Monthly Archives: May 2008

Bersama Kita Bisa….Kena Tipu

Oleh: Mula Harahap

Penemu BBM murah berbasis air, Djoko Suprapto (48 tahun) mendadak jatuh pingsan di rumahnya, Dusun Turi, Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso, Nganjuk, Sabtu (24 Mei 2008 siang). Penemu blue energy itu pingsan saat hendak menjelaskan penemuannya kepada wartawan.

Saat duduk di sofa didampingi istrinya, Winda Mira, Djoko berusaha menjelaskan proses
penemuan mutakhirnya. Belum tuntas penjelasannya, tiba-tiba tangan Djoko gemetar. Kepalanya merunduk pelan kemudian lemas hingga menyentuh lengan kiri.

Wajahnya pucat. Dalam hitungan detik, kepala Djoko jatuh menimpa tangan kirinya yang disandarkan di pinggir sofa. Tidak hanya Winda Mira, lima orang dekat Djoko yang ada di ruang tamu utama itu kaget. Beberapa saat kemudian Djoko siuman. Winda Mira langsung membukakan segelas air mineral dan diminumkan ke suaminya.

“Maaf ya, bapak kondisinya sedang tidak fit. Tolong beri kesempatan suami saya istriahat dulu. Lain kali diwawancarai lagi,” pinta Winda kepada wartawan.. Kemudian, orang-orang kepercayaan Djoko meraih kedua tangannya untuk dipapah masuk ke ruang dalam.

(Berita di http://www.kompas.com Minggu, 25 Mei 2008))

Kisah tentang Djoko Suprapto yang mengaku telah menemukan bahan bakar dari air di sebuah laboratorium yang lokasinya sangat dirahasiakannya itu tadinya saya anggap saja sebagai sebuah guyonan di saat hati jengkel mendengar pengumuman kenaikan harga jual BBM. Saya tak mengerti dasar ilmu fisika atau teknologi mana yang dipakainya (sebagaimana yang diuraikan lebih jauh dalam berita kompas.com tersebut), Saya juga tak pernah membaca atau mendengar langkah-langkah awal penemuannya ini di jurnal atau publikasi yang punya bobot ilmiah.

Continue reading

Negara Para Bangsat dan Ketiadaan Data/Angka di Seputar Minyak Bumi

Oleh: Mula Harahap

Saya rajin mengikuti tulisan dan pembicaraan di media massa mengenai minyak bumi. Tapi sungguh mampus, sampai hari ini saya belum pernah melihat tulisan atau pembicaraan yang disertai dengan data dan angka. Untuk urusan yang maha penting seperti minyak bumi ini, semua orang (termasuk birokrat, politisi, pengamat ekonomi, pengamat perminyakan, dan pers) hanya berbicara kira-kira:

Berapa produksi minyak bumi kita saat ini? Yah, kira-kira. Kira-kira 800 ribu barel per hari. Kira-kira 900 ribu barel per hari. Kira-kira 1 juta barel per hari. Terserah yang ngomong! Padahal apa susahnya mencatat angka seperti itu? Kita tokh berurusan dengan perusahaan-perusahaan minyak yang punya komputer dan tenaga manusia yang terdidik, bukan dengan petani gurem yang tak bisa menulis dan hanya punya modal pacul.

Berapa production sharing yang diperoleh negara dari perusahaan-perusahaan asing yang menyedot minyak dari bumi Indonesia itu? Dan berapa pendapatan yang diterima negara hari ini sesuai dengan harga yang terjadi di New York? Sejauh mana hal itu mempengaruhi (surplus atau defisit) beban keuangan negara ? Walahualam! Padahal di abad komputer ini, kalau data/angka-nya ada, tinggal masukkan saja harga yang berlaku saat ini, dan semua bisa dihitung dalam sepersekian detik.

Continue reading

Dendam Kesumat dari Masa Kecil

Oleh; Mula Harahap

Angan-angan, cita-cita atau dendam kesumat di masa kanak-kanak memang selalu menarik untuk dikenang.

Seorang teman saya berkata, ”Salah satu angan-angan saya dulu adalah, mampu membeli anggur kelas satu berbotol-botol dan tape-recorder Sony untuk memutar lagu Holan Sada Do Na Ringkot–Hanya Satu Yang Berarti Bagiku Dalam Hidup Ini…”

Sampai saya duduk di bangku kelas 4 atau 5 SD saya belum pernah makan kismis. Saya tidak tahu apa penyebabnya. Boleh jadi perekonomian Indonesia ketika itu memang belum berkembang seperti sekarang. Barang-barang import–termasuk kismis–masih sangat langka dan mahal harganya. Boleh jadi juga karena ekonomi keluarga. Atau boleh jadi juga, seperti kata orang Batak, “Mardomu ma i sude–Semua itu campur-baur…..”

Saya pernah ngiler sekali melihat seorang teman sekelas duduk memakan kismis sekotak kecil. “Bagilah sedikit,” kata saya kepadanya. Teman saya memang baik. Diberinya beberapa butir kepada saya. Dengan penuh takzim butiran itu saya masukkan ke mulut dan saya kunyah perlahan-lahan.

Continue reading