Saya dan Si Kuncung

Oleh: Mula Harahap

Pertama kali saya mengenal Si Kuncung pada tahun 1964, ketika saya masih duduk di kelas 4 SD. Waktu itu kalau saya tak salah ingat, Si Kuncung masih terbit sekali sebulan. Pada tahun-tahun itu Si Kuncung hampir tidak bisa ditemukan di Medan. Karena itu yang saya baca hanyalah Si Kuncung dalam bentuk bundel tahunan, yang selalu dikirim oleh adik ibu saya yang tinggal di Jakarta. Si Kuncung baru menjadi majalah mingguan–kalau saya tak salah ingat–setelah tahun 1966.

Karena ketika itu Si Kuncung masih belum juga bisa ditemukan di toko-toko buku atau kios-kios majalah di seantero Medan, maka ayah memutuskan agar kami berlangganan saja dari Jakarta. Saya masih ingat, bahwa sayalah yang pergi ke kantor pos di depan sekolah, yaitu di Jalan Slamet Ryadi, untuk mengirimkan uang langganan pertama melalui pos wesel. Berkali-kali saya memastikan agar saya tidak berbuat kesalahan dalam menulis nama dan alamat si penerima uang. (“Majalah Si Kuncung. Jalan Madura 2, Jakarta”). Karena itu bisa dibayangkan bagaimana “exited”-nya saya ketika pada suatu hari ayah pulang dari kantor membawa sebuah gulungan majalah yang dibungkus dengan kertas sampul berwarna cokelat dan di label pengirimannya ada logo “Si Kuncung”.

Majalah yang tebalnya hanya 16 halaman itu tentu saja habis saya baca hanya dalam waktu satu jam. Dan setelah selesai membacanya di dalam diri saya selalu ada perasaan kurang puas; seperti orang yang diberi minum tapi dahaganya tak terpuaskan. (“Akh, berarti saya harus menunggu sampai satu minggu lagi…”).

Kalau dilihat dengan kacamata sastra, boleh jadi sebagian besar dari cerita anak-anak yang ada di Si Kuncung itu tidaklah terlalu istimewa benar. Tapi bagi seorang anak seperti saya, yang tinggal di Sumatera Utara, kehidupan yang dialami oleh anak-anak dari wilayah lain Indonesia ini sungguh sangat luarbiasa.

Salah satu cerita bersambung Si Kuncung yang saya ingat ialah “Penunggu Hutan Jati” karangan Trim Suteja. Disana digambarkan bagaimana anak-anak mengumpulkan ulat jati untuk digoreng dan dijadikan lauk. Air liur saya ikut menitik ketika membaca bagaimana anak-anak di dalam cerita itu memakan ulat jati.

Cerita-cerita yang dikarang oleh Suyono HR juga sangat menarik hati saya. Suyono HR–yang kadang-kadang memakai nama samaran Esther JN–selalu bercerita tentang anak-anak yang hidup di daerah Gunung Kidul, yang memakan gaplek dan tiwul, serta yang mengumpulkan laron untuk digoreng dan disambal. Sedemikian terkesannya saya akan cerita-cerita Suyono HR, hingga sampai usia yang seperti sekarang ini, setiap kali berkunjung ke Yogyakarta, saya selalu ingin untuk pergi melihat Wonosari. Harus saya akui keinginan itu belum pernah kesampaian. Tapi suatu waktu, bagaimana pun, saya harus ke sana.

Cerita-cerita lain yang tak mudah untuk saya lupakan ialah karangan Ris Therik, Jan Armerun atau Julius R. Sijaranamual, yang memakai latar-belakang kehidupan di daerah NTT. Saya rasa nama-nama tempat seperti Labuhan Bajo, Selat Sape, Ende dsb sudah tertanam di kepala sejak saya masih duduk di bangku SD lewat cerita seperti tersebut di atas.

Cerita-cerita pendek lainnya yang juga tak mudah untuk saya lupakan–tentu saja–adalah yang dikarang oleh Soekanto SA dan Surtiningsih WT. Dahulu saya menyangka Surtiningsih WT adalah nama samaran dari Soekanto SA. Tapi di kemudian hari barulah saya menyadari bahwa
mereka adalah suami-isteri.

Ada sebuah cerita Soekanto SA yang sampai sekarang masih saya ingat. Cerita itu sebenarnya biasa-biasa saja. Ia bercerita tentang beberapa anak yang ikut bersama orangtuanya berlibur ke Bandung. Tapi Soekanto SA sedemikian piawainya bercerita sehingga saya bisa merasakan nikmatnya perjalanan ke Bandung yang sejuk itu.

Cerita lain yang sangat berkesan–tentu saja–adalah “Si Mulus Opelet” tua. Ia bercerita tentang ketekunan dan kebersahajaan seseorang yang mencari nafkah dengan sebuah opelet tua miliknya sendiri.

Disamping cerita pendek, Si Kuncung juga banyak memuat “stopper” dalam bentuk cerita kecil yang diberi nama “kotak wasiat”. Ada seorang pengarang “kotak wasiat” yang saya lupa namanya. Tapi setelah namanya, di dalam “kotak wasiat”-nya si pengarang selalu menyertakan domisilinya, yaitu “Teluk Gong”. Ketika masih kanak-kanak, saya selalu iri dengan pengarang tersebut. Saya bayangkan ia tinggal di sebuah rumah di pinggir pantai yang biru. Barulah setelah di Jakarta saya tahu bahwa “Teluk Gong” ternyata bukan berada di pinggir pantai.

Ketika duduk di kelas enam SD saya mulai mengirim cerita ke Si Kuncung. Cerita saya yang pertama dimuat berbentuk “kotak wasiat”. Tapi walau pun cerita yang terdiri dari beberapa baris itu hanya berfungsi sebagai sebuah “stopper”, tapi ketika melihat nama saya tercetak di Si Kuncung, badan saya serasa melayang-layang ke sorga.

Cerita pendek saya yang pertama, dimuat di Si Kuncung ketika saya masih duduk di kelas 1 SMP. Cerita itu berjudul “Hujan di Kapal”. Ia didasarkan atas pengalaman saya ketika pada suatu liburan panjang sekolah naik kapal Tampomas dari Belawan ke Tanjung Priok. Karena susahnya air di kapal, maka banyak penumpang yang memakai kesempatan untuk mandi ketika hujan turun. Suatu kali, ketika kami sedang mandi, hujan tiba-tiba berhenti. Dan badan yang penuh belepotan sabun terpaksa harus dilap dengan handuk.

Atas pemuatan cerita itu saya mendapat honorarium sebesar 200 rupiah. Saya masih ingat, di label berita pada poswesel yang saya terima ada kata-kata yang berbunyi, “Sekedar untuk membeli pisang goreng….” Saya rasa kata-kata itu lucu. Pada waktu itu dengan uang sebesar 200 rupiah kita sudah bisa mentraktir orang sekampung untuk makan pisang goreng.

Karena bangga melihat anaknya menjadi “pengarang”, maka ayah membawakan sebuah mesin ketik dari kantor. Saya masih ingat, mesin ketik itu sudah tua dan karatan. Pegasnya sudah putus. Karena itu agar bisa berfungsi saya harus mengikatkan sepotong karet antara ujung rol mesin ketik itu dengan terali jendela. Dengan mesin ketik itulah saya menulis beberapa cerita pendek. Sebagian besar dari cerita pendek saya didasarkan atas pengalaman saya sehari-hari; tentang permainan di sekitar rumah atau kehidupan di sekolah.

Cerita pendek itu diketik di atas kertas “dorslag” (kertas ketik) yang tipis. Setiap kali mengirim, saya selalu menyertakan perangko untuk ongkos pengembalian manakala cerita itu ditolak. Tapi sepanjang yang saya ingat, saya nyaris tak pernah menerima cerita yang dikembalikan.

Pada awal tahun 70-an, harian Kompas juga mulai membuka ruang bacaan anak-anak. Kini disamping menulis untuk Si Kuncung, saya juga menulis untuk Kompas. Honor untuk satu cerita di Kompas 1.500 rupiah, sementara di Si Kuncung 500 rupiah. Tapi sebagai remaja, ketika itu saya tidak terlalu memperdulikan besarnya honor. Asal saja cerita saya dimuat di sebuah majalah, saya sudah sangat bahagia.

Setelah duduk di bangku kelas 2 dan 3 SMA, saya sudah tidak banyak lagi menulis cerita untuk Si Kuncung. Perjumpaan saya dengan Si Kuncung baru dilanjutkan setelah saya kuliah di Jakarta, pada tahun 1973. Perjumpaan itu terjadi secara tidak sengaja. Suatu siang saya harus mengikuti kuliah Pengantar Ekonomi di UI–Salemba. Ketika saya turun dari bus, tiba-tiba sepatu sandal saya “menganga”. Setiap kali melangkah ia menimbulkan bunyi klepak-klepak-klepak yang sangat gaduh. Saya panik. Saya takut menjadi bahan tertawaan orang-orang. Karena itu, alih-alih masuk ke halaman UI, saya berbelok ke kiri, menyusuri jalanan di depan RSCM mencari tukang sepatu. Ternyata tukang sepatu yang saya cari tidak ada. Lalu saya membelok ke kanan, menyusuri jalanan Pegangsaan Timur. Disana pun tukang sepatu yang saya tak ada.

Waktu itu saya baru beberapa bulan tinggal di Jakarta. Banyak jalanan yang tidak saya kenal. Dari Pasar Cikini, saya membelok ke kiri, menyusuri Jalan Mohamad Yamin. Tiba-tiba, di sebuah rumah tak jauh dari belokan itu saya melihat sebuah papan nama: “Si Kuncung”. Hati saya berdebar-debar. Nama ini sudah saya kenal sejak saya masih di bangku SD. Entah karena dorongan apa, saya masuk ke halaman rumah itu. Urusan sepatu sudah saya lupakan. Di depan pintu rumah itu saya disambut oleh seorang lelaki setengah baya.

“Cari siapa, ya?” tanya lelaki itu.

“Saya mau mencari Pak Soekanto,” kata saya. Sejak dari bangku SMP saya sudah tahu bahwa redaktur Si Kuncung adalah Soekanto SA.

“Saya Soekanto,” kata lelaki itu dengan ramah.

Saya memperkenalkan diri saya.

“Ya, ya, saya ingat,” kata Soekanto SA, “Kamu yang menulis cerita tentang orang mandi di kapal itu ‘kan?” Lalu Soekanto SA bertanya apa yang saya kerjakan sekarang. Saya jawab, bahwa saya baru mulai kuliah.

“Wuah, wuah, kamu sudah besar, ya? Kamu harus menulis lagi,” kata Soekanto SA. Lalu ia mengatakan bahwa di Si Kuncung, untuk memperoleh honorarium seorang penulis tidak perlu harus menunggu ceritanya sampai dimuat. Asal saja cerita itu sudah disetujui oleh redaksi, penulis sudah berhak untuk mendapatkan honor. Soekanto SA juga menjelaskan bahwa Kamis adalah hari dimana para pengarang datang ke Si Kuncung untuk menyerahkan ceritanya agar dinilai, dan mengambil honor hasil cerita yang diserahkannya Kamis minggu sebelumnya.

Setelah berbicara beberapa saat, saya mohon diri. Sebelum pulang, Soekanto SA menyelipkan beberapa lembar uang di kantong baju saya. “Ini uang muka untuk cerita yang akan datang,” katanya sambil tertawa.

Uang yang diselipkan oleh Soekanto SA hanya dua ribu rupiah. Tapi ketika itu, uang sejumlah itu sudah sangat besar nilainya. Hati saya jadi berbunga-bunga. Di Jakarta saya memang menumpang pada seorang bibi. Tapi biaya makan, transport dan uang kuliah saya tanggung sendiri.

Malam harinya saya pergi ke rumah seorang teman yang tinggal diwilayah Cawang-Kapling. Saya meminjam mesin ketiknya. Lalu saya menulis 5 cerita pendek. Hari Kamis berikutnya saya datang membawa cerita tersebut.

Di Si Kuncung saya bertemu dengan pengarang-pengarang besar, yang ketika saya masih SMP dahulu nama mereka sudah membuat saya terkagum-kagum. Saya bertemu K. Usman, Mansur Samin, Julius Siyaranamual, H.B. Soepiyo, Trim Suteja, Suyono HR dan–tentu saja–Soekanto SA. Saya juga berkenalan dengan pengarang muda seperti M. Sobary, Eddy Herwanto dan Surasono. Sesekali Seto Mulyadi–yang kini dikenal dengan Kak Seto–juga datang menyerahkan cerpennya ke Si Kuncung.

Soekanto SA adalah seorang editor yang baik. Ia selalu memberi perhatian dan mendorong pengarang-pengarang muda agar semakin kreatif dan produktif. Bila kami menulis sebuah cerita yang luarbiasa, maka ketika dimuat di Si Kuncung, Soekanto SA akan memberikan sedikit catatan atau pujian. Tentu saja ia tak lupa untuk menyertakan riwayat hidup dan foto kami. Saya masih ingat, gara-gara foto saya dimuat di Si Kuncung, saya menerima beberapa surat dari pembaca. Tapi sebagian besar dari yang mengirim surat kepada saya adalah tante anak-anak. Kalau pada hari Kamis saya datang ke Si Kuncung, maka disamping menerima honor, saya juga menerima surat dari pembaca–ya itu tadi–tantenya anak-anak. Sebagai seorang remaja berusia duapuluh tahun, tentu saja saya menerima surat itu dengan perasaan yang tak karu-karuan; gembira bercampur malu.

Salah seorang dari pengirim surat itu berdomisili di Yogya. Ia masih sebaya dengan saya dan bekerja di sebuah apotik. Kami terus berkirim-kiriman surat, sampai kemudian ia pindah ke Cirebon. Wajahnya manis. Ia mengirimkan fotonya sedang termangu di atas jembatan dengan celana bell-bottom yang sedang mode waktu itu. Foto itu saya kirim kepada adik-adik saya di Medan. Dan kepada mereka saya mengaku bahwa itulah pacar saya. Padahal, bertemu pun saya tak pernah. Foto itu masih tersimpan di tumpukan album keluarga. Kalau saya pulang ke rumah orangtua di Medan dan membongkar-bongkar album lama itu, saya tertawa sendiri di dalam hati.

Dua atau tiga bulan yang lalu, secara mengejutkan saya menerima surat dari Soekanto SA. Saya tidak tahu dari mana ia menemukan alamat saya. Suratnya hanya pendek: “Saya sedang membongkar-bongkar tumpukan buku saya. Saya menemukan cerpenmu. Ha-ha-ha…” Soekanto SA ternyata mengklipping sebuah cerita saya yang dimuat di Ruang Remaja Sinar Harapan tahun 1974. Saya sendiri sudah tidak menyimpan cerita itu. Ketika saya kembali membaca klipping yang sudah menguning itu hati saya jadi malu. Saya menulis cerita tentang pacar, sementara mengalami pacaran pun saya belum pernah [.]

16 responses to “Saya dan Si Kuncung

  1. Wah, ceritanya menarik sekali, Tulang. Ternyata dari SD sudah menulis cerpen ya. Cerita masa kecil Tulang Mula selalu menghentak-hentak emosi pembacanya.
    Omong-omong, melihat Mula kecil dan Mula saat ini, saya jadi berkesimpulan kalau kecenderungan karir seseorang barangkali sudah dapat diprediksikan sejak dini.

  2. Tidak ada kata lain di benak saya, yaitu, “hebaat”, pada saat baca artikel ini. Sejak kecil Bang Mula sudah menulis dan diterbitkan pula dalam “Si Kuncung”. Biasanya, ketika SD, kita baru menulis, pada saat pelajaran Bahasa Indonesia, yaitu “mengarang” atau “ceritakan kembali dengan kata-katamu sendiri” dan hanya untuk guru. Namun, yang terpenting bagiku, artikel Bang Mula, selalu membawaku ke masa kecil, di kampung tercinta. Terimakasih, Bang Mula.

  3. Tulisan Abang mengenai perjumpaan dengan Si Kuncung bila dibaca kata demi kata terasa enak dan jenaka. Dari kecil Abang Mula sudah punya impian sebagai penulis, beruntunglah Abang segera tahu kemana arah minat bakat sedari kecil.

    Saya informasikan untuk Abang bahwa Pemuda PGI sudah bertemu dua kali dengan rekan-rekan muda di Jakarta, membicarakan kegiatan temu penulis dan diskusi karya Remy Silado. Kami berharap kegiatan tersebut dilaksanakan 22 Februari 2008 di gedung Yakoma.

  4. Wow! Kisah yang sangat menarik, Lae… Jadi teringat bagaimana awalnya saya mulai berani mengirim cerpen ke majalah… Ditolak, ditolak, ditolak, dan diterima… Jadi ingat juga pertama merantau ke Jakarta naik Tampomas tahun 1977. Kapal dekil penuh kenangan yang telah menghantar banyak “halak hita” sukses di rantau… Tulisan ini klop sekali sebagai inspirasi bagi para penulis pemula, bahwa jangan pernah putus asa bila karyanya ditolak… Hmmm…

  5. Sekarang anak-anak Indonesia lebih suka manga, Bang. Btw aku minta izin menyampaikan kabar duka dari Tano Batak : Hutan alam Tele di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, sejak dua hari lalu sudah mulai ditebang dengan gergaji mesin. Targetnya hutan heterogen seluas 2.250 hektar akan dipangkas bersih untuk dijadikan lahan perkebunan bunga. Investornya dari Korea.

    Dengan ini kami, Komunitas TobaDream mohon dukungan kawan-kawan sesama blogger Indonesia untuk bersama-sama memberi tekanan; agar pembabatan hutan pusaka itu dihentikan. Caranya, berilah komentar dukunganmu pada artikel di : http://ayomerdeka.wordpress.com/

  6. PUNG SOEKARMO

    Bang Mula, Saya salah satu pengagum beliau-beliau ini, yang semasa kecil saya sangat jarang majalah anak-anak, apalagi saya tinggal di desa, terpencil 20 km dari Wonosari ke arah Timur. Doeloe, jika ayah saya dapat ‘nomor bukti’ kami senang bukan main. Karena setelah itu, ayah saya pasti membelikan es lilin. Minuman mewah bagi kami di awal th ’70 an. Bang, dimana ya, saya bisa dapat copy artikel-artikel majalah Si Kuncung, Kawanku dsb? Salam hangat, Pung Soekarmo.

  7. He…He…Armyn, ketemu juga sekarang. Kok rambut kau yang hitam baru tumbuh ya? Ah, aku ingat makan sayur singkong di Halim dulu.

    Eddy Herwanto-kau kau? Yang sebagai wartawan pemula di Tempo, pernah kutemani membeli kamera di Pasar Baru dengan uang honor dari mengarang? Ha-ha-ha-ha! Sudah, sudah, cerita di awal tahun 70-an dulu jangan di teruskan di sini. Nanti kita cerita-cerita di kafe–MH

  8. Horas Tulang, saya senang membaca tulisan ini, tapi saya tidak begitu suka mengingat masa kecil saya karena pada saat itu di desa saya membaca majalah adalah mimpi indah disiang bolong, ya paling bisa baca buku perpustakaan sekolah aja yang tidak mungkin bisa dikoleksi.
    Bahkan saya baru tahu sekarang bahwa si Kuncung itu adalah majalah anak2x. Teruslah menulis Tulang dan Tuhan Pasti Memberkati.

  9. Hebat… kecil-kecil udah bisa ngarang…Aku pernah buat cerpen waktu masih remaja. Tapi publikasinya hanya sebatas sama teman-teman sekelas. Itu juga cewek-cewek yang suka baca cerpen. Itu juga ceritanya nyontek-nyonetk gaya tulisan cerpen “Aneka Yes!”😀

    Salut kali buat Bapa Tua (Harahap=Limbong kan?). Great,…

  10. Hi, salam kenal amang,
    Ini pertama kalinya aku jenguk blog amang yg keren ini. Udah 2 jam-an dihibur crita2 lucu, gak tahan juga ninggalin komen soalnya jadi ingat jaman aku SD dulu. Gara2 rebutan majalah Bobo sama adik cowok (yg oleh mama dimenangkan), aku kabur dari rumah. Alasannya (hahaha) aku merasa ada pilih kasih gender! Soalnya aku duluan yg nyampe rumah (setelah lomba lari dengan adik ku itu sepulang sekolah, siapa cepat dia dapat majalah Bobo)
    Kebayang gak sih masih kelas 4 SD aku udah protes soal gender ke mama..hehe, sori amang, jadi curhat =)
    Well eniwei busway, bener kata2 komentator lainnya, hebat euy dari kecil udah jadi “pengarang” =)

  11. Saya mengenal majalah Si Kuncung sewaktu masih SD, sekitar tahun 70 an. Waktu itu saya tinggal di Kediri, kota kecil di Jawa Timur. Kemudian Ortu pindah tugas ke Kalimantan, sejak saat itu Si Kuncung tidak pernah saya jumpai lagi, karena si Kuncung tidak ada di Kalimantan.

    Kangen juga dengan Si Kuncung. Saya coba cari via internet, ketemu blog anda. Salam kenal, salam sukses selalu. Saat ini saya menetap di Doha-Qatar.

  12. Sekedar bertanya: Apakah mungkin menerbitkan kembali majalah Si Kuntjung?
    Dalam format dan desain kekinian tentunya. Saya lahir tahun 61, dibesarkan bersama Si Kuntjung.

    Saya pun sering bertanya hal yang sama. Mengapa majalah anak-anak masakini lebih banyak memuat artikel yang bertendensi populer dan banyak dikaitkan dengan acara televisi, ketimbang cerita dan sketsa tentang kehidupan anak-anak Indonesia yang lebih bersifat sastra? Katanya, memang demikianlah selera anak-anak kita pada masa sekarang. Tapi koq saya tidak yakin akan hal itu.

  13. Salam! Wah, saya jadi ingat juga waktu pertama kali ‘menemukan’ Si Kuncung, ada di rak paling bawah perpustakaan tua milik sekolah saya di Kalimantan. Tua, lusuh, berdebu, namun setelah saya baca…wow! Sedihnya, kolek Si Kuncung saya dibuang oleh ayah, saking lusuhnya. Kira-kira di mana ya saya bisa dapat Si Kuncung loakan yang masih bagus kondisinya?

  14. Haloo Pak Mula Harahap yang baik hati. Saya senang sekali dan bersyukur dapat menemukan Si Kuncung kembali. Saya juga berlangganan saat SD Kls 4 s/d 6 tahun 1970-an dan pernah mengirim sebuah puisi dengan judul “Pengemis Tua” dan pernah dimuat di Si Kuncung. Saya ingin mendapatkan informasi dimana bisa mendapatkan koleksi majalahnya. Tks .Salam. Anie.

  15. Mantap sekali tulisan Tulang. Saya lahir tahun 71 dan ikut dibesarkan Si Kuncung, karena waktu itu sebagai guru, bapak (harus) berlangganan, tapi lama-lama jadi majalah yang ditunggu-tunggu juga. Wonosari, Labuan Bajo dan Ende, alhamdulillah sudah saya kunjungi,…tempat yang tak pernah terbayang

  16. Saya juga tumbuh bersama Si Kuncung. Saya langganan Si Kuncung pada 1971-1974, dari kelas 4 SD sampai kelas 1 SMP. Minat menulis saya pun terbangun berkat Si Kuncung. Akhirnya saya pun jadi wartawan dan penulis selama 20 tahun terakhir ini. Tapi sejujurnya, meski saya sudah pernah menulis buku (tentang Ekonomi Syariah) saya sekalipun belum pernah menulis fiksi. Cerpen sekalipun belum perbnah saya buat. Menulis fiksi masih menjadi keinginan yang belum terwujud sampai usia yang 48 sekarang ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s