Legacy Suharto

Oleh: Mula Harahap

Kita sering lupa bahwa akibat berkuasa selama lebih dari 30 tahun itu, Suharto bukan lagi sekedar pribadi tapi dia sudah menjadi sebuah budaya atau sistem nilai. Sebuah budaya kepura-puraan, kepengecutan, keserakahan dan pengingkaran akal sehat serta hati nurani demi uang dan kekuasaan.

Bagaimana mungkin ratusan ribu bekas anggota PKI dibunuh, dianiaya atau ditahan tanpa proses peradilan, dan jutaaan anggota keluarganya selama 30 tahun harus menjadi anggota kasta “the untouchable” di masyarakat? Bagaimana mungkin selama enam kali pemilu hari pencoblosan tidak pernah dianggap sebagai hari libur, dan karenanya semua pegawai harus melakukan pencoblosan di kantor? Bagaimana mungkin satelit Palapa yang gagal diluncurkan dan terkatung-katung di ruang angkasa itu dipungut oleh Bimantara, diklaim menjadi miliknya lalu dijual kembali ke Indonesia? Bagaimana mungkin siaran televisi pendidikan yang dimodali oleh negara di kemudian hari menjadi perusahaan swasta, yang mula-mula bernama PT Televisi Pendidikan Indonesia, lalu menjadi hanya PT. TPI? Bagaimana mungkin hanya ada sebuah perusahaan manufaktur mobil yang diberi pinjaman luarbiasa besar dan pembebasan bea masuk sampai nol prosen lalu mengimpor mobil built-up dari Korea dan mengklaimnya sebagai mobil nasional?

Mengapa selama 32 tahun Golkar harus disebut sebagai “golongan” dan PDI serta PPP harus disebut sebagai “parpol”? Mengapa utusan daerah dan golongan yang duduk di MPR itu selalu harus ditunjuk oleh Presiden? Mengapa produk persidangan MPR itu sebagian disebut sebagai “keputusan” dan sebagian lagi disebut “ketetapan”? Mengapa selama 7 kali sidang MPR kita selalu harus memilih orang yang sama secara aklamasi? Kemana uang hasil penjualan gas (di Sumatera dan Kalimantan), kayu (di Sumatera dan Kalimantan), nikel (di Sulawesi), emas dan tembaga (di Papua) yang disedot selama 30 tahun dan sekarang nyaris habis itu? Mengapa majalah Tempo harus dibredel hanya karena memberitakan betapa mahalnya biaya meraparasi kapal-kapal perang
rongsokan eks Jerman Timur itu?

Oh, masih banyak lagi skandal-skandal politik, ekonomi dan sosial yang begitu vulgar dan telanjang yang kita saksikan selama masa 32 tahun kepemimpinan Suharto. Tapi kita diam saja. Bahkan sebagian orang sengaja mematikan akal sehat dan hati nuraninya lalu menghibur diri dengan ikut menumpuk uang serta kekuasaan sebanyak-banyaknya.

Suharto memang tidak bisa dipersalahkan sebagai satu-satunya orang yang bertanggung-jawab atas sistem tersebut. Dia didukung oleh orang- orang yang sebagian besar tampangnya bisa kita lihat di media massa pada akhir-akhir ini. Tapi bagaimana pun sistem atau budaya itu bisa terjadi karena terdapat kerjasama yang saling menguntungkan di kedua belah fihak.

Sistem atau budaya itu juga sedemikian kentalnya sehingga walaupun Suharto tidak lagi berkuasa selama hampir 10 tahun terakhir ini tapi sistem atau budaya itu masih mencengkeram kita. Lihatlah segala puja-puji yang dilontarkan berbagai tokoh akhir-akhir ini. Inilah nilai-nilai kepura-puraan, kepengecutan, keserakahan dan pengingkaran akal sehat serta hati nurani demi kenikmatan materi dan kekuasaan..

Kalau memang Suharto sedemikian hebat dan baiknya mengapa di tahun 1998 kita harus menurunkannya? Lalu apa artinya kematian anak-anak muda kita dalam peristiwa Trisakti, Semanggi I, Semanggi II dsb. itu?

Beberapa hari ini saya mencoba memahami apa sebenarnya yang ada di balik pikiran beberapa tokoh yang dulu sempat terkesan berpikir kritis itu, tapi yang kemudian–entah karena apa–kembali beramai-ramai memuja Suharto tanpa tedeng aling-aling? Saya tidak berhasil menemukan jawaban yang memuaskan kecuali: Inilah warisan produk budaya Rezim Orde Baru Suharto itu. Ketololan, kebodohan dan maschochisme (merasa nikmat karena disakiti, dan jatuh cinta kepada yang menyakitinya).

Kepergian Suharto sebagai pribadi memang harus direlakan (baca: bukan dimaafkan). Karena kalau tidak direlakan, yah mau diapakan lagi? Tapi sebagai sebuah budaya atau sistem nilai dia samasekali tidak boleh dilupakan, apalagi dimaafkan. Perbuatan-perbuatan kolektif yang mencerminkan kepura-puraan, kepengecutan, keserakahan dan pengingkaran akal sehat serta hati nurani itu harus terus dibicarakan dan diawasi agar tidak terulang lagi.

Bagi saya, hilangnya kekayaan negara akibat penyelewengan Rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Suharto memang pantas disesali. Tapi ada hal yang lebih penting lagi untuk disesali: Hilangnya akal sehat dan hati nurani di sebagian besar bangsa yang maschochis ini. Dan perwujudannya bisa kita lihat jelas dari fenomena berlomba-lombanya orang untuk nampang di RS Pertamina, Cendana dan Astana Giri Bangun, dan segala puja-puji yang mereka panjatkan.

Sungguh merupakan sebuah ironi: Sementara media massa luar negeri memberitakan kepergian Suharto dan legacy yang ditingalkannya dengan nada yang kritis, media massa kita justeru cenderung melupakan apa yang pernah terjadi selama 32 tahun terakhir ini.

Sel-sel kanker yang bernama sistem nilai Orde Baru itu ternyata belum habis. Dia masih hidup dan menjalar kemana-mana, dan akhir-akhir ini dia kembali muncul ke permukaan. Kita telah mulai lagi menjadi bangsa bebek, yang mengelompok lalu berjalan tak menentu kesana-kemari.

Kalau kita tidak melakukan sesuatu dengan fenomena pemunculan kembali nilai-nilai itu, maka percayalah dalam waktu dekat dia akan menggerogoti pikiran dan hati orang-orang muda kita yang praktis tak pernah mengalami betapa gila dan bebalnya kita selama 32 tahun Orde Baru itu, dan negara serta bangsa ini akan semakin terpuruk saja [.]

9 responses to “Legacy Suharto

  1. Bpk Mula Harahap,

    Saya suka sekali dengan tulisan bapak. Kalau boleh, saya ingin sekali meng-copy paste nya pada blog saya (tentunya dengan mencantumkan nama bapak dan link ke situs bapak di blog saya). Saya prihatin dengan banyak teman-teman saya yang generasi MTV/iPod cenderung tidak tahu menahu dan tidak peduli soal kejahatan Soeharto di masa lalu. Mereka seperti anak-anak bebek yang ikut saja dengan apa kata televisi. Saya ingin mereka baca tulisan bapak, agar mereka bisa melihat dari perspektif yang berbeda.

    Terimakasih,
    Teraya Paramehta

  2. Sedih rasanya amang, saya menangis, bukan menangisi kepergian soeharto, tapi menangisi bangsa kita yang gampang sekali melupakan sejarah, terlalu gampang “melupakan”. Ironis sekali, kita memiliki orang terkaya di dunia, ditengah rakyatnya masih puluhan juta lagi tidak bisa makan… Pantaskah????

  3. Dari Soeharto kita bisa mengambil hikmah sbb:
    1. Setiap pemimpin harus terus diawasi oleh konstitusi yang tepat. Konstitusi yang sangat elastis sering digunakan untuk kepentingan penguasa.
    2. Kekuasaan dan uang gampang membuat manusia lupa. Yang dulunya baik, kalau mendapat peluang, mudah tergelincir. Karena itu sistem pengawasan harus diciptakan seketat mungkin, tetapi tanpa menghalangi kreativitas.

  4. ini dia tulisan yang aku tunggu2. setelah muak melihat kemunafikan semua pejabat publik, artis, mantan pejabat publik, kroni2 soeharto yang numpang ngomong supaya semua mengingat jasa sang jenderal besar dan melupakan semua dosa2nya.

    sakit sekali hati ini melihat begitu lupanya orang2 melupakan bahwa tangan sang jendral berlumuran darah.. lebih dari 500 rb orang dibantai karena dicap komunis, lebih dari 3 juta orang diadili dan dipenjarakan dan disematkan image terlarang sebagai pengikut PKI. tangan sang jendral berlumuran darah korban2 petrus, peristiwa malari, DOM di aceh, ambon, peristiwa di santa cruz dilli, tragedi trisakti, semanggi, dll dll.

    saya pernah menjadi tim advokasi korban2 semanggi I…., air mata ibunda almarhum rekan wawan, heru, engkus, sigit dan teddy sama bernilainya dengan airmata tutut dan saudara2nya. mereka kehilangan orang yang dicintai.., untuk itu saya menaruh simpati.

    tapi saya sangat kecewa dengan SBY, bahkan Gus Dur dan Megawati. 10 tahun sudah Soeharto lengser…, tidak satupun dari mereka bisa menyeret Soeharto ke pengadilan. ada apa?? apa karena mereka bagian dari era Soeharto??

    not to mention triliuan rupiah yang dirauk soeharto n kroninya.

    sangat tidak pantas gelar pahlawan dialamatkan kepada seseorang yang tangannya berlumuran darah dan hingga akhir hayatnya tidak berani membuktikan kebenarannya di pengadilan.

    hukuman politik sudah dijatuhkan, demikian pula hukuman sosial. tidak agung rasanya berpulang sebagai seorang terdakwa.

    salam.

  5. ————————————————–
    Sel-sel kanker yang bernama sistem nilai Orde Baru itu ternyata belum habis……… lagi menjadi bangsa bebek, yang mengelompok lalu berjalan tak menentu kesana-kemari.
    ————————————————–

    Sel kanker orde baru sudah dioperasi tahun 1998…tapi malah sekarang stadiumnya naik dari 3 ke 4.. dan semakin diperparah karena ditambah ekonomi rakyat makin susah !! Bagusan jaman Soeharto lah ..!!

    Sudah 10 tahun, hasilnya gerakan pro-demokrasi bikin kecewa rakyat… bisanya cuma dobrak dan amok, tidak berdaya mengawal agar negara dan bangsa lebih baik. Sama saja seperti gerakan 66 yang melahirkan orde baru. Kenapa begitu ya ??

    Sebabnya memang rakyat tidak pernah BERDAULAT. Karena nyatanya, semua gerakan baik orde baru maupun reformasi tersebut bukanlah gerakan rakyat, itu kerjaannya para elit. Tahun 1998,dengan menumpang gerakan pro-demokrasi (reformasi) rakyat cuma diperalat… tapi kenapa bisa begitu yaa??

    Karena memang rakyat kita belum melek politik… sendi2 sosial dan budayanya belum siap untuk bernegara secara modern. Rakyat tidak tahu bahwa negara itu miliknya, para pejabat dan PNS itu kuli-nya (orang gajian), dan Presiden serta para politisi itu cuma orang utusan yang dipilihnya. Mereka sama sekali bukan kumpulan orang baik hati dan dermawan dimana kita bisa harapkan pertolongannya.

    Harusnya….tidak becus kerja,… ganti !! Korupsi.. penjarakan !! Kerja bagus.. kasih bonus !! Kan sesederhana itu saja politik negara modern itu.

    Semua semangat gerakan kita layu sebelum tumbuh-kembang dengan kuat…. mati bayi sejak awal disabotase para elit. Rakyat cuma dapat ‘euforia’-nya, rasa senang sesaat.

    Sejak Proklamasi (situasi darurat!), rakyat juga tidak pernah ditanya lagi melalui referendum. Apakah setuju dengan terbentuknya negara Indonesia dengan bentuk seperti negara kesatuan, misalnya. Jadi memang status negara kita jadinya darurat terus….

    Bayangkan saja, UUD ’45 di amandemen oleh para partisan (anggota-parlemen), bukannya sebuah lembaga independent yang dibentuk khusus untuk itu…

    Memang Bung Karno pernah membentuk lembaga Konstitusi untuk membentuk UUD yang baru untuk gantikan UUD’45, bukan sekedar diamandemen…tapi dibubarkannya sendiri dengan Dekrit 27 Juli, perintahkan kembali ke UUD’45…ditambah dengan Demokrasi Terpimpin-nya.

    Kalau Pak Harto sih sengaja lanjut menggunakan UUD’45 ditambah Demokrasi Pancasila-nya.. karena untungkan kelanggengan kekuasaannya.

    Yah..jadilah dasar negara yang akan sangat menentukan perjalanan negara ini ke depan adalah hasil ‘dagang sapi’ para politisi dan kelompoknya. Lagi-lagi kepentingan dan sumber kedaulatan rakyat telah disabotase..!!

    Jadi, MAAF adalah sebuah pernyataan dalam hubungan relasi sosial. Juga sebenarnya bisa berguna dalam nuansa kepentingan politik bernegara. Tapi dalam bernegara, politik maaf tanpa didahului tegaknya proses dan kepastian hukum… Hah,…! ampun deh… lagi-lagi sebuah sabotase akan kedaulatan rakyat ! Jangan pernah memaafkan seseorang tanpa kita tahu secara hukum apa kesalahannya… itu kejahatan yang dibungkus oleh dagelan politik namanya.

    Cuma, bagaimana cara kita memperbaikinya, .. selain dengan gerakan revolusi tentunya ?? Kita perlu gerakan baru…reformasi 1998 buahnya sudah pada busuk…

  6. Terima kasih atas tulisan ini.
    Saya sepakat dengan semua yang Pak Mula tulis.

    Saya jadi teringat almarhum Bapak saya (ngga maksud sentimentil), dimana sebelum 1998 beliau pernah kaul kalau (alm) Soeharto turun tahta, ia akan mencukur jenggotnya sampai habis (Bapak saya dulu brewokan)
    And he did, satu hari setelah Soeharto turun tahta, langsung cukur jenggot sampai licin.

    Semoga tulisan Pak Mula bisa jadi peringatan bagi mereka yang sekarang ‘buta’, dan bisa jadi penggugah bahwa Soeharto’s crimes in the past are not forgotten, and definitely not forgiven.

    Salam,
    Ingkan

  7. Kasihan sekali orang-orang muda (juga yang tua) yang secara sistematis “dibutakan” oleh Soeharto dan kroninya, sampe tidak bisa melihat “yang obyektif” tentang Soeharto.

    Saya sedikit terhibur baca statemennya Sjahrir, Rizal Ramli dkk hari ini di koran, tentang pemodal media TV yang kelihatannya sebagian besar dikuasai jaringan Soeharto. Mereka berusaha mengkultuskan Soeharto. Kasihan wartawan muda dilapangan yang “diarahkan” juragannya.

  8. Ah…Bung Mula selalu gelitik-gelitik hati untuk bicara sedikit ya.

    Beta sudah tujuh puluh kali tujuh kali tujuh kali …terus dengar orang banyak cerita di jalan, di angkutan umum, di pusat perbelanjaan; bilang begini : ” Coba tuh…, waktu zaman Suharto kita bisa beli beras murah. Kerja tidak sulit.., apa-apa dapat murah. Kalau BBM naik harga kita tetap bisa beli. Mengapa sekarang, minyak tanah mahal- sudah beli, gas mahal-susah beli, bengsin mahal- susah beli ?!”
    Jadi lebih enak Suharto jadi presiden lagi!!!

    Seorang saudara saya, bekas camat – tapi masih still PNS – bilang begini : ” Memang kok.., kalau maunya saya, Suharto aja presiden lagi. Apa ini reformasi…, hidup jadi susah !!”

    Bung Mula tokh bisa lihat sendiri dan dengar, betapa perut dan harkat hidup orang banyak digeser ke kemuliaan Suharto, sementara sebuah media besar dunia – yang reputasinya didapat dari akuratnya berita – katakan, ‘…. Suharto, bekas presiden Indonesia yang memerintah dengan tangan besi dan bengis (=ruthless, atau apalah persamaannya)’.

    Inilah memang penyakit kebanyakan orang Indonesia – yang notabene kebanyakan hidup dalam budaya Jawa, apa boleh buat. Menindas ssambil tersenyum, dan ‘memaafkan kesalahan’ dianggap ‘memperbolehkan kesalahan itu’.
    Coba Bung Mula lihat sedikit itu anak-anak muda iPod, mana dia mau tahu Indonesia ?. Dia orang cuma butuh …… ‘fulus !!’. ‘Jangkrik !!’, kata orang Surabaya.
    Jadi Bung Mula, beta mau ikut Bung Mula saja, tidak mau jadi jangkrik.

    Boleh tokh ???

    Beta tahu juga itu Papanya Gerda Silalahi juga bukan orang yang mau jadi jangkrik, sampai beliau makan hati terus waktu dinas di zaman Suharto.
    Betul, Nona Gerda ?

  9. Soeharto meninggalkan bom waktu buat bangsa ini. Sebagian baru letusan-letusan kecil seperti krisis energi dan kerusakan lingkungan. Yang tidak nampak adalah kerusakan akhlak. Soeharto-lah yang merusak bangsa ini menjadi sangat materialistik, koruptif, manipulatif, dll Makanya kalau ada yang bilang Soeharto pahlawan bangsa, berarti orang itu setuju dengan pembantaian jutaan orang Indonesia pada tahun 1966 sampai tahun 70-an, yang digerakkan oleh Soeharto dengan dalih menyelamatkan ideologi Pancasila.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s