Undian Harapan

Oleh: Mula Harahap

Saya sedang berbincang-bincang dengan seorang adik lelaki saya di kamar tidur. Di atas sebuah dipan di ruang tengah, jenazah ayah terbaring kaku, dan orang-orang menangis di sekelilingnya.

Banyak hal yang ingin saya ketahui darinya seputar kepergian ayah. Malam sebelumnya saya hanya menerima telepon agar segera pulang ke Medan, karena ayah tiba-tiba sakit keras. Tapi siangnya, ketika saya dan beberapa adik lainnya tiba di Bandara Polonia, seorang namboru yang menjemput kami menangis tersedu-sedu, dan mengatakan ayah sudah tidak ada.

Adik saya menceritakan kronologis kepergian ayah. Katanya, mulanya ayah hanya menderita flu beberapa hari yang lalu. Karena penyakit ini biasa dideritanya maka tidak ada yang terlalu memperhatikannya. Dan ayah pun rupanya tidak juga memperhatikan dirinya. Ia hanya tergolek di ranjang, makan dan minum seadanya sambil sesekali menelan decolgen, sampai tiba-tiba ada seorang bere-nya yang sedang kuliah di fakultas kedokteran dan kebetulan berkunjung ke rumah, melihat ayah telah mengalami dehidrasi yang sangat parah. Ia segera dilarikan ke Rumah Sakit Santa Elizabeth. Tapi rupanya ia sudah terlambat untuk ditolong.

Setelah kami mulai tenang dan terdiam agak lama, tiba-tiba adik saya memecah keheningan dan berkata, “Gawat sekali tadi pagi kurasa.”

“Apa yang gawat?” tanya saya.

“Waktu aku mau memakaikan jas Bapak di kamar jenazah rumah sakit, tiba-tiba ada segepuk kertas yang jatuh dari kantong jas itu. Kulihat ke bawah. Ternyata satu blok Undian Harapan. Malu sekali aku. Ada banyak orang di kamar jenazah itu. Cepat-cepat barang itu kupungut. Kuharap mereka tak melihatnya.”

“Lalu, dimana barang itu kau simpan sekarang?”

“Ada di tas sekolahku.”

“Yah, sudahlah,” kata saya menenangkannya. “Tak usah kita percakapkan lagi hal itu.”

Begitulah urusan tentang Undian Harapan menjadi terlupakan. Selama dua hari berikutnya kami sibuk dengan urusan menerima kedatangan para sanak-saudara dan handai-taulan yang datang memberi simpati serta mempersiapkan penguburan ayah. Lalu seminggu setelah itu kami masih disibukkan lagi dengan acara menerima kedatangan para sanak-saudara dan handai-taulan yang memberi kata-kata nasihat dan penghiburan tentang bagaimana kehidupan dilanjutkan setelah ayah tiada.

Urusan Undian Harapan baru muncul kembali ketika saya membaca sebuah suratkabar. Di sana ada iklan yang menyebutkan nomor-nomor pemenang untuk periode minggu itu. Siang itu saya sedang berbaring-baring di tikar yang masih digelar di ruang tengah. Dan kami semua kakak-beradik juga masih ada di sekitar ibu. Belum ada yang kembali ke kotanya masing-masing.

“Hei, Jonatan!” teriak saya memanggil adik saya. “Tolong bawa ke sini Undian Harapan yang kau ceritakan itu.”

Adik yang dipanggil itu masuk ke kamar, lalu tak lama kemudian datang ke sisi saya. Kemudian seraya duduk bersila di atas tikar kami berdua mulai membuka lembaran undian itu dari kertas pengikatnya dan mencocokkannya satu per satu, dan dengan sangat hati-hati, dengan semua nomor pemenang yang tertera pada iklan itu.

Setiap kali satu lembar undian diteliti dan nomornya tidak sesuai dengan salah satu nomor yang ada di dalam iklan itu, kami sama-sama berteriak, “Tidak kena! Robek! Masih miskin!”

Melihat kesibukan kami, adik-adik yang lain yang ada di ruangan itu pun jadi ikut mengerubung. “Apa itu? Apa itu?” tanya mereka.

“Kata Si Jonatan, satu blok undian ini ditemukannya di saku jas Bapak ketika ia hendak memakaikan jas itu di kamar jenazah. Mari kita cocokkan bersama-sama. Siapa tahu inilah warisan yang akan kita peroleh dari Bapak,” kata saya.

Kami tertawa-tawa dan menjadi seperti anak kecil. Setiap kali satu lembaran–dari seratus lembaran yang ada di dalam satu blok–diperiksa, semua sama-sama berteriak, “Tidak kena! Robek! Masih miskin!”

Mendengar keriuhan kami, ibu pun keluar dari kamar. “Apa itu?” tanyanya. Lalu setelah ia mengetahui apa yang sedang terjadi, ia hanya menangis lalu tersenyum. “Akh, bapak kalian itu,” katanya.

Dan begitulah interlude keluarga itu baru berhenti setelah semua semua undian dirobek dan dibuang ke tempat sampah karena tidak ada yang kena. Tapi urusan Undian Harapan ternyata tidak berhenti sampai di situ.

Beberapa hari kemudian, menjelang pulang ke Jakarta, dengan ditemani oleh seorang adik, saya datang ke kantor ayah. Sebagai anak paling tua, maka saya rasa adalah tugas saya untuk mengambil barang-barang pribadi ayah dan mempertanggung-jawabkan urusan-urusan pribadi ayah yang mungkin masih menyangkut di kantor.

Setelah berbicara beberapa saat dengan atasan langsung ayah, kami dipersilakan masuk ke kamar ayah. Ayah memiliki sebuah meja jati eks jaman Belanda yang sangat besar. Dengan hati-hati dan penuh hikmat kami membuka laci-laci yang ada di kiri-kanan meja itu. Bukan main terkejutnya saya ketika melihat apa yang ada di laci-laci meja kerja itu. Hanya ada beberapa map tipis di sana. Selebihnya seluruh laci-laci itu penuh dijejali tumpukan Undian Harapan.

“Wuah-wuah-wuah,” kata adik saya. Dan hanya itulah ucapan yang keluar dari mulutnya. Seorang anak buah ayah yang bekerja di kamar itu mungkin tahu apa yang sedang terjadi dan memahami perasaan kami. Ia bangkit dari mejanya dan berkata, “Oom mau makan siang dulu. Silakan saja kalian bereskan, ya?”
.
“Mau kita apakan semua undian ini?” tanya adik saya.

“Ya, kita bawa pulanglah. Nanti dibakar di rumah,” kata saya. “Sekarang kau cari dulu dua atau tiga kardus kosong.”

Sementara adik saya pergi mencari kardus kosong, saya duduk merenung di depan laci-laci yang menganga lebar itu. Terbayang di mata saya bagaimana dahulu, ketika saya masih remaja dan tinggal di Medan, saya selalu bertengkar dengan ayah. Ayah selalu bersikap keras dalam mengawasi pergaulan saya.

Terbayang juga di mata saya, ketika saya masih remaja, ayah ketahuan memiliki kebiasaan berjudi. Lalu ayah yang keras dan perfeksionis itu tiba-tiba seperti kehilangan kewibawaannya di depan kami anak-anaknya. Ia tiba-tiba menjadi berubah dan tidak pernah lagi berani marah kalau kami pulang larut malam atau merokok di kamar mandi. Tapi perubahan sikapnya itu justeru membuat saya kasihan dan sayang kepadanya.

Tiba-tiba di telinga saya terngiang-ngiang pula nasehat yang sering dikatakan ibu kepada saya ketika ayah sedang mengalami krisis. “Bapakmu itu orang baik. Dia sebenarnya ingin mempunyai cukup uang untuk menyekolahkan kalian setinggi mungkin. Tapi dia tidak tahu cara mencari uang. Dan dia pikir dengan mengadu nasib lewat judi dia bisa mendapatkan cukup uang untuk membesarkan anak-anaknya. Karena itu bantu kalian bapak. Hiduplah dengan sangat sederhana dan belajarlah yang keras.”

Terbayang juga di mata saya ketika setahun yang lalu ayah datang ke Jakarta. Selama satu minggu, sepulang dari kerja, saya mengantarnya ke rumah sanak-saudara dengan naik kendaraan umum. Ayah yang dahulu–ketika saya masih remaja–saya anggap sebagai musuh karena sikapnya yang terlalu keras dalam mendidik saya, kini tiba-tiba saya anggap sebagai teman. Sebenarnya saya merindukan kesempatan lebih banyak lagi untuk bisa bercakap-cakap dengannya–sebagai dua sahabat–tentang kehidupan ini. Tapi apa mau dikata? Rupanya Tuhan memiliki rencana yang lain atas kehidupan kami.

Ketika adik saya telah kembali, blok-blok undian itu kami susun dengan hati-hati di dalam kardus. Dan sementara memasukkan blok-blok undian itu saya berkali-kali menyeka sudut mata saya dengan memakai lengan baju.

Kami pulang menumpang becak mesin dengan membawa tiga kardus besar yang penuh berisi blok Undian Harapan. Ketika tiba di rumah, saya memanggil adik saya yang paling kecil, dan yang masih tinggal bersama ibu di Medan.

“Tolong kau simpan kardus-kardus ini entah dimana. Tapi usahakan jangan dilihat Ibu. Kalau ada waktu, kau bakar sedikit demi sedikit,” kata saya kepada adik saya.

Setelah membereskan berbagai urusan, kami kakak beradik segera kembali ke kota masing-masing. Saya pun kembali ke Jakarta. Urusan Undian Harapan nyaris saya lupakan, sampai pada suatu ketika saya menerima surat dari adik yang tinggal di Medan:

“Undian Harapan yang tiga kardus itu ternyata ketahuan juga oleh Ibu. Tapi tak mengapalah. Kurasa itu lebih baik. Setiap jam lima pagi, setelah bangun dari tidur, kulihat Ibu mengambil segepuk dari lembaran undian itu. Dibakarnya di anglo dan dipakainya merebus air. Dia jongkok di lantai, dalam kegelapan, seraya menunggu air mendidih. Kurasa dia sedang mengenang-ngenang suaminya yang baik itu. Lalu setelah air mendidih, sebagian dari air itu dipakainya untuk membuat kopi dan sebagian lagi dipakainya untuk mandi. Itulah yang dilakukannya setiap pagi, selama lebih dari sebulan ini, sampai undian itu habis. Tapi seraya membakar sedikit demi sedikit dari undian itu, kurasa Ibu sekaligus menumbuhkan sebuah harapan baru dalam kehidupannya….” [.]

2 responses to “Undian Harapan

  1. Roma Chrysta Manurung

    It’s a wonderful story, very touching. Keep good relationship with your brothers and sisters.

  2. Ceritanya sangat menyentuh, Tulang. Kurasa kalau dikumpulkan cerita seperti ini bisa dibukukan dengan judul “All About Bataknese” atau Semua Tentang Orang Batak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s