Monthly Archives: January 2008

Kreativitas Humor dan Daya Kenyal Orang Indonesia

Oleh: Mula Harahap

Humor adalah “katup pengaman” bagi tekanan psikologi yang sedang dialami oleh suatu masyarakat. Karena itulah, pada masyarakat yanghidup di bawah pemerintahan rezim totaliter, humor berkembang dengan subur. Kalau masyarakat itu tidak ditolong oleh humor, maka mereka sudah lama meledak atau gila.

Humor juga adalah “perekat” masyarakat. Dengan saling menertawakan secara spontan, kita sekaligus memperhalus atau membuang tonjolan yang tajam-tajam dalam perbedaan yang terjadi di antara kita, sehingga kita bisa lebih saling mendekat.

Banyak pengamat sosial yang terkagum-kagum melihat “kekenyalan” orang Indonesia. Walau pun kita sudah dihantam oleh berbagai krisis dan bencana, kita tokh tetap saja utuh, waras dan optimis. Prof. Dr.Emil Salim pernah mengatakan, “Dengan krisis seperti yang terjadi di Indonesia ini, Uni Soviet langsung bubar sebagai bangsa dan negara. Tapi kita sungguh luarbiasa. Kita masih tetap utuh…”.

Continue reading

Advertisements

Legacy Suharto

Oleh: Mula Harahap

Kita sering lupa bahwa akibat berkuasa selama lebih dari 30 tahun itu, Suharto bukan lagi sekedar pribadi tapi dia sudah menjadi sebuah budaya atau sistem nilai. Sebuah budaya kepura-puraan, kepengecutan, keserakahan dan pengingkaran akal sehat serta hati nurani demi uang dan kekuasaan.

Bagaimana mungkin ratusan ribu bekas anggota PKI dibunuh, dianiaya atau ditahan tanpa proses peradilan, dan jutaaan anggota keluarganya selama 30 tahun harus menjadi anggota kasta “the untouchable” di masyarakat? Bagaimana mungkin selama enam kali pemilu hari pencoblosan tidak pernah dianggap sebagai hari libur, dan karenanya semua pegawai harus melakukan pencoblosan di kantor? Bagaimana mungkin satelit Palapa yang gagal diluncurkan dan terkatung-katung di ruang angkasa itu dipungut oleh Bimantara, diklaim menjadi miliknya lalu dijual kembali ke Indonesia? Bagaimana mungkin siaran televisi pendidikan yang dimodali oleh negara di kemudian hari menjadi perusahaan swasta, yang mula-mula bernama PT Televisi Pendidikan Indonesia, lalu menjadi hanya PT. TPI? Bagaimana mungkin hanya ada sebuah perusahaan manufaktur mobil yang diberi pinjaman luarbiasa besar dan pembebasan bea masuk sampai nol prosen lalu mengimpor mobil built-up dari Korea dan mengklaimnya sebagai mobil nasional?

Continue reading

Industri Penerbitan Buku Sekolah dan Pendidikan di Indonesia

Oleh: Mula Harahap

Pada tanggal 27 Juni 2007 yang lalu, bertempat di Hotel Millenium-Jakarta, telah berlangsung pertemuan penerbit-penerbit buku sekolah se Indonesia. Di dalam pertemuan tersebut para penerbit mencoba memetakan dan mencari jalan keluar terhadap berbagai permasalahan yang mereka hadapi dalam industri penerbitan buku sekolah. Dasar yang dipakai di dalam pertemuan tersebut adalah makalah sebagaimana yang terurai di bawah ini. Makalah ini merupakan hasil diskusi pendahuluan (sebanyak empat kali) yang dihadiri oleh pelaku-pelaku dalam industri penerbitan buku sekolah.

Mudah-mudahan pokok-pokok pikiran dan permasalahan yang ada di dalam makalah ini bisa merangsang kita semua yang menaruh keperdulian terhadap pendidikan di Indonesia untuk ikut berpikir.
Continue reading

Nasib Usaha Pertanian Skala Ekonomi Kecil

Oleh: Mula Harahap

Pada masa saya masih bersekolah dan tinggal di Medan, di sekitar bandara Polonia banyak sekali orang Sikh (kami menyebutnya orang Benggali) yang memelihara sapi perah dan menjualnya langsung ke rumah- rumah secara berlangganan.

Susu itu ditaruh di sebuah wadah baja menyerupai termos yang besar dan digantung di kiri-kanan sepeda. Setiba di rumah yang dituju, orang Sikh yang brewokan dan kepalanya diikat sorban itu akan berteriak, “Susssuuu….!” Lalu keluarlah nyonya rumah atau
pembantunya dengan membawa rantang. Si Sikh akan mencedok susu itu dan memindahkannya ke rantang.

Rumah kami–di Kampung Baru–selalu menjadi pelintasan orang-orang Sikh dalam perjalanannya mengantar susu. Pagi-pagi buta saya selalu mendengar bunyi kerontang-kerontong dari sepeda mereka dan celotehan mereka satu-sama lain, “Wole-wolu-wole-wolu-wala-wali….”

Continue reading

Penghormatan Terhadap Simbol-simbol Kenegaraan dan Kebangsaan

Oleh: Mula Harahap

Saya menghabiskan banyak waktu di depan televisi menyaksikan liputan CNN tentang peristiwa kematian Ronald Reagan di tahun 2004. Saya terkagum-kagum dan bulu roma saya berdiri melihat berbagai simbol dan upacara yang diberikan oleh bangsa dan negara AS terhadap jenazah dan kematian mantan presidennya tersebut.

Begitu Ronald Reagan meninggal dunia, maka bendera di kapal induk yang memakai namanya yaitu USS Ronald Reagan diturunkan dan diterbangkan ke Los Angeles. Bendera tersebut dipakai untuk menutup peti jenazahnya yang disemayamkan di gedung perpustakaan pribadinya. Ribuan penduduk di sekitar Los Angeles datang melayat jenazahnya.

Continue reading

Memaafkan Suharto: Usulan Untuk Presiden SBY (Lanjutan)

Oleh: Mula Harahap

Catatan:

Tulisan saya “Memaafkan Suharto: Usulan Untuk Presiden SBY”, yang juga saya posting di beberapa milis, mendapat tanggapan dari seseorang. Dengan maksud lebih memperjelas apa yang ingin saya kemukakan di dalam tulisan tersebut, rasanya baik juga kalau tanggapan tersebut (dan tanggapan saya atas tanggapan tersebut) saya sajikan di blog ini. Harus saya akui, tanggapan tersebut tadinya disajikan dalam bentuk tulisan yang utuh. Tapi demi alasan memudahkan pembaca, tanggapan tersebut (dan tanggapan saya atas tanggapan tersebut) saya sajikan dalam bentuk tanya jawab. Saya tidak menambah atau mengurangi sepotong kata pun atas tulisan si penanggap.

Bung Mula, tulisan anda pun dapat disimpulkan pada satu titik dan kalau dicermati muaranya sama dengan pernyataan orang yang anda anggap lucu yaitu pernyataan Amien Rais yaitu pemberian maaf.

Saya tidak mengusulkan pemberian “maaf”. Yang saya usulkan adalah, Presiden SBY perlu melakukan sesuatu untuk mempersatukan bangsa yang sedang terpecah dalam menyikapi peranan 32 tahun kepemimpinan Suharto. Dan tujuannya adalah demi kepentingan bangsa ini; bukan demi kepentingan Suharto.

Continue reading

Amien Rais Yang Lucu (Lanjutan)

Oleh: Mula Harahap

Catatan:

Tulisan saya “Amien Rais Yang Lucu”, yang saya posting di beberapa milis, mendapat tanggapan dari seseorang. Untuk lebih memperjelas apa yang ingin saya kemukakan di dalam tulisan tersebut, rasanya baik juga kalau tanggapan tersebut (dan tanggapan saya atas tanggapan tersebut) saya sajikan di blog ini. Harus saya akui, tanggapan tersebut tadinya disajikan dalam bentuk tulisan yang utuh. Tapi demi alasan memudahkan pembaca, tanggapan tersebut (dan tanggapan saya atas tanggapan tersebut) saya sajikan dalam bentuk tanya jawab. Saya tidak menambah atau mengurangi sepotong kata pun atas tulisan si penanggap.

Saya juga menyaksikan acara tersebut dan sepertinya anda sengaja (atau mungkin lupa) bahwa dalam acara tersebut Amien Rais juga meminta pendapat dari Yusril Ihza Mahendra, ketika pembawa acara menanyakan cara yang ditempuh. Dalam kesempatan itu, Amien Rais mengatakan, “Wah kalau hal itu (tentang masalah hukum/ tata caranya) bisa kita tanyakan kepada yang ahlinya” sambil menunjuk ke arah Yusril. Dari sini saya rasa Amien Rais tahu betul koq kemana arah yang dituju.

Continue reading