Ketika Si Batak Duduk Bersama Orang Lain

Oleh: Mula Harahap

Ketika nenek moyang saya masih hidup terisolasi di punggung pegunungan Bukit Barisan di pedalam Sumatera Utara sana, maka wajar saja kalau ia hanya mengenal manusia yang memiliki bahasa, sistem kekerabatan, ritus dan hukum-hukum yang sama dengan dirinya. Tapi dengan terbukanya isolasi maka ia pun mulai mengenal unsur-unsur kebudayaan orang lain. Bahkan disebabkan oleh berbagai alasan acapkali pula ia harus keluar dari lingkungan yang selama berabad-abad telah dihuninya bersama nenek moyangnya itu, untuk kemudian hidup di tengah-tengah suatu masyarakat dan budaya yang baru.

Si Manusia Batak tidak harus meninggalkan jati-dirinya yang lama. Tapi kini ia belajar untuk mengenal, menerima dan hidup harmonis dengan orang lain. Sikap yang sama–tentu saja–juga diharapkan datang dari manusia-manusia yang berjumpa dengan Si Manusia Batak tersebut. Dengan demikian terjadilah sintesa baru dalam interaksi antar manusia dan yang pada gilirannya akan semakin menambah harmoni dari masyarakat yang plural itu.

Saya rasa pemahaman seperti di atas itu jugalah yang menjadi salah satu alasan utama mengapa saya tak pernah tertarik untuk menjadikan isteri saya–seorang wanita yang bukan Batak–menjadi Batak, atau menjadi terhisab dalam struktur kekerabatan Batak, sebagaimana yang banyak dilakukan oleh pasangan Batak yang berbeda latar belakang kebudayaan: Mereka mencangkokkan isterinya ke dalam marga ibunya. atau mencangkokkan suaminya ke dalam marga amangborunya. lalu mencarikan sepasang suami-iseri Batak sebagai orangtua baru dari isteri atau suaminya tersebut.

Saya bisa memahami–walau pun saya tak pernah bisa menyetujui–alasan di balik fenomena pem-Batak-an tersebut: Dengan putusnya rantai kekerabatan Batak dan dengan hadirnya orang-orang yang bukan Batak (dan yang mereka asumsikan tidak akan pernah bisa memahami budaya Batak) maka struktur upacara adat mereka akan menjadi timpang. Menurut jalan pikiran mereka, alangkah hambarnya sebuah upacara kalau tdak ada lagi barisan hula-hula yang datang membawa ikan mas dan beras, atau kalau tidak ada lagi barisan boru yang datang membawa babi. Karena itu perlu dicari penambal dan pemoles agar struktur tetap “batak”.

Tapi apakah dasar untuk mengatakan bahwa sebuah struktur upacara adat akan menjadi timpang dan hambar hanya karena dihadiri sekelompok boru atau hula-hula yang bukan Batak? Saya melihat hal yang sebaliknya: Rantai kekerabatan Batak tidak akan terputus. Dan kehadiran orang-orang yang bukan Batak itu justeru akan mempercantik–disamping memperkokoh–struktur upacara adat.

Ketika saya yang Batak, dan isteri saya yang bukan Batak, menikahkan puteri saya (dengan seorang pria Batak dan secara adat Batak) beberapa waktu yang lalu, kontroversi di seputar hal-hal tersebut di atas itu jugalah yang saya hadapi ketika berurusan dengan sanak-famili saya yang belum kosmopolit itu.

“Orang yang pernikahannya belum diadati sebenarnya tidak layak menyelenggarakan pernikahan secara adat,” itulah kontroversi pertama yang saya hadapi. Dari dulu secara tak langsung saya memang sudah sering mendengar “aksioma” ini, tapi tak pernah ambil pusing. Tapi ketika tuduhan itu dikatakan langsung kepada saya,dan pada saat saya sudah mengedarkan undangan “pulak”, maka tentu saja saya naik pitam.

“Dimana ada aturan yang mengatakan demikian?” tanya saya. “Kalau saya kawin lari dengan seorang perempuan Batak dan tak pernah menyelesaikan hutang adat saya kepada bapaknya atau hula-hula saya itu, boleh jadi pernikahan puteri saya secara adat itu akan mengalami sedikit masalah. Hula-hula saya, yang merasa belum diakui oleh saya, dan mengakui saya itu, tidak akan datang. Lalu upacara adat tersebut memang akan menjadi sedikit timpang karena tidak dihadiri oleh hula-hula saya. Tapi dalam kasus saya, saya menikah dengan perempuan yang bukan Batak. Kalau pun saya berhutang adat, maka saya berhutang kepada orang tuanya. Walau pun, perlu kau ketahui, saya sebenarnya sudah membayar hutang adat saya kepada mereka. Tentu saja saya membayarnya sesuai dengan adat mereka. Saya sudah mengakui mereka, dan mereka pun sudah mengakui saya. Lalu, apa persoalan?.”

“Apakah hula-hulamu yang bukan Batak itu akan datang nanti?” itulah kontroversi kedua yang saya dengar.

Saya bisa merasakan bahwa di balik pertanyaan ini ada keraguan: Sejauh mana orang yang bukan Batak bisa memahami urgensi kehadiran dan peranan diri mereka dalam upacara adat tersebut? Karena itu kepada yang bertanya saya katakan, “Oh, jangan takut. Saya sudah menerangkan bahwa dalam acara ini mereka mempunyai kedudukan yang penting yaitu sebagai tulang. Mereka gembira dan berjanji akan datang full-team”

“Apakah mereka akan memberi ulos?”

“Oh, itu saya tak tahu. Lagipula, mereka bukan orang Batak. Adat mereka tidak mengenal ulos. Tapi saya sudah menerangkan kepada mereka tentang makna ulos sebagai simbol doa yang diberikan oleh seorang tulang. Terserah merekalah untuk menetapkan simbol doa apa yang menurut mereka lebih pantas diberikan. Lagipula, sebagai boru sungguh sangat tidak elok kalau saya harus mengajari hula-hula saya tentang apa yang harus dilakukannya…..”

Ketika hari pernikahan puteri saya tiba, hula-hula–yang bukan Batak itu–memang menepati apa yang telah djanjikannya. Mereka datang full-team. Tidak hanya yang bermukim di Jakarta, tapi juga yang bermukim di Bandung, Yogyakarta, Ampenan dan Ambon. Ketika memasuki gedung tempat pesta mereka–dalam jumlah yang cukup signifikan–menyatu dalam prosesi barisan tulang dan hula-hula lainnya.

Kemudian mereka duduk di meja yang telah disediakan untuk barisan tulang dan hula-hula, dan mengikuti seluruh rangkaian acara yang panjang itu dengan seksama. Sesekali, bila dalam fungsinya sebagai tulang, mereka diminta oleh protokol atau raja parhata untuk berbicara, maka berbicaralah mereka. Tentu saja mereka berbicara dalam bahasa Indonesia dan tidak memakai petatah-petitih Batak.

Mereka juga mengikuti dengan seksama semua prosesi dan acara yang berlangsung selama berjam-jam itu. Mereka sangat memahami bahwa dalam kedudukan sebagai tulang maka giliran mereka untuk memberi ulos adalah pada saat yang paling ahkir.

Ternyata karena telah memperhatikan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang memberi ulos sebelumnya, mereka pun menjadi tak kalah pintar. Ketika tiba giliran mereka, mereka pun meminta grup musik untuk memainkan sebuah lagu dari daerah mereka–bukan lagu Batak. Dan saya rasa itu sah-sah saja, sebab dalam acara yang sejenis, orang-orang Batak sendiri pun acapkali menyanyikan “Poco-poco” atau “Sajojo” yang bukan Batak itu. Lalu mereka pun memberikan sedikit kata-kata dan menyampaikan simbol doanya kepada kedua mempelai–bukan ulos.

Saya bisa memahami bahwa perasaan orang-orang yang hadir di ruangan pesta itu tentu berbeda-beda dalam menanggapi kehadiran sekelompok orang yang bukan Batak dalam struktur upacara adat Batak. Pasti ada yang gelisah, ada yang senang, ada yang tidak bisa mengerti, dan ada yang bisa mengerti.

Tapi salah seorang amanguda saya, yang selama ini selalu bertengkar dengan saya mengenai makna dan fungsi dari beberapa unsur adat Batak, saya lihat manggut-manggut. Ketika pesta telah usai dia mendatangi saya.

“Baru sekali ini kulihat ada pesta dimana orang-orang yang bukan Batak mengambil peranannya dalam struktur kekerabatan Batak secara penuh dan padu,” kata amanguda saya.

“Itulah artinya menjadi Batak yang kosmopolit, Amanguda,” jawab saya sambil tersenyum.

Lalu amanguda saya bertanya lagi lebih jauh, “Bagaimana caranya kau memperlakukan hula-hula dan pariban kita itu sehingga yang bermukim di Bandung, Yogyakarta, Denpassar, Ampenan dan Ambon pun rela untuk datang?”

“Caranya sama saja seperti kita memperlakukan tulang atau hula-hula yang Batak,” jawab saya. “Dalam kasus pesta ini, kita datang menghadap dengan baik dan sopan. Kita selipkan selembar uang dua puluh ribuan dalam undangan yang dikirim–sebagai piso-piso atau pembeli tuak na tonggi,.atau apalah namanya. Itu saja. Selanjutnya adalah pekerjaan Roh Kudus….” [.]

.

8 responses to “Ketika Si Batak Duduk Bersama Orang Lain

  1. Wah, baru tau aku, Bang kalau susah kali jadi orang Batak. Mau kawin aja harus bawa orang sekampung. Tapi positifnya, di manapun kita berada pasti ada kerabat orang Batak yang dapat menjadi sandaran kita. Horas, bah.

  2. Singal Sihombing

    Saya terkesima dan terkesan, luar biasa dan patut ditiru, saya membayangkan prosesnya (ketika “Martonggo raja” atau “Marria Raja”). Hal ini membuktikan Adat Batak pada dasarnya selalu dapat ditransformasi tanpa kehilangan makna dan budaya itu sendiri. Salam kenal lae, saya takut memberi lebih banyak komentar karena saya bukan ahlinya.
    Pertanyaan saya lae, “Dapatkah proses acara adat itu lebih dipersingkat? yaitu, mulai dari Mangarangrangi, Marhusip, Martumpol dilanjutkan dgn Martonggo Raja atau Marria Raja, Pamasumasuon dilanjutkan dengan Manggarar dohot Manjalo adat. Mauliate, Terimakasih.

  3. Sebenarnya inilah alasan saya milih cewek batak. Biar gak repot ditanya kanan-kiri. Beuh….Belum lagi atas-bawah dan depan-belakang….Salam kenal, Amang.

  4. Pingback: Ruma Metmet » Blog Archive » Batak Harus Sama Batak?

  5. Tulisan yang menarik amang, terutama cerita yang mengisahkan tentang pernikahan boru amang. Mo tanya amang , kalau pengalaman amang kan menikahkan boru dan kebetulan hula2 amang orang Ambon . Kalau saya mau menikah dengan suku lain (Ambon), ada saran ngga bagaimana menyelenggarakan pesta bataknya tanpa harus mengganti fam calon saya menjadi boru batak

  6. Bagus tulisannya, Amang.

  7. Dalam struktur Batak jelas adat istiadat itu berlaku homogen dan ekslusif Batak. Anomali tidak selalu menjadi suatu keharusan untuk dilakoni. Adat Batak juga “bisa” mengapresiasi kultur setempat dan perbedaan, sepanjang itu disepakati ketiga pihak dalam unsur Dalihan Na Tolu. Demokrasi dalam adat Batak sangat mumpuni dan cair. Uang penting tapi bukan UUD. Selamat buat Bang Mula yang dapat kesempatan memperkaya adat Batak (Batak kosmopolit?) Ha-ha-ha!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s