Undangan Gaya PDIP

Oleh: Mula Harahap

Hal membuat konsep undangan pada pesta pernikahan Batak ternyata adalah urusan yang memusingkan, terutama dalam kaitan menetapkan nama- nama orang yang ikut sebagai pengundang.

Mula-mula kita harus bertengkar dulu dalam mengelompokkan nama-nama tersebut. Ada yang memakai sistem “ring”. Lelaki abang-beradik dan boru dari si empunya hajatan disebut sebagai “Ring I” dan diletakkan dalam susunan paling atas. Lalu lelaki abang-beradik dan boru yang tidak langsung atau merupakan saudara sepupu dari si empunya hajatan disebut “Ring II” dan diletakkan dalam urutan yang berikut. Begitulah seterusnya.

Ada pula orang yang memakai sistem: Semua yang terhitung abang-beradik (kandung atau bersaudara sepupu) dijajarkan lebih dulu, setelah itu baru semua yang terhitung boru (kandung atau bersaudara sepupu) ditempatkan di urutan berikut. Begitulah seterusnya.

Kemudian, kita harus bertengkar mengenai seberapa luas nama-nama si pengundang. Ada yang berpendapat bahwa karena pesta diadakan di Jakarta, maka biarlah mereka yang berdomisili di Jakarta saja yang menjadi pengundang. Tapi ada yang berpendapat, mengingat kedekatan
hubungan, maka entah dimana pun seseorang itu bermukim (di Antartika sekali pun) maka ia pantas dimasukkan sebagai pengundang walau pun ia tidak hadir dan tidak ikut ambil-bagian dalam pesta tersebut. Dan karena pada dasarnya orang Batak jaman dahulu itu tidak mengenal “KB” maka bagaimana memasukkan semua nama itu. Atau, kalau harus dterapkan
sistem perwakilan, maka bagaimana pula menetapkan siapa yang pantas menjadi perwakilan?

Kemudian, terlepas dari “Sistem Ring” atau “Urut Habis”, kita juga harus bertengkar lagi mengenai siapa yang paling tua (dalam hitungan silsilah–bukan umur) untuk ditempatkan di urutan yang lebih atas. Kalau sudah menyangkut ke garis “bapaknya kakek” atau “kakeknya
kakek”, maka generasi yang telah bermukim di luar kampung halaman acapkali mengalami kesulitan untuk menentukan siapa yang paling tua. Dan disinilah sering timbul persoalan (syukur-syukur bukan perkelahian). Undangan harus dikoreksi sampai sepuluh kali!

Kemudian, kita juga harus mencari tahu inisial nama-nama orang itu. Begitulah, walau pun namanya berbeda-beda–Mula, Monang, Matius dan Maruhum–tapi akan tetap ada empat “M. Harahap”. Bagaimana harus membedakannya?

Tentu saja hal itu bisa dibedakan dari nama isteri masing-masing. Tapi cilakanya, bagaimana pula kalau keempat “M. Harahap” itu sama-sama menikah dengan perempuan dari marga Hasibuan? (Dalam undangan biasanya akan ditulis dengan: “M.Harahap/br.Hasibuan”). Dan bagaimana pula urusannya, kalau keempat “M. Harahap” itu sama-sama bermukim di Jakarta?

Bagi orang yang telah memiliki cucu, urusan memang agak lebih gampang. Tentu saja “M.Harahap/br. Hasibuan (Ompu Ruth)” akan berbeda dengan “M. Harahap/br. Hasibuan (Ompu Purnama)”.

Kemudian, kita juga masih harus bertengkar tentang gelar dan pangkat seseorang. Ini adalah sesuatu yang “a must” dalam undangan orang Batak. Tapi di jaman modern ini gelar orang agak rumit–tidak cukup dengan “Ir”, “Drs”, “SH” dsb. Sekarang ada “SSi”, “SSn”, “SPgrn” dsb.
Bagaimana pula mengecek semua itu satu-persatu?

Kerumitan seperti di atas itu jugalah yang saya alami, ketika beberapa waktu yang lalu saya harus menyusun sebuah undangan untuk pesta pernikahan (adat) puteri saya.

Entah berapa kali saya harus mondar-mandir ke rumah amanguda dan amangtua saya. Dan semakin banyak saran yang saya dengar, semakin pusing kepala saya, dan semakin naik tekanan darah saya.

Akhirnya pada suatu titik, saya terpaksa menggunakan hak veto saya (emangnya yang punya pesta siapa?):

Daftar pengundang saya susun dalam “Sistem Ring”. (Ini sih masih masuk di akal).

Dan yang masuk dalam daftar hanyalah yang bermukim di Jakarta dan sekitarnya. (Karena memang merekalah yang nyata-nyata ambil bagian dalam pesta itu).

Semua nama ditulis secara lengkap–tidak dengan inisial. Nama isteri masing-masing pun ditulis secara lengkap. Kalau perempuan itu orang Tionghoa, nama Tionghoa-nya (kalau memang dipakainya) ditulis lengkap. Bukan seperti biasanya dalam undangan orang Batak: Boru Tamba.

Kemudian, bagi yang sudah punya cucu, tentu saja saya akan memasukkan panggilannya yang baru itu. (Ompu Purnama, misalnya).

Tapi dalam hal pangkat/gelar, terpaksa saya membuangnya. Harus saya akui, saya tak punya pulsa untuk melacak satu-persatu nama-nama tersebut dan mencari tahu gelarnya dan gelar isterinya. (Dalam urusan yang satu ini pun saya masih bertengkar dengan adik saya Pendeta Daniel Harahap. Katanya, kalau “STh” atau “MTh” boleh saja dicoret, tapi “Pdt” dan “St” itu agak lain. Karena yang mengetik undangan adalah dia, dan saya tak mau mencari gara-gara dengan semua orang, maka saya turuti saja permintaannya. He-he-he!).

Ketika undangan telah selesai dan beredar kemana-mana, tentu saja saya mendapat berbagai tanggapan dan komentar.

“Undangan ini hebat,” kata seorang amangtua saya. “Semua nama–suami isteri–ditulis secara lengkap.”

“Mengapa gelar dan pangkat orang tidak kau tulis?” tanya amanguda saya pula. “Orang sudah bersusah-payah untuk mendapatkan gelar dan pangkat itu….”

Tentu saja kepada amanguda saya tidak perlu saya katakan bahwa telepon di rumah sudah lama tewas (karena rekeningnya belum dibayar) dan saya tak punya pulsa HP untuk mengecek semua orang satu persatu. Kepada amanguda saya hanya berkata, “Akh, tanya saja Si Pendeta. Dia yang mengetik konsepnya…” Dan karena nama “pendeta” sudah dibawa-bawa, maka diamlah amanguda saya.

Tapi komentar yang paling menarik saya terima dari seorang lae (anak amangboru saya): “Undangan Lae ini hebat. Ini namanya undangan Gaya PDIP,” katanya. “Karena beginilah PDIP membuat undangan kalau nama Megawati ada di deretan paling atas. Semua harus menyesuaikan diri dengan gelar Megawati. Ha-ha-ha-ha!” [.]

4 responses to “Undangan Gaya PDIP

  1. Masih bertaburan kah di meja nyonya ?

  2. Singal Sihombing

    Apa maksud gelar spgrn, Lae. karena saya tertawa dan mungkin saja saya salah tertawa.

  3. Katherin Dalimunthe

    Salam perkenalan dari saya Voru Dalimunthe Parbada. Soalnya kalo di Tapsel ada 5 Boru Parbada:
    1. Boru Harahap. 2. Boru Dalimunthe . 3. Boru Lubis. 4. Boru Nasution . 5. Boru Hasibuan

  4. Katherin Dalimunthe

    Maaf, saya lupa, ada satu lagi . Ada 6 bukan 5. Boru Siregar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s