Ayah Maria

Oleh: Robert Fulghum

Saya sering berpikir-pikir tentang sosok kakek Yesus dari fihak ibu: Ayah Maria. Memang ia tak disebut-sebut di dalam Alkitab. Tapi ia tentu pernah eksis. Dan apa pun posisi teologi anda, perlu anda ingat, bahwa Alkitab penuh berisi kisah-kisah manusia yang sama seperti anda dan saya.

Bayangkan! Suatu malam ayah Maria pulang dari kerja dalam keadaan letih dan tiba di rumah. Isterinya dan puterinya sedang duduk di meja makan. Isterinya kelihatan murung. Udara di ruangan itu terasa berat. Maria sedang tertunduk di meja. Kepalanya tertumpu di atas kedua tangannya. Dia menangis.

“Ya?!”

“Dia hamil,” kata isterinya setengah berbisik.

“Ya?! Ini pasti ulah Si Yusuf. Mereka pasti sudah macam-macam.”

“Jangan begitu. Puterimu tidak semurah itu…”

“Ya?! Kalau begitu siapa?”

“Katanya….demi Tuhan….katanya….dengarkan baik-baik….Ada seorang malaikat Allah yang datang padanya di malam hari…Katanya….ada sosok yang memakai sayap masuk ke kamarnya dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan”

“Ya?!”

“Dan bukan hanya itu, tapi katanya ayah jabang bayi itu adalah Allah.”

“Ya?!”

“Dari tadi kau hanya ya-ya-ya-ya saja. Kau dengar tidak sih apa yang kukatakan?”

Dan tentu saja tidak. Ayah itu–sebagaimana halnya para ayah lainnya di muka bumi ini–tidak mendengarkan. Krisis komunikasi seperti ini terjadi dimana-mana. Sang ayah pulang dari kantor dalam keadaan letih. Isterinya dan puterinya sedang berada di dapur. Isterinya mengatakan begini. Isterinya mengatakan begitu. Tat-tat-tat-tat-tat! Dia tidak menyimak.

Tapi sebagaimana biasanya, beberapa saat kemudian otak si ayah mulai bisa mencerna apa yang masuk di telinganya. Dan karenanya juga ayah Maria pun berkata:

“APA TADI KAU BILANG?”

Dan pertanyaan seperti itu tentu bukan satu kali itu saja dilontarkannya. Selama bertahun-tahun kemudian peristiwa yang sama akan terjadi. Ayah Maria pulang dari pekerjaan dalam keadaan letih. Isterinya menyambut di pintu. “Ayah, tahu nggak apa yang dilakukan oleh cucumu hari ini?”

Isterinya berceloteh. Air menjadi anggur, berjalan di atas air, roti dan ikan, menyembuhkan orang di sana, menyembuhkan orang di sini. Tat-tat-tat-tat-tat!

Dan akan lebih sulit lagi bagi laki-laki itu kalau ia sedang duduk bersama para lelaki lainnya yang saling membanggakan kebolehan cucu masing-masing.

“Akh, dibandingkan dengan cucu saya, itu sih belum ada apa-apanya…” Tapi tentu saja mereka tak percaya.

Memang orang tak mudah percaya bila kita menceritakan kebolehan cucu kita. Orang pun tak terlalu perduli. Dan persoalan akan menjadi lebih sulit lagi bila kita mengatakan bahwa cucu kita itu adalah Yang Diurapi dan Anak Allah, yang berjalan di atas air.

Ya?!

Tentang Pengarang:

Robert Fulghum adalah seorang penulis, pemikir dan penceramah. Ia adalah seorang pendeta di sebuah jemaat kecil. Tapi ia juga pernah bekerja sebagai pelukis,wiraniaga IBM, penyanyi lagu-lagu rakyat, guru senirupa dan bartender. Ia juga adalah seorang ayah. Buku-bukunya “All I Really Need to Know I Learned in Kindergarten”, “It Was On Fire When I Lay Down On It”, “Uh-Oh” dan “Maybe (Maybe Not)” pernah masuk dalam daftar buku-buku terlaris New York Times. Ia menetap di Seattle, Washington. Esai tersebut di atas diambil dari bukunya “All I Really Need to Know I Learned In Kindergarten”. (Alih bahasa: Mula Harahap)

One response to “Ayah Maria

  1. Ya?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s