Ramai-ramai Membesuk Suharto

Oleh: Mula Harahap

Disebabkan oleh namanya, disebabkan oleh peranannya dalam kehidupan bangsa dan negara ini, dan disebabkan oleh beberapa faktor lain, maka harus kita akui bahwa peristiwa sakitnya Suharto adalah juga sebuah peristiwa politik.

Karena itu juga, suka atau tidak suka, kedatangan beberapa politisi yang membesuknya di RS Pertamina adalah juga sebuah peristiwa politik. Memang, bisa saja seorang Susilo Bambang Yudhoyono, Yusuf Kalla, Abdurrahman Wahid dan lain sebagainya itu mengatakan bahwa kedatangan mereka semata-mata dilandasi oleh faktor kemanusiaan. Tapi sebagai figur politik maka tidak salah juga kalau publik menangkap isyarat-isyarat politik, atau membuat penfasiran-penafsiran politik dari kedatangan tersebut.

Sebagai figur politik, maka ketika memutuskan untuk datang menjenguk Suharto, tokoh-tokoh tesebut tentu juga sudah melakukan kalkulasi: Bahwa adalah lebih menguntungkan bagi posisi politiknya kalau ia datang menjenguk ke RS Pertamina atau membiarkan kedatangannya tersebut dipublikasikan secara luas. (Dan di fihak lain kalkulasi yang sama jugalah yang diambil oleh seorang Megawati atau Amien Rais kalau mereka memutuskan untuk tidak datang menjenguk atau membiarkan kedatangannya dipublikasikan).

Kalau alasannya adalah benar semata-mata demi kemanusiaan, untuk apa datang pada saat Suharto tak sadarkan diri? Atau, kalau alasannya benar adalah demi kemanusiaan, rasa simpati itu tokh bisa saja disampaikan secara diam-diam kepada keluarga terdekatnya.

Dan perlu juga kita ingat bahwa semasa berkuasa Suharto juga adalah politisi yang punya rasa kemanusiaan. Hanya saja, dia tidak emosional. Dia tahu kapan memainkan bahasa politik dan kapan memainkan bahasa kemanusiaan. Pada saat lawan politiknya sudah tidak ada barulah dia menyempatkan diri untuk melayat ke rumah duka. (Paling tidak itulah yang dilakukannya terhadap Sukarno, A.H. Nasution dsb). Suharto tidak sebentar-sebentar datang membesuk ke rumah sakit.

Lalu timbullah pertanyaan: Mengapa para politisi, yang katanya kampiun reformasi itu, berlomba-lomba seperti bebek untuk unjuk muka membesuk Suharto?

Jawabannya hanyalah: Bahwa ternyata pengaruh Suharto masih sedemikian besar. Atau, paling tidak, para politisi yang mengaku kampiun refomasi itu berkalkulasi: Bahwa Suharto masih hidup di hati sebagian besar rakyat Indonesia. Menunjukkan simpati secara terbuka terhadap Suharto berarti merupakan tabungan politik untuk Pemilu yang akan datang. (Kalau bukan karena kalkulasi politik, untuk apa Agung Laksono harus buru-buru mengeluarkan pernyataan agar tuntutan hukum terhadap Suharto dibatalkan saja?).

Lalu timbullah lagi pertanyaan: Apakah sinyalemen para politisi itu memang benar? Apakah memang pengaruh Suharto masih hidup di hati rakyat?

Saya memang tidak tahu apa yang ada di hati 200-an juta kawan saya sesama rakyat. Tapi paling tidak, secara pribadi saya bisa mengatakan:

Dari aspek kemanusiaan saya mempunyai perasaan tersendiri terhadap Suharto: Saya kasihan melihat seorang bapak yang di usia tuanya harus menderita berbagai penyakit dan menghadapi berbagai tuntutan hukum.

Tapi dari aspek politik saya juga mempunyai perasaan tersendiri yang lain lagi terhadap Suharto: Ia adalah orang yang paling bertanggung-jawab atas keterpurukan yang dialami oleh negara dan bangsa ini. Dan ia harus mempertanggung-jawabkan hal tersebut. Itulah pendapat saya di tahun 1998. Dan itu jugalah pendapat saya di tahun 2008 ini.

Akhirnya kepada para politisi yang mengaku kampiun reformasi itu izinkan saya mengatakan: Anda terlalu emosional, cengeng dan mencla-mencle. Dan anda salah membaca pikiran saya sebagai rakyat. Atau, saya jadi curiga, jangan-jangan anda naik ke tampuk kekuasaan di era reformasi ini memang masih dikarenakan oleh restu dan pengaruh Suharto. Dan untuk itu saya akan membuat perhitungan dengan anda di tahun 2009 [.]

3 responses to “Ramai-ramai Membesuk Suharto

  1. Jangan-jangan, mereka mulai menangkap rumor, atau mungkin lelucon masyarakat “Ah, jaman orde baru alias Suharto, lebih aman, jalan juga tidak ada yang berlobang, sekarang kan, banyak jalan penuh lobang dan tidak atau belum diperbaiki”. he he he

  2. Mungkin dari suara “pasar becek”, para politisi tadi banyak mendapat masukan kalau ekonomi di zaman babe lebih yahud dibanding sekarang. “Kalau dulu, harga beras murah, minyak tanah mudah ditemukan, dsb”. Biasanya memang yang dikenang dari masa lalu yang enaknya saja. Sementara, keburukan dan kesalahannya sudah dilupakan. Jadi, kalkulasi politisi tadi memang sah-sah saja. Masalahnya, siapa yang paling berhak mewarisi semangat masa lalu yang “sejahtera”? Tidak ada yang bisa memastikan suara rakyat yang sebenarnya. Sabarlah sampai 2009. Horas…

  3. Seorang pembunuh berdarah dingin, akan sangat menikmati ketika korbannya sedang sekarat menemui ajalnya. Sayang, politisi Indonesia tidak berdarah dingin. Darah mereka biru, karena lahir dari feodalisme yang diciptakan oleh orde baru.

    Soeharto, beruntung, punya darah dingin itu. Ia menyematkan AH Nasution sebagai Jenderal Besar, di samping dirinya. Dan, ah, dia pun mengaku flu ketika supersemar sedang ditandatangani Soekarno (kalaupun isu supersemar itu memang ada).

    Dus, The smiling general akan tetap hidup dari asupan para hipokrit. Bukankah bokong orang yang dijilat akan tetap bersih, sementara lidah para penjilat justru penuh tinja?

    Isu kemanusiaan itu, benar-benar telah merasup backmind orang Indonesia. Walau, ini hebatnya orang Indonesia, ada saja lelucon yang terselip di isu-isu itu.

    Begini. Ketika banyak politisi ramai-ramai membesuk Soeharto (karena konon dia sebentar lagi mati), seorang teman sambil cengengesan, berujar, “Soeharto kok dikasihani, hehehe… Soeharto itu susah matinya. Duitnya itu sangat-sangat cukup untuk menyogok malaikat maut.”

    Saya tak sampai hati melihat Soeharto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s