Impian Masa Kecil Tentang Buku, Membaca dan Bahasa Inggeris

Oleh: Mula Harahap

Kalau saya merenungkan kembali perjalanan hidup ini maka ada beberapa orang di sekitar saya yang pernah membuat saya terkagum-kagum dan secara diam-diam menjadikannya sebagai contoh tentang bagaimana hidup dibangun kalau nanti saya sudah besar.

Orang pertama ialah James Manahan Hutabarat. Dia adalah saudara sepupu (anak amangtua ibu saya). Saya memanggilnya Tulang Manahan.

Di akhir tahun 60-an, setelah bersekolah dan bekerja di Jakarta selama beberapa waktu, Tulang Manahan memutuskan untuk kembali ke Sumatera Utara dan menjadi dosen di IKIP Medan. Ia pulang dengan menumpang kapal laut. Saya diajak oleh ayah untuk ikut menjemputnya di Pelabuhan Belawan dengan mobil pinjaman dari kantor. Tulang Manahan hanya membawa 1 koper berisi pakaian. Tapi yang membuat saya kagum ialah, bahwa ia membawa berpeti-peti buku.

Sementara Tulang Manahan mencari tempat tinggal yang tetap, maka untuk sementara waktu buku-buku itu ditaruh di rumah kami. Karena itu, selama berminggu-minggu, setiap pulang sekolah, saya hanya menghabiskan waktu di kamar tempat menyimpan peti-peti tersebut. Saya membongkar paku penutup peti-peti tersebut, memilih sebuah buku yang menarik, dan menutupnya kembali. Satu atau dua hari kemudian, bila telah selesai dibaca, buku-buku itu saya kembalikan ke tempatnya, dan saya mengambil buku yang lain.

Tulang Manahan juga ternyata pernah beberapa kali menulis di majalah Ragi Buana. Salah satu tulisannya adalah mengenai “Sigale-gale”. Sebagai seorang anak yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP tentu saja saya tidak terlalu mengerti apa isi tulisan tersebut. Tapi gagasan bahwa ada seorang Tulang yang menulis di majalah (dan mendapat honor pula) adalah sesuatu yang sangat luarbiasa bagi saya. Kalau Tulang Manahan berkunjung ke rumah saya selalu bertanya kepadanya tentang bagaimana cara mengirim tulisan agar bisa dimuat di majalah, dan dengan penuh kesabaran Tulang menjelaskan segala sesuatunya kepada saya.

Ketika Tulang Manahan memutuskan untuk pindah ke Medan, ia belum menikah walau pun waktu itu umurnya telah lebih dari 35 tahun. Saya masih ingat, beberapa ibu yang sedang memasak di dapur berkelakar, “Ai na loak do Si Manahan on. Buku do diboan sian Jakarta, ndang boru-boru…..”

Saya sungguh tak bisa memahami jalan pikiran para ibu tersebut. Menurut jalan pikiran saya waktu itu, bukulah teman hidup yang sejati. Dan diam-diam saya membangun tekad di dalam hati: Kalau saya sudah bekerja dan punya gaji, saya akan meniru Tulang, membeli buku sebanyak-banyaknya.

Orang kedua yang juga sangat memberi inspirasi bagi saya tentang dunia buku dan membaca ialah ito kandung ibu saya–atau tulang saya–Saur Hutabarat. Di awal tahun 70-an Tulang bekerja sebagai inspektur di Departemen Perhubungan. Dan dalam jabatannya sebagai inspektur tentu saja Tulang sering bepergian; termasuk ke Medan.

Tulang biasanya menginap di hotel. Tapi kalau Ibu tahu bahwa Tulang sedang berada di Medan ada-ada saja hal yang diberikannya kepada Tulang. Kadang-kadang ia memasak bagot ni horbo, ikan mas arsik atau sambal ikan gembung rebus untuk ito-nya itu. Saya tak pernah mengerti mengapa ibu selalu repot memasakkan sesuatu untuk Tulang, padahal di hotel tempatnya menginap makanan yang lezat-lezat berlimpah-ruah. Tapi tentu saja keberatan itu tak saya nyatakan kepada Ibu. Saya selalu melakukannya dengan senang hati: mengayuh sepeda dan menemui Tulang di hotelnya. Saya selalu terkagum-kagum melihat kamar tulang yang ditutupi karpet dan memiliki penyejuk udara. Hal yang lebih mengagumkan lagi ialah bahwa di atas tempat tidur Tulang selalu tergeletak majalah Readers Digest atau Newsweek. Saya belum bisa memahami apa yang ditulis di majalah-majalah tersebut. Tapi saya rasa apa yang disajikan itu tentu jauh lebih hebat dari apa yang ada di majalah Intisari, majalah kegemaran saya waktu itu.

Karena itu dalam hati saya membangun cita-cita: Kalau saya sudah besar, saya mau menjadi seperti Tulang, yaitu punya majalah Readers Digest atau Newsweek yang tergeletak di atas tempat tidur. (Di kemudian hari, setiap kali saya bepergian keluar kota dan menginap di hotel, saya selalu mengusahakan untuk membeli Newsweek, Time, atau The Economist untuk dibaca di kamar dan diletakkan di atas tempat tidur).

Orang ketiga yang diam-diam juga saya kagumi ialah Alfred Simanjuntak, yang pernah menjadi atasan saya di BPK Gunung Mulia. Ketika saya berumur 21 tahun dan mulai bekerja sebagai anak buahnya saya sangat kagum melihatnya. Di atas mejanya ada sebuah buku saku yang menelungkup yang berjudul “The Future Shock” karangan Alfin Toffler. Dan saya percaya bahwa Alfred Simanjuntak membaca buku itu karena pada khotbah akhir tahun di BPK Gunung Mulia ia mengutip beberapa hal yang dkiatakan oleh Alfin Toffler.

Buku itu sangat tebal. Waktu itu saya tak mengerti bagaimana seseorang dengan mudahnya bisa melahap buku–dalam bahasa asing–yang tebalnya lebih dari 500 halaman. Karena jidat Alfred Simanjuntak sangat lebar, maka waktu itu saya berkesimpulan: “Oh, kalau membaca buku bahasa Inggeris yang tebal-tebal berarti rambut akan cepat rontok dan jidat akan menjadi lebar……” Saya kepingin menjadi seperti Alfred Simanjuntak yang bisa membaca buku berbahasa Inggeris yang tebal-tebal, dan punya jidat yang lebar.

Di tahun 1976, dalam usia 23 tahun saya diajak oleh Alfred Simanjuntak untuk menghadiri “The World Congress on Reading” di Singapura. Harus saya akui bahwa selama ini saya sudah mati-matian melatih “listening comprehension” dan “reading comprehension” saya. Tapi tentu saja di tengah peserta kongres yang mayoritas datang dari AS, Inggeris, Australia dan India itu kemampuan saya tak ada apa-apanya. Dalam banyak sessi saya hanya duduk, manggut-manggut dan tersenyum klemar-klemer.. Tapi dengan gampangnya Alfred Simanjuntak tunjuk tangan, bertanya dan memberi komentar.

Kemudian di antara delegasi itu saya melihat juga Prof. P.W.J. Nababan dan Prof. Maurits Simatupang. Kedua orang yang terakhir ini pun terkesan mengangap kongres itu seperti kongres di kampung halamannya sendiri. Hati saya semakin panas. “Tunggu! Suatu waktu saya juga akan menjadi seperti kalian….”

Tapi hal yang membuat hati saya lebih panas lagi ialah ketika saat coffee break atau lunch. Saya melihat Alfred Simanjuntak mengobrol dengan rileksnya dengan perempuan-perempuan muda yang cantik-cantik peserta kongres yang berasal dari Amerika dan Eropa itu.

Tekad saya semakin menyala-nyala, “Saya harus bisa berbahasa Ingeris. Saya harus bisa berkenalan dan mengobrol dengan perempuan-perempuan muda dan cantik dalam bahasa Inggeris…..”

Kini kalau saya mencoba mengenang kembali apa yang saya impikan di masa kanak-kanak dan remaja, maka sebenarnya saya telah berhasil meraih sebagian dari impian itu. Seperti Tulang Manahan, saya sudah punya sejumlah buku. Seperti Tulang Saur Hutabarat, saya sudah mampu membaca Newsweek dan menggeletakkannya di atas tempat tidur. Seperti Alfred Simanjuntak, saya sudah bisa membaca buku-buku saku terbitan Bantam dan Penguin yang tebal-tebal itu. Saya juga sudah bisa–dan berani–mendekati nona muda dan cantik dengan omong-omong berbahasa Inggeris.

Tapi ketika hidup ekonomi saya sedang susah seperti akhir-akhir ini, kadang-kadang timbul juga penyesalan di dalam diri: Mengapa dulu saya harus terkagum-kagum dengan orang-orang yang punya buku banyak dan suka membaca buku yang tebal-tebal? Akh, andaikata saya memilih seseorang yang memiliki BPR (Bank Perkreditan Rakyat), kebun kelapa sawit, atau perusahaan pemborong bangunan sebagai “role model”, hidup ini tentu tidak akan sesusah ini🙂

19 responses to “Impian Masa Kecil Tentang Buku, Membaca dan Bahasa Inggeris

  1. Singal Sihombing

    Luar biasa, Bang! Membangunkan semangat dan inspirasi dari orang dekat yang dikagumi. Tetapi jangan nyesallah, Bang, meski hanya kadang-kadang. He-he-he. Susah kadang-kadang itu ‘kan membuat kita senang juga karena senang itu ‘kan transformasi dari susah.

  2. Cerita awalnya udah bagus, eh endingnya kok menyesal. Jangan gitu, Tulang! Nanti teman-teman yang menjadikan Tulang sebagai role model bisa ikut2an “madesu” juga. Aku jadi ingat Gede Prama,”Saat menurun juga patut disyukuri, karena itu merupakan pendulum untuk menanjak”. Eh benar nggak ya kutipannya?

  3. Yah, Amang, jangan nyesallah…Seenggaknya yang Amang teladanin dari kecil bukan korupsi…

  4. Yah, jangan nyesel dong, Amang…Seenggak-enggaknya yang Amang teladani dari kecil bukan korupsi. Hehehe…

  5. Bisa saya bayangka ketika seluruh anak negeri ini mempunyai impian, maka akan jayalah negeri yang gemah ripah ini. Tulisan yang penuh inspirasi, Pak!

  6. Ceritanya sangat menarik. Tapi pada paragraf terakhir kok jadi anti klimaks. Menurut saya, ‘gak perlulah kita membandingkan dengan kesuksesan orang lain. Setiap profesi yang kita pilih mempunyai “kenikmatan” masing-masing. Jalan menurun ‘kan hanya salah satu episode kehidupan. Tidak ada gunung yang tinggi tanpa jurang yang dalam, katanya. Saya menantikan kisah seru berikutnya.

  7. Mimpi memang bisa jadi kenyataan. Kata orang bijak, ‘seize your dream’. Obama pun pernah menulis cita-citanya ketika masih SD di Jakarta: ‘Aku ingin jadi presiden’.

    Soal membaca, mudahmudahanan anak saya punya hobby membaca. Sejak dalam kandungan sudah saya kenalkan buku, saya bacakan buku cerita tiap malam hingga hari ini. Mudah-mudahan kelak bisa menulis secerdas salah satu penulis favorite mamanya yaitu pemilik blogs ini. Hehehe, tambah lagi mimpi mamanya, nih. Boleh ‘kan?!

  8. Sama ama aku nih, Bang! Menurutku buku itu hartaku yang paling berharga, sampe-sampe pernah ngayal kalo sewaktu-waktu mendadak ada tsunami karena aku tinggal di Bali, pastilah buku-buku koleksiku dulu yang kuselamatkan🙂

  9. Salam kenal, Ompung. Cerita Ompung menarik dan lucu sekali. Saya yakin Ompung bisa banyak duit dari dunia perbukuan. Banyak orang memiliki BPR (Bank Perkreditan Rakyat), kebun kelapa sawit, atau perusahaan pemborong bangunan pengen pintar seperti Ompung, tapi ‘gak bisa lho😀

  10. Amang, Saya ini orang bodoh dan tidak punya kemampuan apa apa. Saya takut anak saya juga bodoh seperti saya. Akhir-akhir ini anak saya minta dibeliin buku untuk perpustakaan gereja. Saya nggak punya. Bantu saya dong, Amang….Horas! (Serius, saya nggak malu jadi pengemis buku….)

  11. Tulisan-tulisan Tulang (boleh saya panggil anda Tulang ?) bikin saya semangat ‘tuk menggali inspirasi, pengen lebih belajar menulis. Selalulah bikin tulisan yang keren; yang bisa jadi sumber motivasi ya, Tulang🙂

  12. Buku memang hebat. Dulu, kami boleh dikata hidup berat sementara ayah kami almarhum dengan lapang dada membeli buku. Sekarang ada orang yang berlagak beli buku tebal dan mahal, tapi tak pernah dibaca. Tapi belum ada orang berlagak beli kebun kelapa sawit tapi tak pernah dikunjungi.
    Saya doakan Bang Mula tetap memiliki buku-bukunya dan semangatnya. Jangan nelongso gitu, Bang. Salam!

  13. Salut dengan cerita Bang Mula. Kisah-kisahnya sungguh menggugah semangat.

    Bicara tentang hidup, kita mungkin perlu ingat kata Sang Budha: Penderitaan hidup adalah keinginan (nafsu), melepas keinginan adalah membebaskan diri dari penderitaan. Kata-kata ini sungguh menguatkan.

    Saya cukup beruntung bergelut di dunia buku (perancang sampul) dengan karya-karya yang mampu dinikmati banyak orang. tapi terus terang, prihatin juga dengan perkembangan kualitas buku di Indonesia.

  14. mariska hutabarat

    Kayaknya saya kenal deh salah satu dari orang-orang yang dibicarakan di atas. Cuma rasanya sebaiknya jangan disesali karena yang dijadikan role model hanya sedikit saja dari good-side orang-orang tersebut….. Hahahahahah……… Masih banyak good-side lain dari orang-orang yangg seharusnya ditiru……. Tapi kayaknya udah telat yahh………Wakakakakakakakaakakkkk………Just kidding………..Btw apa kabarnya neh, Oom?

  15. Salam kenal, Bang Mula Harahap. Wah, rupa blog kita nyaris sama makanya saya beberapa kali terdampar di sini..

    Saya beruntung dulu ayah sebagai dosen Sastra Indonesia IKIP Malang cabang Madiun mempunyai satu lemari penuh buku-buku sastra, dari Sitor Situmorang, Iwan Simatupang, sampai Subagyo Sastrowardoyo (kakeknya Dian Sastro). Jadi waktu libur, saya selalu membenamkan diri di depan lemari ayah saya, membaca buku..

    Begitupun sebelum menikah dengan isteri saya sekarang saya bilang padanya, “Saya nanti tidak akan punya apa-apa, kecuali buku-buku !”. Nah kesampaianlah akhirnya, saya tidak punya apa-apa dan hanya buku-buku (sebagian dimakan rayap karena rumah sempat kebanjiran)..

    IKIP Medan ? Kebetulan saya pernah masuk kampusnya. Sangat indah tata letaknya, nyaris setara dengan University of Chicago ! I love it !

    Tabik !

    Tri Djoko (triwahjono.wordpress.com)

  16. Yah, buku memang menakjubkan. Waktu kecil sayapun tidak boleh (oleh ibu) membaca buku, dan toh saya baca dibawah selimut – setelah belajar untuk studi. Anak saya selalu saya bacakan buku setiap malam sebelum tidur. Sekarang dia juga kutu buku. Sekarang saya senang bisa baca buku-buku (Indonesia, Inggris, Jerman) dan bisa membandingkan. “Harta” kami hanya buku, karena itu memberikan kepuasan dan inspirasi dalam berbagai segi kehidupan. Kekayaan ini tidak bisa dibeli dengan uang, hanya dengan keinginan dan kemampuan untuk membaca. Stay happy in any case, Bapak Harahap.

  17. Your quotation reminds me of another well known from Johann Wolfgang von Goethe: le sens commun est la Génie de l’humanité. The common sense is the genius of human being.
    I hope you like this quotation, too.

  18. Rudi Simanoengkalit

    Amang Harahap, saya melihat ‘anti-klimaks’ yang terjadi di akhir tulisan adalah petunjuk betapa rendah hatinya Amang, bukan sebuah penyesalan. Malah membuat tulisan menjadi lebih nikmat untuk dibaca. Horas!

  19. Ada ungkapan yang mengatakan “All we need to see this world is books. Saya sendiri punya hobi membaca. Biasanya saya mencatat buku-buku apa saja yang telah saya baca, siapa pengarangnya, bukunya tentang apa. Dan biasanya saya selalu mencatat “quote” yang bagus dari buku tersebut.

    Ada beberapa orang yang berjasa untuk meningkatkan minat baca saya. Yang pertama adalah Pak J. Sihombing, mantan kepala sekolah SD kami. Pak Sihombing menggantikan Pak Purba sebagai kepala sekolah sewaktu saya duduk di kelas 5. Terobosan yang dibuat Pak Sihombing adalah mengaktifkan perpustakaan yang sebelumnya vakum. Saya banyak meminjam buku dari perpustakaan. Pak Hombing juga sering memberikan kepercayaan kepada saya untuk menutup perpustakaan jika aktivitas sekolah telah selesai. Terkadang saya mencuri buku-buku yang ada di perpustakaan. Yang kedua, yang berjasa meningkatkan minat baca saya (terutama tentang sastra) adalah Vita Khusnul F (anak sastra UKI). Dia satu kost dengan adik saya, maka saya sering meminjam buku-buku sastra yang dia miliki. Hampir semua buku Pramoedya dia punya.

    Buku memang jendela dunia. Sayangnya, minat baca di Indonesia amat sangat rendah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s