Dendam Kesumat dari Masa Kecil

Oleh; Mula Harahap

Angan-angan, cita-cita atau dendam kesumat di masa kanak-kanak memang selalu menarik untuk dikenang.

Seorang teman saya berkata, ”Salah satu angan-angan saya dulu adalah, mampu membeli anggur kelas satu berbotol-botol dan tape-recorder Sony untuk memutar lagu Holan Sada Do Na Ringkot–Hanya Satu Yang Berarti Bagiku Dalam Hidup Ini…”

Sampai saya duduk di bangku kelas 4 atau 5 SD saya belum pernah makan kismis. Saya tidak tahu apa penyebabnya. Boleh jadi perekonomian Indonesia ketika itu memang belum berkembang seperti sekarang. Barang-barang import–termasuk kismis–masih sangat langka dan mahal harganya. Boleh jadi juga karena ekonomi keluarga. Atau boleh jadi juga, seperti kata orang Batak, “Mardomu ma i sude–Semua itu campur-baur…..”

Saya pernah ngiler sekali melihat seorang teman sekelas duduk memakan kismis sekotak kecil. “Bagilah sedikit,” kata saya kepadanya. Teman saya memang baik. Diberinya beberapa butir kepada saya. Dengan penuh takzim butiran itu saya masukkan ke mulut dan saya kunyah perlahan-lahan.

Tapi tidak semua dari butiran kismis yang diberikan oleh teman itu saya makan. Diam-diam beberapa butir saya masukkan ke kantong. Saya tahu bahwa kismis adalah buah anggur yang dikeringkan. Dan waktu itu buah anggur pun belum pernah saya makan. Karena itu saya berteori: kalau kismis ini saya bawa pulang ke rumah dan saya rendam di gelas, tentu dia akan kembali menjadi buah anggur. Tapi eksperimen saya ternyata gagal. Kismis itu tetap saja lisut walau pun telah direndam selama berhari-hari..

Suatu waktu–setelah dewasa–ketika berkunjung ke New York City dan masuk di sebuah supermarket, saya melihat jejeran kotak kismis dipajang di rak. Harga kismis ternyata jauh lebih murah dari harga sebungkus rokok. Didorong oleh dendam kesumat yang tak terpuaskan ketika masih kanak-kanak, saya langsung membeli kismis satu kotak besar. Hal yang membuat saya bangga ialah bahwa kismis yang saya beli adalah yang berwarna kuning, dan itu adalah kismis yang jauh lebih manis dari yang hitam, dan tak berbiji “pulak”. Sambil berjalan perlahan-lahan di bawah gedung-gedung pencakar langir yang memenuhi kota New York City itu tak henti-hentinya saya mengunyah kismis kuning merek Del Monte itu . Sesekali saya menengadah ke atas dan berkata dalam hati, “Tuhan, saya makan kismis…”

Obsesi saya akan kismis telah menjadi bahan guyonan di tengah keluarga. Kalau isteri atau puteri saya belanja di supermarket, dan hati mereka sedang senang, mereka selalu membelikan saya oleh-oleh kismis merek Sun Maid yang kotaknya berwarna merah dan ada gambar perempuan sedang mengangkat sekeranjang anggur itu. “Nih, untuk bapak saya yang masa kecilnya kurang bahagia, saya belikan kismis. Makan deh sampai puas…,” begitulah selalu kata puteri saya.

Dendam kesumat saya yang lainnya adalah adalah jaket. Lama sekali saya tak pernah bisa punya jaket. Ketika masih kuliah saya pernah mengikuti sebuah acara LTC–Leadership Training Course di Hotel Puncak Pass. Malam harinya ketika sedang bercengkerama di lobi hotel seorang teman saya terkagum-kagum melihat saya. “Lu kagak pakai jaket? Hebat banget Lu! Tahan banget Lu….” katanya. Saya hanya tersenyum mesem-mesem.

Karena itu sampai sekarang saya selalu terobsesi akan jaket. Kalau masuk ke department store atau factory outlet saya selalu menyempatkan diri untuk pergi ke bagian jaket. Disana mulailah saya mematut-matut jaket yang pantas, dan mulai pula saya bergumul untuk membeli atau tidak membeli.

Walau pun sudah setengah mati menekan dendam, tapi sampai saat ini saya punya delapan jaket. Dan itu sudah lebih dari cukup, mengingat bahwa saya tak memiliki banyak kesempatan untuk memakai jaket. (Saya bukan politisi atau birokrat Indonesia yang suka berjaket-ria karena penyejuk udara di kantornya selalu disetel di bawah 18 derajat Celcius, pun di masa krisis enerji seperti sekarang ini). Tapi apa mau dikata ? Dendam kesumat atau obsesi yang tak terpuaskan semasa kanak-kanak itu acapkali datang mengganggu.

Beberapa bulan yang lalu, saya harus bolak-balik menemani isteri saya menjahitkan baju di sebuah penjahit yang berlokasi di gedung Istana Plaza–Pasar Baru. Di dekat kios penjahit itu ada sebuah toko yang menjual baju-baju bekas tentara (army’s surplus). Di sana saya temukan sebuah field jacket hijau eks perwira pasukan NATO. Seraya mecoba jaket itu saya bayangkan diri saya seperti Che Guevara yang sedang memimpin perang gerilya di rimba raya Bolivia.

Setiap kali isteri saya melakukan urusannya di tukang jahit tersebut, saya menghabiskan waktu di toko army’s surplus sambil terus memandangi jaket yang satu itu. Saya rasa pelayan toko itu pun sudah bosan melihat saya. Tapi untunglah sampai sejauh ini kewarasan pikiran saya masih bisa terjaga oleh faktor ekonomi. Jaket bekas seharga lebih dari 1 juta rupiah itu tak kunjung bisa saya beli, walau pun hati dan pikiran saya masih tetap tertuju ke sana.

Begitulah, kalau dalam lagu Batak Alusi Au si penyanyi punya sinta-sinta–cita-cita dan pangidoan–hasrat hati untuk sekedar disapa oleh seorang gadis idaman hatinya, maka sinta-sinta dan pangidoan saya adalah bisa makan kismis sambil memakai field jacket eks NATO [.]

10 responses to “Dendam Kesumat dari Masa Kecil

  1. Style nya mirip benar dengan Andrea Hirata. I like it very much. Don’t you have some revenge for “nonton bioskop” ? Love to read it if you have some …

  2. Saya pernah dendam kesumat dengan nonton bioskop karena di ‘sekolah’ saya tidak boleh. Kalau ketahuan bisa dibotakin. Akhirnya, waktu libur akhir tahun saya pernah sehari nonton dua film. Mau nonton tiga film, mata sudah tak tahan. Kalau sekarang, malah jarang, karena sudah terpuaskan barangkali. Kecuali kalau ada film yang benar-benar bagus, atau penasaran karena jadi buah bibir di manamana.

  3. Kalau saya, dendam kesumat saya adalah tak bisa membeli buku bacaan. sehingga sekarang saya usahakan untuk bisa menganggarkan tiap bulan.

    Agar pengalaman itu tak terulang, saya coba meminjamkan buku itu kepada teman-teman. sayang, sebagian besar tak tertib mengembalikan.

    Salam kenal, Bang Mula. Ditunggu postingan-postingan berikutnya.

  4. Kisah yang manis sekali, sisi terbaik dari kelangkaan dan kemiskinan….Aku nitip link postinganku, Lae, mengenai perempuan batak yang keren : http://tobadreams.wordpress.com/2008/05/12/orang-batak-punya-maskapai-penerbangan-lorena-air/

    Mauliate, Raja Huta

  5. Menarik sekali ceritanya. Membuat hatiku terharu. Kalau saya jadi Abang,masih kurang kalau hanya membeli kismis sebanyak itu. Lebih baik Abang buat pabrik, biar lebih puas . Salam kenal, Bang Mula…..

  6. Hahahaha… Membaca kisah ini saya jadi teringat obsesi saya untuk memiliki sebuah lemari.
    Dari dulu, berhubung orang tua saya selalu pindah-pindah kerja maka saya tak pernah punya kesempatan untuk memiliki lemari pakaian yang bagus. Lemari yang kami pakai selalu saja lemari yang “ditukang-tukangi” sendiri. Itu makanya setiap kali saya bermain ke rumah teman dan melihat mereka punya lemari pribadi saya jadi iri.

    Alhasil, setelah bekerja, pada waktu menerimagaji pertama, secara tak sengaja saya melihat ada diskon lumayan untuk lemari “Olympic” yang cukup besar di Carrefour. Tanpa berpikir panjang saya langsung beli. Padahal duit saya waktu itu benar-benar pas-pasan. Ada rasa bangga yang luar biasa di hati saya😀 Padahal di akhir bulan terpaksa juga saya minta uang lagi sama orang tua nunggu gajian berikutnya😀

    Dendam kesumat emang bikin orang kadang-kadang gak berpikir panjang😛 Nice post..🙂

  7. Di millis Ruma Metmet sudah saya baca cerita Lae ini… he..he.. mengingatkan saya dulu waktu SMA pengen banget punya GL PRO, gimana yah… gagah banget. Tatpi sekarang sudah ada dan mungkin lebih… kayaknya biasa-biasa aja… mungkin sudah nggak kepengin banget atau momentnya sudah nggak pas… tq, dari anak Medan.

  8. Saya pernah waktu kecil mimpi makan semangka dan apel merah. Sampai sekarang kalau makan buah itu keinget masa-masa dulu. http://mtamim.wordpress.com/2008/04/16/susahnya-membangun-mimpi/

  9. Sudah lama saya terobsesi belajar piano dan punya piano sendiri. Setelah umur 38 tahun impian ini baru dapat saya wujudkan. Saya dan suami langsung daftar juga buat belajar piano. Ketika pihak musik konfirmasi buat hari/jam les privat di rumah, service customernya menyarankan begini: “Bu, sebaiknya Riris dan Garin (nama suami) jangan les di rumah, sebab anaknya nanti tidak konsentrasi oleh gangguan telepon, dll.” Oalah, dikiranya yang mau belajar piano itu anak kecil. Apa dia nggak perhatikan data di formulir pendaftaran saya ya?

  10. Saya dendam sama orang yang masih saya benci, dan itu tak mungkin bisa saya lupakan, karena saya merasa tak pernah dihargai…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s