berbintil-bintil, ada yang berkilat, ada yang kasar seperti berpasir. Ada juga yang saya kenal sebagai roti kismis di zaman kekanakan saya.

    “Ah… itu tuh!’ kata saya, sambil menunjuk roti bulat berkismis tiga, setidaknya itu yang saya kenal walau dinamai apa sekalipun oleh si nona manis.

    Setelah menyusun di baki, seorang nona manis lain menggoda saya.

    “Payment pakai apa Pak ? Visa atau lainnya, atau cash ?”. Ini masih bisa saya ikuti.

    “Di charge ke saya aja mbak!’ kata si teman.

    Saya terkenang betapa nikmatnya minum teh dan makan roti di warung Si Panjang di Medan sana.

    Kemudian setelah kegalauan itu, kami duduk di meja yang bundar indah. Tak lama kemudian di seberang meja kami duduk dua gadis manis. Yang satu menghadap ke arah kami dan tak dapat disangkal, gaya duduknya menggangu birahi juga.

    Jadi, yang saya dapat dari kegalauan tadi adalah teh manis panas satu gelas yang tinggi, dengan pipet nya. Untuk mengelontor sisa roti kismis ke dalam tenggorokan sungguh tak cukup efisien.
    Sungguh menegangkan.

    Pendek ceritera, sepulang dari Plaza Senayan – sudah malam pula, tak tahu mengapa untuk minum segelas teh diperlukan pula waktu sekitar tiga setengah jam, sambil tersenyum sana-sini – saya terus ke rumah Kakak yang tak seberapa jauh dari rumah saya.

    “Kak ! ” kata saya, “.. tolong bikinkan dulu teh manis kita itu Kak !”.

    Tanpa gelas tinggi – tapi besar, dan tanpa pipet.

    Maka saya minum teh manis dengan lobanya, seteguk demi seteguk, penuh di mulut enak di dinding dan langit-langit mulut.

    Saya melamun sesaat, mengapa si nona manis tadi tak mengatakan ‘teh manis atau kopi ?’ saja.

    Kalau yang ini gagap apa Bang Mula ?.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s