Amien Rais Yang Lucu (Lanjutan)

Oleh: Mula Harahap

Catatan:

Tulisan saya “Amien Rais Yang Lucu”, yang saya posting di beberapa milis, mendapat tanggapan dari seseorang. Untuk lebih memperjelas apa yang ingin saya kemukakan di dalam tulisan tersebut, rasanya baik juga kalau tanggapan tersebut (dan tanggapan saya atas tanggapan tersebut) saya sajikan di blog ini. Harus saya akui, tanggapan tersebut tadinya disajikan dalam bentuk tulisan yang utuh. Tapi demi alasan memudahkan pembaca, tanggapan tersebut (dan tanggapan saya atas tanggapan tersebut) saya sajikan dalam bentuk tanya jawab. Saya tidak menambah atau mengurangi sepotong kata pun atas tulisan si penanggap.

Saya juga menyaksikan acara tersebut dan sepertinya anda sengaja (atau mungkin lupa) bahwa dalam acara tersebut Amien Rais juga meminta pendapat dari Yusril Ihza Mahendra, ketika pembawa acara menanyakan cara yang ditempuh. Dalam kesempatan itu, Amien Rais mengatakan, “Wah kalau hal itu (tentang masalah hukum/ tata caranya) bisa kita tanyakan kepada yang ahlinya” sambil menunjuk ke arah Yusril. Dari sini saya rasa Amien Rais tahu betul koq kemana arah yang dituju.

Inilah kelucuan Amien Rais yang pertama. Di dalam perbincangan itu dia mengesankan dirinya sebagai seorang yang tidak mengerti apa-apa. Padahal dia pernah menjabat sebagai Ketua MPR. Dan hak-hak Presiden dalam memberikan hukum di seputar “maaf” itu ada di dalam UUD 1945, dan semua anak SMP yang belajar civic pun tahu tentang itu.

Saat diberi kesempatan, Yusril pun menjelasakan proses secara hukum, dimulai dari memberikan penjelasan pemberian maaf (pardon) kepada Nixon dan celah hukum yang sesuai di negara ini. Yusril mengatakan yang paling tepat untuk Pak Harto adalah dengan cara rehabilitasi. Karena secara hukum menurut Yusril, statusnya sudah jelas saat dikeluarkan SP3 yang hingga sekarang dicabut, sehingga rehabilitasi adalah jalan yang terbaik, begitu kata Yusril.

Itu kata Yusril. Kata Adnan Buyung Nasution lain lagi. Kata Fajroel Falakh lain lagi. Ada seribu ahli hukum dan ada seribu pendapat. Atau, kalau pun cara yang diusulkan Yuzril itu memang benar dan bisa ditempuh, tapi kita juga tentu harus memperhitungkan posisi politik Presiden SBY. Saya rasa, kalau hal itu memang tidak memberikan ongkos politik apa-apa bagi dirinya, Presiden SBY sudah lama melakukannya.

Setelah mendengar penjelasan dari Yusril, Amien Rais pun bisa menyetujuinya, karena baginya yang terpenting adalah adanya sikap jelas dari pemerintah terhadap status Soeharto sebelum Soeharto mangkat. Amien Rais pun tidak setuju jika Tap MPR dicabut karena maaf atau rehabilitasi hanya untuk sang jendral bukan untuk kroni dan keluarganyau, begitu kata Amien Rais dalam Today’s Dialog malam itu.

Ini kelucuan Amien Rais yang kedua. Dia tidak mencoba menempatkan diri dalam posisi Presiden SBY. Dengan gampang dia menyuruh Presiden SBY berbuat begini dan begitu. Kalau akibat keputusannya itu Presiden SBY harus membayar ongkos politik (dimakzulkan atas tuduhan melanggar konstitusi) apakah dia mau ikut menanggungnya?

Lalu tolong tanyakan kepada Amien Rais sebagai mantan Ketua MPR: Bagaimana pula caranya sehingga seorang presiden boleh sesuka hatinya menyunat bunyi Tap MPR yang masih berlaku? Ingat, Tap MPR itu berbicara tentang Suharto dan kroni-kroninya; bukan tentang Suharto atau kroni-kroninya.

Bang Mula, memangnya menurut anda siapa yang bisa mengeluarkan kebijakan yg menyangkut hukum?

Presiden mempunyai beberapa hak dan itu diatur di dalam Konstitusi. Memang dalam perbincangan itu Amien Rais mengusulkan agar Presiden SBY sedikit berani untuk melakukan hal-hal yang tidak diatur di dalam Konstitusi. Bagi saya ini juga adalah kelucuan yang lain lagi. Kalau saya adalah Presiden SBY saya akan berkata kepada Amien Rais, “Enak aja lu ngomong. Kalau gue terjungkal gimana?!” Dan lagipula dalam perbincangan itu saya tak berhasil dikesankan oleh Amien Rais: Ribut-ribut dalam urusan memberi “maaf” ini sebenarnya untuk kepentingan siapa sih? Untuk kepentingan bangsa ini atau kepentingan Suharto?

Menurut anda apa yang terbaik? Meminta pemerintah untuk menuntaskan kasus Soeharto? Untuk ini pertanyaan berikutnya: Apa SBY punya nyali? Mendiamkan hingga ia mangkat atau rehabilitasi?

Silakan baca tulisan saya yang juga ada di milis ini: “Memaafkan Suharto–Usulan Untuk Presiden SBY”. Sama seperti Amien Rais saya juga mengusulkan perlu ada solusi dari Presiden SBY terhadap kontroversi ini. Solusi saya juga adalah solusi relijius, moral dan budaya. Tapi bedanya saya dengan Amien Rais ialah, bahwa saya tak mengusulkan agar solusi relijius harus dipecahkan dengan cara politik atau hukum.

Amien Rais juga melemparkan kritik kepada para penegak dan pengamat hukum yang baru bersuara ketika Soeharto tak berdaya dan terbaring lemah di tempat tidur, tapi ketika ia sangat power full mereka nyaris tidak terlihat, saat Soeharto masuk rumah sakit lagi, para pahlawan-pahlawan kesiangan itupun muncul lagi.

Bahwa ada orang yang bersuara, ada yang tidak bersuara, dan ada yang bersuara berganti-ganti nada, itu terserah. Tapi kalau saya sebagai rakyat boleh mengusulkan: Apa pun suara itu hendaklah dia semata-mata didasari demi kepentingan bangsa dan negara ini. Jangan didasari demi kepentingan pribadi. Jangan juga didasari demi kepentingan Suharto, karena sebentar lagi dia tokh akan senang. Dia akan berada dalam Negeri Kekekalan, dimana tak ada lagi ada flu burung, antre minyak tanah, krisis kedelai, banjir, tanah longsor, dsb [.]

6 responses to “Amien Rais Yang Lucu (Lanjutan)

  1. Kenapa Yusril yang dihadirkan….Tujuannya kan sudah terbaca jelas🙂

  2. Hmm. Anda juga lucu. Menyuruh orang berpikir dari berbagai sisi, namun anda menurut saya kurang berpikir dari berbagai sisi

  3. Menurut saya tulisan anda terjebak dalam sentimen pribadi saja. Tidak menambah jelas pada akar dan substansi masalah, sehingga argumen yang terbangun menjadi amat dangkal. Semestinya anda mempunyai konsep yang jelas tentang topik yang dibahas untuk memberi kritik sekaligus memberikan visi-visi anda. Sebab perbedaan pendapat selalu terjadi, dan judgement terhadap pribadi kadang justru mengaburkan tujuan dan makna tulisan anda (seperti pendapat heavy-fun di atas: anda menilai orang lain lucu, sementara orang lain lagi justru menilai…andalah yang lucu). Kiranya lebih bermakna jika anda mengkritisi orang lain dengan membangun konsep berdasarkan ide-ide orisinil anda. Wallahu’alam.

  4. Awalnya saya salut pada Anda.tetapi setelah saya renungkan Anda memang sangat tidak obyektif. Anda sudah terkooptasi dan betul kata Bung Amiroel bahwa Anda memang sentimen pada Amien Rais. Sudahlah semua nantinya akan ketahuan belangnya.dan orang yangg lurus pasti juga akan ketahuan. Saya jadi berfikir siapa Anda ini? Apa kontribusi Anda untuk negara ini dibanding Amien Rais?

    Tolong baca juga tulisan saya “Dilema Amien Rais”, yang saya buat sebelum pemilu Presiden tahun 2004, dan bandingkan pendapat saya dalam tulisan tersebut dengan hasil pemilu itu sendiri–MH

  5. Karena terlalu panjang, maka komentar Olish Faris bisa dibaca langsung di blognya:
    http://www.olishkatja.blogspot.com

    Saya menggugat irasionalitas Amien Rais hanya dalam kaitan dengan isyu pemberian maaf terhadap Suharto. Kalau tulisan saya dibaca baik-baik, saya juga melihat banyak sisi positif dari kepribadian Amien Rais. (Dan karena memiliki banyak sisi positif itu jugalah maka dalam isyu memaafkan Suharto saya melihat Amien Rais jadi terkesan aneh dan lucu).

    Tapi sampai sejauh ini, dari komentar-komentar yang tidak sepakat dengan tulisan saya tersebut, saya belum melihat satu komentar pun yang membela Amien Rais atau mengkritik saya di seputar apa yang dipersoalkan tersebut–MH

  6. Yang bener ini, Bang…http://www.olishkatja.blogspot.com

    Terimakasih, Olish. Kesalahan sudah saya perbaiki. Tapi omong-omong, kalau ada waktu, baca juga tulisan saya “Dilema Amien Rais” di blog ini🙂 –MH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s