Negara Para Bangsat dan Ketiadaan Data/Angka di Seputar Minyak Bumi

Oleh: Mula Harahap

Saya rajin mengikuti tulisan dan pembicaraan di media massa mengenai minyak bumi. Tapi sungguh mampus, sampai hari ini saya belum pernah melihat tulisan atau pembicaraan yang disertai dengan data dan angka. Untuk urusan yang maha penting seperti minyak bumi ini, semua orang (termasuk birokrat, politisi, pengamat ekonomi, pengamat perminyakan, dan pers) hanya berbicara kira-kira:

Berapa produksi minyak bumi kita saat ini? Yah, kira-kira. Kira-kira 800 ribu barel per hari. Kira-kira 900 ribu barel per hari. Kira-kira 1 juta barel per hari. Terserah yang ngomong! Padahal apa susahnya mencatat angka seperti itu? Kita tokh berurusan dengan perusahaan-perusahaan minyak yang punya komputer dan tenaga manusia yang terdidik, bukan dengan petani gurem yang tak bisa menulis dan hanya punya modal pacul.

Berapa production sharing yang diperoleh negara dari perusahaan-perusahaan asing yang menyedot minyak dari bumi Indonesia itu? Dan berapa pendapatan yang diterima negara hari ini sesuai dengan harga yang terjadi di New York? Sejauh mana hal itu mempengaruhi (surplus atau defisit) beban keuangan negara ? Walahualam! Padahal di abad komputer ini, kalau data/angka-nya ada, tinggal masukkan saja harga yang berlaku saat ini, dan semua bisa dihitung dalam sepersekian detik.

Berapa potensi pajak perseroan yang bakal dipungut negara dari perusahaan-perusahaan minyak yang mengalami panen akibat kenaikan harga itu? Berapa jumlah dan harga minyak olahan yang kita impor detik ini? Gelap! Berapa biaya produksi Pertamina untuk mengolah minyak di dalam negeri? Berapa biaya distribusi minyak olahan itu? Sama gelapnya! Dan kalau saya tak salah, sampai hari ini biaya produksi minyak oleh Pertamina belum pernah bisa diaudit.

Tahun 2005, menjelang kenaikan harga BBM, Kwik Kian Gie pernah menulis sebuah artikel menarik di Kompas. Menurut hitung-hitungan Kwik, sebagai negara yang juga mengekspor minyak bumi maka Indonesia sebenarnya tidaklah harus terlalu panik jika terjadi kenaikan harga di pasaran dunia. Indonesia tokh mendapat keuntungan juga dari kenaikan tersebut. Karena itu kata Kwik Gian Gie dalam tulisannya, harga jual BBM di dalam negeri sebenarnya tak perlu dinaikkan.

Waktu itu saya cenderung setuju dengan pendapat Kwik Kian Gie. Tapi sayangnya dan ironisnya, Kwik yang mantan Menko Ekuin dan Mantan Menteri/Ketua Bappenas itu juga berbicara dengan memakai banyak “misal” dan “kira-kira”. Bisa kita bayangkan? Mantan Menko Ekuin dan Mantan Menteri/Ketua Bappenas pun tak punya data yang mendasar tentang minyak bumi. Negara ini memang negara bangsat!

Saya curiga di Sidang-sidang Kabinet dan DPR hal yang sama juga sedang berlaku. Kita hanya membicarakan asumsi yang didasarkan atas “kira-kira”. Karena itu selama Pemerintah tidak bisa menunjukkan data/angka yang jelas di seputar minyak bumi Indonesia, maka berapa pun jumlah beban subsidi yang dikatakan Pemerintah itu (sebagai alasan untuk menaikkan harga jual BBM) tetap saja saya anggap sebagai sebuah igauan atau omong kosong besar.

Tapi saya bisa memahami, siapa pula yang mau membeberkan angka/data (yang paling elementer sekali pun) secara transparan tentang minyak bumi? Kalau data/angka dibuat transparan maka pencuri-pencuri itu (jumlahnya banyak sekali, dari level paling atas sampai level paling bawah) tentu akan susah untuk “bermain”.Masih ingat skandal pencurian minyak di Pulau Lawe-lawe? Itulah contoh di level bawah bagaimana semua “berpesta-pora” dengan data/angka yang sengaja dibuat kabur.

Data/angka mengenai minyak bumi Indonesia harus ditagih dari Pemerintah. Kalau Pemerintah enggan membangunnya, atau enggan mempublikasikannya, maka kita harus memaksanya dengan undang-undang yang menjamin hak kita sebagai warganegara, yaitu hak untuk memperoleh informasi yang benar [. ]

12 responses to “Negara Para Bangsat dan Ketiadaan Data/Angka di Seputar Minyak Bumi

  1. Gerda Silalahi

    Bang Mula🙂 Biar tambah seru, aku tambahin minyak ke kompormu.

    Aku pernah ngobrol dengan seorang saudara yang kebetulan kerja di Pertamina. dia cerita kalo hasil eksplorasi minyak bumi n gas pertamina sebagian besar dijual ke luar negeri daripada dijual untuk konsumsi lokal. Alasannya: selisih harga luar dan dalam negeri sangat signifikan dan menguntungkan bagi Pertamina.

  2. Minyak memang selalu menimbulkan panas. Semua yang Lae paparkan bakal terasa normatif kalau kita ungkap fakta-fakta berikut :

    1.Pertamina adalah sapih perah berbagai kekuatan politik di negara ini.

    2. Kontrak karya yang berlaku sekarang ini sepintas lalu terkesan lebih menguntungkan karena prosentase bagi hasil antara pemerintah dan perusahaan minyak 90 : 10. Tapi yang tidak diketahu publik, modal kerjanya menjadi beban dan resiko pemerintah; sehingga dalam prakteknya banyak terjadi mark-up alias perampokan uang rakyat lewat kontrak karya.

    3. Indonesia sekarang sudah net import, tapi masih saja bercokol sebagai anggota OPEC. Selain tidak proporsional, keanggotaan itu adalah pemborosan. Iuran anggota per tahun adalah 2 juta US dolar.

    4. Setiap akan menyusun anggaran, Pertamina selalu menyiapkan dana besar untuk memuluskan keluarnya persetujuan DPR.

    Salam Merdeka

  3. tangis negeri

    Sangat disesalkan sekali, negara Indonesia sebagai negara penghasil minyak ketakutan akan pengaruh minyak global. Seperti seorang yang kaya raya tapi karena ke-idiot-an nya dia tidak bisa mengolah kekayaannya sehingga orang lain dengan gampang mempengaruhinya.

    Yang jelasnya harga minyak jangan dikutak katik, kalo mau mengkutak katik untuk menambah devisa negara, naikkan biaya import barang cth : mobil mewah dan kenakan pajak yang besar buat barang-barang mewah.

    Tingkatkan sektor pertanian karena negeri ini adalah negeri agraris dan mari kita lindungi petani di Indonesia dan bukan dipijak=pijak tapi didukung dan beri fasilitas.

    Indonesia adalah negara agraris tapi untuk beras aja kita masih import.

    Dimana kah wajahmu, Pemimpin Bangsa Indonesia, dan dimanakah kau saat rakyat memintamu untuk menjadi penyelamat bangsamu…

    Sadar…sadar…sadar… wahai Pemimpin Bangsa…Jangan hanya kantongmu yang kau pikirkan…
    Lihat rakyat dan masa depan bangsamu…

  4. Ngeri kali judulnya, Lae…..

    Apalah ngerinya? Bangsat ‘tu kan artinya kutu busuk?–MH

  5. Pingback: Indonesia oh Indonesia « langit-biru

  6. Mungkin untuk urusan angka, Bang Mula bisa lihat di Koran Net. Ada tulisan Kwiek disitu. Apapun memang negara ini penuh dengan bangsat, dari bangsat kecil sampai yang kakap.

  7. Maksud saya bisa dilihat di: http://www.koraninternet.com

  8. Cari green card aja yuk! Di sini bangsat semua…Halah…

  9. Yesterday, I’ve just read a newspaper, Tempo newspaper. Dan disitu tertulis, Indonesia resmi keluar dari OPEC. What the hell is going on here? Apa gunanya tertulis dalam UUD 1945..

    Pasal 33
    (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.
    (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai hajat hudup orang banyak dikuasai oleh Negara
    (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalammya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

    Pasal 34
    Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara.

    Geez, what a headache..I do believe, semua Bapak-Bapak yang duduk di kursi empuk di MPR/DPR dengan ruangan yang ber-AC, pasti sudah melupakan pasal ini. Apakah UUD 1945 itu hanya kata-kata bohong, kata-kata fantasi, impian untuk membuai orang-orang kecil.

    Btw, what a great blog you have here. Salute to you.

  10. iksaresrathcom

    Kalau negara bangsat, rakyat juga bangsat, posisi kita dimana dan harus bagaimana ?

  11. Memangnya Indonesia negara bangsat

  12. Mestinya diadakan revolusi di bidang birokrasi, reformasi dibidang militer, rekontruksi di bidang ekonomi dan politik, dan berdayakan sistim teknologi informasi di semua bidang. Perubahan yang ditawarkan pemerintah sekarang terlalu lunak dan terlalu lambat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s