Nasib Usaha Pertanian Skala Ekonomi Kecil

Oleh: Mula Harahap

Pada masa saya masih bersekolah dan tinggal di Medan, di sekitar bandara Polonia banyak sekali orang Sikh (kami menyebutnya orang Benggali) yang memelihara sapi perah dan menjualnya langsung ke rumah- rumah secara berlangganan.

Susu itu ditaruh di sebuah wadah baja menyerupai termos yang besar dan digantung di kiri-kanan sepeda. Setiba di rumah yang dituju, orang Sikh yang brewokan dan kepalanya diikat sorban itu akan berteriak, “Susssuuu….!” Lalu keluarlah nyonya rumah atau
pembantunya dengan membawa rantang. Si Sikh akan mencedok susu itu dan memindahkannya ke rantang.

Rumah kami–di Kampung Baru–selalu menjadi pelintasan orang-orang Sikh dalam perjalanannya mengantar susu. Pagi-pagi buta saya selalu mendengar bunyi kerontang-kerontong dari sepeda mereka dan celotehan mereka satu-sama lain, “Wole-wolu-wole-wolu-wala-wali….”

Pada tahun 70-an di Jakarta–kususnya di sekitar Kuningan–saya juga banyak melihat usaha peternakan sapi perah. Umumnya usaha ini dijalankan oleh orang-orang pribumi. Berbeda dengan di Medan, di sini susu diantar dalam botol. Botol-botol itu ditaruh dalam sebuah kantongan dari kain terpal yang digantung di kiri-kanan sepeda si pengantar.

Tapi akhir-akhir ini, baik di Medan maupun di Jakarta, saya nyaris tak pernah lagi melihat pengantar susu tradisional itu. Mereka sudah terpinggirkan oleh perkembangan pemasaran susu kental atau susu bubuk yang diawetkan dan dijual dalam kartun atau kaleng.

Sebenarnya kalau industri susu kemasan itu mengambil bahan bakunya dari usaha peternakan kecil seperti yang ada di sekitar Polonia atau Kuningan, itu sih baik-baik saja. Tapi cilakanya sebagian besar bahan baku dari industri susu kemasan itu selalu diimpor dari Australia, Eropa dsb. (Karena harganya memang jauh lebih murah).

Sampai beberapa tahun yang lalu kita selalu mendengar kisah klasik: Peternak di Pengalengan, Boyolali atau Pujon selalu mengeluh karena produksinya tidak ditampung oleh industri susu kemasan yang besar-besar itu. Atau, kalau pun ditampung, maka yang ditampung hanyalah sebagian kecil dan motivasinya lebih karena politik (takut dibakar oleh petani).

Dua bulan lalu di kaki Gunung Merapi dan Gunung Merbabu saya juga melihat banyak petani yang memelihara sapi perah. Skala usaha mereka pun tidak besar. Hanya 2 atau 3 sapi per rumah tangga. Saya merasa yakin bahwa produk yang mereka hasilkan pun pasti tidak akan ditampung oleh industri susu kemasan. Mereka lebih banyak menjualnya secara langsung kepada konsumen.

Saya pikir, walau pun bergabung dalam sebuah koperasi, tapi selama “dairy farm” yang menjadi anggotanya itu merupakan usaha
gurem, yang hanya terdiri dari 2 atau 3 sapi per unit usaha, maka produknya tidak akan pernah bisa bersaing (secara harga dan kwalitas) dengan susu impor. Mereka akan tetap mengalami kesulitan untuk memasarkan produknya ke industri susu kemasan yang besar-besar itu.

Usaha “dairy farm” yang berskala kecil hanya bisa hidup kalau dibangun di sekitar kota-kota besar dan dengan melakukan penjualan
langsung ke konsumen. Usaha “dairy farm” yang bertebaran di sekitar Bandung itu pun, saya rasa, hanya bisa survived karena mereka menjualnya secara langsung (dalam bentuk susu segar atau yoghurt) langsung ke konsumen.

Mendirikan “dairy farm” (apalagi yang berskala kecil) di daerah yang sepi penduduk–seperti di Tapanuli–saya rasa juga adalah sebuah hal yang sia-sia. Siapa yang mau dan mampu membeli susu segar di Sipirok, Laguboti, Pahae dsb? Tapi kalau pun “dairy farm” itu didirkan dalam skala besar maka persoalannya ialah, pabrik kemasan susu mana yang akan menampung produknya?

Usaha pertanian dan peternakan kita yang gurem itu memang sudah nyaris tak mungkin melawan usaha pertanian raksasa yang ada di Jepang, Amerika Serikat, Australia atau negara-negara Eropa. Apa pun yang kita hasilkan (baik itu beras, jagung, bawang putih, susu, telur, daging ayam, jeruk dsb) selalu kalah dalam harga dan mutu dengan produk impor. Apalagi, kalau bibit, pupuk dan obat-obatan yang kita pakai juga adalah produk impor maka akan semakin kalah saja kita dengan Jepang, Amerika Serikat dsb itu.

Menurut hemat saya, satu-satunya cara agar usaha pertanian dan peternakan kita yang gurem itu bisa survived ialah kalau mereka
bermain dalam “term” yang dibuatnya sendiri. Artinya, kalau itu adalah usaha peternakan sapi perah, maka bibit sapinya janganlah yang terlalu hebat, agar makanannya juga tidak terlalu hebat, dan obat-obaannya juga tidak terlalu hebat. Kalau itu adalah usaha peternakan ayam, maka sebaiknya ayamnya adalah “ayam kampung” saja, agar ia cukup diumbar di halaman begitu saja dan tak perlu disuntik setiap kali terjadi perubahan cuaca. (Jangan menggantungkan bibit, makanan atau obat-obatan ke tangan Charoen Phokphan atau Sierrad Corp).

Dalam hal penjualan produk, sebisa mungkin juga jangan megandalkan raksasa seperti Kentucky, Carrefour, MacDonald, Nestle dsb. Petani dan peternak gurem hanya akan menjadi bulan-bulanan saja. Merekalah yang menentukan harga dan term pembayaran.

Memang akan timbul pertanyaan, kalau begitu kapan usaha pertanian dan peternakan kita yang gurem-gurem itu bisa tumbuh dan menjadi besar? Jawabnya, kalau pemerintah sudah memiliki kemauan politik untuk itu. Kalau pemerintah memang sudah menyadari bahwa pembangunan yang kita lakukan ini adalah demi mengangkat derajat hidup mayoritas rakyat yang marjinal, bukan demi mengenyangkan sejumlah kelas menengah dan elit [.]

3 responses to “Nasib Usaha Pertanian Skala Ekonomi Kecil

  1. Wah hebat sekali pemikiran ekonomi Tulang ini. Mungkin perlu diperbanyak juga wisata memerah susu langsung dari sapinya. Bagi petualang, ini merupakan pengalaman yang cukup seru. Salah-salah bisa ketendang sapi.
    Misalnya saja, setiap kali perah, pengunjung membayar 20 ribu. Anak-anak sekolah favorit bisa digalang untuk mengikuti field trip ke sini.
    Setelah diperas, langsung diperlihatkan cara mengolahnya. Atau bila perlu pengunjung bisa mengolah susu sendiri. Tapi, memang perlu ketekunan dan kreativitas. Kita sih sebagai penonton ngomongnya enak banget. Padahal pemain bolanya udah ngos-ngosan. Hidup pengusaha kecil.

  2. Di Australia, penduduk akan melapor dan mendaftar ke Pemerintah bahwa dia ingin menjadi peternak. Dia akan mendapat pinjaman untuk beli bibit sapi sekitar 50 ekor, lahan pengembalaan yang luas (u sapi potong), dan modal kerja.

    Katanya, kalau dia sangat rajin dan cuaca mendukung..seluruh pinjaman itu bisa dia lunasi dalam 10 tahun..plus sapinya juga bertambah mungkin jadi 200 ekor. Dan yang penting juga, selama 10 tahun itu-pun, dia beserta keluarga hidupnya layak standard Australia. Kalau kerjanya biasa2 saja, mungkin butuh 15 tahun…. Wuuee..nnakknya jadi rakyat disana !!

    Disini, bagaimanalah mungkin dengan 2 atau 3 ekor sapi sebuah keluarga bisa hidup layak… atau berharap produknya bisa bersaing ???

    Yah…sangat ingat dulu, ada banpres (bantuan presiden) sapi,. tapi memang dapatnya cuma 2 ekor… itupun tidak setiap keluarga dapat..

    Tapi, namanya juga bantuan… mungkin maksudnya menambahi dari sapi-sapi yang sudah ada ???

    Jadi masalahnya skala-ekonomi memang jauh sekali dari memadai untuk hidup layak dan bersaing harga. Makanya, jangan namai itu sebagai sebuah usaha skala ekonomi kecil bila darinya tidak bisa hidup layak.. makan makanan bergizi, menyekolahkan anak setinggi2nya,.. berlibur ke bali se-kali2, dan beli mobil pick-up dan van.

    Gawaat betul memang bila pertanian/ perternakan sebuah negara dengan penduduk yang besaar tidak bisa swa-sembada…bisanya import melulu, terutama untuk bahan makanan utama… pastilah akan menjadi negara dan bangsa yang rapuh yang setiap saat bisa runtuh begitu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s