Wisata Kuliner

Oleh: Mula Harahap

Ada 2 acara wisata kuliner TV yang saya senangi. Yang pertama adalah “No Reservation”, dipandu oleh Anthony Bourdain, dan disiarkan di Discovery Chanel. Yang kedua adalah (saya lupa judulnya), dipandu oleh Keith Floyd, dan kalau saya tak salah ingat juga disiarkan di Discovery Channel.

Bagi saya acara itu menjadi menarik karena kita selalu diingatkan bahwa urusan kuliner adalah urusan kebudayaan. Mengenal makanan suatu masyarakat artinya mengenal kebudayaannya.

Dalam acara “No Reservation” kepada kita selalu diperlihatkan bagaimana Anthony Bourdain berinteraksi dengan penduduk setempat, mengobrol tentang berbagai aspek kebudayaan yang menarik hatinya, dan menyantap berbagai makanan yang (biasanya) erat kaitannya dengan aspek kebudayaan yang sedang diperbincangkannya itu.

Dalam sebuah episode–misalnya–kepada kita diperlihatkan bagaimana Anthony Bourdain menonton pertarungan adu domba di Garut, seraya duduk menikmati jajanan yang dijual oleh para pedagang di seputar arena adu domba itu. Atau, dalam episode yang lain, kepada kita diperlihatkan bagaimana Anthony Bourdain berkelana di Thailand, naik “tuktuk” dan gajah, keluar-masuk pasar, lalu mengobrol ngalor-ngidul sambil menikmati makanan khas Thailand tersebut.

Dan hal yang juga menarik dari acara tersebut (serta yang membuat kita tambah ngiler) ialah: bahwa Anthony Bourdain selalu menyantap makanannya dengan lahap dan tak meninggalkan sisa.

Acara kuliner yang dibawakan oleh Keith Floyd, yang kemana-mana selalu mengusung wajannya itu, juga tak kalah menarik. Keith Floyd selalu di-“shoot” memasak makanan setempat di tengah-tengah alam atau lingkungan setempat pula.

Dalam sebuah episode kepada kita–misalnya–diperlihatkan ketika Keith Floyd sedang berada di pinggir pantai Norwegia. Di latar belakang kelihatan sekelompok orang Norwegia sedang duduk mengelilingi sebuah meja besar (yang masih kosong) sambil bernyanyi-nyanyi. Lalu mulailah Keith Floyd (yang dalam episode itu memakai topi seperti tanduk orang Viking) meramu kerang, kepiting dan udang dalam menu Swedia di wajannya yang besar itu. Setelah masakan matang ia memanggil salah seorang dari antara kerumunan itu untuk mengambil makanan. Semua menyantap makanan dengan lahap dan tak bersisa.

Sementara itu, dalam wisata kulinernya (yang disiarkan oleh Trans-TV, Bondan Winarno tak pernah kelihatan berusaha untuk mengangkat setting dan warna budaya dari makanan yang sedang dipromosikannya itu. Ia hanya sibuk membahas bumbu dari makanan tersebut, lalu setelah memakannya satu atau dua sendok hanya berkata, “suedaaap”, “uenaak” atau “mak nyus”. Maaf, saya bahkan mendapat kesan, bahwa alih-alih mempromosikan etnis dan budaya asal makanan tersebut, Bondan Winarno lebih mempromosikan restoran yang menyajikan makanannya.

Hal yang lebih menjengkelkan lagi dari Bondan Winarno ialah, bahwa dalam setiap episode ia selalu berusaha untuk memperkenalkan sebanyak mungkin makanan. Lalu ia hanya menyantap satu atau dua sendok dari berbagai makanan yang diperkenalkannya itu. Memang, saya tidak mengharapkan Bondan Winarno untuk menyantap habis semua makanan yang diperkenalkan dalam satu episode acara itu (bisa mencret dia). Tapi dengan trik kamera sebenarnya bisa diperlihatkan bagaimana Bondan Winarno seolah-olah telah menyantap makanan itu sampai habis.

Dan kalau hal ini bisa dilakukannya maka saya–yang sedari kecil sudah diajari bahwa tidak menghabiskan makanan di piring sendiri adalah dosa–mungkin masih bisa sedikit mengapresiasi acaranya yang selalu dipenuhi dengan kata-kata “suedaap” itu [.]

7 responses to “Wisata Kuliner

  1. Maaf, saya bahkan mendapat kesan, bahwa alih-alih mempromosikan etnis dan budaya asal makanan tersebut, Bondan Winarno lebih mempromosikan restoran yang menyajikan makanannya……Dan juga puterinya.

  2. Sepertinya Tulang cocok kalau membawakan acara wisata kuliner beserta penjelasan tentang budaya setempat. Wah seru tuh…

  3. Ha ha ha, boleh, tuh Pak Mula yang jadi presenter kuliner. Bisa di radio kan? Gak mesti di televisi.

  4. Bang Mula, tampaknya, makan apapun (yang pasti iya makanan), pasti lahap dan kita pasti ngiler. he he he…

  5. Nasi hangat, ikan teri Medan sambal tambah kacang, sayur daun singkong tumbuk disantan ditambah sambal cabe rawit dan andaliman, kalau ada sayur pahit.. dimakan pas lapar dan suasana hujan rintik-rintik atau dingin…mmmm mak nyos, nendang..ha..ha..ha.. apalagi makannya rame-rame kumpul dengan teman dekat rumah.. makin assoy aja… Iya kan, Lae…?

  6. Saya juga setuju dengan opini anda. Hidangan dan jenis masakan yang disajikan jadi sekadar basa-basi saja. Pernah nonton acara masak Jamie, pemuda yang punya kebun, menanam sendiri sayuran yang ia masak, dan memperlihatkan bumbu dan cara masaknya? Wuah, sedemikian seru dan mengasyikkannya.

    Si Jamie itu, selain membuat kita kepingin makan, juga memperluas wawasan kita tentang masakan. Bagi yang suka masak, tentunya!

  7. Acaranya OK!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s