Penghormatan Terhadap Simbol-simbol Kenegaraan dan Kebangsaan

Oleh: Mula Harahap

Saya menghabiskan banyak waktu di depan televisi menyaksikan liputan CNN tentang peristiwa kematian Ronald Reagan di tahun 2004. Saya terkagum-kagum dan bulu roma saya berdiri melihat berbagai simbol dan upacara yang diberikan oleh bangsa dan negara AS terhadap jenazah dan kematian mantan presidennya tersebut.

Begitu Ronald Reagan meninggal dunia, maka bendera di kapal induk yang memakai namanya yaitu USS Ronald Reagan diturunkan dan diterbangkan ke Los Angeles. Bendera tersebut dipakai untuk menutup peti jenazahnya yang disemayamkan di gedung perpustakaan pribadinya. Ribuan penduduk di sekitar Los Angeles datang melayat jenazahnya.

Kemudian jenazah tersebut diangkut ke Washington DC untuk disemayamkan di Capitol Hill dan menerima penghormatan kenegaraan. Ketika iring- iringan mobil yang mengantar jenazah tersebut keluar dari gedung Perpustakaan Ronald Reagan (menuju pangkalan angkatan udara), semua pengendara dan pejalan kaki yang berada di jalan raya yang dilalui oleh iring-iringan kendaraan tersebut berhenti tanpa diperintah.

Ketika menerima penghormatan dari para pelayat di gedung Perpustakaan Ronald Reagan, peti jenazah tersebut dikawal terus-menerus oleh sepasang prajurit marinir. Dan dalam perjalanan menuju Washington DC, disamping para prajurit marinir yang mengawal peti jenazah, ada pula seorang perwira tinggi AL berbintang tiga yang mendampingi Nancy Reagan.

Jenazah dijemput ke Los Angeles dengan Air Force One, pesawat kepresidenan AS yang megah itu. Setelah disemayamkan di Capitol Hill dan menerima penghormatan dari berbagai pemimpin dunia, jenazah dikembalikan ke Los Angeles. Ia diantar ke Andrew Air Base oleh Presiden George Bush dan Wakil Presiden Dick Cheney. Kemudian, begitu Air Force One terbang meninggalkan Andrew Air Base, dua pesawat tempur F-15 melesat di kiri–kanan dan mengawalnya sampai ke Los Angeles.

Berbagai upacara dan simbol yang dikenakan terhadap Ronald Reagan itu sangat mahal biayanya. Tapi negara dan bangsa AS sadar bahwa yang sedang dilakukan oleh pemerintah dan disaksikan oleh seluruh bangsa itu bukanlah sekedar “show”; ia adalah bagian dari pendidikan untuk menanamkan rasa kebangsaan dan patriotisme.

Rakyat AS adalah rakyat yang liberal dan demokratis. Tapi hal ini tidak pernah mengurangi rasa hormat mereka terhadap simbol-simbol kenegaraan dan kebangsaan. Rakyat AS boleh saja mencaci-maki presidennya di media massa atau forum-forum lain. Tapi di forum-forum tertentu, bila pembawa acara mengatakan, “Ladies and gentelemen…The President of The United States….” maka semua yang hadir akan berdiri, diam dan memeberi hormat.

Rakyat AS boleh saja membuat celana dalamnya dengan motif “stars and stripes”. Tapi pada peringatan Hari Kemerdekaan tanggal 4 Juli semua akan memberi hormat dengan takzim kepada bendera kebangsaannya. Dan sebaliknya juga, bila ada satu-dua warga yang “bandel-bandel” itu terjebak dan terancam nyawanya dalam sebuah situasi perang–entah di Libanon, Panama atau Somalia–maka negara tak akan segan-segan mengirim sebuah kapal induk dan skuadron pesawat tempur untuk mengangkut warga tersebut kembali ke negaranya.

Ketika Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden RI meninggal karena serangan jantung di Washington DC maka Pemerintah AS memutuskan untuk menyediakan pesawat kepresidenan Air Force Two untuk mengangkut jasatnya. Dalam penerbangan non-stop dari Washington DC sampai Honolulu psawat kepresidenan tersebut dikawal oleh 2 pesawat tempur F-16. Dan dari Honolulu barulah jasat itu diangkut dengan pesawat Garuda.

***

Saya tidak tahu apa penyebabnya, tapi saya mendapat kesan bahwa reformasi yang kita lakukan dalam kehidupan sosial dan politik dewasa ini cenderung menyepelekan dan menganggap enteng simbol-simbol kenegaraan dan kebangsaan. Bahkan ada pemahaman yang salah-kaprah, bahwa demokrasi baru bisa berjalan bila negara lemah. Padahal, kita justeru membutuhkan negara yang kuat, yang menjamin kehidupan yang demokratis.

Kita kehilangan rasa “solemn” (takzim, hikmat, khusuk dsb) terhadap simbol-simbol kenegaraan dan kebangsaan. Para pemimpin–terutama politisi–hanya bisa merepet dan mencaci-maki.

Boleh jadi, beberapa upacara atau simbol kenegaraan dan kebangsaan yang kita kita lakukan memang membosankan. Dibutuhkan kreativitas agar upacara atau simbol tersebut tetap memberi makna kepada generasi muda. Tapi sementara kita berupaya memperbaiki upacara atau simbol tersebut, maka seyogyanyalah kita tetap memberi rasa hormat kepadanya [.]

3 responses to “Penghormatan Terhadap Simbol-simbol Kenegaraan dan Kebangsaan

  1. Memang, pasca reformasi semua yang dianggap sebagai simbol kekuasaan dijungkirbalikkan. Aturan lalu lintas termasuk yang paling sering dilanggar. Bahkan terkadang, ada anggapan,”Ah, aturan lalu lintas kan buatan manusia. Hukum Tuhan saja dilanggar, apa lagi hukum manusia.
    Bagaimana menyetopnya? Mungkin nanti pelan-pelan orang sadar dan kembali ke titik keseimbangan baru. Mudah-mudahan pendulumnya tidak terlalu ekstrem.

  2. Kita berada di perahu yang sama Lae, yang dihiasi lengkap dengan segenap atribut kenegaraan dan kebangsaan Indonesia. Ditambah dengan coretan sajak-sajak Chairil Anwar dan lukisan Sudjojono yang heroik-patriotis, di lambung perahu.

    Tapi aku juga bersimpati pada saudara-saudara kita, yang sudah merasa suntuk dengan simbol-simbol itu, Lae. Sorry.

    Ada tiga alasan mengapa mereka tak lagi “solemn” terhadap simbol-simbol itu; tapi malah sebaliknya merasa sebal dan marah :

    Pertama, simbol-simbol itu pernah digunakan Soeharto untuk menyakiti mereka.

    Kedua, sejak era Soeharto sampai sekarang, simbol-simbol itu tidak pernah hadir atau tidak berfungsi pada saat mereka teraniaya–atau ketika orang-orang Indonesia dihinakan, disiksa dan dibunuh dengan berbagai cara di luar negeri.

    Ketiga, simbol-simbol kenegaraan dan kebangsaan itu menimbulkan efek yang memalukan dan membuat minder dalam memandang dan menghayati eksistensi kita sebagai warga dunia.

    Bukankah tiga alasan itu terlalu banyak, Lae?

  3. Masuk Robert !. Itulah yang terjadi.

    Tetapi bagaimanapun sumbangsih pemikiran yang diperlukan untuk memperjuangkan respek kepada simbol-simbol yang dibicarakan.

    Ketika Ronald Reagan itu wafat, saya mengirim selembar fax ke kedutaan Amerika Serikat yang menyatakan turut berduka cita sebagai pribadi dan sebagai warga dunia.

    Sekaligus juga saya keluhkan sikap HE-George Bush yang membangkitkan perang Irak sampai-sampai orang seperti Colin Powell harus menyembunyikan muka dari dunia. (Salut untuk Colin Powell). Dan saya katakan juga ‘saya tidak suka pada presiden Anda yang ini !’. Tapi sebagai warga dunia saya berdoa untuk kesejahteraan beliau, sebagai simbol kepemimpinan dunia. Saya tetap respek.

    Ketika masa pemilihan kedua, banyak warga Amerika Serikat tidak setuju pada HE-George Bush. Tapi karena Amerika Serikat sedang menghadapi perang, praktis mereka setuju untuk melanjutkan masa kepresidenan HE-George Bush. Simbol kenegaraan dan kedaulatan di kedepankan.

    Ketika Pemilu di Indonesia, saya bagaimanapun tidak memilih Susilo Bambang Yudhoyono. Saya tidak suka saja beliau jadi presiden Indonesia. Tapi ketika beliau menjadi presiden Indonesia, saya mendukung beliau sebagai presiden saya. Susilo Bambang Yudhoyono adalah presiden Republik Indonesia, presiden saya !,. Acap kali saya memberi masukan pemikiran tertulis kepada presiden saya ini. Bukan duka nestapa masa kepresidenan Suharto yang saya pedulikan, walaupun tetap saya ingat.

    Tentu saja saya benci ketika semua teman-teman kita itu pada hilang, tersiksa dll.

    Tapi ketika bencana Tsunami menggerus Aceh, saya dengan sukarela dan bangga bekerja bahu membahu dengan para prajurit TNI – POLRI, berbuat segala apa yang bisa meringankan penderitaan warga negara Indonesia. Warga negara Indonesia, bukan ORANG ACEH yang saya pedulikan.

    Setiap hari angkatan bersenjata (5 Oktober) Papa saya almarhum mengibarkan Sang Merah Putih demi respeknya kepada ABRI waktu itu. Padahal Papa saya adalah oposan tulen dari hampir semua kebijakan presiden Suharto.

    Saya salut kepada Xanana Gusmao yang tetap respek kepada simbol-simbol Republik Indonesia, meskipun dia adalah korban dari kebijakan sebuah rezim di Indonesia.

    Saya benci kepada Suharto karena kebijakannya membuat banyak saudara kita yang dinista sebagai turunan tapol (pada masa itu) dan harus melalui hidup yang teramat berat di negeri sendiri. Tapi, seandainya beliau wafat, saya akan menghormati beliau sebagai bekas presiden Republik Indonesia.

    Bagaimana Bang Mula ?.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s