Tentang Menteri Kesehatan yang Menolak Memberikan Seed Virus H5N1 ke WHO

Oleh: Mula Harahap

Sejak beberapa waktu yang lalu melalui media massa kita membaca tentang sikap Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari yang menolak memberikan seed virus H5N1 (flu burung) strain Indonesiake WHO. Menteri Kesehatan beralasan bahwa penyerahan ke WHO akan mengakibatkan seed virus “made in Indonesia” tersebut jatuh ke tangan industri farmasi di negara-negara maju (terutama AS), dan ini akan merangsang industri tersebut untuk menemukan obat penangkal yang akan dijual dengan semau-maunya ke Indonesia. Dalam bukunya yang baru-baru ini diterbitkan dalam edisi 2 bahasa (Indonesia dan Inggeris) secara panjang-lebar Meneri Kesehatan mengutarakan pikirannya di balik sikap tersebut. Bahkan di dalam buku itu ia mengutarakan kekhawatirannya kalau-kalau virus “made in Indonesia” itu dikembangkan menjadi senjata biologi di laboratorium militer AS.

Pendapat Menteri Kesehatan ini menimbulkan kontroversi. Berkembang desas-desus bahwa sikapnya tersebut menyebabkan Pemerintah AS tersinggung dan menekan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Akhirnya edisi bahasa Ingeris buku tersebut memang ditarik dari peredaran. Tapi Menteri Kesehatan berdalih bahwa penarikan itu dilakukan karena edisi pertamanya mengalami banyak kesalahan cetak.

Ada sejumlah orang yang tidak setuju dengan pandangan dan sikap Menteri Kesehatan tesebut. Tapi ada juga sejumlah orang yang setuju dan menganggapnya sebagai tindakan yang heroik dan patriotik. Dan salah satu orang yang setuju itu adalah Dr. Kartono Mohamad, yang di harian Kompas edisi 8 Maret 2008 mengaitkan sikap menteri ini sebagai kebangkitan bangsa-bangsa Asia melawan penindasan AS dan Eropa:

Tahun 2005 Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mulai membangkang terhadap aturan WHO yang dianggap tidak adil bagi bangsa berkembang dalam soal penyerahan seed virus H5N1 strain Indonesia. Pada tahun 2008 perjuangan itu berakhir dengan
kemenangan. Hegemoni AS dalam soal pervirusan terhadap negara-negara berkembang yang menjadi “pemilik virus”, yang dilakukan melalui WHO selama 50 tahun, dapat dikalahkan Siti Fadilah Supari.

Kemenangan menteri kesehatan Indonesia itu disambut gembira oleh seluruh bangsa Indonesia, dan mungkin juga oleh bangsa-bangsa di negara berkembang. Terbukti dengan usulan perombakan prosedur sharing virus yang diajukan Indonesia disetujui sebagian besar anggota WHO, sementara usul AS hanya didukung AS sendiri.

Desas-desus kemudian berkembang. Pemerintah AS mengirim menterinya ke Indonesia untuk membujuk agar Menkes RI membatalkan usulannya di WHO, terutama mengenai penyerahan virus ke lembaga penelitian virus milik AS. Namun, menteri kita tetap pada sikapnya. “Anda memang menguasai teknologinya, tetapi kami yang memiliki virusnya dan rakyat kami yang menjadi korban. Silakan tempelkan teknologi itu di jidat Anda, apakah ia dapat menghasilkan sesuatu tanpa virus dari Indonesia,”
demikian kisah Siti Fadilah saat peluncuran bukunya.

Saya sendiri berpendapat bahwa sebagai sebuah retorika sikap Menteri Kesehatan ini memang hebat. Tapi di sebuah negeri dimana hakim, jaksa, polisi, anggota perlemen, dan siapa saja gampang dibeli, saya tak melihat kesulitan perusahaan-perusahaan farmasi asing (kalau mereka memang mau) dalam memperoleh seed virus H5N1 strain Indonesia itu.

Kalau memang tidak bisa diperoleh secara baik-baik lewat WHO, yah beli saja diam-diam dari pegawai laboratorium Departemen Kesehatan. Apa susahnya? Menteri saja bisa dibeli koq?! Ingat heboh soal PT. Monsanto dan kapas transgenik itu.

Kalau pun tidak melalui cara mencuri, maka disebabkan oleh kemajuan teknologi, informasi tidak bisa dibendung-bendung lagi. Dia akan mengalir keluar-masuk dengan bebasnya. Seperti kata sebuah buku: The World Is Flat–Dunia Ini Sudah Rata. Entitas negara, perusahaan, bahkan individu, semakin kabur saja.

Dan di dunia yang semakin rata ini semua fihak dituntut untuk saling berkolaborasi dan bicara baik-baik. Tidak ada gunanya untuk ngotot-ngototan, apalagi kalau kita hanyalah sebuah negara dan bangsa yang lebih banyak mengeluarkan uang untuk membayar ribuan anggota DPR Pusat, DPRD Propinsi, DPRD Kota/Kabupaten, dan ribuan anggota lembaga/komisi negara yang selalu hadir setiap kali muncul undang-undang baru, ketimbang membayar pusat-pusat riset dan penelitian (baca: negara dan bangsa yang goblok).

India dan Cina yang punya keunggulan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi pun sudah mengubah temperamennya. Kini mereka lebih memilih untuk berkolaborasi dan bicara baik-baik dalam upayanya untuk lebih memajukan ilmu pengetahuan dan teknologinya.

Kalau kita adalah bangsa dan negara yang tak punya apa-apa; tak usahlah kita “anggar jago” (ini istilah orang Medan). Malu kita.
Apa yang mau kita banggakan dan andalkan? Ketika pada Desember 2004 negerinya dilanda tsunami, India adalah negara yang dengan bangga menolak bantuan tenaga dan dana dari luar. “Kami mampu menangani sendiri masalah ini,” kata pemerintah India. Dan buktinya mereka memang mampu. Lalu Indonesia? Entah sudah berapa triliun dana sendiri dan bantuan asing yang dikelola oleh BRR dan dicurahkan ke Aceh, tapi sampai sekarang masih ribuan keluarga yang tinggal di barak.

Tahun depan Cina akan menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas. Lalu Indonesia? Mencari Ketua PSSI yang baru, untuk menggantikan ketua yang sekarang, yang mendekam di penjara karena tindak pidana, kita pun tak kunjung mampu.

Saya bukan tidak setuju dengan sikap patriot Menteri Kessehatan. Tapi kalau kita tidak ingin dibodoh-bodohi negara asing, yah jangan hanya ngomong. Paculah pusat-pusat penelitian dan laboratorium milik negara itu agar segera bisa menghasilkan obat penangkal virus H5N1 yang harganya terjangkau oleh rakyat. Sampai hari ini korban-korban di negeri kita masih terus saja berjatuhan. Sementara itu, di Cina, Hongkong, Vietnam, Malaysia dan negeri-negeri lain yang lebih dulu terjangkiti wabah flu burung, kita nyaris tak pernah lagi mendengar korban yang bejatuhan.

Waktu, tenaga dan dana yang dipakai oleh Menteri Kesehatan untuk menulis sebuah “teori konspirasi” sebenarnya akan lebih bermanfaat kalau dipakai untuk meneliti dan mencari penangkal “made in Indonesia” atas virus flu burung ini [.]

2 responses to “Tentang Menteri Kesehatan yang Menolak Memberikan Seed Virus H5N1 ke WHO

  1. Setuju…Janganlah anggar jago

  2. Yap! Setuju banget! Buat apa sih sok jago padahal nggak bisa apa-apa? Bikin malu bangsa sendiri aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s