The Scent of a Woman dan Natal

Oleh: Mula Harahap

Saya baru tahu bahwa ternyata kotak plastik hitam yang biasa dipakai untuk membungkus kepingan dvd atau vcd itu banyak dijual di toko-toko komputer. Harganya per buah hanya Rp.1.000,- Karena itu malam minggu tanggal 23 Desember yang lalu saya pergi ke Pusat Perbelanjaan di Cempaka Mas. Saya beli 100 buah.

Sudah lama saya jengkel melihat kepingan dvd filem yang berantakan di bawah meja televisi. Sebagai barang bajakan kepingan itu biasanya dijual dalam sampul plastik transparan yang diberi lapisan kertas berisi judul dan gambar filem yang ada di dalamnya. Anak-anak, yang membeli (atau meminjam, tapi tak pernah ingat untuk memulangkannya) malas untuk menaruh kembali dvd yang sudah ditonton itu ke dalam sampulnya. Karena itu dvd tersebut hanya menumpuk tak karu-karuan. Tapi kemalasan anak-anak bisa juga saya maklumi. Sampul plastik transparan–seperti yang biaa dipakai untuk membungkus undangan itu–memang gampang sekali robek. Apalagi, ujungnya yang diberi perekat itu acapkali mengganggu ketika kita mencoba memasukkan dvd ke dalam.

Begitulah, sepanjang malam minggu itu saya duduk memasukkan semua dvd ke “rumah”nya yang baru. Dan ketika kertas yang berisi gambar dan judul itu diselipkan ke balik lembaran plastik transparan yang menutupi kotak plastik hitam itu maka dvd bajakan tersebut menjadi kelihatan sedikit lebih “beradab”. Dia menjadi kelihatan seperti dvd yang legal dan original. Dan ketika dijajarkan di rak dia menjadi sedap dipandang. Seperti deretan buku.

Saya bukan penggemar filem bioskop. Tapi ketika sedang memindah-mindahkan dvd itu barulah saya sadar bahwa ternyata di bawah meja televisi kami yang berdebu itu banyak sekali “harta karun” yang tak ternilai, yang selama ini hanya saya baca resensinya di koran atau lihat posternya di Megaria. (Dan ketika melihat poster itu saya selalu berkata dalam hati, “Nanti, kalau ada waktu, saya akan ke bioskop…”)

Ketika memindah-mindahkan dvd ke “rumah baru”-nya itulah baru saya sadar bahwa “The Scent of a Woman”, “Memoar of a Geisha”, “The Schindler List” dan filem-filem lainnya yang memenangkan Oscar itu ternyata tak perlu harus ditonton di bioskop. Selama ini dia teronggok di rumah saya. Saya harus mengaku salah: Selama ini saya tak pernah perduli dan selalu menganggap enteng terhadap filem yang ditonton oleh anak-anak.

Begitulah, sepanjang malam minggu itu saya seperti seorang ilmuwan yang sedang membuat penemuan baru atau seniman yang sedang membuat kreasi baru. Tak puas-puasnya saya duduk memandang deretan kotak dvd yang berjajar memenuhi sebagian rak buku di rumah saya.

Paginya, ketika isteri saya bangun, dengan bangga saya menunjuk ke rak dan berkata, “Coba lihat itu. Hebat ya?!”

Isteri saya melihat sebentar ke arah yang saya tunjuk dan berkata, “Apa hebatnya?” Lalu ia melengos pergi.

“Sekarang dia sudah rapih,” kata saya. “Kalau kita mau menontonnya, kita tinggal mencomot apa yang kita mau,” kata saya.

“Ditonton?” tanya isteri saya. “Untuk apa? Kami tokh sudah menonton semuanya.”

Saya pun tidak berkata-kata lagi. Tapi diam-diam saya terus saja mengagumi “penemuan” yang saya buat itu.

“Omong-omog,” kata isteri saya lagi setelah beberapa saat, “Dari mana kau dapat kotak sebanyak itu?”

“Saya beli di Cempaka Mas. Murah. Hanya 1.000 rupiah sebuah.”

“Murah?” tanya isteri saya. “Berapa ratus ribu rupiah kau habiskan untuk membeli kotak sebanyak itu?”

“Hanya 100 ribu…”

“Begitulah selalu ulahmu kalau terlalu banyak tinggal di rumah. Sebenarnya lebih baik uang itu kau beli minyak goreng, deterjen, sabun atau apa saja. Barang-barang persediaan di dapur saya sudah banyak yang kosong….”

Kembali saya diam. Jalan pikiran perempuan memang susah untuk dipahami. Tapi gagasan bahwa filem-filem pemenang Oscar ternyata bisa ditonton di rumah–tak perlu di gedung bioskop–sangat merasuki pikiran saya.

Minggu tanggal 23 Desember siang, sepulang dari gereja, saya pamit kepada isteri saya.

“Mau kemana?” tanyanya.

“Mau ke Cempaka Mas,” jawab saya. “Ada urusan sebentar….”

Saya pergi menumpang ojek. Kemarin, ketika membeli kotak plastik penyimpan dvd, di lantai 4 pusat perbelanjaan itu saya melihat banyak kios penjual dvd bajakan. Selama ini saya selalu apriori menganggap bahwa yang dijual di sana hanyalah fiem-filem porno. Tapi kemarin, ketika melirik ke kios itu, ternyata saya melihat banyak filem yang bagus-bagus. Dan harganya hanya 7.500 per keping. Lebih murah dari sebungkus rokok.

Saya berdiri lama di kios itu dan membongkar-bongkar kepingan yang dijajakan. Saya menemukan “The Casino”, “Mrs. Doubtfire”, “Big” dsb. Ada 20 filem yang baik yang saya beli. Dan–tentu saja–saya tak lupa untuk mampir ditoko komputer untuk membeli 20 kotak kosong lagi.

“Apa itu?” tanya isteri saya ketika melihat saya masuk ke rumah seraya menenteng 2 kantong plastik berwarna hitam.

Saya tidak menjawab. Saya duduk di lantai dan membongkar kedua kantong itu.

“Ya, Tuhan,” kata isteri saya. “Saya pikir kau membeli sesuatu untuk makan siang. Yang di rak itu saja belum kau tonton. Lalu untuk apa lagi kau membeli semua itu?”

“Besok-lusa, kalau razia barang bajakan semakin ketat, fiem-filem seperti ini tak akan kita temukan lagi. Jadi, lebih baik kita sedia payung sebelum hujan…” kata saya.

“Saya rasa, kalau kau bukan kawin dengan saya, sudah lama kau dimasukkan isterimu ke rumah sakit jiwa….,” kata isteri saya. Lalu dengan masih terus mengomel ia masuk ke kamar. Tapi saya tak ambil pusing. Saya sedang dipenuhi oleh obsesi membangun sebuah “cinema library”.

Begitulah, tanggal 23 Desember malam itu saya habiskan dengan menonton 3 dvd yang dibintangi oleh Robert De Niro. Satu “The Casino”, satu komedi tentang tokoh Mafia yang bertobat (bersama Billy Cristal), dan satu filem perselingkuhan (bersama Meryl Streep).

Karena itu pula, tanggal 24 Desember itu saya bangun agak siang. Jam 10.00. Setelah duduk minum kopi, merokok dan mengagumi rak buku (yang sekarang sebagian diisi oleh deretan dvd), saya kembali duduk di depan televisi. Tapi baru saja saya menyetel perangkat pemutar dvd, saya dengar isteri saya mengomel.

“Kau ini punya perasaan tidak sih?! Besok kita sudah Natalan. Rumah masih kotor dan berantakan……”

Tombol “power” perangkat pemutar dvd terpaksa saya matikan. Perempuan memang sering tidak rasional dan tidak tahu bersyukur. Dia sudah diberi Tuhan suami yang jinak dan senang tinggal di rumah, eh masih juga dia mengomel.

Tapi kemana saya harus lari? Kantor saya sedang libur. Kantor teman-teman juga sedang libur. Akhirnya, saking “emosi”-nya saya menurunkan semua kain putih yang menjadi pelapis gordijn, mencelupnya di rinso, mencucinya, dan menggantungnya kembali di tempatnya ketika barang itu masih setengah basah. Setelah itu saya masih menyapu dan mengepel lantai. Semua itu saya lakukan dengan tidak berkata-kata. Dan isteri saya–sebagaimana biasa–sibuk dengan hal-hal tetek bengek: menata bunga di vas, memasuk-masukkan kue ke stoples dan membongkar-pasang isi kulkas agar semua makanan yang perlu diawetkan bisa masuk di dalam. (Dan kulkas yang sepanjang tahun hanya bersi air dan es itu pada hari menjelang Natal dan Tahun Baru seperti ini pasti akan merasa terkejut sekali).

“Kita akan mengikuti kebaktian jam berapa?” tanya saya menjelang sore.

“Jam delapan,” kata isteri saya.

Begitulah, kami–saya, isteri saya, anak lelaki saya, puteri saya, dan menantu saya–pergi mengikuti kebaktian jam delapan malam. Selesai kebaktian kami pulang ke rumah. Sebenarnya saya sudah ingin melanjutkan obsesi saya menonton dvd. Tapi karena puteri dan menantu saya masih ada di rumah, terpaksa saya urungkan kegilaan tersebut. Jam 12 malam mereka pun pamit untuk pulang ke rumahnya. Saya mengganti pakaian dengan celana pendek dan kaus, lalu mulai bersiap-siap lagi di depan televisi.

“Saya mau menonton acara natal,” kata isteri saya. “Apakah kau tidak bisa menahan obsesimu itu barang sebentar?”

Saya mengambil laptop saya dan pergi ke meja kerja. Tapi cilaka tigabelas. Tak satu pun dari dvd bajakan–yang sekarang diberi pembungkus kotak itu–yang bisa diputar di laptop saya.

“Laptop haohao ini….,” kata saya mengomel.

“Barang branded memang begitu, Pak,” kata anak saya menenangkan saya. “Dia terlalu peka. Kalau bahan dvd-nya ketebalan atau ketipisan sedikit saja, dia langsung menolak untuk membacanya….”

Akhirnya saya pergi tidur dengan perasaan hati yang kurang enak. Tanggal 25 Desember paginya, setelah pulang dari gereja, saya kembali duduk di depan televisi.

“Ini hari Natal,” kata isteri saya dengan mata yang sedikit membelalak.

“Saya tahu,” kata saya. “Nanti, kalau ada tamu yang datang, dvd ini tokh akan saya matikan….”

“Akh, terserahlah…..,” kata isteri saya.

Tapi sementara menonton, tiba-tiba muncul sebuah gagasan di kepala saya. Saya rasa baik juga kalau gagasan itu saya bagikan kepada isteri saya, agar ia tidak terlalu menganggap saya “sakit”, dan bahwa sebenarnya saya masih punya sedikit religiousitas.

“Saya rasa, hidup kita sebelum menerima Kristus, bisalah disamakan dengan kepingan-kepingan dvd bajakan ini. Tadinya dia berantakan dan tak ada harga. Tapi Kristus adalah “casing” yang membuat kita menjadi tertib, terhormat dan punya harga di mata orang lain….”

“Akh, terserahlah….,” kata isteri saya.

Begitulah, siang tanggal 25 Desember itu saya lewati dengan menonton “Scent of a Woman”. Tapi keasyikan saya menjadi sedikit terganggu ketika keluarga adik sepupu saya dan keluarga adik saya datang berkunjung. Tentu saja di depan mereka saya harus bisa menahan diri dan bertindak sebagaimana layaknya “amangtua” yang baik dan waras.

Jam 10 malam, ketika sudah tidak ada lagi orang lain di rumah, saya menyempatkan diri membantu isteri saya mencuci piring dan membereskan kursi-kursi. Lalu saya kembali duduk di depan televisi.

Jam dua malam mata saya mulai terasa berat. Saya pun pergi tidur. Tapi sementara berbaring di tempat tidur saya masih berpikr-pikir tentang relevansi “The Scent of a Woman” dan “Memoar of a Geisha” dengan kelahiran Tuhan sebagai Manusia.

Tadi pagi, ketika keluar dari rumah, di laci mobil saya menemukan selembar uang 100 ribu. Sementara mengeluarkan mobil dari halaman saya berkata dalam hati, “Nanti, kalau pulang dari pekerjaan, saya mau mampir lagi di kios dvd bajakan……” [.]

9 responses to “The Scent of a Woman dan Natal

  1. Kalau di Glodok Rp 10,000 dapat 3 , Lae !

  2. Selamat Hari Natal, Amang! Garing! Jadi teringat sama bapa/mamaku yang selalu ribut dan bertengkar mulut meskipun kami anaknya sudah besar-besar. Kami geli aja ngedengarnya….He-he-he-he. Salam dari generasi penerus dari Banda Aceh….. Horas.. Iwan Nafry Simarmata

  3. Wah, DVD bajakan memang sangat menggoda. Sejak menikah, saya agak jarang nonton ke bioskop. Padahal waktu bujangan hampir tiap minggu nonton di bioskop. Sebagai gantinya yang paling murah meriah ya beli DVD bajakan (ehmm).
    Kalau lagi ke Cempaka Mas menemani istri atau di mall lain pasti kusempatkan beli barang satu atau dua film terbaru. Sebenarnya nggak enak hati juga sih beli yang bajakan. Tapi gimana ya…Kalau nunggu yang asli, udah mahal, keluarnya lama lagi…
    Sebagai orang perbukuan yang mengerti tentang masalah copyrights, sebenarnya nggak enak hati juga. Tapi karena Bang Mula aja tokoh budayawan Ikapi udah begitu, ya akupun ikut aja. He he…(nyalahin orang lain, nggak elok).

    Selamat Natal dan Tahun Baru, Bang Mula. Horas. Aku juga baru punya blog. Kunjungi di http://heryazwan.wordpress.com

  4. Kalau beli DVD bajakan pilih yang penjualnya kenal atau bonafide. Mereka keluarkan beberapa edisi, yang baru keluar pertama biasanya masih jelek, entah rekamannya gelap atau subtitle English/Indonesia ngaco gak cocok spt yang diucapkan. Yang edisi bagus biasanya pakai DVD tipis, sisi yang dibaca oleh laser warnanya emas. Harganya Rp. 6000/pcs di langganan saya. Libur kemarin saya nonton “The Kingdom” (kisah teroris di Saudi Arabia) dan “3:10 to Yuma” (cowboy-Russel Crowe, yg main “Gladiator”). Keduanya film baru 2007. Lumayan, ada pelajaran yg bisa dipetik

  5. selamat bergabung di dunia pencinta DVD bajakan, pak :p Saya juga selalu kalap kalau beli DVD, tapi akhirnya saya jarang main sepulang kerja dan langsung pulang ke kost untuk nonton. Lumayan, jadi menghemat😀

  6. Wah…klo saya udah jarang tuh bli DVD (khususnya yg bajakan, karena ga mampu bli Asli,,:D). Tapi setelah Baca artikel dari Amang Harahap jadi kepingin lagi santai di depan layar TV nonton DVD. Trims Amang telah menginspirasi.

  7. Bang Mula, saya hanya numpang memberi humor “Jenderal Terakhir” dari NN, begini :
    Suatu saat, di negeri cina pada salah satu kekaisaran, pemberontakan terjadi di seantero negeri, namun semuanya dapat dipadamkan karena para jenderal yang dipimpin seorang panglima besar sangat hebat.
    Suatu saat, ketika sebuah pemberontakan yang sangat besar dapat mereka kalahkan, mereka rapat di aula yang sangat besar, dan setelah selesai rapat, sang panglima besar berkata “jangan bubar dulu, diam di tempat” lalu dilanjutkan “Para jenderal yang saya hormati, terima kasih atas jasa yang telah saudara berikan, namun saya ada satu permintaan”.
    Diam sebentar dan hening.., sang panglima mengeluarkan perintah ” Siapa diantara kalian yang tidak takut sama istrinya pindah kesebelah kanan” serunya.
    Serentak semua jenderal, pindah kesebelah kanan, kecuali satu orang.
    Panglima besar, yang juga sangat takut sama isterinya, senang dan bertanya kepada yang jenderal yang satu itu “Hai, jenderal coba jelaskan bagaimana caranya, supaya kita tidak takut sama isteri kita”
    “Ooh, iyaa, fff, siap Jenderal” kata jenderal yg satu itu “sebenarnya, saya takut juga pak, cuma isteri saya perintahkan kepada saya ” “jangan bilang-bilang sama siapa siapa ya!”
    Horas Bang Mula, kalau abang kulihat takut juga, tetapi bilang-bilang juga, atau mungkin istilah takut kita ganti menjadi “Respect”, because I fully respect my wife.
    Horas Horas Horas.
    nb. jenderal yang satu = jenderal terakhir.

  8. Hallo Bang Mula, saya Eva Rohilah dulu kerja di Pustaka Alvabet, masih inget gak? Semoga lewat blog ini kita bisa berkomunikasi. Tulisan Bang Mula tajam dan bernas… Sukses selalu

  9. Baca postingan ini seru… jadi ngebayangin, mungkin kalo’ tua nanti, aku dan ayah na lala jadi begini juga yaaa… tapi dibalik, karena yang tergila2 sama DVD bajakan itu aku…rekor ku masih bertahan di nonton 4 film dalam satu malam…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s