Teruskan

Oleh: Robert Fulghum

V.P. Menon adalah seorang tokoh terkemuka di India pada saat negara tersebut sedang berjuang merebut kemerdekannya dari Inggeris selepas Perang Dunia II. Ia adalah pegawai pribumi yang paling tinggi jabatannya dalam pemerintan kolonial, dan dia jugalah orang yang diandalkan oleh Lord Mounbatten untuk menyusun konsep terakhir pasal-pasal perjanjian kemerdekaan negara tersebut. Dibandingkan dengan para pemimpin gerakan kemerdekan India lainnya, Menon memang merupakan suatu kekecualian. Ia seorang otodidak. Ia tidak memiliki ijazah dari Oxford atau Cambridge yang bisa digantungnya di dinding kantornya.. Dan ia juga tidak memiliki kasta atau latar belakang keluarga yang bisa menyokong ambisinya.

Sebagai anak sulung dari dua belas bersaudara, maka pada usia tiga belas tahun Menon terpaksa harus berhenti dari sekolah dan bekerja. Mula-mula ia bekerja sebagai buruh di pertambangan batubara, kemudian di pabrik , kemudian menjadi pedagang dan kemudian menjadi guru. Dari sanalah kemudian ia menjadi pegawai negeri. Setelah itu karirnya melesat, dan hal ini terutama disebabkan oleh integritas kepribadiannya serta ketrampilannya yang luarbiasa dalam melakukan pekerjaan secara produktif, baik dengan para pejabat India maupun Inggeris. Nehru maupun Mounbatten sama-sama mengakui dan memujinya sebagai orang yang memberikan sumbangsih besar bagi kemerdekaan India.

Ada dua karakter Menon yang sangat menonjol dan dikenang, yaitu sebagai orang yang lugas serta efisien dalam bekerja, dan sebagai pribadi yang senang menolong. Dan latar belakang dari karakternya yang terakhir ini diterangkan oleh puterinya setelah Menon meninggal dunia.

Ketika Menon baru tiba di New Delhi dalam upayanya untuk melamar pekerjaan sebagai pegawai negeri, tiba-tiba semua barangnya, termasuk uang dan surat-surat pentingnya, dicuri oleh seseorang di stasiun kereta api. Waktu itu sebenarnya tak ada pilihan lagi bagi Menon kecuali berbalik arah dan pulang ke kampung halaman dengan berjalan kaki. Tapi dalam suasana putus asa itu ia bertemu dengan seorang Sikh tua. Menon menceritakan kesulitan yang sedang dialaminya dan memohon agar dipinjamkan uang sebesar 15 rupee sebagai bekal hidup sebelum ia mendapat pekerjaan. Dengan serta merta Si Sikh itu memberikan uang yang diminta. Tapi ketika Menon bertanya tentang alamatnya, agar kelak ia bisa mengembalikan pinjamannya, maka Si Sikh itu mengatakan bahwa Menon sebenarnya bukan berhutang kepadanya, tapi kepada setiap orang tak dikenal yang kelak akan dijumpai Menon dalam perjalanan hidupnya, dan yang akan datang meminta pertolongan darinya.

Menon memang tak pernah melupakan hutangnya itu, baik dalam bentuk kepercayaan mau pun dalam nilai nominal. Menurut keterangan puterinya, pada hari terakhir sebelum Menon meninggal dunia, ada seorang peminta-minta yang datang ke rumahnya di Bangalore, meminta sejumlah uang untuk membeli sandal agar bisa meringankan kakinya yang penuh borok itu. Menon menyuruh puterinya mengambil 15 rupee dari dompetnya. Itulah perbuatan baik terakhir yang dilakukan Menon.

Cerita tersebut di atas saya peroleh dari seorang yang tidak saya kenal. Orang itu berdiri di sebelah saya. di bandar udara Bombay, di depan counter penitipan bagasi. Waktu itu saya datang untuk mengambil koper saya. Tapi saya sudah tak memiliki mata uang India sedikit pun untuk bisa membayar biaya penitipan. Petugas yang ada di counter itu pun tak bersedia pula menerima pembayaran dalam bentuk travellers cheque. Saya menjadi panik. Sebentar lagi pesawat yang akan membawa saya sudah akan berangkat. Orang itulah yang membayar biaya penitipan koper saya sebesar 80 sen tersebut. Dan ia menceritakan kisah di atas sebagai jawaban ketika saya sedang mencari-cari cara bagaimana kelak harus membayar hutang kepadanya. Ayahnya pernah bekerja sebagai pembantu Menon serta belajar tentang kebaikan majikannya itu. Dan kebaikan itu jugalah, yaitu menempatkan diri dalam posisi berhutang pada seseorang yang tak dikenal, yang diteruskannya kepada putreranya.

Dari seorang Sikh tak dikenal, kepada seorang pegawai pemerintah India, kepada asistennya, kepada putera asisten itu, dan akhirnya kepada seorang kulit putih yang gelagapan di bandara. Kebutuhan saya memang tidak besar, dan nilai pemberian itu dalam bentuk uang tidak pula besar. Tapi semangat pemberian itu sungguh tak ternilai harganya. Hal itu membuat saya sebagai orang yang terberkati dalam posisi berhutang.

Kadang-kadang cerita di atas mengingatkan saya akan cerita “Orang Samaria Yang Baik Hati”. Saya sering terpikir-pikir akan kelanjutan cerita tersebut. Dampak apa yang telah ditimbulkan oleh kebaikan Si Samaria bagi seseorang yang telah dirampas habis-habisan dan dipukuli setengah mati? Apakah yang tinggal di dalam kenangannya hanyalah kekejaman para perampok? Atau, apakah yang tingal di dalam kenangannya adalah kebaikan Si Samaria yang telah memposisikan hidupnya berhutang kebaikan? Dan apakah yang akan diteruskannya kepada seseorang tak dikenal–seseorang yang terdesak oleh suatu kebutuhan– yang ditemukannya dalam perjalanan hidupnya kelak?

Tentang Pengarang:

Robert Fulghum adalah seorang penulis, pemikir dan penceramah. Ia adalah seorang pendeta di sebuah jemaat kecil. Tapi ia juga pernah bekerja sebagai pelukis,wiraniaga IBM, penyanyi lagu-lagu rakyat, guru senirupa dan bartender. Ia juga adalah seorang ayah. Buku-bukunya “All I Really Need to Know I Learned in Kindergarten”, “It Was On Fire When I Lay Down On It”, “Uh-Oh” dan “Maybe (Maybe Not)” pernah masuk dalam daftar buku-buku terlaris New York Times. Ia menetap di Seattle, Washington. Esai tersebut di atas diambil dari bukunya “All I Really Need to Know I Learned In Kindergarten”. (Alih bahasa: Mula Harahap).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s