Kosarek

Oleh : Pdt. Daniel T.A. Harahap

Naik Capung di Langit Jayawijaya

Jam 10.30 WIT. Wamena. Pinggang dan bahuku terikat erat di bangku depan pesawat Cessna milik MAF (Mission Aviation Fellowship). Baling-baling pesawat itu sudah berputar kencang sekali. Mike meletakkan kopinya di atas kokpit, membetulkan letak kaca mata gelapnya, dan lantas tersenyum. Lelaki yang tadi membantu Mike mengisi avtur pesawat mengangkat jempolnya, kemudian berjalan mundur menjauhi pesawat. Aku menahan nafas. Pesawat capung itu pun bergerak pelan ke ujung landasan, berhenti sejenak mengumpulkan tenaga, lantas lari sekencang-kencangnya di landas pacu berangin. Tiba-tiba saja aku merasa tubuh dan jiwaku sudah melayang-layang di atas lembah Baliem, Jayawijaya.

Aku kecut tapi excited sekali. Seumur hidup aku belum pernah naik pesawat kecil, yang sewaktu kanak-kanak kami sebut “pesawat capung”. Bangga campur gemetar. Takut-takut nikmat. Pesawat mungil itu menari-nari di sela-sela pegunungan belantara Jayawijaya. Perasaanku pesawat itu terbang rendah sekali, sepertinya hanya beberapa puluh meter di atas kanopi, dan itu membuat aku takut sekali suatu saat dia menabrak pepohonan dan kami berempat segera remuk berkeping-keping. Namun kadang tiba-tiba saja kami malah terbang menaik tinggi mengatasi gunung, lari terbirit-birit menghindar gumpalan awan putih, kemudian balik terbang merendah kembali sehingga aku bebas menikmati alur-alur sungai jernih gemercik atau kawanan burung terbang. Persis bermain-main. Ya, perasaanku, aku ibarat seekor burung kecil yang sedang belajar terbang mengudara di atas angkasa tak berbatas, setiap saat bisa saja jatuh, dan yang paling kukuatirkan aku dinyatakan hilang di tengah rimba pedalaman Papua ini.

Sabar, Bapa, kita cari sekali lagi, kata pilot bernama Mike. Aku tak mengerti apa yang dicarinya. Katanya lubang awan, supaya kami bisa mendarat. Lubang awan? Pesawat mungil itu pun menengadahkan moncongnya ke langit, terbang naik, kemudian memutar jauh sekali lagi. Aku tak bisa melihat apa-apa di bawah kecuali gumpalan-gumpalan awan tebal. Tiba-tiba pesawat itu menukik cepat sekali. Aku hanya mampu berdoa pasrah: Tuhan selamatkan jiwaku. Gedebruk, pesawat itu terasa menyentuh bidang keras, kemudian lari terguncang-guncang dan melompat-lompat kecil. Aku melihat di depanku membentang landasan tanah merah di tengah rimba hijau. Kita sudah sampai Bapa, kata Mike, senyum dan lantas menghirup kopinya nikmat sekali. Terima kasih Pak, kataku.

Aku segera dibantu Mike melepaskan sabukku. Oala. Di luar pesawat rupanya banyak sekali orang berkerumun. Wajah-wajah bulat, mata bening, rambut keriting, tubuh-tubuh hitam dan telanjang. Ya ampun. Seumur hidup aku belum pernah dikerumuni oleh laki-laki dan perempuan yang hanya menutupi kelaminnya saja. Mereka menebar senyum ramah dengan gigi-gigi putihnya. Ya Tuhan, dimanakah aku berada? Aku berdiri terpana menyaksikan pemandangan aneh bin ajaib ini. Rasanya aku sedang berada di dunia fantasi saja.

Seorang lelaki berkaos oblong menghampiriku: “Selamat datang di pintu surga”, sambutnya sambil senyum. Dia adalah Pdt. Herman Saut, pendeta penginjil di pos Apahapsili, lembah Yali Jayawijaya. Aku membalas senyum dan jabat tangannya, kemudian permisi sejenak mengeluarkan ranselku. Pdt Herman dan Mike tampak akrab, mereka ngobrol. Namun rupanya ada masalah: ada penumpang jatuh dan tidak ketahuan dimana. Apa? Dari Wamena selain aku, ada seorang perempuan dan anaknya, dan selain itu seekor babi. Yang terakhir ini tadi dimasukkan ke bagasi bawah pesawat, dan setelah mendarat tidak ditemukan. Mungkin babi itu jatuh entah dimana. Mike geleng-geleng kepala, penduduk yang mengerumuni kami terdengar riuh mungkin mendiskusikan insiden babi jatuh itu. Aku senyum geli. Baru kali ini aku terbang bersama seekor babi, namun sayang sekali ia bernasib nahas.
Namun Mike sudah siap-siap terbang lagi. Mantan pilot pesawat tempur AS di perang Vietnam ini tampak sangat menghayati tugasnya sebagai pilot pesawat missi di pedalaman Papua. Wajahnya yang kemerah-merahan tak pernah lekang dari senyum keramahan. Dari balik jendela pesawat tampak ia melambai. Pesawat capungku itu pun terbang lagi dan menghilang dibalik bukit diantar ratusan tatap mata kagum dan ingin tahu. Pdt Herman Saut lantas mengajakku ke rumahnya yang terletak di atas bukit kecil tak jauh dari landasan. Seorang pemuda dengan sukarela membantu membawa ranselku. Aku baru sadar landasan itu memang benar-benar dari tanah dan tanpa menara pengawas, dan yang paling menakutkan berada di bibir jurang dalam. Syukurlah Tuhan masih baik kepadaku.

Apahapsili hanyalah persinggahanku. Aku masih harus terbang lagi besok kurang lebih dua puluh menit ke timur. Namun malam ini aku dijamu oleh Keluarga Pdt Herman Saut di rumah kayunya. Dia bercerita banyak tentang kehidupan penginjil di pedalaman Papua. Konon pos Angguruk dibuka oleh seorang missionaris Jerman bernama Gunther Kreiss. Dia diturunkan dengan heli memakai tali. Namun belum sampai ke tanah sang missionaris sudah dihujani panah dan tombak, dan karena itu dalam keadaan luka-luka ditarik kembali dan segera dilarikan ke Biak lantas dari sana diterbangkan ke RS Singapura. Beberapa bulan kemudian Gunther Kreiss sembuh, dia datang lagi ke Angguruk, dan diterjunkan lagi ke hutan belantara itu. Dan ia berhasil membuka isolasi berabad-abad suku Yali dari dunia luar, dan memperkenalkan Injil kepada mereka.

Kumbang Besi

Keesokan harinya aku harus berangkat lagi. Sebuah helikopter mungil sudah dipanggil khusus untuk mengantar aku ke posku di Kosarek, di lembah Yalimo dekat perbatasan PNG. Pilotnya juga Amerika, aku lupa namanya, katanya juga mantan tentara AS di Vietnam, dan juga ramah, dan fasih berbahasa Indonesia. Ia membantuku mengikatkan tali sabuk di pinggang dan bahu. Diantar lambaian tangan Pdt Herman Saut dan puluhan penduduk Apahapsili, kumbang besi itu pun segera terangkat dari tanah, dan mengayun sesaat, kemudian terbang ke arah Timur, melintas padang kanguru, sungai-sungai bening, dan rimba tropika Jayawijaya yang luar biasa indah, namun sayang tak sepenuhnya bisa kunikmati karena aku takut sekali mati.

Kosarek, Kosarek.. Kau yang Terkecil di Lembah Yali

Aku tiba di Kosarek siang hari mendung berawan, disambut oleh hampir seratus orang yang sebagian besar menurutku berpakaian sangat aneh. Laki-lakinya bertelanjang dada, mengenakan gulungan rotan di pinggang, dan koteka atau penutup penis. Perempuannya juga bertelanjang dada, dan hanya mengenakan cawat rumput sangat minim. Beberapa orang mengenakan pakaian “moderen” kumal lusuh. Aku menarik nafas dan mengatakan kepada diriku berulang-ulang agar tidak memberikan penilaian moral kepada apa yang kuanggap aneh ini. Aku akan belajar menerima semua keasingan ini secara ikhlas, mencoba memahaminya dan bersimpati.

Seorang lelaki atletis, berbaju olahraga biru, berjanggut, menyambutku. “Selamat datang di Kosarek. Saya Pdt Max Kafiar”. Aku pun mengulurkan tanganku, “saya Daniel Harahap, mahasiswa STT”. “Ya, kami sangat senang, ini pertama kali seorang mahasiswa STT berpraktek di pedalaman Papua”.

Sambil berjalan diiringi oleh penduduk desa yang ingin tahu, Pdy Max menceritakan kepadaku bahwa Kosarek adalah sebuah Pos Pekabaran Injil yang baru saja dibuka sepuluh tahun lalu, kira-kira tahun 1976, sebab itu kondisinya benar-benar minim. Terletak di lembah Yalimo di urat pegunungan Jayawijaya, Kosarek dihuni oleh suku Mek. Ya namanya suku Mek. Sebelum Injil datang membuka isolasi berabad-abad, suku Mek benar-benar masih hidup di jaman batu. Mereka belum mengenal logam, apalagi plastik. Suku ini membangun rumah-rumahnya (honay) yang terbuat dari rotan dan gelagah di atas urat-urat gunung, dan hidup dari berburu, mengumpul hasil hutan, dan bercocok tanam sederhana.

Kosarek sendiri terdiri dari belasan kampung kecil yang dibangun di atas punggung bukit-bukit yang berjarak tempuh tiga sampai dua belas jam. Namun jangan bayangkan Kosarek sebuah desa seperti di Jawa atau Sumatera. Kosarek benar-benar terpencil, hanya bisa dijangkau dengan pesawat capung atau heli kumbang tadi. (katanya penduduk asli bisa jalan kaki dari Wamena tiga hari tiga malam melewati gunung salju). Disini tidak ada sekolah, tidak ada puskesmas, tidak ada listrik dan tidak ada telepon, tidak ada polisi, tidak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa, kecuali kita, gereja. Aku menghela nafas dan mengulang-ulang kalimat itu dalam hatiku bagai litani: di sini tidak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa kecuali gereja.

Sendiri di Dunia

Oleh Pdt Max Kafiar aku diberikan sebuah pondok kayu berukuran 4 x 6 meter, yang terpisah kurang lebih seratus meter dari rumahnya di bukit di atas lapangan terbang. Pondok itu berlantai tanah dikeraskan, dindingnya batang-batang kayu dibelah, sementara atapnya terbuat dari seng. Pondok terdiri dari sebuah “ruang tidur”, sebuah “ruang tamu” dan “dapur”. Sengaja kuberi “tanda petik” karena kondisinya yang sungguh-sungguh minim. Aku langsung membayangkan pondok Robinson Crouse yang hidup sendirian di pulau terpencil. Perabotannya hanyalah sebuah bale-bale dan meja yang ditempelkan ke dinding, semua dari kayu tanpa amplas apalagi pelitur. Listrik hanya ada dalam mimpi. Air harus diusung dari jeram kecil di atas bukit belakang rumah. Ya, itulah milikku di pedalaman Papua ini. Aku ikhlas di hati.

Merah senja berganti biru gelap malam. Suara-suara burung sore tak terdengar lagi. Aku pun masuk ke pondokku. Pesan Pdt Max Kafiar: jangan kunci dapur. Aku tak mengerti apa maksudnya, namun kuturuti saja. Tapi, ruang tamu kugrendel dengan palang kayu. Lantas aku ku menyalakan lilin yang sudah kupersiapkan dari Jayapura. Terdiam. Merenung dan melamun sendiri. Begini ini rupanya pedalaman Papua, kataku dalam hati. Ini sudah tahun 1986: namun di pedalaman sini masih jaman batu. Alangkah prihatinnya. Alangkah jauhnya. Aku teringat lagi pertemuan tiga hari lalu di Jayapura, di kantor Sinode GKI Irian Jaya. Kami ada tiga orang mahasiswa STT Jakarta yang nekad berpraktek lapangan ke Irian (sebutan Papua jaman itu). Yaitu: Rimma Siahaan, cewek Batak beraksen Toli-toli dan Cliff Sahetappy, si Ambon penyanyi. Sekertaris Umum Sinode Pdt Karl Erari menawarkan kepada kami memilih sendiri tempat praktek, sebab Irian luas sekali. Cliff langsung memilih Biak, entah kenapa dia memilihnya. Rimma mengatakan terserah, dan dia dipilihkan di kampung air di danau Sentani, tak jauh dari Jayapura, mungkin karena dia perempuan. Terakhir aku ditanya: aku hanya ingin punya pengalaman hidup di pedalaman. Pdt Sawen Ketua Sinode tertawa, “oh bagus, besok pagi bisa langsung berangkat, ada satu pos Pekabaran Injil yang belum sepuluh tahun dibuka, itu tempat bagus, namanya Kosarek, di lembah Yalimo, sudah dekat ke Papua Nugini”. Jadilah aku berangkat ke Kosarek ini. Sebab itu aku tak ingin mengeluhkan apalagi menyesali kondisi apapun yang kujumpai sebagai konsekuensi pilihan sendiri. Tapi kenapa malam ini begitu gelap dan sunyi?

Aku tidak mau bohong, aku sangat takut. Ya, aku ciut sekali. Ketakutan seorang yang merasa sendiri di tengah kegelapan dan dunia asing. Malam itu aku tidak bisa tidur sama sekali. Perasaanku di luar sana ada terlalu banyak bunyi, dan aku tidak tahu itu bunyi apa, dan celakanya bunyi-bunyi aneh itu sangat dekat, bahkan terasa mengais-ais dinding, mendebar atap juga mengorek lantai dari bawah tanah. Aku langsung membayangkan bermacam-macam binatang buas: harimau, beruang, singa, dan badak. Ampun ngerinya. Tapi bodoh sekali. Mana ada di Papua binatang-bintang itu kataku sambil senyum sendiri. Lantas itu bunyi apa? Hantu-hantu hutan belantara? Aku tak percaya hantu, tapi siapa tahu. Ular? Itu yang paling kutakutkan dan itu nyata-nyata ada di sini. Aku pernah mendengar cerita tentang ular berkaki di hutan Irian. Bagaimana kalau ular berkakiu itu nanti masuk lewat celah dinding dan menyelusup ke kantong tidurku? Mengenakan sweater, kupluk dan celana training aku meringkuk dalam sleeping bag dan berdoa semoga Tuhan ada di sini.

Pasar Perjumpaan

Pagi tiba. Udara masih dingin sekali. Aku pun keluar pondokku, terasa segar sekali. Matahari bersinar dari balik bukit menghangatkan tubuh dan jiwaku. Suasana ramai sekali. Burung-burung nuri hijau dan merah ribut sekali di pohon dekat pondok. Aku tiba-tiba merasa seperti berada di Taman Firdaus, sebelum Adam dan Hawa berbuat dosa. Namun ada pemandangan unik. Aku melihat iring-iringan orang berjalan dari segala penjuru, menuju satu titik: lapangan terbang. Ada apa gerangan, tanyaku.
Kata Pdt Kafiar yang datang menjengukku ini hari pasar, dilakukan sekali seminggu, saban Jumat. Mari kita lihat! Masyarakat suku Mek dari kampung-kampung yang jauh turun ke “pusat desa” membawa hasil kebun dan buruannya. Pisang, talas, ubi jalar, singkong, daging babi dan tembakau, dan macam-macam lain digelar di tanah. Aku langsung gembira. Ini even menarik sekali. Transaksi pasar ternyata bisa dilakukan dengan dua cara: barter atau dengan uang. Gereja sudah memperkenalkan uang kepada penduduk asli dan mereka sudah menggunakannya sebagai alat tukar.

Aku pun ikut bergabung di antara kerumunan penjual merangkap pembeli. Asyik sekali melihat-lihat, tapi saban-saban aku merasa geli tersenggol koteka. Aku juga tidak berani terlalu dekat dengan perempuan-perempuan mengenakan monokini dari anyaman rumput. Aku bingung mau beli apa. Mataku tak habis pikir melihat mereka juga menjual daging kuskus, burung merpati mahkota, dan nuri hijau. Oala. Apa mereka tidak tahu ini binatang langka yang harus dilindungi? Bingung tidak tahu mau belanja apa, akhirnya aku membeli pisang dua tandan (baca: dua tandan) dan ubi jalar entah berapa kilo. Harganya murah sekali. Tapi, aku balik lagi ke pasar itu. Kupikir aku tidak mungkin hanya makan pisang dan ubi. Aku pun membeli daging babi dan jantung pisang. Aku tiba-tiba saja ingat, entah dimana, aku pernah makan daging babi cincang dan jantung pisang, lezat sekali. Pahit-pahit manis.
(Siangnya aku pun masak: daging babi cincang campur jantung pisang! Air liurku langsung terbit bahkan sebelum masakan itu jadi. Lezat sekali. Namun malamnya perutku melilit. Benar-benar melilit, sepanjang malam. Kapok.)

Kampus Baru Teologi

Sewaktu aku datang, Kosarek belum sepuluh tahun dibuka. Karena itu kontak dengan dunia luar masih sangat minim. Di Kosarek belum ada domba, ayam, sapi. Juga tak ada padi, sebab itu tidak ada beras. Minyak tanah dan minyak goreng (untuk pendeta penginjil) didatangkan dari Wamena atau langsung Jayapura dengan pesawat missi. Gereja punya sebuah toko kecil menjual parang, cangkul, pisau, sekop, panci, garam, sabun, margarin, minyak tanah, dan lilin. Sebelumnya penduduk tidak mengenal sama sekali benda-benda itu. Apa yang harus kulakukan disini? Aku bingung sekali. Rasanya semua pengetahuan dan kepintaranku yang kubawa dari Jakarta runtuh dan remuk seketika dibenturkan dengan realitas hidup pedalaman ini.

Bagaimana pula mengajar Alkitab kepada suku Mek? Menurut Pdt Max Alkitab bahasa Mek baru saja diterjemahkan, dan baru ada Injil Lukas. Bagaimana aku bisa menceritakan tentang Yesus kepada suku yang baru keluar dari isolasi ribuan tahun ini? Yesus Pokok Anggur yang benar? Mereka sama sekali tidak kenal pohon anggur. Yesus Anak Domba Allah? Mereka juga tidak tahu apakah itu domba. Kekudusan pernikahan dan hidup berkeluarga? Mereka hidup di honay terpisah. Laki-laki berkumpul di satu honay dan perempuan yang sudah beranak tinggal di honay masing-masing dengan anaknya yang masih bayi dan babi-babi, dan hanya bertemu saat-saat khusus di ladang atau hutan untuk berhubungan seks. Lantas apa yang mesti kuajarkan? Tidak ada. Aku tidak perlu mengajar di sini, aku justru yang harus belajar lagi: tentang hidup, manusia, alam dan Tuhan. Ya, Kosarek tersedia sebagai kampus baru teologi bagiku.

Koteka dan Holem

Koteka adalah celana laki-laki pedalaman. Sarung penutup penis. Koteka terbuat dari sejenis labu yang bentuknya memanjang. Labu ini bila mengering kulitnya mengeras dan ringan, sehingga pas bila disarungkan menutup penis. Semacam celana begitu. Luther, asistenku selama di Kosarek, mengajarku cara membuat koteka. Labu itu dipanasi diatas api sambil diputar-putar sampai isinya mendidih dan menggelegak lantas dengan mudah ditarik keluar. Tinggallah kulit labu yang keras namun ringan sekali. Tinggal dibersihkan dan digosok-gosok sampai mengkilap berwarna kuning kecoklatan, kemudian diberi tali untuk diikatkan ke pinggang agar tak mudah lepas. Lantas koteka pun siap dikenakan oleh para lelaki pedalaman.

Namun aku baru tahu bahwa koteka macam-macam, persis seperti model celana di kota. Laki-laki Mek juga ingin modis rupanya. Kadang ada yang menghiasinya dengan bendera kecil. Lucu sekali. Luther mengatakan padaku memakai koteka juga ada aturannya. Koteka pemuda-pemuda panjang lurus gagah sekali, namun koteka orang tua melengkung seperti tanduk, dan koteka anak-anak cukup pendek.

Namun laki-laki sebagian laki-laki Mek masih mengenakan sarung lain, yaitu gulungan rotan yang dililit ke pinggang. Unik. Mereka juga suka memakai hiasan anting di hidung yang terbuat dari taring babi. Gagah sekali.

Bagaimana dengan wanita Mek? Berbeda dengan wanita suku Yali dan Dani yang memakai rok rumbai-rumbai, para wanita Mek dewasa dan anak-anak memakai holem, yaitu cawat minim yang dianyam dari rumput. Modis dan seksi. Bra? Tidak perlu.
Namun sekali lagi kepalaku dibuka untuk melihat kebenaran-kebenaran tersembunyi. Tadinya aku sukar membayangkan bagaimana hidup orang-orang dari “kamp nudis” purba ini. Aku bertanya kepada Pdt Max Kafiar apakah di sini sering terjadi pemerkosaan atau pelecehan seksual? Dia menggeleng. Tidak pernah sama sekali. Sekali lagi: tidak pernah. Lantas kalau begitu siapa yang salah? Aku kini mengerti: orang-orang kota yang selalu memandang orang lain dengan pikirannya yang jorok. Sejak saat itulah aku tidak lagi pernah terganggu dengan pakaian apapun yang dikenakan seseorang. Mode pakaian tidak ada hubungannya dengan moralitas apalagi iman. Koteka atau jas sama saja. Holem atau gaun tidak ada bedanya. Yang penting adalah isi kepala seseorang yang dinyatakan atau disimpan diam-diam.

(Sampai aku menjadi pendeta hkbp, sampai sekarang, aku tidak pernah mempersoalkan mode pakaian yang dikenakan apalagi oleh perempuan ke gereja. Silahkan saja. Ini negeri merdeka).

Material Contact

Dari Jayapura aku sudah dipesankan agar membawa bahan kontak (material contact) terutama: garam. Di pedalaman garam sangat susah didapatkan. Ada memang sumber garam di pegunungan, namun kualitasnya sangat rendah dan tentu saja minus iodium, sehingga pantas saja banyak penduduk pedalaman Papua mengalami sakit gondok. Sebab itu mereka sangat membutuhkan garam. Namun satu-satunya transportasi ke pedalaman adalah pesawat missi, dan garam yang bisa diangkut tentulah sangat terbatas. Aneh sekali. Di Medan di kampungku atau di Jakarta setahuku garam tak berharga, bisa dibuang seenaknya, namun disini benar-benar bernilai. Sebab itu memiliki 5 kilogram garam benar-benar kaya! Aha. Naluri bisnisku pun segera muncul. Aku bisa menukar segenggam garamku dengan ubi, talas, pisang atau koteka. Asyik sekali.

Namun dalam perjalanan ke desa-desa aku selalu membawa garam itu sebagai bahan kontak. Yaitu “buah tangan” yang diperlukan untuk memulai percakapan. Tadinya aku tidak paham mengapa untuk berkomunikasi kita harus memerlukan materi. Kupikir ini hanya mengajari penduduk sederhana ini berpikir materialistik. Tapi, tiba-tiba aku sadar bahwa aku berada di sebuah dunia yang berabad-abad terisolir. Aku adalah mahluk asing di sini. Mungkin seperti mahluk luar angkasa yang kesasar di bumi Mek. Apakah tandanya bagi mereka bahwa aku bukan musuh atau ancaman? Ya, bahan kontak itulah. Dengan memberikan segenggam garam aku ternyata telah memberikan sebuah simbol persahabatan. Aku bukan musuh. Aku adalah kawan yang ingin diterima dalam komunitas purba ini. Selain garam, bahan kontak lain adalah tembakau atau rokok. Kini aku pun bisa duduk bersama mereka menghadap perapian melawan dingin, walaupun tak mengerti apa yang mereka percakapkan.

Sermon Bubar

Kosarek hanya memiliki seorang pendeta. Dialah Pdt Max Kafiar. Dia dipanggil Bapa. Dan memang bapa bagi jemaat pedalaman ini. Dalam tugasnya ia dibantu oleh para guru injil. Sebagian mereka adalah juga orang pedalaman, namun bukan asli Kosarek. Sebagian lagi direkrut dari penduduk lokal. Guru-guru Injil ini tersebar di desa-desa yang jauh namun berjumpa sekali dalam seminggu, yaitu hari Jumat: sehabis pasar. Kami kumpul di sebuah panglong. Tidak ada kursi dan meja. Kami hanya duduk di tumpukan kayu, sebagian di tanah. Namun ada papan tulis. Bahannya adalah Injil Lukas yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Mek. Injil stensilan.

Aku berpikir keras apakah yang bisa kulakukan di desa sederhana ini, selain belajar. Akhirnya aku menemukan ide: mengajar baca-tulis. Pdt Max Kafiar setuju. Aku pun memakai waktu sesudah sermon untuk kursus baca-tulis. Tiba-tiba aku ingat bagaimana Paolo Fraire mengajar petani-petani buta huruf di Brasil dengan sangat cepat: memulai dari kata-kata bermakna. Bukan sekedar ba-bi-bo-bu. Aku pun dengan bantuan penterjemah meminta mereka mengusulkan kata-kata yang hendak ditulis. Mereka semangat. Mo. Artinya: matahari. Wai. Salam. Aku gembira. Kehadiranku di sini minimal ada sedikit gunanya. Tapi tiba-tiba terdengar dengungan pesawat capung hendak mendarat. Peserta kursus bubar. Semua berlari ke landasan menyambut pesawat dan mengejarnya sampai berhenti ke ujung landasan. Aku pun ikut-ikutan mengejar pesawat dan melihat-lihat apakah ada surat untukku. (sampai aku pulang ternyata tidak ada). Tapi aku puas bisa melihat burung besi datang.

Doa Syafaat Orang-orang Tak Berdaya

Sore. Bersama Pdt Kafiar aku duduk di ujung landasan di bibir jurang, memandang ke sekeliling, ke bukit-bukit yang jauh. Hampir di tiap puncak bukit ada asap membubung. Aku tahu bahwa di tiap puncak bukit-bukit itu penduduk Kosarek membangun kampungnya. Jaraknya dari pos PI paling dekat ditempuh tiga jam jalan kaki, dan paling lama bisa lebih dari dua belas jam. Namun aku tak paham mengapa begitu banyak asap. Tapi Pdt Kafiar langsung tertunduk, wajahnya layu sekali. Itu asap pembakaran mayat, katanya. Satu asap satu mayat. Wabah disentri menyerang lagi! Ya Tuhan, dimanakah Engkau ketika maut datang menerkam?

Aku termenung dan ikut diam, menatap kuasa maut yang begitu berkuasa. Di Kosarek tidak ada dokter. Tidak ada perawat. Tidak ada negara. Yang ada hanyalah seorang pendeta yang terbatas sekali dayanya. Tiba-tiba aku merasa tak berdaya sama sekali. Aku merasa begitu kecil dan tak berarti sama sekali. Aku hanya anak manusia. Lama-lama, aku tak kuat lagi menatap asap-asap di kejauhan itu. Hatiku kacau sekali. Marah dan sedih. Frustrasi. Apatis. Aku hanya menunduk mencabuti rumput-rumput dekatku. Tiba-tiba Pdt Kafiar mengajakku berdoa di padang itu. Tak ada yang bisa kita lakukan, tapi kita masih bisa berdoa. Kami sujud menyerah kalah, menengadahkan syafaat kepada Allah yang maha rahmani. Angin berdesir kencang.

Sayangilah Babi

Tak jauh dari rumahku ada kampung. Luther mengajakku ke sana. Aku berjumpa seorang anak sedih sekali. Kutanya Luther kenapa dia gerangan? Menurut Luther babinya kena luka bakar, dan parah sekali. Si anak berdoa kepada Tuhan Yesus agar babinya disembuhkan. Begitulah cerita di gereja. Aku geli campur prihatin. Belum pernah aku mendoakan seekor babi. Namun iman si anak ternyata benar. Dua minggu kemudian kudengar dari Luther babinya sembuh. Tuhan Yesus mendengar doanya. Aku merasa malu.
Apalah seekor babi. Itu bagiku. Tidak bagi masyarakat pedalaman. Mereka sangat sayang kepada babinya. Bahkan perempuan Mek tinggal bersama babinya di honay yang sama, dan selalu membawa anak babinya di noken (tas anyaman akar) bila jalan ke pasar. Aku tidak pernah melihatnya secara langsung, namun katanya perempuan Mek juga menyusui babinya. Ya ampun. Kabar apa lagi ini. Aku semakin takjub saja. Kepalaku tiba-tiba terbuka sadar betapa dunia ini luas sekali, dan perspektif atau sudut pandangku selama ini ternyata sempit sekali. Apa salahnya sayang kepada seekor babi tanyaku berulang-ulang.

(Setahun kemudian, aku menerima surat dari Robert Boehlke, guru besarku di STT yang sudah kembali ke negeri asalnya Amerika. Dia baru saja menjalani operasi jantung, klep jantungnya harus diganti dengan klep jantung seekor babi. Sebab itu seekor babi harus disembelih untuk menyelamatkan nyawa Pdt Prof Robert Boehlke. Di suratnya Boehlke menulis: kini saya lebih respek kepada babi.)

Perjamuan Kudus

Lagu poliponi serasa merdu sekali. Aku tak mengerti artinya, namun tiap-tiap kali pemandu lagu membacakan kalimat-kalimat berisi Yesu (Yesus), jemaat spontan menyambut. Kami semua duduk di gereja tanah. Alas jerami. Pdt Kafiar duduk di batu dekat mimbar kayu reot. Seorang lelaki beranting taring babi di hidung datang terlambat membawa anjingnya masuk dan duduk di sebelahku. Aku duduk tenang. Sakramen Perjamuan Kudus hendak dilayankan. Seorang penatua berkoteka mengangkat tinggi piring kaleng berisi potongan ubi jalar rebus lantas mengucapkan formula konsekrasi dalam bahas Mek, “inilah tubuhKu yang diserahkan untuk kamu, ambillah dan makanlah”, lantas piring itu pun diedarkan. Aku menundukkan kepala takzim. Hatiku merinding. Kedua telapak tanganku kusatukan menampung potongan Tubuh Kudus Tuhanku Yesus yang mati tersalib. Aku memakannya sambil menangis. Dia ada di pedalaman sini saat ini.

Lantas, penatua itu mengangkat tinggi-tinggi dua bilah bambu berisi air putih sambil mengucapkan formula konsekrasi sakramen kudus: “Inilah darahKu yang ditumpahkan untuk keampunan dosamu, ambillah dan minumlah”. Bambu itu pun diedarkan. Aku ingin menjerit. Darahku berdesir kencang sekali. Batinku menangis. Aku meraih bambu berisi air bening darah Tuhanku itu dengan hormat dan meneguknya. Amin. Di pedalaman ini dosaku telah diampuni, dan aku menerima hidup baru dari Tuhanku. Dia sungguh ada di sini. Kini.

Harga Diri Orang Pedalaman

Aku sudah mau pulang ke Jakarta, dan aku malas membawa pulang kaos-kaos T-shirt ku yang sebagian sudah kucel dan penuh bercak getah. Aku ingin membaginya saja kepada penduduk Kosarek, sebagai oleh-oleh dan kenang-kenangan. Tapi Pdt Max Kafiar melarangku. Jual saja, katanya. Aku tak mengerti. “Ya, supaya penduduk Kosarek tetap punya harga diri berhadapan dengan orang luar”. O hebat sekali. Aku pun dengan senang hati menjualnya. Kutukar saja dengan noken (tas anyaman akar yang biasa digantung di kepala), tatakan piring, pisang atau koteka. Lumayan. Aku tak perlu lagi beli oleh-oleh. Asyik sekali.

Perjamuan Malam Terakhir

Ini adalah malam terakhir aku di Kosarek. Aku diajak makan malam oleh Keluarga Pdt Kafiar. Di depan meja kami hanya ada ubi jalar. Nasi sudah habis. Lauk tak ada sama sekali. Schedulle pesawat MAF dua bulan terakhir kacau karena dua pesawatnya jatuh, akibatnya pengiriman logistik ke pedalaman benar-benar terganggu. Malam itu kami tidak punya makan malam apa-apa lagi, kecuali ubi rebus. Pdt Kafiar, istrinya, ketiga anaknya, dan aku duduk diam.

Makan malam hanya dengan ubi jalar? Aku menunggu. Kuingat kebiasaanku di Medan dulu kami hanya berdoa kalau makan nasi. Pdt Kafiar mengajak kami berdoa. Mari kita berdoa, katanya. Dan doanya itu tidak bisa kulupakan seumur hidupku:
“Ya Tuhan, malam yang dingin dan gelap adalah bagian hidup kami di pedalaman ini, kami tidak meminta Engkau mengadakan mujizat besar untuk menyingkirkan malam dan gelap, namun satu hal kami minta tinggallah bersama kami di sini. Amin.”
Mataku basah mengaminkannya. Itulah doa paling tulus dan ikhlas kudengar sepanjang hidupku. Doa seorang hamba Tuhan yang setia yang hidup jauh dari kenikmatan dan kemewahan.

Perpisahan dan Atap Seng Berkilauan

Waktuku sudah habis. Aku harus pulang ke Jakarta kuliah dan bermain, dan bersenang-senang lagi. Tapi Pdt Max Kafiar dan keluarganya, guru-guru Injil itu tetap tinggal di Kosarek ini. Perasaanku sendu sekali. Aku tak gembira sama sekali pulang ke Jakarta. Persis seperti orang yang berhutang besar atau melarikan diri ketika teman-temannya menderita. Di atas helikopter yang khusus dipanggil Pdt Kafiar memakai Radio SSB untuk menjemputku aku hanya terdiam menggigit bibir. Hutan belantara pedalaman Papua itu terasa gelap sekali. Setiap kali aku melihat atap seng berkilauan di tengah belantara hijau gelap itu, air mataku menetes. Itu pasti gereja dan rumah para pekabar Injil. Di bawah seng berkilau itu ada hamba-hamba Tuhan yang bertahan di pedalaman. Aku akan pulang ke Jakarta bersenang-senang lagi dengan segala kenikmatan kota, sementara mereka bertahan menjadikan gelap dan dingin sebagai bagian hidupnya. Demi Injil. Siapakah aku ini?

Aku mampir di Wamena. Selain ingin melihat mummie sebelum pulang, istri Pdt Kafiar menitipkan dua jeriken kosong bekas minyak goreng untuk dibawa ke rumah ibunya di Wamena. Diantar oleh Pdt Alex Auparay aku mencari dan mengetuk pintu rumah orangtua tersebut. Begitu melihatku menenteng jeriken Ibu mertua Pdt Kafiar yang sudah lanjut usia itu langsung menangis. Aku bingung sekali. Apa gerangan yang terjadi? Dia lantas menunjuk dua jeriken kosong yang kubawa. “Itu tanda bahwa di pedalaman sudah tak ada makanan” katanya. Aku ikut menangis. Eloi, eloi, lama sabakhtani? Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan aku?

Tentang Pengarang:

Daniel Tarulis Asi Harahap adalah pendeta HKBP. Disamping melakukan tugas-tugas utamanya sebagai pendeta, maka di waktu luangnya ia banyak menulis. Ia menulis tentang iman, etika, kehidupan gereja, dan tentang apa saja, dengan gaya yang populer dan terutama ditujukan bagi orang-orang muda. Tulisan-tulisannya sebagian dikumpulkannya dalam situs pribadinya http://rumametmet.com. Sebagian dari tulisannya, yang merupakan kisah perjalaan hidupnya, telah diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul “Anak Penyu Menggapai Laut– Pengembaraan Seorang Muda Belajar Teologi, Menjadi Pendeta dan Pribadi Otentik”. (Diterbitkan oleh “Pustaka Kampung Baru” Jakarta). Tulisan yang berjudul “Kosarek” ini dicuplik dari buku dengan judul yang sama.

4 responses to “Kosarek

  1. Amanda Hutabarat

    Horas amangboru,, tulisan ini menyentuh hati saya sampai bagian terdalam,, bahkan saya juga ingin menangis saat membayangkan melakukan perjamuan kudus di tempat yang sesederhana itu pasti Tuhan terasa lebih “dekat” lagi,, Terima kasih untuk tulisan ini yang begitu memberkati saya,, GBU

  2. Dahsyat perjalananmu, sobat. Aku terharu n tergugah. Salam kenal.

  3. Salam dari kami…..! Pace ….. ko hebat, ko tulis tentang kampungku Kosarek, hatiku hampir rusak atau terharu membaca perjalananmu di Kosarek. Kampungku memang kecil tetapi banyak memberi kesan kepada pengunjung maupun siapa saja.

  4. Waaa…nikngi. Saya senang kisah perjalanan sebagai hamba Tuhan di negeriku Yali (Apahapsili) dan Mek (Kosarek). Sangat menarik untuk dibaca, dan mengesankan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s